Tahta Surya

Tahta Surya
Wanita Hebat Dibalik Pria Hebat


__ADS_3

Surya dan pengawalnya yang mengawal Tuan Adskhan menghampiri Gina dan Nyonya Adskhan.


"Benar-benar bangsa yang hebat. Ratusan tahun melawan penjajah dan akhirnya bisa merdeka. Banyak darah yang tumpah dan semua perjuangan terbayar dengan semangat dan tekat bangsa ini untuk terbebas dari penjajahan." Ujar Tuan Adskhan panjang lebar dan penuh simpati.


"Negara ini juga sangat indah. Mari kita ke tempat yang kemarin ku tunjukkan dari internet." Ajak Nyonya Adskhan dengan wajah cerianya. Itulah yang membuat wanita itu terlihat lebih cantik. Mata penuh cinta miliknya membuat siapapun yang memandangnya seperti tersihir untuk merasa bahagia.


"Ini sudah sore, mari kita beristirahat dulu di hotel. Besok mari kita mengunjunginya." Ajak Tuan Adskhan yang disambut baik oleh istrinya dengan berdiri dan mulai meninggalkan tempat itu. Surya dan Gina mengantar sepasang suami istri itu untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Setelah itu Surya dan Gina meninggalkan hotel dan menaiki mobil mereka sendiri. Beberapa orang Surya tetap ada di hotel untuk menjadi pengawal. Walaupun Tuan Adskhan pun sudah memiliki pengawal pribadi tapi sebagai 'tuan rumah' Surya tetap perlu memerintahkan anak buahnya untuk memberika pelayanan keamanan untuk Tuan Adskhan dan rombongannya.


Gina agak bingung saat mobil Surya berbelok ke arah yang berlainan dengan arah menuju rumahnya.


"Surya, kau lupa jalan pulang?"


"Tidak Nona, kita belum akan pulang sekarang."


"Lalu, mau kemana lagi kita?" Gina melihat jalanan di kaca sampingnya.


"Waktu itu kau mengajakku ke panti asuhan. Kau mau mengajakku ke tempat apa lagi? Panti jompo?" Surya hanya tersenyum sambil memperhatikan jalan di depannya.


"Tidak Nona. Kita masih ada acara lagi. Hari ini jadwal kita sangat padat jadi kita tidak bisa pulang cepat malam ini."


"Ya Tuhan, apa lagi ini. Ku pikir tugasku selesai sampai disini."


"Anda akan menjadi wanita hebat di balik kesuksesan pria hebat jadi Anda akan selalu bersama saya, Nona."


"Oh, jadi itu juga yang mendasari alasanmu menyertakan aku dalam pendekatan bisnismu?" Surya mengangguk.


"Aku benar-benar tidak percaya kau melakukan ini padaku. Kau tidak lupa kalau kita bukan pasangan sungguhan, bukan?"


"Iya, Nona. Saya tidak akan melupakan itu."


"Lalu..." Tiba-tiba Gina ingat satu hal.


"Ahh, iya. Kau butuh pencitraan. Kau harus terlihat menakjubkan di dalam pekerjaan dan juga di dalam kehidupan pribadimu."


"Kita adalah pasangan pengantin baru, Nona. Jadi akan sangat aneh jika kita tidak sering bersama saat ini."


"Apa hal itu juga penting?" Gina mengerutkan kening.


"Tentu saja Nona. Sebuah perusahaan dengan pemimpin yang memiliki kehidupan rumah tangga harmonis akan memberi nilai tambah bagi orang lain terutama bagi para investor. Mereka akan memiliki kepercayaan lebih terhadap kita dan juga perusahaan."


"Apa akan sejauh itu?" Gina berfikir.


"Tentu saja, Nona."


"Aku baru tahu."


"Anda baru bergabung dalam perusahaan, Nona. Dan ini adalah pengetahuan baru untuk Anda. Calon presdir R-Company selanjutnya."


"Baiklah, kalau ini juga adalah hal penting. Aku akan mencatatnya. Keharmonisan keluarga." Gina manggut-manggut.


"Tapi, Papa dan Mama jarang bersama. Apa itu bisa dibilang mampu meningkatkan kepercayaan relasi atau investor?"


"Itu karena mama memiliki kesibukan sendiri sebagai patner papa, dan itu pun menjadi nilai tambah karena dengan itu relasi bisnis R-Company merasa sangat percaya oleh para pemilik yang saling bahu membahu membuat perusahaan terus berkembang dan saling meng-cover satu sama lain."


