Tahta Surya

Tahta Surya
Jinak-Jinak Merpati


__ADS_3

"Mbak Yuyun. Aku kangen Surya." Ucap Gina dengan suara lemah.


"Sedang apa dia sekarang? Dia sudah makan apa belum? Apa dia sibuk sekali?" Gina menyeret sebuah kursi plastik di dekat Mbak Yuyun duduk lalu ia mendudukinya.


"Telepon saja, Nona." Saran Mbak Yuyun.


"Sudah." Jawab Gina masih dengan suara lemah seperti tidak bertenaga.


"Lalu?"


"Dia tidak mengangkatnya."


"Pasti Pak Surya sedang sibuk, Nona."


"Apa sesibuk itu sampai tidak sempat meneleponku kembali dan mengabaikan semua panggilan serta pesan dariku."


"Pastinya, Nona."


"Hatiku tidak tenang." Ujar Gina sambil sekarang menyandarkan kepalanya di pundak Mbak Yuyun yang lebih rendah daripada dirinya itu.


"Aku rasa mendengar suaranya saja cukup kalau tidak bisa bertemu dengannya. Tapi bahkan suaranya saja tidak bisa ku dengar."


"Tidak apa-apa, Nona. Pak Surya hanya sedang sibuk dan pasti tidak bermaksud mengabaikan Nona."


"Apa dia tidak makan, mandi atau tidur sampai-sampai tidak sempat melihat ponselnya dan melihat pesan dariku."


"Saya tahu bagaimana rasanya menjadi Nona. Tapi Nona masih sangat beruntung hanya di tinggal pergi ke luar kota oleh Pak Surya. Sedangkan saya, saya bahkan sudah tidak bisa menemui suami saya lagi dimanapun. Dia sudah tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. Walaupun aku sangat merindukannya, aku tidak akan pernah bisa lagi berharap bisa bertemu dengannya. Bahkan hanya dalam mimpi saja saya tidak bisa." Kalimat Mbak Yuyun sambil terus menyetrika dan membiarkan Gina menyandarkan kepala di pundaknya.


Itu adalah kebiasaan Gina saat sedih dan butuh teman bicara. Mbak Yuyun baginya sangat bisa diadalkan saat berada di rumah dan dalam keadaan seperti ini.


"Maafkan aku sudah membuat Mbak Yuyun ikut sedih." Balas Gina lagi masih dengan pandangan mata menatap keluar cendela kaca di depannya.


"Saya sedih bukan karena teringat suami saya yang sudah tiada, Nona. Bagi saya, takdir Tuhan tidak ada yang bisa merubahnya. Jadi saya ikhlaskan suami saya untuk pergi menghadap Tuhan." Mbak Yuyun meletakkan baju yang ia lipat itu disebelahnya bersama tumpukan baju yang lain.


"Saya sedih karena melihat Anda galau seperti ini."


"Apa aku terlihat galau?"


"Sangat."


Gina lalu mengangkat kepalanya dan memegang kedua pipinya.


"Bagaimana ini? Kalau aku galau pasti wajahku akan keriput. Aku harus segera mencuci wajahku dengan air dingin." Gina berdiri dari duduknya dan bergegas meninggalkan Mbak Yuyun.


"Ada air es di dalam kulkas, bukan?" Gina berbalik tepat di pintu memastikan kepada Mbak Yuyun yang masih mengikuti dengan pandangannya.


"Ada, Nona. Mentimun juga ada."


"Bagus." Gina lalu benar-benar pergi. Mbak Yuyun yang melihat itu jadi tersenyum sambil menggelengkan kepala. Seperti itulah Gina yang ia kenal sejak kecil. Mudah berubah sikap. Sebentar murung, sebentar ceria, sebentar galak, sebentar baik. Tapi sifat dasar Gina tidak bisa berubah walau dalam keadaan apapun. Manja. Sebenarnya hingga dewasa Gina bahkan masih memiliki sifat itu. Mbak Yuyun adalah orang yang sering menerima sifat manjanya sampai saat ini.


