Tahta Surya

Tahta Surya
Meresahkan


__ADS_3

"Hantu?" Gina memandang Ayu lekat-lekat. Tapi kemudian Gina terkaget saat Ayu tertawa. Gina menjadi lebih takut sekarang.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"


"Mbak Gina ini ada-ada saja. Setelah maling lalu hantu. Kalau itu semua tidak terbukti lalu apa lagi?" Ayu masih dengan tertawa melihat wajah Gina yang bingung.


"Alien? Mungkin saja pelakunya adalah alien, mbak."


"Kau ini. Benar-benar tidak lucu." Gina cemberut ditertawai oleh Ayu seperti itu.


"Sudahlah, aku ada di sini. Tidak akan ada hantu ataupun maling yang berani mengintipmu. Aku jamin. Jadi mandilah, Mbak." Gina masih cemberut dan berbalik kembali ke kamar mandi.


Tapi Gina menghentikan langkahnya lagi karena mendengar sepertinya ada mobil yang berhenti di halaman rumah. Ayu melongok keluar dengan diikuti Gina. Sebuah Innova Reborn berhenti tepat di depan rumah Surya. Gina berjalan ke teras. Surya turun untuk mengambil sesuatu di bagasi mobil. Ibu Surya juga turun. Pertanda Bapak Surya pulang.


Surya meletakkan kursi roda di samping mobil agar Bapaknya bisa turun dan duduk di sana. Kemudian Surya mendorongnya masuk.


"Pakde sudah pulang?" Tanya Ayu heran karena tidak menyangka pamannya akan pulang secepat itu.


"Iya, Pakde tidak apa-apa kok. Kenapa lama-lama di sana."


"Syukurlah." Jawab Ayu.


"Bapak sudah benar-benar sehat?" Tanya Gina juga.


"Iya, Nduk. Bapak tidak sakit apa-apa kok dibawa ke rumah sakit." Jelasnya sambil turun dari kursi roda dan duduk di ruang tamu.


"Pakai kursi itu juga. Memangnya aku tidak bisa berjalan apa." Pak Wiro melirik Surya yang memaksanya untuk memakai kursi roda sejak dari rumah sakit karena khawatir Bapaknya kenapa-kenapa.


"Bapak tidak boleh lelah. Dokter mengatakan Bapak harus banyak istirahat." Ujar Surya.


"Iya... aku istirahat. Aku juga tidak akan kemana-mana. Sudah puas kamu." Pak Surya agak ketus. Surya tersenyum menanggapi Bapaknya. Gina melihat itu dan tahu sesabar apa Surya. Sama seperti terhadapnya, saat menghadapi Bapaknya yang ngambek juga sangat sabar.


"Kamu sudah makan, Nduk?" Tanya Ibu Surya kepada Gina.


"Sudah tadi pagi, Bu."


"Kok tadi pagi. Yang sekarang?"


"Belum." Gina tersipu saat menjawab.


"Bagaimana Ayu ini kok tidak mengajakmu makan." Ibu Surya menghapiri Ayu yang mengambil air minum di meja makan.


"Mbakmu kok tidak kau ajak makan?"


"Ini baru mau ku ajak makan, Bude." Kilah Ayu.


"Iya Bu, kami memang berencana untuk mencari makan setelah aku mandi."


"Oh begitu. Baguslah." Ibu Surya tersenyum menatap Ayu dan Gina bergantian lalu keluar sambil membawa segelas air putih untuk suaminya.


Gina sedang duduk di teras rumah. Menu makan siang tadi adalah nasi campur yang dibeli oleh Ayu. Seumur hidup baru kali ini ia makan menu itu. Rasanya lumayan juga.


"Nona..." Surya keluar menghampiri Gina. Gina mengalihkan pandangan dari halaman rumah Surya dengan bunga warna warninya ke pada Surya.


"Surya, apa nama bunga itu?" Tunjuknya pada bunga dengan warna magenta, merah, kuning dan putih dengan kelopak pecah-pecah melingkar.


"Itu, bunga kertas, Nona.."


