
"Surya, jangan pergi." Gina menatap Surya dengan mata yang basah. Dadanya sesak hingga sulit bernafas. Sakit sekali mendengar Surya harus pergi meninggalkannya. Menolak cinta Gina kepadanya.
"Maafkan saya, Nona." Surya berbalik badan dan menaiki mobilnya meninggalkan Gina.
"Surya..." Bisik Gina lalu ia membuka mata. Sinar matahari pagi memasuki kamar Gina dari celah gorden yang sedikit terbuka.
Gina mengerjapkan matanya yang basah. Gina meraba dan mengusapnya lalu diam hanya menatap langit-langit kamarnya. Ia menoleh pada sofa tempat biasa Surya tidur. Kosong. Ia berharap Surya hanya sedang berlari pagi memutari komplek perumahannya sekarang. Tapi kemudian Gina bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi dan lagi-lagi harus berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah sebuah harapan semu yang ia ciptakan sendiri.
Setelah selesai mandi dan merias wajahnya, ia lalu ke tempat pakaian dan memakai pakaian kerjanya. Sebuah sheath dress berlengan pendek berwarna old navy dan memakai stiletto hitam 9 cm favoritnya. Gina lalu keluar dengan tidak lupa membawa tas mahalnya berwarna hitam senada.
Saat turun dari tangga Gina berharap Surya sedang duduk di meja makan menunggunya untuk sarapan bersama dengan hasil dari masakannya. Ia memang masih sering sekali berharap semua yang dialaminya akhir-akhir ini hanyalah mimpi apalagi nasi goreng buatan Surya adalah nasih goreng terenak yang pernah ia makan. Gina masih sering merindukan nasi goreng itu. Berkali-kali ia meminta Mbak Yuyun untuk membuat seperti yang Surya buat, tapi rasanya tetap tidak sama persis walaupun memakai resep yang sama.
"Memang begitu, Nona. Beda tangan beda rasa." Ujar Mbak Yuyun akhirnya karena untuk ke sekian kalinya tidak dapat membuat nasi goreng yang rasanya seperti nasi goreng buatan Surya.
Gina yang kesal karena tidak bisa makan makanan kesukaannya lalu meningalkan Mbak Yuyun di dapur.
"Nona, lalu bagaimana dengan nasi goreng dua ember ini?" Tunjuk Mbak Yuyun pada dua ember besar berisi nasi goreng hasil eksperimen mereka berdua setengah berteriak.
"Bungkus ke dalam kotak-kotak lalu kirim ke alamat yang ku kirim ke ponsel Mbak Yuyun." Ujar Gina sambil tetap berjalan keluar.
Tepat saat itu ada suara notifikasi di ponsel Mbak Yuyun. Dari Gina. Mbak Yuyun lalu membukanya dan melihat sebuah alamat dengan nama Yayasan Rumah Gina.
"Rumah Gina? Sejak kapan Mbak Gina membuat yayasan? Kenapa dia jadi tertarik dengan kegiatan sosial?" Mbak Yuyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena heran.
Gina mendekati meja makan yang di sana sudah ada Pak Rangga dan Bu Marina yang sedang sarapan juga. Gina mengambil duduk di depan Mamanya dan meletakkan tas mahalnya di atas meja.
"Sangat sesuai. Seorang Presdir R-Company dengan tas mahal itu." Bu Marina melirik tas Gina dengan tersenyum.
"Apa tas mahal sangat penting?" Tanya Pak Rangga sambil mengerutkan kening.
"Tentu saja, itu bisa menaikkan gengsi Gina sebagai pimpinan perusahaan sebesar R-Company."
"Sebelum menjadi Presdir R-Company pun semua barang yang dipakainya tidak ada satupun yang murah."
Gina yang sedang mereka bicarakan tidak menanggapi apapun dari kedua orang tuanya yang ada di meja itu. Ia hanya menikmati roti bakar di atas piringnya. Dan setelah meminum habis jus jeruknya, Gina lalu berdiri untuk pergi bekerja.
"Aku pergi." Ucapnya acuh.
"Baiklah Sayang. Hati-hati di jalan." Ucap Bu Marina sambil melambaikan tangan kepada Gina yang berjalan ke arah pintu dan tidak menjawab apapun ucapan Mamanya.