Sementara itu Gina membuka kulkas di dapur. Mengambil sebotol air dingin dan juga mentimun. Ia menuang air dingin ke dalam sebuah baskom. Lalu mengambil pisau dan kemudian mengiris tipis-tipis mentimun yang biasa ia pakai sebagai masker untuk menyegarkan wajahnya. Dan hanya Mbak Yuyun yang tahu itu sehingga setiap berbelanja tidak pernah melewatkan untuk membeli mentimun dan juga tomat karena kedua sayur itu adalah kesukaan Gina untuk masker di wajahnya.


"Baiklah, sepertinya sudah sejak kemarin aku galau jadi pasti kulitku pun ikut stres. Jadi aku akan meminta maaf padanya dengan memperlakukannya dengan baik sekarang." Gina duduk di ruang tengah dan meletakkan semua perlengkapan maskernya di atas meja di depannya.

__ADS_1


"Kulitku yang halus dan bercahaya, maafkan aku yang sudah mengabaikanmu." Gina mulai mengusap wajahnya dengan air dingin menggunakan sapu tangan setelah terlebih dulu mencuci wajah sebelumnya.


"Ahh, rasanya segar sekali." Gina merasakan kulitnya menjadi segar. Kemudian setelah selesai mengusap seluruh wajahnya dengan air dingin, ia lalu berbaring di sofa itu sambil satu persatu meletakkan irisan mentimun di wajahnya.


"Aku akan membiarkan kulitku beristirahat dulu selama satu jam. Lalu aku akan mandi dan tidur dengan bahagia. Besok adalah akhir pekan dan aku akan memanjakan diriku di spa." Gina sudah selesai meletakkan mentimun menutupi seluruh wajahnya.


"Surya harus bertanggug jawab atas semua ini. Atas kulitku yang stres, atas fikiranku yang sibuk dan atas hatiku yang rindu. Dia benar-benar sudah membuatku semenderita ini." Gina lalu memutuskan untuk menikmati masker mentimunnya dengan diam tiduran di sofa ruang tengah itu.


Gina mengeliat menyadari kalau baru saja ia tertidur. Ia lalu meraba mentimun di wajahnya. Tapi mentimun-mentimun itu sudah tidak ada di atas wajahnya. Gina lalu membuka matanya untuk memastikan kemana saja mentimun itu jatuh berserakan. Tapi ia lalu segera bangun dari letak tidurnya. Ia tidak berada di ruang tengah tapi sudah ada di kamarnya sendiri. Ia sedang berada di tempat tidurnya yang sangat nyaman. Dan dari cendela kamarnya yang pasti semalam tidak sempat ia tutup, matahari sudah mulai menampakan sinarnya.


"Apa aku tidur sambil berjalan? Bagaimana bisa aku sudah ada di sini?" Gina tampak berfikir dan mengingat-ingat.


"Sepertinya aku sangat lelah sehingga tidak menyadari berpindah tempat sendiri." Gina memukul-mukul pelan kepalanya.


Gina bangun dan turun dari tempat tidurnya. Ia masih memakai baju kerjanya kemarin karena memang ia hanya berencana bermasker sebentar lalu mandi. Ternyata kelelahan membuatnya tidak bisa melakukan semua hal yang telah ia rencanakan sebelumnya.


Gina lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan favoritnya. Kaos pendek dan celana pendek. Ia belum ingin mandi karena perutnya terasa lapar. Semalam karena panik takut kulit wajahnya keriput Gina buru-buru bermasker dan bukan malah makan malam. Lalu selanjutnya ia ketiduran sehingga melewatkan makan malamnya.