"Yang ini?" Tunjuk Gina pada bunga dibawah tempatnya duduk.

__ADS_1


"Itu kamboja jepang, Nona."


"Yang itu?"


"Itu bunga kenanga." Surya tersenyum melihat Gina tertarik dengan bermacam bunga di halaman rumah Surya.


"Semua bunga itu cantik." Gumam Gina.


"Bunga cemitian juga bagus, Nona."


"Yang mana?" Mata Gina mencari bunga yang dimaksud Surya.


"Yang ada di taman rumah Nona. Yang dibentuk-bentuk."


"Oh, itu bernama bunga cemitian." Gina baru tahu namanya. Sejak kecil tinggal di rumah itu ia tidak tahu dan tidak mau tahu bunga apapun itu. Ia terlalu sibuk mencari kesenagannya sendiri dari rasa kesepian.


"Oh iya, tadi kau mau bicara apa?" Gina ingat saat keluar tadi sepertinya Surya ingin mengatakan sesuatu.


"Begini Nona, saya berencana kita akan tinggal di sini untuk satu minggu lagi."


"Apa?" Gina melebarkan matanya.


"Saya harus memastikan Bapak benar-benar sehat dan pulih seperti sebelumnya sehingga saya bisa kembali dengan tenang."


"Tapi satu minggu itu terlalu lama bagiku."


"Maafkan saya, Nona. Tapi saya memang harus di sini dulu." Gina tampak cemberut mendengar penuturan Surya.


"Mmm... atau Anda bisa kembali lebih dulu tanpa saya?"


"Permisi..." Belum sempat Gina menjawab, seseorang datang. Gina dan Surya yang sedang berbincang membuat mereka tidak menyadari kehadirannya. Dan pandangan mereka teralihkan pada tamu yang datang itu.


🌸🌸🌸


Pak Rangga bangun dari tidurnya dan berjalan menuju balkoni. Udara malam sangat dingin karena kapal sedang berlayar menuju benua Eropa. Bu Marina masih terlelap karena seharian mengeluh bosan menunggu perjalanan yang belum sampai pelabuhan terdekat sebelum mencapai Santorini tujuan mereka sebenarnya.


Pak Rangga terbangun tepat saat sebuah pesan masuk di ponselnya.


Papa, apa liburanmu menyenangkan?


Aku sedang berlibur ala Grindelwald. Jangan iri padaku. Kau pasti hanya berpindah dari laut satu ke laut yang lain.


Gina tiba-tiba berkirim pesan padanya dengan isi yang iseng. Pesan itu disertai sebuah foto bukit yang ia lewati dengan pemandangan sawah yang menghijau di sekitarnya. Pesan itu bukan tentang ia meminta uang atau meminta dibelikan sesuatu. Pak Rangga yang baru saja terjaga jadi tersenyum membaca itu. Hampir tidak pernah Gina berkirim pesan seperti itu. Tapi tiba-tiba saja dia menjadi anak manis. Semoga ini bukan tujuannya sebagai pencitraan belaka dan memang dia sudah berubah menjadi gadis manis sekarang.


Anak gadisnya kini telah menikah dan Pak Rangga tahu konsekuensi apa yang akan ia terima. Ia mungkin tidak bisa lagi memilikinya dengan utuh. Tapi putrinya memang harus memiliki seseorang selain dirinya. Yang bisa selalu ada untuknya dan bisa membuatnya nyaman. Ia sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan Gina merasa sendiri selama ini. Sehingga sekaranglah saatnya Gina memiliki seseorang yang bisa mengobati kesepiannya selama ini.


"Aku akan tetap tinggal." Gina memandang Surya lurus. Surya mengerutkan kening melihat Gina berubah sikap secepat itu. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada Dinda yang sudah di depan teras rumahnya dan seperti ingin dipersilakan masuk.


"Hai Dinda..." Sapa Gina langsung menghampirinya.