"Sudah satu bulan Gina menjadi Presdir R-Company. Nanti akan ada satu tahun, dua tahun. Anak semata wayang kita benar-benar terlihat hebat sekarang." Puji Bu Marina kepada Gina.
"Dia persis sekali sepertimu. Saat bekerja menjadi sangat bersemangat hingga tidak peduli hal lain. Jadi, bagaimana kalau kita mulai mengatur acara kencan buta untuknya? Pasti akan sangat sempurna jika ia menikah lagi dengan pria yang sepadan dengannya."
"Tidak, biarkan dia melakukannya sendiri."
"Kenapa? Papa takut akan membuat Gina patah hati lagi?"
"Tidak juga. Tapi biarkan saja dia berkonsentrasi dengan R-Company dulu." Ujar Pak Rangga sambil lalu meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Bu Marina melihat suaminya yang pergi ke arah ruang kerjanya. Ia tahu entah sedikit atau banyak, ada rasa sesal dalam diri Pak Rangga yang sempat membuat Gina menikah dengan Surya karena pada akhirnya itu membuat anak semata wayangnya lagi-lagi harus mengalami patah hati. Awalnya Pak Rangga memang berharap dengan adanya Surya bisa mengalihkan perasaan Gina dari Faris, tapi ketika itu benar-benar terjadi, diketahui ternyata sebenarnya Surya memiliki pacar dan tidak bisa bersama Gina yang telah jatuh cinta padanya.
Sementara itu Gina memasuki BMW 320i miliknya yang diberikan oleh Pak Rangga saat pelantikannya sebagai Presdir R-Company yang baru. Ia mulai melaju perlahan keluar dari pagar rumahnya dan menuju ke tempat ia bekerja. Jalanan pagi yang ramai mulai akrab lagi menjadi temannya berkendara. Setelah beberapa waktu lalu seperti memiliki sopir pribadi, Gina sudah bisa terbiasa kembali dengan kemana-mana menyetir sendiri mobilnya.
Saat tiba di R-Company, ia segera menaiki lift untuk menuju ke dalam ruangannya. Diujung lorong setelah keluar dari dalam lift Hanna sudah menunggunya di depan pintu ruangannya bersama sekretaris baru. Siska memutuskan untuk mengundurkan diri dari R-Company saat Gina menawarkan pemindahan tugasnya ke salah satu kantor cabang di luar kota. Bukan bermaksud kejam atau mendendam kepada Siska, tapi bagaimana bisa Gina bekerja dengan pacar orang yang sudah mematahkan hatinya. Ia bukan malaikat yang memiliki sifat baik hati dan tidak mencampur adukkan antara urusan pekerjaan dan juga urusan pribadi. Tapi kenyataannya ia pasti akan terus merasa cemburu setiap kali melihat Siska. Dan agar tidak terlihat terlalu kejam maka Gina bermaksud menjauhkan Gina darinya saja, bukan memecatnya.
"Selamat pagi, Nona." Sapa Hanna dan sekretarisnya hampir bersamaan.
"Pagi..." Sapa Gina sebelum Hanna membukakan pintu untuknya.
"Feby, bawakan semua berkas yang harus ku tanda tangani ke ruanganku."
"Baik, Nona."
Gina memasuki ruangannya dan duduk di balik meja. Menyalakan laptop dan memeriksa laporan pendapatan per hari kemarin yang ia akses dari sistem informasi perusahaan. Aktifitas rutin yang dilakukan Gina sejak satu bulan terakhir ini.
"Nona, siang ini ada pertemuan dengan pihak outsorching untuk perpanjangan kontrak kerja kita." Ujar Hanna di depan meja Gina.
Gina masih memainkan jemarinya di atas touchpad dengan mata yang tidak lepas dari layar laptopnya. Hanna menatap Gina menunggu suara darinya. Ada sedikit rasa cemas dari raut wajah Hanna menanti tanggapan dari atasannya itu.
"Buat reservasi tempat untuk pertemuan. Tempat yang tidak terlalu formal yang menyajikan daging bakar kualitas terbaik." Jawab Gina sambil memandang Hanna.