Gina berjalan menuruni tangga dengan bersemangat demi sarapan yang sudah sangat ia nantikan. Perutnya benar-benar ingin diisi sekarang. Gina segera menuju ke meja makan dan menemukan nasi goreng berwarna keemasan yang masih mengepulkan uap panas. Didekatnya ada telur ceplok dan juga sosis goreng. Itu membuat perut Gina semakin meronta-ronta ingin dimasuki makanan. Gina lalu menyendokkan nasi goreng kedalam piringnya dan mengambil duduk di salah satu kursi. Tapi saat menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, ia merasa nasi goreng itu adalah nasi goreng khas buatan seseorang. Dan dari ekor matanya, Gina menangkap seseorang sedang berada di dapur. Mata Gina menatap lekat-lekat sosok itu. Surya ada di sana. Masih dengan kemeja yang lengannya ia lipat sampai ke siku, Surya memasak di dapur. Perut Gina mendadak seperti mual atau begah atau apa entahlah Gina pun tidak memahami hal itu saat melihat Surya dengan tubuh bagian belakangnya yang lebar itu. Perasaan rindunya seperti meledak. Ada rasa bahagia tapi dibaliknya juga ada rasa kesal karena mengingat Surya yang mengabaikan panggilan telepon serta pesan-pesan singkat yang Gina kirim padanya selama ini.


"Senang sekali rasanya kekasih hati sudah kembali." Suara dari samping Gina. Ia terkesiap dan menoleh ke sumber suara. Mbak Yuyun tampak tersenyum lebar menggoda Gina.


"Apa-apaan." Gina melanjutkan sarapan nasi goreng yang pasti itu adalah buatan Surya. Rasanya adalah nasi goreng yang biasa dibuat oleh pria yang selama ini dirindukannya.


"Jadi, bagaimana semalam?" Nada bicara Mbak Yuyun masih menggoda Gina.


"Semalam apanya?"


"Apakah kalian saling melepas rindu? Saya lihat Pak Surya seperti bangun agak siang kali ini. Ia lalu buru-buru ke dapur dan memasak untuk Nona. Lalu setelah Nona bangun, Nona sarapan seperti orang yang sedang kelaparan."


"Ahh, kalian ini memang para anak muda yang belum tahu apa-apa." Mbak Yuyun menggelengkan kepala seperti sedang kecewa. Tapi Gina benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikap Mbak Yuyun yang mendadak seperti itu. Dari sikap ceria menjadi sikap cemberut.


"Nona pasti senang sekali Pak Surya sudah pulang." Mbak Yuyun menggoda lagi.


"Tidak, biasa saja." Jawab Gina dibuat sedatar mungkin untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.


"Benarkah? Lalu kenapa semalam ada yang segalau itu?" Mbak Yuyun membelalakkan matanya karena tidak percaya dengan tanggapan Gina.


"Tidak, aku tidak galau."


"Lalu siapa yang mengatakan pada saya kalau sedang merindukan Pak surya?"


"Entahlah."


"Wah, Nona Gina benar-benar mengatakan merindukan Pak Surya semalam."


"Siapa yang mengatakan itu? Aku tidak pernah mengatakannya." Gina masih berpura-pura lupa.


"Baiklah, anggap saja semalam saya sedang bermimpi." Mbak Yuyun lalu pergi meninggalkan Gina di meja makan.


"Pak Surya, mau ku ceritakan tentang mimpi saya semalam." Kalimat Mbak Yuyun sangat keras hampir seperti teriakan. Gina yang mendengar itu lalu memelototkan matanya. Tapi Mbak Yuyun tetap berjalan dan tidak tahu Gina menjadi panik kalau Mbak Yuyun menceritakan apa yang semalam mereka bicarakan. Mbak Yuyun tampak sedang berbincang dengan Surya. Entah apa yang mereka bicarakan tapi itu membuat Gina benar-benar gelisah.


Gina masih mengawasi Mbak Yuyun dan Surya yang masih berbincang di dapur. Mereka terlihat asyik mengobrol. Lalu tiba-tiba Surya menoleh ke arah Gina bersamaan dengan Mbak Yuyun juga. Entah apa yang Mbak Yuyun katakan kepada Surya akhirnya ia memandang Gina sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Lalu Surya berjalan keluar dari dapur dan mendekati Gina. Gina tampak salah tingkah karena tidak tahu harus bagaimana. Ingin rasanya ia pergi dari situ tapi itu akan membuat Mbak Yuyun semakin meledeknya. Tapi jika tetap di situ ia mungkin akan bingung harus mengatakan apa saat Surya menanyakan kebenaran cerita Mbak Yuyun. Sementara itu Mbak Yuyun tampak tertawa senang sambil memandang Gina yang memelototinya dari jauh.