"Apa begitu?"

__ADS_1


"Anda masih baru di R-Company dan belum memiliki banyak andil seperti papa dan mama yang saling berbagi tugas dalam mengembangkan perusahaan. Sehingga saya akan membuat Anda terlihat sebagai wanita hebat dibalik pria hebat."


"Hah, lihatlah dirimu yang selalu menarsiskan diri sejak tadi. Mengatakan dirimu sebagai pria hebat." Gina mencibir sambil tertawa nyinyir.


"Baru beberapa hari bersama dan aku sudah bisa melihat sifat aslimu dengan jelas."


"Itu karena baru kali ini kita dekat, Nona. Seandainya kita sudah lama saling dekat mungkin Anda tidak terlalu kaget seperti ini." Surya terkekeh melihat Gina.


"Kenapa aku harus dekat dengan seorang asisten. Itu tidak penting sama sekali." Surya hanya menanggapi omongan Gina dengan tersenyum.


Sebuah butik mewah menjadi tujuan Surya malam ini. Gina menatap Surya dan ia tahu Gina butuh penjelasan.


"Akan memakan banyak waktu kalau kita pulang lebih dulu, Nona. Mari berganti pakaian di sini dan menghadiri acara makan malam bersama Tuan Adskhan." Mendengar itu Gina akhirnya tahu apa yang dilakukan Surya. Gina keluar dari dalam mobil saat Surya membukakan pintu.


Butik itu adalah tempat Gina biasa membeli pakaiannya sehingga beberapa pegawai sudah mengenalnya dengan cukup baik. Surya memang mengenal Gina lebih dari yang Gina tahu. Bahkan butik langganan Gina pun Surya mengetahuinya.


Dengan bantuan seorang penjaga butik, Gina memilih gaunnya malam ini. Dan akhirnya sebuah gaun panjang berbahan satin dengan model krah sabrina menempel indah di tubuhnya. Gaun dengan potongan ini adalah favoritnya. Lengan sesiku membuatnya tidak terlalu tampak terbuka.


"Cantik sekali, Nona." Puji penjaga butik.


Aku memang terlahir cantik untuk setiap yang aku pakai. Batin Gina sambil melihat dirinya di depan cermin.


"Mari, Nona." Ajak Surya yang juga sudah selesai mengganti setelannya dengan yang baru. Tapi saat Gina memandang Surya ia seperti bertemu seseorang dari era tahun 80-an.


"Nona, apa hanya ini koleksi yang ada di sini?" Tanya Gina pada penjaga butik sambil menunjuk setelan yang dipakai Surya.


"Tidak Nona. Kami memiliki banyak sekali koleksi."


"Tunjukkan padaku." Perintah Gina. Surya bengong ditempatnya karena Gina ingin mengganti setelan yang dipakainya.


"Ini bagus, Nona."


"Baiklah, Nona." Surya patuh. Dalam hal ini Surya juga tidak keberatan untuk menurut kepada Gina karena ia juga penasaran akan seperti apa Gina mendandaninya.


Seorang penjaga butik datang dengan beberapa setelan untuk Surya. Gina memilih salah satu.


"Cobalah yang ini." Gina menyodorkan sebuah setelan berwarna abu muda kepada Surya. Surya menerima dan membawanya ke dalam kamar ganti. Beberapa menit kemudian Surya keluar setelah mengganti setelannya. Gina melihat Surya menghampirinya.


"Ini jauh lebih baik daripada yang tadi. Pakai saja yang ini." Ujar Gina.


"Ini, ini, ini, dan ini, semua aku mengambilnya." Gina berbicara pada penjaga toko yang melayaninya saat menunjuk beberapa setelan yang digantung di sana.


"Untuk siapa setelan-setelan itu, Nona?" Tanya Surya.


"Untukmu." Gina memandang Surya tajam.


"Aku sedang bersamamu. Jadi mana mungkin aku membelikan orang lain." Gina cuek. Surya hanya bisa tersenyum lagi.


"Ahh iya satu hal lagi. Nona, tolong sekotak softlens." Perintah Gina pada penjaga butik. Butik ini menyediakan barang-barang kebutuhan fashion bahkan hingga kaca mata dan juga softlens.


"Ini Nona." Penjaga butik menyodorkan sebuah kotak dengan sopan.


"Surya kemarilah." Panggil Gina pada Surya yang berdiri beberapa langkah darinya. Surya mendekat.


"Lepas kaca matamu."


"Tidak Nona, saya harus memakai ini."