Hanna mengerjapkan matanya berkali-kali. Itu adalah tanggapan Gina yang diluar dugaan bagi Hanna. Sebelum akhirnya Hanna mengatakan itu sebelumnya ia telah mempersiapkan diri untuk segala macam kata-kata tidak mengenakkan yang keluar dari mulut Gina karena harus bertemu dengan Marco. Hanna bahkan berfikir mungkin Gina akan menolak memperpanjang kontrak dengan outsorching milik Marco karena enggan berhubungan dengannya.
"Ada lagi?" Tanya Gina melihat Hanna masih berdiri mematung di depan mejanya.
"Tidak Nona." Jawab Hanna cepat menyadari tindakannya membuat Gina merasa heran.
Hanna kemudian tampak menelepon sebuah nomor dan membuat reservasi di restoran tempat biasa dirinya dan Hanna makan siang dengan menu yang Gina minta itu.
Sejak Gina menjadi Presdir R-Company, tepatnya sejak Surya menyerahkan tahta kepadanya, Gina menjadi jarang tersenyum. Kepergian Surya benar-benar mematahkan hatinya hingga ia merasa hampa dengan semua yang ia jalani. Ia merasa, seharusnya bisa sangat bahagia ketika duduk di kursi Presdir saat ini, tapi ternyata ia merasa tidak sebahagia itu. Ia tahu akan membutuhkan waktu untuk memulihkan hatinya kembali jadi, ia akan berusaha menyibukkan diri demi bisa membuat dirinya menemukan kebahagiannya lagi.
"Saya berjanji tidak akan muncul di hadapan Anda lagi setelah ini." Itu adalah janji yang Surya tepati.
Setelah malam itu, Surya tidak pernah muncul lagi di depannya. Bahkan saat acara serah terima jabatan waktu itu, Surya memilih untuk tidak hadir dengan alasan sedang memiliki urusan mendadak yang tidak bisa ia tinggalkan. Entah itu benar atau hanya alasan yang sengaja dibuat Surya demi menepati janjinya, yang jelas Gina berusaha untuk tidak peduli lagi dengannya. Gina memutuskan untuk menyerah. Ia tidak mungkin memohon lagi kepada Surya yang telah menolaknya. Ia hanya perlu memulihkan kembali perasaanya seperti yang Surya inginkan. Gina merasa kehidupannya harus segera kembali. Kehidupan sebelum ia menyukai Surya.
🌸🌸🌸
Gina duduk di salah satu kursi restoran grill yang sudah di pesan oleh Hanna yang sekarang sedang menyiapkan daging di atas pembakaran. Tepat saat itu Marco dan seorang pegawainya memasuki restoran dan mendekati meja Gina.
"Selamat Siang." Sapa Marco kepada Gina dan Hanna yang dijawab bersamaan oleh dua wanita yang sudah datang lebih dulu.
"Rasanya senang sekali bisa bertemu dengan Presdir R-Company yang baru." Kalimat Marco selanjutnya sambil tersenyum lebar. Gigi putih yang ia pamerkan membuatnya terlihat sangat tampan selain karena wajah blasterannya yang didapat dari ayahnya itu.
"Meskipun terlambat, tapi saya tetap harus mengucapkannya secara langsung. Selamat..." Marco mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Gina. Tapi Gina masih acuh dan hanya memandang tangan Marco, tapi setelah melirik Hanna yang memperhatikan mereka, Gina lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan relasinya itu.
"Terima kasih." Jawab Gina datar seperti biasa setiap ia bertemu dengan Marco.
"Saya senang karena semoga pertemuan ini adalah pertanda baik bagi perusahaan kita." Ucap Marco dengan bahasa formal.
__ADS_1
"Tentu saja. Bukan karena seseorang atau apapun itu, tapi saya melihat dari apa yang sudah para pendahulu saya lakukan, bahwa kerja sama kita tidak pernah memiliki masalah dan merupakan kerja sama yang memberi keuntungan antara satu sama lain sehingga meskipun baru di R-Company, saya tetap akan memperpanjang kontrak kerja kita."
"Baik, terima kasih." Wajah Marco sumringah. Melihat itu, tanpa sadar Hanna turut tersenyum senang.
"Semua berkas kontrak kerja sama akan kami sampaikan besok oleh pegawai kami."
"Baik."
