Tahta Surya

Tahta Surya
Kembali


__ADS_3

Gina dan Surya sudah keluar dari bandara. Taksi mereka sudah melaju dijalan raya kota ini berbaur dengan kendaraan lain. Kota yang ramai. Bahkan dijam selarut ini masih tampak banyak kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Gina menguap entah untuk yang keberapa kali. Matanya juga sudah sangat sayu dan ingin sekali tertidur. Tapi sejak tadi ia tahan karena tidak ingin Surya terjaga sendirian meski Surya sudah menyuruhnya untuk tidur sejak berangkat dari rumahnya tadi.


Gina meraba tasnya yang sedang ia peluk. Sebuah tas kulit berharga puluhan juta dari sebuah merk terkenal itu kemudian ia buka. Dua bungkus permen yang diberikan ibu mertuanya. Permen jahe dan permen asam buatan salah satu warga di kampung Surya yang memiliki sebuah home industri.


"Ini Nduk, bawalah. Untuk di perjalanan nanti. Biar tidak mabuk. Apalagi kau juga naik pesawat. Biar tidak mual apalagi masuk angin." Ibu Surya menyodorkan dua buah kemasan berisi permen yang dibungkus plastik. Gina memandang sekilas lalu menerimanya.


"Terima kasih, Bu." Ucap Gina sambil tersenyum.


"Bude ini bagaimana. Mana mungkin Mbak Gina mabuk udara apalagi mabuk darat. Mbak Gina ini sudah terbiasa naik pesawat. Kemana-mana juga naik mobil. Jangankan cuma ke sini yang cuma dua jam perjalanan dengan pesawat, Mbak Gina sudah sering wara-wiri Eropa bahkan Amerika yang belasan jam jaraknya kalau ditempuh dengan pesawat." Kalimat Ayu membuat Ibu Surya mengerutkan kening.


"Benarkah? Apa benar bisa selama itu kalau mau ke Amerika, Nduk?"


"Iya, Bu."


"Waduh, apa jadinya Ibu kalau sampai naik pesawat segitu lamanya. Bisa-bisa pingsan aku. Baru 2 jam naik pesawat saja aku sudah mabuk." Ibu Surya lalu cekikikan mengingat bagaimana waktu itu saat mendatangi Surya untuk acara pernikahannya. Ia harus mengalami muntah2 dipesawat karena mabuk udara.


"Tidak apa-apa, Ibu. Aku akan membawakan pesawat jet sehingga ibu akan merasa nyaman ada tempat tidurnya juga." Sahut Surya di samping Gina.


"Oh ya? Di dalam pesawat ada tempat tidurnya juga?" Surya mengangguk. Wajah Ibu Surya yang lugu tampak sumringah mendengar itu. Bapak Surya hanya tersenyum melihat sikap istrinya.


Gina merogoh permen jahe di dalam tasnya lalu membuka dan memasukkan ke dalam mulut. Ia juga menyodorkan kepada Surya segenggam permen jahe.


"Maaf Nona, aku mau permen asam saja." Gina lalu memasukkan permen jahe dan menggantinya dengan permen asam.


"Permen asamnya sangat masam." Ujar Gina.


"Karena namanya permen asam, tentu saja rasanya masam, Nona." Surya lalu terkekeh setelah mengatakan itu.


"Ahh kau ini." Gina memanyunkan bibirnya mendengar penuturan Surya. Ia tahu Gina tidak menyukai makanan yang memiliki rasa asam. Jangankan permen asam, buah jeruk, buah nanas dan semua makanan yang terasa asam Gina tidak akan mau memakannya.


"Permen asam ini membuat kantukku hilang."


"Benarkah?" Gina memandang Surya tidak percaya.


"Benar Nona. Kalau tidak percaya, coba saja."


"Tidak, terima kasih. Lebih baik aku melompat ke dalam bak mandi yang penuh dengan air hangat daripada harus makan permen asam."


"Saya rasa itu bukan pilihan, Nona. Itu adalah hal yang memang Anda inginkan." Surya pura-pura memandang Gina tajam. Tapi melihat itu Gina malah tertawa.