"Mari masuk." Ajaknya kemudian. Lagi-lagi Surya dibuat bingung oleh istrinya. Sikapnya berubah-ubah secara acak dan membuatnya susah mengerti. Baru saja ia tampak tidak senang saat Surya mengajaknya tinggal sampai satu minggu ke depan. Tapi beberapa menit kemudian berubah seolah dalam suasana hati sangat baik. Meskipun Surya bingung dan itu terlihat sekali, tapi Gina tidak peduli dan tetap mengantar Dinda masuk ke dalam rumah.


"Ibu, Bapak, ada tamu." Ujar Gina memasuki pintu. Bapak dan Ibu Surya yang masih ada di ruang tamu memandang serentak ke arah pintu.


"Oh kau, Dinda." Sambut ibu Surya.


"Ini saya membawakan soto ayam kampung. Kesukaan Bapak." Dinda menyodorkan sebuah bungkusan kepada ibu Surya. Gina melirik ke arah bungkusan yang diterima oleh ibu mertuanya lalu memandang Dinda kembali. Hatinya tiba-tiba menjadi kecut.


"Terima kasih ya, Dinda." Ibu Surya tersenyum.

__ADS_1


"Syukurlah Bapak sudah pulang. Saya ikut senang."


"Iya, Bapak kan kuat. Jadinya penyakit tidak doyan." Jawaban Bapak Surya membuat semua orang di situ tertawa. Melihat itu Gina mencoba ikut tertawa meskipun tawanya sangatlah hambar.


Siapa sebenarnya gadis ini. Kenapa dia sangat akrab dengan keluarga Surya. Katanya hanya teman. Tapi kenapa disambut dengan sangat baik? Dan juga, kenapa dia selalu menempel pada keluarga ini.


Entah kenapa Gina benar-benar menjadi tidak suka pada Dinda. Dia cantik dan juga baik. Entah karena Gina iri terhadap kecantikannya yang terlihat alami itu? Atau karena sebaik itu dan juga sangat pengertian? Entahlah, tapi setiap bertemu dengan Dinda, Gina merasa tidak nyaman. Hatinya terasa kebat kebit.


"Bapak dan ibu menitip salam buat Bapak."


"Oh iya sampaikan juga salamku buat Bapak ya."


"Kata Bapak, pantas saja kemarin tidak bertemu di sawah, ternyata Bapak sedang sakit."


"Iya, setiap pagi aku selalu bertemu Pak Agung. Sawah kami bersebelahan."


"Oh iya ya." Dinda tersenyum. Dan saat tersenyum Dinda malah lebih terlihat cantik lagi.


Dari melihat Dinda, Gina beralih melihat Surya. Mata Surya tidak lepas sama sekali dari Dinda. Dan itu membuat Gina semakin yakin bahwa mereka tidak hanya teman. Pasti ada hal lain diantara mereka yang Gina belum tahu. Jadi Gina berfikir ia harus tahu apa yang sebenarnya ada diantara mereka.


Dinda juga terlihat sangat akrab dengan orang tua Surya. Itu menandakan memang mereka sangat dekat. Seperti kata Ayu bahwa Dinda dan Surya berteman sejak kecil, tapi Gina tidak bisa percaya begitu saja. Apakah pertemanan diantara mereka hanya sebatas itu atau memang ada cerita lain.


Gina sekarang duduk di samping Dinda. Mencoba berbaur dengan obrolan Dinda dan kedua mertuanya. Surya duduk di samping ibunya. Suasana memang menjadi lebih ramai saat Dinda datang. Itu adalah saat yang tepat karena Ayu juga sudah pulang ke rumahnya sejak tadi sehingga tidak ada lagi yang membuat gaduh di rumah Surya. Sehingga kedatangan Dinda lumayan membuat Pak Wiro tertawa lagi.


Apalagi saat Dinda dan Surya mengenang tentang masa kecil mereka, Pak Wiro sampai tertawa-tawa mendengar cerita Dinda tentang ia dan Surya yang jatuh di kubangan lumpur sawah saat rem sepeda yang mereka gunakan berboncengan putus. Atau mereka yang main engklek dan Dinda mencoba bermain curang dengan meminta giliran dua kali berturut-turut saat ia hampir kalah.