"Silakan..." Gina mempersilakan Marco dan anak buahnya untuk menikmati hidangan yang sudah Gina pesan. Daging bakar kualitas nomor 1 di restoran terkenal ini sudah tidak biaa diragukan lagi kenikmatannya.
Sesekali Gina melihat Hanna dan Marco yang saling pandang. Hanna jadi tersipu setiap Marco melihatnya. Gina tersenyum kecut melihat tingkah dua orang itu. Wajah orang-orang yang sedang kasmaran. Walau Hanna mengatakan Marco sudah lebih banyak berubah daripada yang mungkin saat Gina kenal dulu, tapi tetap saja Gina merasa Hanna terlalu baik jika harus bersama Marco. Sebenarnya Hanna masih belum rela Hanna berpacaran dengan pria itu. Tapi Gina bisa apa kalau bahkan Hanna seperti benar-benar mencintai Marco dan hanya bisa mendukung serta mengawasi jika pacar Hanna itu beruah lagi. Karena meskipun Hanna hanyalah asisten pribadi Gina, tapi dia juga merangkap sebagai teman di saat-saat tertentu.
"Hanna, ku lihat di kepalamu seperti ada sesuatu." Ujar Gina yang berjalan menjauhi meja setelah pertemua itu usai. Marco dan asistennya berjalan di depan mereka.
"Apa, Nona?" Hanna meraba rambutnya mencari sesuatu yang dikatakan oleh Gina. Tapi sejauh tangannya meraba, Hanna tidak menemukan benda asing di kepalanya selain rambutnya yang halus.
"Bukankah kau ingin pulang bersama Marco?"
"Maaf, Nona?" Hanna seperti meminta kejelasan pada kalimat Gina.
"Pulanglah bersama Marco."
"Tidak Nona, saya akan mengantar Anda."
"Sudahlah, jangan terlalu merasa bertanggung jawab padaku. Itu membuatku merasa menjadi bos yang tidak pengertian."
"Tidak apa-apa, Nona. Saya sama sekali tidak berfikir begitu."
"Pak Marco." Gina meninggikan suaranya memanggil Marco yang sudah mendekati mobilnya di tempat parkir.
"Iya Nona." Jawab Marco pun formal membalik badan menghadap Gina dan Hanna di belakangnya.
"Apakah Anda keberatan jika asisten pribadiku pulang bersamamu? Aku sedang ada sedikit urusan pribadi sehingga tidak bisa bersamanya." Kalimat Gina membuat Hanna membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh atasannya itu.
"Nona... tidak perlu." Jawab Hanna malu-malu.
"Dengan senang hati, Nona." Jawab Marco dengan senyum lebar.
"Saya pastikan akan mengantarkannya pulang dengan selamat."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Gina menengadahkan tangan meminta kunci mobil di tangan Hanna dan segera memasuki mobilnya.
Hanna melihat Gina dan mengangguk hormat saat mobil mewah yang dikendarai atasannya itu melintas di depannya. Selanjutnya ia mendapati Marco di samping pintu mobil yang tersenyum melihatnya. Hanna membalas dan berjalan ke arahnya.
"Apa itu artinya bosmu sudah bisa menerima hubungan kita?" Tanya Marco saat Hanna sudah ada didekatnya.
"Bisa jadi. Atau mungkin Nona Gina memang sedang ingin pergi sendirian saja."
"Aku prihatin atas perceraiannya." Marco bersimpati.
__ADS_1
"Ya... semoga dia menjadi lebih kuat." Jawab Hanna sambil menghela nafas berat penuh simpati.
Sementara itu Gina menghentikan mobilnya di sebuah toserba. Ia memasuki toserba untuk membeli minuman dingin dan sekantong makanan ringan. Setelah duduk di meja depan toserba, Gina membuka minuman dingin rasa buah miliknya. Terasa segar membasuh kerongkongannya. Ia lalu membuka kentang goreng dan memakannya. Gina menarik nafas berat. Berharap itu bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik. Meski sudah tidak pernah bertemu Surya lagi, tapi bersamanya beberapa waktu lalu membuatnya tidak terbiasa sendirian sekarang. Ia masih sering merindukan Surya. Sangat merindukannya sampai memimpikannya menjadi sebuah kebiasaan saat ia tertidur.