"Aku merasa sudah lama sekali tidak mandi di dalam bathup yang penuh dengan air hangat dan dikelilingi lilin aroma terapi beraroma chamomile. Alangkah menyenangkannya." Pandangan Gina menarawang jauh membayangkan sesuatu yang sangat ia sukai itu.


"Setelah ini Anda bisa segera melakukannya, Nona."


"Ya, aku pastikan itu." Gina tersenyum memandang Surya.


Taksi masih meluncur dengan lancar di atas jalan beraspal hingga akhirnya sampai di rumah Gina. Rumah tampak sepi karena memang malam sudah sangat larut. Gina turun dari taksi dan segera mengunci pintu rumahnya. Sedangkan Surya mengeluarkan kopor dan tas yang sebagian besar adalah milik Gina.


Setelah pintu terbuka, Surya segera membawa masuk kopor dan tas, lalu sisanya dibawa oleh Gina. Saat tiba di bawah tangga, tiba-tiba lampu ruang tengah menyala dengan sendirinya. Gina dan Surya melihat ke sekeliling ruangan yang mendadak menjadi terang itu.


"Kalian ini masuk dengan mengendap-endap. Kalian pikir kalian ini maling?" Ujar seorang pria dengan piyama dari dekat saklar lampu.

__ADS_1


"Ahh, Papa. Kapan Papa pulang? Kenapa tidak memberi kabar? Ku pikir Papa akan melanjutkan sampai 5 cruise?" Gina yang sudah menaiki dua anak tangga tersenyum kecut melihat Papanya.


"Aku bosan hanya berkeliling dan berjalan-jalan. Melelahkan juga. Hanya itu-itu saja yang ku lihat."


"Baiklah Pa, aku juga lelah. Aku naik dulu." Pamit Gina memotong ucapan Papanya sebelum menjadi lebih panjang. Surya juga mengangguk memberi hormat pada ayah mertuanya itu.


"Surya, besok pagi aku ingin berbicara denganmu."


"Baik Pa." Surya menyanggupi lalu menaiki tangga dan menuju kamar Gina. Saat berjalan ke atas tadi, Gina mendengar apa yang dikatakan oleh Papanya kepada Surya. Tapi ia tidak tertarik dengan hal itu. Mungkin Papanya hanya ingin laporan perkembangan R-Company.


Atau mungkin Papa penasaran bagaimana perkembanganku selama berada di R-Company. Gina membatin sambil memasuki kamarnya.


"Surya..." Gina duduk di atas tempat tidur sambil melepas sepatunya.


"Iya Nona."


"Aku akan butuh waktu lama untuk mandi jadi kau mandilah dulu."


"Tapi ini sudah malam. Nona yakin akan mandi semalam ini?"


"Kenapa memangnya? Aku sudah rindu sekali berendam air panas."


"Baiklah, Nona." Surya menurut. Ia meletakkan koper dan tas di salah satu sudut kamar dan berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Surya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang masih ia keringkan dengan menggosok-gosokkan handuk di rambutnya. Ia melihat Gina yang sudah tertidur di atas tempat tidurnya. Sepertinya Gina sangat lelah dan tidak bisa menahan kantuknya. Selama dalam perjalanan ia tidak tidur sama sekali sehingga pantas saja dia terlelap sekarang.


Surya meraih remot pendingin ruangan di kamar Gina dan mengaturnya menjadi lebih sejuk karena ia melihat kening Gina berkeringat sehingga membuat anak rambut yang ada di dahinya terlihat basah. Kemudian Surya mendekati Gina mencoba mengambil ponsel yang masih ada di dalam genggaman tangannya. Perlahan sekali dan sangat hati-hati Surya mengambil ponsel Gina agar itu tidak membuat Gina terbangun. Tapi yang terjadi malah Gina menarik tangan Surya dengan satu tangannya yang lain hingga terjatuh dan hampir menimpa tubuhnya.


"Perasaan aku sudah menyalakan pendingin ruangan, tapi kenapa tiba-tiba aku merasa gerah?" Sekali lagi Surya mengusap keningnya sambil tersenyum lucu.


