Tahta Surya

Tahta Surya
Wanita Jahat


__ADS_3

"Jujurlah padanya. Kau tidak bisa melakukan ini terus menerus. Begitu pula denganku. Bagaimana bisa aku menahan semuanya?" Suara Hanna berbicara dengan bahasa santai yang tertangkap indra pendengaran Gina.


Gina mengerutkan kening mendengarnya. Bagaimana bisa Hanna berbicara dengan bahasa dan nada yang sangat tidak sesuai jika dilakukan oleh seorang bawahan kepada atasannya.


"Entahlah, Hanna." Suara Surya seolah sedang mengeluh.


"Kau tidak bisa membuatmu semakin terjebak dalam perasaanmu sendiri. Kau harus sadar dengan posisimu." Jelas Hanna.


"Aku tahu."


"Kau tidak berniat untuk menghianati cinta, bukan?"


Menghianati? Cinta? Siapa? Apa yang mereka bicarakan? Batin Gina bingung dan masih bersembunyi dibalik sebuah mobil di dekat mereka berbicara. Gina mulai berfikir sebenarnya apa hubungan diantara mereka berdua sehingga bisa berbicara dengan bahasa santai dan juga topik yang sangat jauh dari hal pekerjaan.


"Aku tidak ingin menyakiti hati siapapun dan aku berjanji tidak akan melakukannya."


"Tapi kalau kau seperti ini, bagaimana mungkin tidak merasakannya? Itu rasanya sangat menyakitkan. Pada akhirnya pasti akan ada yang tersakiti." Ujar Hanna dengan suara meninggi.


Surya tidak menjawab kalimat Hanna dan seperti hanya bisa diam. Gina menunggu percakapan mereka selanjutnya. Sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki yang diciptakan oleh sepatu hak tinggi yang dipakai Hanna setelah mengucapkan kalimat yang membuat Gina terperanjat di tempat saat mendengarnya.


"Jangan pernah menduakan cinta. Itu rasanya sangat menyakitkan. Aku tidak ingin kau menjadi sejahat itu."


Mendengar penuturan Hanna kali ini hati Gina terasa ada yang menusuk. Kenapa Hanna harus mengatakan itu kepada Surya. Dan bagaimana bisa mereka seakrab itu. Mereka adalah atasan dan bawahan tapi kenapa mereka berbicara sangat akrab dan membicarakan hal yang Gina tidak mengerti.


Gina masih menyembunyikan dirinya di balik mobil di sana. Surya memasuki mobilnya. Sepertinya ia akan pergi ke suatu tempat. Gina menarik nafas berat dan masih berdiri bersandar body mobil disebelahnya sambil memikirkan apa yang baru saja dilihatnya itu. Surya dan Hanna. Mereka memiliki lebih dari sebuah hubungan pekerjaan. Tapi apa? Apa yang terjadi diantara mereka? Hanna tampak marah dan mengatakan semua hal yang hanya bisa dibicarakan oleh pasangan.


Akhirnya fikiran Gina telah sampai disana. Berfikir jika Surya dan Hanna menjalin hubungan dibelakangnya. Hubungan sepasang kekasih. Dan berfikir seperti itu membuat hati Gina mendadak ngilu. Rasanya ada yang menekan disana dan membuatnya merasa terhimpit.


Gina menarik nafas dalam-dalam lalu mulai melangkahkan kaki meninggalkan area parkir. Fikirannya masih tertinggal pada pertemuan antara Surya dan Hanna tapi ia tidak tahu harus mendapat kejelasan dari mana. Apa ia harus menanyakan pada Hanna secara langsung tentang apa yang ia dan Surya bicarakan dan membuatnya jadi tahu bahwa Gina sudah menguping pembicaraan mereka? Atau ia hanya harus memancing-mancing pembicaraan dengan mereka berdua sehingga sedikit demi sedikit bisa mendapatkan fakta yang terjadi diantata mereka.


Lagi-lagi Gina menarik nafas berat saat memasuki lift menuju ke lantai di mana ruang kerjanya berada. Dan saat keluar, Gina seperti berfikir bagaimana harus bersikap di depan Hanna. Sampai saat Gina membuka pintu ruangannya. Hanna menoleh ke arahnya dari balik meja kerja yang sedang ia tempati.


"Nona, Anda dari mana?" Tanya Hanna dengan ramah seperti biasanya.


"Hanya berjalan-jalan sebentar. Rasanya membosankan sendirian di dalam ruangan ini." Jawab Gina datar sambil mendekati meja kerjanya. Entah kenapa Gina jadi malas berbicara dengan Hanna. Ada rasa tidak nyaman menelusuri perasaannya. Cemburu atau apa, yang jelas perasaan Gina terhadap Hanna seketika berubah. Ia seperti enggan berbincang banyak hal seperti biasa kepadanya.


"Maaf Nona, tadi saya harus melakukan suatu hal."

__ADS_1


"Ya, tidak apa. Kau boleh melakukan apapun." Jawab Gina sambil menatap laptop.