"Kau ingat Sur, buah jambu Bulek Tin yang besar-besar itu? Sampai sekarang masih ada." Ujar Dinda.


"Oh, jambu air itu ya?" Jawab Surya dengan senyum mengembang menanggapi Dinda.


"Iya, yang kita waktu itu siang hari lewat dan mencurinya. Melemparinya memakai batu. Ehh, batu yang kau lempar malah mengenai genteng rumahnya. Akhirnya dia keluar dan kita ketahuan. Aku lari sambil mengangkat rokku. Kau juga sampai lupa kalau membawa sepedamu." Dinda bercerita sambil tertawa karena mengenang kisah mereka.


"Akhirnya kita kembali mengambil sepeda tapi sepedanya tidak ada di tempat sebelumnya. Bulek Tin menyimpan di dalam rumahnya."


"Oh iya, lalu dulu kita meminta Bapakmu untuk mengambilkannya." Tambah Surya.


"Iya benar."


"Biar kita tidak terkena marah ku ajak saja Bapakmu karena beliau kepala desa." Surya sambil terkekeh mengatakan itu.


"Iya, kalau sama Bapak pasti Bulek Tin tidak akan berani marah." Dinda masih tertawa.


"Kalau ingat jaman dulu aku selalu merasa lucu sendiri, Sur. Kita itu nakal sekali."


"Oh iya, dimana sekarang Yanti, Ghofur, Malik, Ningsih dan yang lainnya? Beberapa kali pulang aku tidak bertemu mereka."


"Yanti sekarang ke luar pulau, Sur. Ikut suaminya. Sudah sukses di sana. Suaminya punya warung lalapan dan ramai penbeli. Ghofur menikah lagi dengan orang dari tetangga kampung. Malik sama Ningsih ada di rumah. Kau saja yang setiap pulang buru-buru kembali. Jadi mana sempat bertemu mereka."


"Kau benar, aku tidak pernah di rumah lama." Surya membalas Dinda dengan senyumnya. Melihat itu Gina sangat tidak suka. Ternyata tidak seperti yang ia kenal sebelumnya, seperti pria lain, Surya juga bisa tebar pesona.


Sepertinya dia lupa kalau sudah menikah. Bagaimana bisa dia tebar pesona begitu. Tanpa sadar Gina memanyunkan wajahnya.


Mereka berbincang sangat akrab layaknya orang yang lama tidak berjumpa. Ibu dan Bapak Surya bahkan hanya sebagai pendengar saja seperti dirinya.


"Aku akan ke rumah Ayu meminjam charger." Lama-lama Gina menjadi jengah lalu ia beralasan untuk pergi ke rumah Ayu. Dinda melihatnya sekilas, Surya mengalihkan pandangan ke arahnya. Tanpa menunggu persetujuan Surya, Gina beranjak dari tempatnya. Tapi Surya menghentikan langkah Gina secara mendadak dengan menarik tangannya. Gina memberi isyarat agar Surya menjelaskan maksudnya.


"Hanya charger saja, kan?" Tanya Surya. Gina mengangguk.


"Baiklah." Lalu Surya melepas pegangan tangannya dan tidak lupa bibirnya menyunggingkan senyum. Matanya yang kecoklatan seperti ingin mengatakan sesuatu tapi entah apa. Beberapa saat Gina memandang matanya dan dadanya menjadi hangat dengan detak jantung yang lebih cepat. Sadar akan hal itu, kemudian Gina buru-buru meninggalkan mereka. Tidak tahu kenapa, tapi semakin hari perasaan itu semakin sering Gina rasakan. Ia hafal betul dengan apa yang ia rasakan dan sekarang mulai membuatnya khawatir kenapa itu terjadi begitu saja serta dalam waktu yang sangat cepat.

__ADS_1


"Benar, ini pasti karena pelet yang dia punya." Gina menghembuskan nafasnya kuat-kuat berusaha menenangkan detak jantungnya.


__ADS_2