
Gina membuka ponsel. Ada beberapa pesan. Salah satunya dari grup SMAnya.
Pesta pernikahan ratu sekolah kita yang basah. Seseorang mengirimkan sebuah foto suasana kacau pesta pernikahan Gina semalam. Gina mengenal baik si pengirim foto. Lalu dibawahnya berbagai komentar balasan bermunculan. Gina membacanya satu per satu.
Ku kira itu berasal dari kipas angin uap air. Tapi ternyata titik-titik air itu adalah hujan. Pestanya benar-benar kacau. Aku harus berteduh di parkiran 🤣
Benar, kuah supku semakin penuh karena air hujan yang jatuh di mangkukku
Minumanku juga berubah menjadi rain splash
Berbagai komentar tidak menyenangkan bernada sindiran muncul bergantian.
Tapi pengantin wanita tampak menikmati suasana romantis itu. Paling tidak masih ada komentar pembelaan.
Iya benar, mereka berpelukan di hadapan orang banyak. Memang semanis itu atau hanya pamer saja, aku tidak yakin. Komentar itu juga terdengar sinis.
Aku yakin itu hanya sandiwara
Aku rasa juga begitu.
Mereka tahu Gina ada di dalam grup obrolan itu tapi mereka seolah tidak peduli. Sebegitu tidak sukanya mereka kepada Gina hingga mengesampingkan perasaannya. Gina mulai terpancing dan menjadi kesal membaca komentar teman-teman alumni SMA-nya. Sebagai murid dengan heater wanita terbanyak di sekolah, ia sering mendapat komentar tidak menyenangkan. Selama ini Gina selalu mengabaikannya karena akan sangat melelahkan jika ia meladeni mereka. Lagi pula ia berfikir untuk apa meladeni sesuatu yang sama sekali tidak penting. Ia akan tetap berjalan dengan menegakkan kepala penuh rasa percaya diri. Sifat narsisnya jauh lebih tinggi daripada apapun.
Tentu saja ia sangat percaya diri. Wajah cantik, penampilan menarik, berasal dari keluarga berada dan berpendidikan tinggi. Yang terlihat memang sebaik itu jadi ia tidak perlu merasa ter-bully.
"Sirik tanda tak mampu." Itu yang sering kali ia ucapkan jika memang ia sudah tidak tahan dengan berbagai komentar tidak mengenakkan yang sampai padanya.
Dan saat ini komentar yang masuk di dalam pesan grup semakin menyakitkan. Gina benar-benar tidak tahan. Berbagai macam umpatan sangat ingin ia tumpahkan untuk menjawab semua celaan dan cibiran teman-temannya. Tapi... kemudian ia teringat sesuatu. Ia buka galery foto di ponselnya dan mencari gambar yang tersimpan dari hasil unduhan pesan grup beberapa hari yang lalu.
Baiklah teman-teman... silakan menghabiskan energi kalian saat ini. Aku punya waktu sendiri untuk membalas kalian. Batin Gina. Tak terasa bibirnya menggariskan senyum.
🌸🌸🌸
Suasana R-Company pagi hari. Ratusan pegawai dari berbagai divisi sudah mulai berlalu lalang. Area lobi sudah tampak ramai. Hanna melangkahkan kakinya ke dalam R-Company. Sambil melihat sekeliling ia memastikan bahwa hari ini ia bisa bekerja dengan baik.
Sebagai orang yang dipercaya untuk menjadi asisten pribadi putri pemilik perusahaan, ia berusaha untuk tidak pernah melakukan kesalahan. Karena satu saja kesalahannya akan membuat Gina mengalami kesulitan merebut posisi Surya nantinya.
Sebenarnya hingga saat ini ia masih bingung bagaimana bisa Surya yang sudah berada di puncak memberinya tugas untuk membuat Gina merebut jabatannya. Bukankah setiap orang ingin berada di posisi teratas? Hanna berfikir bahwa mungkin karena Surya merasa tidak memiliki hak penuh pada R-Company sehingga lebih memberi ruang kepada Gina yang seorang putri pemilik untuk mengambil posisinya.
"Kau tahu pesta itu?" Suara seseorang yang berjalan di depan Hanna.
"Aku tahu dari seseorang yang hadir di sana jika pestanya menjadi kacau. Hujan mengguyur tepat saat pesta berlangsung." Suara dari yang lain dan adalah pegawai laki-laki berseragam.
