Tahta Surya

Tahta Surya
Playgirl VS Playboy


__ADS_3

Surya ada di dalam ruangannya. Memeriksa berkas-berkas dan sesekali matanya menatap layar laptop. Tidak hanya Gina yang sudah mulai bekerja lagi hari ini tapi Surya juga. Ia tidak berhasil membujuk Gina untuk pergi berbulan madu sehingga tidak ada alasan baginya untuk libur bekerja.


"Kenapa kita harus pergi berbulan madu? Kita ini bukan pasangan seperti pada umumnya, kau ingat itu bukan? Jadi mari jangan membuang-buang waktu dan tenaga untuk pergi berbulan madu." Tolak Gina saat Surya membujuk untuk ke sekian kalinya.


"Aku tidak akan bisa menikmatinya. Aku akan berbulan madu dengan semua pekerjaanku di R-Company. Semakin cepat aku menguasai pekerjaanku, semakin cepat kita mengakhiri ini. Jadi aku tidak mau membuang waktu untuk hal yang tidak penting." Itulah yang akhirnya membuat Surya berhenti membujuk Gina. Istrinya yang keras kepala itu tidak mau mengubah pendiriannya sama sekali.


"Baiklah kalau kalian tidak mau." Ujar Pak Rangga saat Surya menyampaikan bahwa mereka tidak akan berbulan madu kemanapun.


"Dengan terpaksa aku yang akan pergi." Surya memandang Pak Rangga tak mengerti. Pak Rangga menangkap itu dari wajah Surya.


"Aku yang akan menggantikan kalian berbulan madu." Pak Rangga tersenyum lebar. Surya akhirnya mengerti maksudnya dan membalas senyum Pak Rangga.


Sebenarnya bulan madu itu adalah kado dari Pak Rangga kepada mereka. Pak Rangga berharap dengan berbulan madu Gina dan Surya menjadi dekat satu sama lain. Dengan hanya berdua saja di suatu tempat yang jauh, mungkin saja Gina akan mengenal pribadi Surya dengan baik.


Pintu ruangan Surya di ketuk, seseorang muncul dibaliknya.


"Ya Hanna, ada yang ingin kau sampaikan?" Sapa Surya setelah tahu yang masuk ke dalam ruangannya adalah asisten pribadi Gina.


🌸🌸🌸


Gina duduk di sebuah bangku panjang di taman R-Company. Dibawah pohon flamboyan yang tumbuh perkasa dan berdaun lebat itu duduk di sana menjadi terasa sangat teduh. Saat melintasi aula tanpa sengaja pandangannya tertuju ke arah taman dan tiba-tiba langkahnya ia ayunkan menuju bangku panjang di bawah pohon.


Ditempat itu meskipun dicuaca sepanas ini tapi angin berhembus sepoi-sepoi sehingga membuat Gina tergoda untuk memejamkan mata. Apalagi sepiring makan siang dengan menu rendang di kantin sudah memenuhi sebagian penuh perutnya. Suasana itu benar-benar sangat mendukungnya untuk mengantuk.


"Kau sudah selesai? Kenapa lama sekali?" Tanya Gina pada seseorang yang ia rasa duduk di sampingnya dengan masih memejamkan mata. Masih menikmati kantuk yang tidak bisa ia tahan.


"Kau menunguku?" Suara itu bukan milik Hanna seperti perkiraannya. Suara bass seorang pria yang ia kenal. Gina buru-buru membuka mata seraya memperbaiki letak duduknya.


"Kenapa kau ada di sini?"


"Aku mau mengucapkan selamat secara resmi atas pernikahanmu dengan Pak Surya. Aku tidak perlu meminta maaf tidak bisa hadir waktu itu karena tanpa akupun pestamu tetap berjalan. Kecuali aku adalah mempelai priamu pasti itu sangat mengecewakan jika aku tidak datang."


"Sangat menyebalkan." Gina mendengus kesal mendengar kenarsisan Marco.


"Jadi, kau ke sini hanya ingin mengatakan itu?"


"Kau lupa aku berpartner dengan perusahaan ini?"


"Maksudku, kenapa kau duduk di situ?" Nada suara Gina kesal. Marco tersenyum lebar memamerkan sederet gigi putih nan rapi. Kulitnya yang kemerahan khas bule semakin terlihat karena cuaca sedang panas sekali.

__ADS_1


"Apakah ada larangan untuk duduk di sini?" Marco mengerutkan kening.


"Ahh iya, Nyonya Surya. Maafkan aku. Kau pasti tidak mau suamimu salah faham kalau kita duduk berdua disini." Goda Marco.