__ADS_1


"Kau ini kaya dan juga berpengetahuan luas. Kenapa harus selalu memakai kaca mata butut itu kalau memakai softlens jauh lebih stylish."


"Tidak Nona, saya lebih nyaman memakai kaca mata."


"Ayolah, penampilanmu tidak akan sempurna tanpa ini."


"Tapi Nona..."Gina meraih kaca mata Surya dan berhasil melepas sebelum Surya mencegahnya. Saat itu Gina tahu ada yang lain dari Surya yang baru Gina sadari.


"Surya, kau sudah memakai softlens?" Tanya Gina masih memandang mata Surya lekat.


"Tidak Nona."


"Lalu itu?" Tunjuk Gina pada mata Surya.


"Matamu berwarna coklat." Gina terpukau pada mata Surya yang mendapat pantulan lampu tepat di atasnya. Ternyata dibalik kaca mata Surya ada mata coklat yang sangat indah yang selama ini tidak terlihat olehnya. Indah sekali.


"Saya lebih menyukai kaca mata, Nona." Surya meraih kaca matanya di tangan Gina dan memakainya kembali.


"Tidak, kau tidak perlu menutupinya. Itu terlalu indah untuk ditutupi dengan kaca matamu." Ucap Gina tanpa sadar.


"Maaf, Nona?" Surya tidak percaya dengan pendengarannya saat Gina memuji seperti itu.


"Ehheemm... maksudku, itu bagus. Mata kecoklatanmu tampak sempurna dengan penampilanmu saat ini jadi pakai softlens ini. Kau akan terlihat lebih berkharisma." Bujuk Gina setelah ia sadar dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya.


"Anda yakin?" Tanya Surya ragu-ragu.


"Aku adalah wanita hebat dibalik pria hebat. Aku tidak akan menyesatkanmu jadi menurutlah padaku." Nada bicara Gina mulai meninggi karena melihat Surya yang tampak meragukannya.


"Baik, Nona." Surya menerima kotak softlens itu dan memberikan kaca matanya kembali pada Gina.


"Tapi bagaimana cara memakainya?" Tanya Surya setelah membuka kotak itu.


"Ya Tuhan, kau ini benar-benar orang yang sedang berteleportasi dari zaman batu ya. Memakai ini saja kau tidak bisa. Begini caranya. Lihat aku." Gina mencoba memberi Surya contoh tapi tidak benar-benar memakai softlens itu.


"Baik Nona, saya mengerti."


"Sekarang pakailah." Surya mulai memakainya. Dengan kaku Surya meletakkan satu softlens di mata kanannya. Berhasil. Dan selanjutnya mata kiri.


Karena itu pertama kali Surya memakai softlens baginya terasa sangat tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal di matanya dan membuat Surya mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Apakah itu mengganggu? Itu adalah soflens terbaik dan dibuat selembut mungkin sehingga nyaman saat dipakai. Apakah itu tidak nyaman untukmu?"


"Mungkin karena ini pertama kali bagi saya sehingga rasanya sangat aneh, Nona."


"Tenang saja, nanti lama-lama kau akan terbiasa." Ujar Gina. Lalu Gina mundur beberapa langkah untuk memastikan penampilan Surya. Surya yang ada dihadapannya sekarang sangat berbeda dengan Surya yang sebelumnya. Dia tidak terlihat cupu sama sekali.


"Wah, kau terlihat berbeda."


"Bagaimana, Nona? Apakah ini buruk?" Surya sedikit panik dengan komentar Gina.


"Tidak... tidak sama sekali." Gina melambaikan tangan memberi penyangkalan.


"Malah sebaiknya, kau tampan sekarang."


"Benarkah?" Tiba-tiba wajah Surya menjadi cerah dengan senyum mengembang.


"Ya." Gina menahan tawa saat melihat Surya berbalik untuk menatap cermin dan memastikan apa yang diucapkan Gina benar.

__ADS_1


"Mulai sekarang, kau aku patenkan dengan penampilanmu yang seperti ini. Jangan yang tadi. Jangan buat aku menjadi seperti wanita tidak hebat dibalik pria hebat karena membiarkanmu berpenampilan cupu."


"Baik Nona." Surya menyunggingkan senyum. Gina membalas senyumnya. Rasanya ada yang aneh dengan senyum Surya kali ini. Terlihat lebih manis dari biasanya. Lalu tiba-tiba jantungnya menjadi berdetak lebih cepat dari sebelumnya saat mata mereka saling bertemu.


__ADS_2