Surya lalu duduk di sofa dimana ia biasa tidur. Pandangannya tertuju pada Gina yang masih terlelap dengan wajah menghadap ke arahnya. Wajah itu sangat berbeda saat tertidur dan saat bangun. Wajah yang saat bangun adalah wanita dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi berbanding terbalik dengan wajah lembut bak definisi putri dalam dongeng saat tidur seperti ini. Sangat menenangkan memandang walau hanya memandang wajah tidurnya. Berlama-lama memandang Gina yang sedang tertidur Surya lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Entah apa yang sedang ia fikirkan tapi Gina memang sering membuatnya merasakan hal yang berbeda-beda setiap saat.


Kadang Gina menjadi wanita yang cerewet dan menyebalkan. Kadang menjadi wanita yang manis dan sangat manja padanya. Kadang juga menjadi wanita yang pengertian dan seolah ia adalah istri dari seorang suami. Itu sangat membingungkan bagi Surya.


Tapi memang itulah yang harus ia hadapi saat ini. Ia sudah berjanji kepada Pak Rangga untuk membuat Gina menjadi wanita yang lebih baik dibalik sandiwara yang ia mainkan bersamanya. Ia tahu itu pasti sulit karena mengubah seseorang menjadi berbeda dari sifat aslinya adalah hal yang tidak mudah. Tapi ia harus mencoba agar janjinya kepada Pak Rangga bisa ia penuhi.


Surya meletakkan kepalanya diatas bantal miliknya. Matanya masih belum lepas dari wajah Gina yang terlelap. Wajah bak bidadari yang turun ke bumi. Hampir tidak ada yang kurang dari wajah Gina. Wajah yang menurut Surya sangat sempurna. Surya pun menguap, pertanda kantuk juga telah menghinggapinya. Lalu perlahan ia memejamkan matanya dan tidur.


🌸🌸🌸


Gina terbangun dan merasakan ada yang menekan di perutnya. Ia meraba ternyata ia masih memakai pakaian lengkapnya sejak semalam datang. Celana jeans dan kemeja oversize masih menempel di tubuhnya. Lalu perlahan ia membuka kancing celananya karena ia melihat Surya sudah tidak ada di kamarnya. Ia tahu pasti Surya sudah bangun dan mungkin sedang berlari pagi sekarang.


"Ahh, lega sekali." Gina mengubah posisi tidurnya menjadi telentang.


"Bagaimana mungkin aku melewatkan ritual 'mandi besarku' semalam." Gina mengangkat lengannya dan mencium bagian ketiaknya.


"Ya Tuhan, kenapa aku sejorok ini. Aku bau sekali." Ia lalu bangun dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi.


Sementara itu Surya sudah kembali dari berlari mengitari komplek perumahan elite tempatnya tinggal saat ini. Seorang security menyapanya. Surya menyunggingkan senyum membalas. Di teras rumah tampak Pak Rangga sedang berdiri seperti menunggunya.


"Saat melihatmu aku seperti melihat diriku sendiri saat masih muda." Sambut Pak Rangga saat Surya sudah ada dihadapannya.

__ADS_1


"Aku juga sangat bugar sepertimu walaupun aku jarang berolah raga." Lalu Pak Rangga tertawa di akhir kalimatnya. Surya menanggapi dengan senyuman saja.


"Papa juga masih terlihat bugar sampai sekarang." Ujar Surya.


"Hanya terlihat bugar saja. Sebenarnya aku sudah malas melakukan apapun sekarang."


"Berjalan kaki juga sudah termasuk olah raga, Pa." Surya berjalan mengikuti Pak Rangga yang masuk ke dalam rumah.


"Aku juga bahkan sudah malas berjalan. Aku hanya senang duduk bersama Mamamu saja." Pak Rangga bisa juga berkelakar. Surya tertawa kecil mendengar itu.


"Tidak ada yang tidak menyenangkan saat bersama orang terkasih, Pa." Mendengar itu Pak Rangga tergelak.