"Tentu saja, dia tidak akan senang melihat hal itu jadi pergilah dari sini." Gina menatapnya tajam seperti ingin Marco benar-benar pergi dari tempat itu.


"Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memangnya apa yang salah dengan hanya duduk berdua dan sedikit mengobrol. Aku rasa ini belum bisa dimasukkan ke dalam kategori perselingkuhan. Kita hanya berbicara santai sebagai mantan pacar, atau anggap saja kita adalah teman semasa SMA kalau kau tidak ingin mengenangku sebagai mantan terindahmu." Marco terkekeh.


"Dan lagi, kita berada ditempat terbuka dan tidak melakukan kontak fisik sama sekali. Lalu kecurigaan apa yang akan timbul jika Pak Surya melihat kita ada di sini berdua?"


"Terserah apa yang kau katakan. Yang jelas kau sangat mengganggu jam istirahatku. Jadi bisakah kau pergi dari sini." Usir Gina.


"Kau, mengusir relasi bisnismu? Relasi yang memberi kontribusi besar di dalam perusahaanmu." Marco melebarkan kedua matanya.


"Kau pikir aku ini bodoh? Mana mungkin kau menjadi relasi kalau itu tidak menguntungkan juga bagimu. Kau mendapatkan keuntungan yang besar juga dari kontrak kerja yang telah perusahaan kita sepakati."


"Ya tetap saja aku ini relasi bisnis yang harus kau sambut dengan hangat dan kau jamu dengan baik."


"Khusus terhadapmu, aku tidak akan melakukan itu."


"Wah, sifat kejammu benar-benar sangat konsisten." Marco menggelengkan kepala, tidak percaya Gina yang di kenalnya semasa SMA masih tetap sama dengan Gina yang saat ini ada di hadapannya.


"Apakah seterluka itu saat aku memutuskanmu?"


"Hei, jaga bicaramu. Kau mau memutar balikkan fakta?" Gina mulai tersulut emosi karena Marco kambuh untuk membual.


Di dalam kantin yang sepi, dijam sore sepulang para murid mengikuti berbagai ekstrakulikuler, tampak beberapa anak laki-laki sedang bergerombol


"Kau benar-benar playboy sejati. Kau bahkan berhasil mendapatkan Gina yang cantik tapi pacarnya banyak itu. Playboy bertemu playgirl. Kedengarannya sangat bagus." Ujar Dandi teman Marco.


"Bukan lagi bagus tapi itu sangat fenomenal." Imbuh Gerry sambil tertawa. Marco hanya tersenyum penuh bangga karena telah bisa memacari Gina.


Meskipun Gina terkenal memiliki banyak pacar tapi ia juga tidak sembarangan menerima siapa saja yang pantas jadi pacarnya. Ia hanya akan memacari si anak kaya, si tampan, si pandai dan si bertalenta. Atlet sekolah meskipun tidak pandai akan bisa jadi pacarnya asal dia juga tampan. Ya kira-kira begitu. Seorang juara kelas walaupun tidak tampan dan tidak kaya tetap memiliki peluang untuk menjadi pacarnya agar tugas sekolahnya bisa terselesaikan dengan baik. Kurang dari itu, mereka hanya mampu bermimpi untuk menjadi pacar Gina yang cantik dan sangat populer di sekolah.


Sebagai anak orang kaya, Gina bisa menjadi semua yang ia inginkan. Penampilan menarik ditambah dengan semua yang melekat ditubuhnya adalah barang-barang branded, dan juga uang saku, tidak diragukan lagi jumlah uang saku yang ada di atm yang ia bawa. Gina terlihat nyaris sempurna. Hanya saja ia tidak begitu menonjol dalam hal akademis. Bukan karena ia bodoh, tapi sifat malas belajarnya sangat akut.


Gina mengikuti banyak bimbingan belajar tapi itu hanya karena orang tuanya memintanya. Ia selalu datang ke kelas bimbingan belajar tapi ia sering mengabaikan materi yang tutor sampaikan. Baginya, ia pandai dan bahkan menjadi juara kelas pun tidak akan membuat orang tuanya bangga. Karena menurutnya, mereka hanya peduli pada perusahaan mereka saja, bukan dirinya. Jadi ia tidak mau bersusah payah belajar tentang trigonometri ataupun memghafal yang ada pada tabel periodik. Itu membosankan. Ia tidak peduli walau itu akhirnya menjadi bahan para heater untuk membulinya. Karena menurut Gina untuk menjadi pandai atau bodoh adalah pilihannya. Dan ia memilih untuk menjadi tidak menonjol dalam hal akademis. Menjadi siswa tercantik dan terpopuler baginya sudah cukup.