"Selamat pagi, Nona." Sapa Surya dengan membawa piring berisi irisan mentimun. Dari bentuk dan aromanya Gina menebak itu adalah acar.


"Pagi..." Jawab Gina pura-pura tenang sambil terus menikmati sarapannya.


"Saya membuat acar ini untuk pelengkap nasi goreng itu, Nona."


"Benarkah?" Gina lalu menyendok acar itu untuk menutupi kegugupannya.


"Bagaimana rasanya, Nona. Lebih enak makan nasi goreng dengan acar, bukan?"


"Ya, lumayan. Rasanya tidak terlalu masam."


"Tentu saja Nona, saya tidak memasukkan cuka sama sekali kedalamnya."


"Lalu? Bagaimana rasanya tetap ada masam-masamnya?"


"Itu adalah mentimun bekas masker Anda semalam."


"Apa?" Gina membelalakkan matanya oleh apa yang Surya katakan.


"Serius???" Gina panik dan mulai marah.


"Tentu saja, Nona." Jawab Surya.


"Tentu saja saya berbohong." Akhirnya tawa Surya pecah juga. Sejak tadi ia tidak tahan melihat Gina yang terlihat canggung terhadapnya.


"Kau tahu, meskipun dengan garpu, aku mampu membunuh seseorang." Ucap Gina dengan cemberut karena kesal sudah dikerjai oleh Surya.


"Saya percaya hal itu, Nona. Bahkan dengan tangan kosong pun Anda bisa melakukan itu."


"Itu kau tahu." Gina masih bersikap tenang. Padahal dadanya terasa berdebar melihat wajah Surya di hadapannya setelah beberapa hari tidak berjumpa.


"Apa kabar, Nona?"


"Baik." Jawab Gina singkat karena kali ini ia menjadi kesal.


Bagaimana dia menanyakan kabarku saat sudah bertemu? Kenapa dia tidak membalas pesanku atau mengangkat teleponku? Sangat menyebalkan.


"Apa Anda sangat sibuk di R-Company?"


"Tidak ada hari tidak sibuk." Gina masih dingin.


"Apa Anda tidak enak badan?" Tanya Surya karena melihat Gina yang sepertinya hanya menjawab secara singkat semua pertanyaannya.


"Tidak, aku baik-baik saja." Lalu Gina meninggalkan Surya di atas meja makan sendirian. Pandangan Surya mengikuti gerakan Gina yang berjalan menuju ke tangga untuk naik ke atas ke kamarnya.


"Begitulah Nona Gina kalau marah, Pak. Seperti yang saya katakan tadi mungkin Nona Gina sedang PMS jadi butuh ditenangkan."


"Baiklah, saya akan menenangkannya." Ujar Surya sambil tersenyum kepada Mbak Yuyun yang membereskan piring Gina.


Surya beranjak dari meja makan dan pergi ke tempat Gina pergi.

__ADS_1


"Gemas sekali dengan mereka berdua yang 'main kucing-kucingan' seperti itu." Mbak Yuyun memandang Surya yang mulai menaiki tangga.


"Tapi Pak Surya terlihat keren saat mengatakan 'baiklah, saya akan menenangkannya'. Pria yang manis. Nona Gina pasti akan luluh oleh Pak Surya. Aku yakin." Mbak Yuyun lalu membawa piring Gina ke dapur dengan senyum yang mengembang dibibirnya melihat tingkah majikannya yang jinak-jinak merpati begitu. Kalau tidak ada Surya ia rindu, kalau sudah bertemu lagaknya seperti acuh.


__ADS_2