"Kau tahu itu? Ku pikir kau hanya tahu bagaimana caranya mengembangkan R-Company saja selama ini." Pak Rangga menepuk bahu Surya beberapa kali. Surya tersenyum simpul menanggapi ayah mertuanya. Pak Rangga berjalan menuju ruang kerjanya dengan masih diikuti oleh Surya.


"Ku dengar hari ini adalah pembukaan R-Store yang baru?"


"Iya Pa. Saya berencana mengajak serta Nona Gina saat pembukaan nanti."


"Kenapa mengajaknya? Itu bisa merepotkanmu. Dia tidak akan bisa melakukan apapun di sana."


"Tidak apa-apa, Pa. Agar Nona Gina tahu pembukaan R-Store karena ini adalah R-Store pertama yang kami buka setelah Nona Gina bergabung di R-Company."


"Terserah kau saja. Tapi aku merasa khawatir saat ada dia maka akan timbul masalah untukmu. Dia mudah bosan dan suka semaunya sendiri. Aku tidak yakin acara pembukaan R-Store bisa membuatnya betah di sana."


"Tapi Nona Gina sudah berusaha dengan keras selama ini, Pa. Dia belajar banyak hal selama di R-Company."


"Itu karena asisten pribadinya adalah orang yang tepat. Siapa namanya?"


"Hanna."


"Iya, aku membaca resume tentang dirinya dan dia orang yang cukup kompeten di divisi itu."


"Iya, Pa. Itulah kenapa Nona Gina juga menjadi banyak belajar saat ini."


"Baguslah kalau begitu." Pak Rangga menyandarkan punggungya ke kursi dibalik meja itu. Surya masih berdiri di depannya.


"Ku lihat Gina juga sedikit berubah. Ia mengirim pesan padaku tentang apa yang dia lakukan di kampung halamanmu. Itu adalah hal yang langka untuk anak seperti dia. Dia bahkan tidak pernah datang padaku kecuali memiliki sebuah keperluan. Tapi akhir-akhir ini ia tidak hanya mengirim pesan tapi juga gambar. Foto-foto dirinya di kampungmu. Tidak mengherankan dia terlihat bahagia karena aku yakin baginya itu adalah liburan ke suatu tempat. Tapi itu tadi, dia menjadi peduli pada kami. Itu sangat mengagetkan. Mamanya bahkan hampir tidak percaya itu saat aku menunjukkan ia mengirim foto kalian di kebun cabe. Setahu kami dia takut ulat sehingga dia tidak suka terhadap tanaman apapun karena takut ada ulat disana."


"Iya, Nona Gina bahkan sampai menangis saat ada ulat hinggap di tubuhnya." Surya teringat kejadian saat di rumahnya di kampung.


"Ya, seperti itulah dia. Tapi kemarin dia berada di kebun cabe dan kami menjadi heran dia melakukannya." Pak Rangga tertawa kecil. Surya ikut tertawa juga.


"Terima kasih, Surya." Ucap Pak Rangga tiba-tiba. Surya mengerutkan kening memandang Pak Rangga.


"Aku tahu Gina memang bukan orang yang mudah dikendalikan. Tapi ketika ia mulai membuka diri pada seseorang, itu pertanda orang itu bisa membuatnya nyaman. Dan kurasa kau mulai bisa mengendalikannya sekarang."


"Saya tidak mengendalikan apapun yang ada diri Nona Gina, Pa. Saya hanya berusaha menjadi orang yang selalu ada untuknya."


"Tepat sekali. Memang itu yang sebenarnya dia butuhkan. Bukan seperti kami yang selalu sibuk sendiri." Surya hanya diam mendengar penuturan Pak Rangga. Karena memang benar, sejak dulu Gina tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya sehingga ia tumbuh menjadi gadis kesepian dan selalu mencari kenyamanan dari orang-orang yang ia kenal.


"Surya..." Panggil Pak Rangga karena melihat Surya diam saja. Lalu Surya memandang Pak Rangga.

__ADS_1


"Bagaimana seandainya Gina benar-benar jatuh cinta padamu?" Surya memandang Pak Rangga dengan pandangan tidak mengerti.


__ADS_2