__ADS_1
Tidak semua pegawai mendapat undangan untuk menghadiri pesta pernikahan Gina dan Surya. Pesta itu hanya dihadiri oleh pegawai kelas menengah ke atas. Pegawai dibawah kelas menengah ke bawah tidak mendapatkan undangan. Pesta itu tidak mungkin dihadiri semua pegawai dari seluruh divisi karema jumlah pegawai berjumlah ribuan termasuk pegawai yang ada di banyak cabang perusahaan di seluruh daerah di negeri ini. Jadi pesta hanya dihadiri oleh perwakilan tiap divisi dari perusahaan dan cabang-cabangnya.
"Sayangnya aku tidak bisa hadir di sana, seharusnya aku bisa menikmati pesta romantis di bawah hujan." Seorang pegawai yang lain mulai berbicara.
"Hei, kau siapa berharap mendapat undangan The Royal Wedding seperti itu. Pegawai kelas rendahan seperti kita tidak mungkin bisa ada di sana. Hanya akan mengotori tempat pesta saja." Timpal pegawai laki-laki.
"Benar, kau tahu gaun apa yang harus kau pakai? Mereka yang hadir adalah para kalangan kelas atas. Dengan penampilan mereka yang mewah dan elegan. Sedangkan kau?" Selanjutnya pegawai wanita pertama itu tertawa.
"Enak saja. Aku pasti akan menyewa gaun terbaik di negeri ini dan saat memasuki pesta semua mata akan tertuju padaku."
"Iya... iya... dan ketika jam 12 malam, gaunmu berubah menjadi daster, kereta kudamu berubah menjadi ojek dan sepatu kacamu kembali berubah menjadi bakiak." Pegawai wanita pertama tertawa lebih kencang. Si pegawai pemimpi itu cemberut. Tanpa sadar Hanna ikut menahan tawa mendengar pembicaraan mereka.
"Tapi aku benar-benar masih tidak percaya Nona Gina yang cantik jelita menikahi Pak Surya yang cupu itu." Mereka mulai bergosip.
"Iya, aku benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Pak Surya bisa menjadi presdir di perusahaan lalu menikahi Nona Gina pula. Kalau dipikir-pikir itu sangat janggal."
"Beruntung sekali menjadi, Pak Surya. Andai aku bisa bertukar nasib dengannya." Pegawai laki-laki itu menerawang jauh dan tidak menanggapi kejanggalan yang temannya lontarkan.
"Hei, apa kebaikanmu di kehidupan sebelumnya sampai-sampai kau ingin bernasib baik seperti Pak Surya." Pegawai wanita pemimpi itu menepuk lengan pegawai laki-laki mencoba menyadarkannya.
Hanna sudah terlalu geli mendengar pembicaraan para pegawai itu sehingga ia mempercepat langkah dan mendahului mereka. Salah satu pegawai menyadari bahwa itu adalah Hanna.
"Ya Tuhan, bukankah yang baru saja lewat itu Nona Hanna?"
"Apa dia mendengar pembicaraan kita? Kalau iya, bisa 'mati' kita membicarakan bos kita seperti itu."
"Ehh, memangnya apa yang kita lakukan. Kita hanya membicarakannya. Kita tidak memfitnah atau melakukan kejahatan dengan hal itu."
"Benar juga..." Ketiga pegawai itu akhirnya sampai didepan pintu lift di samping Hanna. Dan saat pintu terbuka, semua orang memasuki lift termasuk Hanna dan tiga pegawai itu. Tapi sebelum pintu lift tertutup sempurna seseorang tampak menahannya dari arah luar. Pintu lift kembali terbuka. Tampak wajah cantik Gina terlihat. Semua mata tertuju padanya termasuk Hanna dan sempat menganggukkan kepala menyapanya. Gina dengan santai memasuki lift. Suasana lift sangat hening. Gina bisa menebak apa yang difikirkan oleh semua orang di lift saat itu. Mereka pasti berfikir bagaimana bisa Gina sudah kembali bekerja setelah pesta pernikahan yang dilakukannya akhir pekan kemarin. Tapi Gina tidak peduli dengan hal itu dan memilih diam hingga pintu lift kembali terbuka untuk menurunkan para pegawai itu.
Saat ini Gina dan Hanna hanya berdua saja di dalam lift.
"Bagaimana kabar Nona pagi ini?" Sapa Hanna seperti biasa.
"Kurang baik." Jawab Gina masih memandang lurus ke depan. Mendengar hal itu Hanna mengerutkan kening. Satu lagi tanda tanya dikepalanya. Setelah kedatangan Gina diwaktu seharusnya ia menikmati saat-saat bulan madu, sekarang Gina membuat pengakuan bahwa harinya sedang kurang baik.