Melihat hal yang berbeda dari Gina, Hanna jadi canggung dan merasa tidak enak sudah meninggalkan Gina sendirian dan menjadi bosan. Tapi lalu ia kembali bekerja dan tidak mengusik Gina yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Selama dalam perjalanan pulang, di dalam mobil, Gina tidak berbicara apapun. Fikirannya masih dipenuhi oleh percakapan antara Surya dan Hanna yang didengarnya. Ia harus menekan kuat-kuat rasa ingin tahunya walaupun sedang duduk bersebelahan dengan Surya saat ini. Semua terasa mendadak untuk ia ketahui.


Sedangkan Surya yang melihat Gina sedang dalam 'mode silent' membiarkannya tetap seperti itu karena sudah hafal akan seperti apa jadinya jika ia memaksa Gina untuk harus membuka suara menanggapi percakapan dengannya.


Tapi pada akhirnya Surya tidak tahan dengan hal itu lalu membelokkan mobilnya ke sebuah mini market.


"Mari kita berbelanja dulu, Nona." Ujar Surya sambil memutar setir mobilnya memasukkannya ke halaman mini market yang Surya temui kali ini.


"Berbelanja apa?" Tanya Gina.


"Ada beberapa barang yang harus saya beli, Nona." Jawab Surya.


"Anda mau menunggu di sini saja?" Tanya Surya sambil membuka pintu.


"Ya, aku sedang malas melakukan apapun." Jawab Gina pelan dan memang seperti orang yang sedang tidak bersemangat.


Surya akhirnya turun dari dalam mobil dan memasuki mini market. Gina menarik nafasnya berat masih belum bisa terlepas dari fikirannya tentang Surya dan Hanna. Apa Surya dan Hanna benar-benar memiliki hubungan khusus selain hubungan kerja? Menurut Gina, Surya mungkin bisa saja melakukan itu karena mereka hanya menjalani hubungan sebatas pura-pura saja. Tapi Hanna, bagaimana bisa ia menghianati Bayu dan meneriaki Surya bahwa dia tidak boleh menjadi penghianat. Siapa sebenarnya yang lebih tepat disebutnya penghianat?


Gina menyandarkan kepalanya di sandaran headrest. Hatinya seperti dicubit berkali-kali saat ini. Sakit dan ngilu menjadi satu. Ingin merasa dihianati, tapi ia tidak berhak merasakannya karena sebenarnya mereka tidak berada dalam hubungan yang boleh merasa begitu. Tapi ditahan seperti ini ternyata rasanya cukup menyakitkan.


Dari tempatnya duduk, Gina melihat Surya keluar dari dalam mini market dengan dua kantong besar berisi belanjaan masing-masing di tangan kanan dan kirinya. Setelah sampai mobil, Surya membuka bagasi dan meletakkan belanjaannya di sana. Setelah itu ia lalu membuka pintu mobil dan duduk di jok belakang setir. Gina masih duduk diam tak bergerak di sampingnya.


"Ini Nona." Surya menyodorkan minuman sari buah dingin kepada Gina yang baru saja ia lepas segel penutupnya dan ia rapatkan kembali tutup botolnya. Ragu-ragu Gina menerimanya.


"Sari buah markisa itu segar sekali, Nona. Anda pasti akan bersemangat lagi setelah meminumnya." Ujar Surya sambil membuka juga minuman yang sama miliknya. Mendengar itu, Gina hanya tersenyum simpul tanpa mengeluarkan suara apapun. Tapi kemudian ia buka juga minuman itu dan mengikuti Surya untuk meminumnya. Benar, rasanya yang sedikit asam tapi manis itu memang menyegarkan. Tapi itu tidak akan membuatnya kembali bersemangat karena itu tidak sesederhana yang Surya bayangkan. Suasana hati Gina yang tidak baik bukan karena tubuhnya yang sedang lelah tapi karena perasaannya yang cemburu dan membuatnya jadi galau.


"Nona, saya akan mampir ke suatu tempat lebih dulu." Surya berbicara sambil masih memandang jalan di depannya.


"Hmm..." Jawab Gina sambil masih menopang kepalanya dengan siku yang bertumpu pada pintu mobil.


Itu memang kebiasaan Surya. Dia sering sekali mampir ke suatu tempat ketika sedang keluar rumah. Tujuan awal di mana tapi akhirnya akan berhenti di mana dulu atau melakukan sesuatu lebih dulu. Gina sudah terbiasa dengan itu.


Saat ini Gina juga sedang tidak ingin bertanya Surya akan mampir dimana dan akan melakukan apa. Ia benar-benar sedang malas berfikir dan berbicara sekarang. Sampai akhirnya mobil Surya berhenti di depan pagar sebuah rumah. Kali ini Gina mulai penasaran rumah siapa lagi yang sedang mereka datangi.

__ADS_1


"Rumah siapa?" Tanya Gina kepada Surya yang membuka pintu mobilnya.


"Rumah saya, Nona." Jawab Surya lalu turun dan menutup pintu mobil kembali.