"Sekarang serahkan semua uang kalian sesuai kesepakatan taruhan. Gina sudah menjadi pacarku sejak kemarin." Ujar Marco jumawa.

__ADS_1


Gina yang sore itu bermaksud mengisi perutnya seusai mengikuti latihan voli mendengar pembicaraan Marco dan teman-temannya pun menjadi sangat marah. Ia hanya sebagai bahan taruhan bagi Marco dan teman-temannya. Dan akhirnya bola voli yang sedang ia bawa pun menjadi senjata yang ia lempar tepat di meja dimana Marco dan teman-temannya sedang makan bakso.


"Brakkk!!!" Semua yang ada di atas meja menjadi berantakan seketika. Bakso dalam mangkuk mereka tumpah berserakan mengotori seragam putih abu-abu mereka. Bahkan sambal dibatas meja sekarang berpindah ke wajah Dandi. Gorengan pun berceceran di sekitar mereka.


Perlahan Gina mendekat dengan langkah tenang. Semua orang yang ada di meja berantakan itu terpaku memandang ke arah Gina yang semakin mendekat dan membuat mereka tidak mampu berkata-kata, termasuk Marco.


Setelah sampai di meja mereka, Gina duduk di salah satu kursi di sudut meja.


"Jadi, aku hanya menjadi bahan taruhan kalian?" Tanya Gina tenang tapi bernada dingin. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merinding ngeri.


"Bukan begitu, Gin." Marco akhirnya bersuara.


"Kau..." Gina menarik krah baju seragam Marco. Marco yang tahu Gina adalah taekwondoin bersabuk hitam hanya berani menelan ludah. Sebesar apapun tenaganya, ia pasti tidak akan menang jika melawan Gina. Ia tahu mempermainkan Gina memiliki resiko yang sangat besar. Tapi 3 juta uang taruhan yang ia dapatkan akan ia gunakan untuk memodifikasi motornya, dan itu sangat menggiurkan.


Dan akhirnya sebuah tinju mendarat di wajah Marco. Temannya yang tercengang pun tidak sempat mengelak saat secepat kilat tendangan kaki Gina mengenai dasar meja yang mengarah ke tubuh kedua teman Marco dan membuat mereka terjengkang kemudian.


Tanpa kata-kata lagi Gina meninggalkan tiga anak laki-laki yang sudah membuatnya marah itu. Gina menghampiri ibu kantin yang tercengang tanpa berani melerai.


"Berapa semuanya, Bu?" Tanya Gina kepada ibu penjaga kantin.


"I-iya Nona?" Penjaga kantin itu belum hilang dari ketakutannya.


"Semua kekacauan ini, berapa yang harus ku bayar?"


"Anu... Nona... Itu..." Ibu kantin mulai menghitung jumlah kerugian yang ia terima."


"Ini, Bu." Gina tidak sabar dan mengeluarkan 5 lembar pecahan mata uang terbesar di negeri ini. Ibu penjaga kantin melihat uang di atas mejanya.


"Apa masih kurang?" Tanya Gina karena ibu penjaga kantin hanya memandang uang itu tanpa ingin menyentuhnya. Gina merogoh saku tasnya lagi tapi ibu penjaga kantin melarangnya untuk mengeluarkan uang lagi.


"Sudah Nona, ini cukup." Ujar ibu penjaga kantin tergagap. Hanya 3 mangkuk bakso, 3 gelas minuman, sepiring gorengan, sepiring sambal, itu tidak sebanding dengan jumlah yang ia berikan sebagai ganti rugi. Ibu kantin melihat tidak ada yg rusak selain mangkuk dan gelas yang pecah.


Setelah itu Gina pergi dari kantin tanpa menoleh ke arah 3 murid laki-laki yang mengerang menahan sakit itu. Dan sejak itu, Marco adalah mantan pacar yang paling Gina benci karena sudah menjadikannya bahan taruhan waktu itu.


"Kau tahu... kau adalah mantan pacarku yang paling cantik tapi juga yang paling galak sepanjang sejarah percintaanku." Marco masih duduk di samping Gina walaupun Gina sudah mengusirnya.


"Dan kau adalah mantan pacarku yang paling tidak berperikepacaran." Jawab Gina sambil memandang Marco dingin.


"Tidak berperikepacaran?" Tiba-tiba terdengar suara dari orang ketiga yang sudah ada di hadapan mereka. Surya.

__ADS_1


__ADS_2