"Apa yang bisa saya bantu, Nona?" Tanya Hanna kemudian tanpa menanyakan penyebab suasana hati Gina menjadi kurang baik. Karena memang ia tidak memiliki kewenangan dalam hal itu. Mereka ada di tempat kerja jadi Hanna tidak mau menjadi lancang dengan menanyakan sesuatu yang berbau privacy.
"Hanna, apa kau pernah melihat... Ahh, tidak." Gina menghentikan kalimatnya sendiri. Hanna yang berdiri disamping Gina memandangnya dengan aneh.
Pagi tadi... Gina merasakan indra penciumannya menangkap aroma sabun mandi yang sangat lekat. Perlahan matanya mulai terbuka karena penasaran pada apa yang sedang terjadi. Dan ternyata disela kantuk yang masih menyelimutinya, Gina melihat seseorang bertelanjang dada dan hanya memakai handuk dibagian bawahnya. Seketika Gina berteriak histeris.
__ADS_1
Surya terkejut dan berbalik badan sambil meminta maaf.
"Maafkan saya, Nona. Maafkan saya. Saya fikir Anda masih tidur." Ucap Surya berkali-kali. Gina masih menutup wajahnya dengan selimut.
"Apa yang kau lakukan dengan hanya memakai handuk seperti itu? Kau mau menggodaku?" Omel Gina dari balik selimutnya.
"Tidak Nona, sama sekali tidak." Surya buru-buru memakai kemeja lalu memakai celana. Setelah semua terpakai, Surya mempersilakan Gina membuka selimut yang ia gunakan untuk menutupi matanya.
"Sudah Nona."
"Kau sengaja melakukannya bukan?"
"Tidak Nona."
"Mulai sekarang kita tambahkan satu poin lagi di surat perjanjian bahwa tidak ada yang boleh menampakkan anggota badan dikamar selain bagian yang selayaknya boleh dilihat semua orang."
"Maaf Nona?"
"Papa mengatakan kalau kau ini cerdas, tapi ternyata yang seperti ini saja kau tidak faham." Gina kesal.
"Kau tidak boleh seenaknya melepas atau memakai bajumu dikamar ini. Kalau kau ingin melakukannya, lakukan di kamar mandi." Jelas Gina.
"Baik Nona." Surya patuh tanpa membantah.
Jam menunjukkan hampir pukul tujuh. Gina bangun dari tempat tidur bermaksud untuk mandi dan meninggalkan Surya yang sedang memakai dasinya.
"Apa itu tadi? Seenaknya saja dia telanjang di kamarku. Walaupun dia memakai handuk tapi tetap saja itu namanya telanjang. Dia pria dan aku wanita. Bagaimana bisa dia melakukan itu di depanku. Memangnya aku orang mati yang tidak akan bisa bangun dan membuka mata." Omel Gina di dalam kamar mandi dan duduk ditepi bath up-nya sambil menunggu air hangat yang ia isi menjadi penuh.
"Tapi badannya bagus. Dadanya padat. Perutnya rata. Atletis... " Pandangan Gina menerawang jauh mengingat pemandangan pagi saat ia membuka mata tadi. Tanpa ia sadari wajahnya menghangat.
"Ehh, kenapa aku memikirkannya? Apa otakku sudah tidak waras?" Gina menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nona... " Hanna mencoba menyadarkan Gina untuk kembali ke dunia nyatanya. Ingatannya tentang kejadian pagi ini memang cukup mengganggu. Bagaimanapun juga baru kali ini ia melihat seseorang dalam keadaan terbuka seperti itu dikamarnya. Ia memang biasa melihat pria-pria bertelanjang dada saat dipantai, di kolam renang umum ataupun di tv. Tapi melihatnya secara langsung seperti itu di dalam kamar membuatnya merasakan hal yang sangat berbeda.
Apakah ini yang dinamakan trauma. Pikir Gina.
"Nona... Nona baik-baik saja?" Kali ini Gina akhirnya tersadar.
"Iya. Apa?"
"Nona tidak apa-apa, 'kan?" Ulang Hanna dengan wajah yang sedikit khawatir. Melihat Gina yang terbengong beberapa saat seperti itu membuat Hanna berfikir yang bukan-bukan. Bisa jadi Gina sedang sakit atau mengalami hal lain.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Jawab Gina kemudian setelah ia merasa mulai tenang.