Gina mengawasi Surya dari tempatnya duduk. Terlihat Surya membuka kunci pagar rumahnya dan membuat Gina yakin itu memang rumahnya. Sejak mereka menikah memang baru kali ini Surya mengajak ke rumahnya. Gina merasa agak aneh dengan perlakuan Surya kali ini. Ia tahu tidak wajib bagi Surya mengajak dirinya ke rumahnya sendiri karena hubungan pura-pura yang mereka miliki. Tapi entah kenapa Surya tiba-tiba membawa Gina ke rumahnya.


Dari dalam mobil dengan mesin yang masih menyala itu, Gina melihat bagian depan rumah Surya yang berpagar tinggi dengan material didominasi dengan papan. Dan usai membuka pagar, Surya kembali ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah itu. Gina menulusuri sebuah rumah dengan sedikit halaman tapi dipenuhi dengan bunga mawar merah yang sedang berbunga. Itu menyerupai seperti sebuah taman yang penuh dengan warna hijau dan merah.


"Kenapa kita harus ke rumahmu?"


"Saya harus meletakkan beberapa barang belanjaan tadi, Nona."


Setelah memarkir mobilnya, Surya turun dari dalam mobil yang diikuti oleh Gina. Surya mengambil belanjaannya di bagasi lalu berjalan menuju pintu rumah. Gina yang awalnya menunggu Surya di sisi lain mobil, sekarang mengikutinya juga. Surya membuka pintu dan yang pertama tercium Gina adalah ruangam beraroma buah apel. Mungkin pengharum ruangan rumah Surya beraroma apel. Sehingga saat memasuki rumah itu yang tertangkap indra penciuman Gina adalah aroma segar dan ingin Gina hirup berlama-lama.


Surya memasuki ruangan yang lebih ke dalam, sepertinya itu adalah area dapur. Gina berhenti di ruangan yang bernuansa minimalis dengan meja makan berwarna putih dan kursi-kursi berwarna mint. Salah satu sisi tembok juga berwarna mint senada. Tidak berbeda jauh dari ruang tamu yang juga memberikan sentuhan warna mint di beberapa sudutnya, tembok dan juga bantal sofa yang membuat ruang tamu itu tidak terkesan biasa saja. Setelah cukup menikmati nuansa mint di dua ruangan rumah Surya, Gina berjalan mencari kemana Surya pergi tadi. Lalu Gina menemukan Surya yang sedang memasukkan bahan-bahan makanan yang ia beli tadi ke dalam kulkas. Dari tempatnya berdiri, Gina melihat isi kulkas dua pintu Surya tertata dengan rapi.


"Ini tidak kau masukkan juga?" Tunjuk Gina pada sekantong bahan makanan di atas meja dapur.


"Tidak Nona, itu untuk makan malam kita."


"Makan malam kita?" Gina heran dengan kalimat Surya. Surya hanya membalasnya dengan senyuman lalu mengambil celemek di sebelah lemari pendingin di dapur itu.


"Siapa yang mengatakan kepadamu aku setuju makan malam di sini?" Mata Gina mengikuti Surya yang sedang sibuk mempersiapkan alat-alat memasaknya.


"Tadi Anda sudah setuju saat saya meminta mampir dulu ke sini." Jawab Surya sambil menyalakan kompor di depannya.


"Itu karena aku tidak tahu akan kemana kau mampir."


"Jadi, karena Anda sudah mengiyakan sehingga saya fikir Anda mau. Lagipula sepertinya Nona juga sedang butuh suasana baru akhir-akhir ini. Jadi saya membawa Anda ke sini."


"Kau ini sok tahu."


"Benar, jadi biarkan saya yang sok tahu ini akan membuat hari Anda tidak biasa saja. Anda butuh pergi ke tempat yang belum pernah Anda datangi dan makan makanan lain yang saya masak." Mendengar itu hati Gina mendadak kesemutan lagi.


Ia tahu Surya mungkin saja hanya ingin menghiburnya dan berbuat baik padanya tapi hati Gina tetap saja berbunga-bunga mendapatkan kalimat itu dari Surya. Gina merasa menjadi sangat bodoh. Percakapan Surya dan Hanna yang ia dengar tadi seharusnya sudah cukup untuknya tahu bagaimana Surya sebenarnya tapi Gina seperti tidak peduli dengan hal itu. Ia mulai nyaman bersama Surya dan rasa sukanya semakin bertumbuh saat ini. Ia seperti tidak ingin merusak sendiri suasana hatinya yang mulai jatuh cinta lagi. Gina semakin yakin dengan keputusannya untuk mendapatkan hati Surya, bukan hanya perlakuan baik terhadapnya.


Baiklah, apapun yang kau lakukan di belakangku, yang jelas kau harus bertanggung jawab atas yang sudah kau lakukan padaku dengan perhatianmu. Semua sudah terlanjur. Aku sudah terlanjur menyukaimu. Aku tidak akan mengalah kepadanya yang saat ini menjadi kekasihmu. Aku aku akan menjadi wanita jahat dan merebutmu darinya. Ini bukan salahku tapi salahmu yang sudah membuatku jatuh cinta padamu. Batin Gina berjanji pada dirinya sendiri dengan sangat yakin sambil berjalan mendekati Surya.

__ADS_1


__ADS_2