
Jalanan pagi kota ini masih sepi. Lampu jalan masih menyala karena memang matahari hanya baru nampak rona kemerahannya di ufuk timur. Udara juga masih sangat dingin. Tapi Surya sudah harus pergi ke bandara sepagi ini. Penerbangan yang akan dinaikinya menuju tempat pertemuan perserikatan pengusaha adalah pesawat pertama dijadwal penerbangan pagi ini.
Surya melihat ke luar kaca cendela mobilnya. Ia tidak menyetir sendiri hari ini. Sopirnya yang mengantar. Juga sekretarisnya turut serta menemaninya dan duduk di samping sopir.
"Siska, ingatkan aku untuk mampir ke toko kue saat tiba di bandara."
"Baik."
Surya harus melakukan itu karena ia sudah berjanji pada Gina akan sarapan coffe bun di kedai itu. Itu adalah kedai biasa Gina juga membeli kue yang biasa ia makan sambil menunggu penerbangannya berangkat.
Gina mulai membuka mata karena merasakan ada pergerakan di sampingnya. Surya meletakkan guling di dekat tubuh Gina.
"Maaf Nona, saya tidak bermaksud membangunkan Anda."
"Kau benar-benar akan pergi sekarang?" Suara Gina masih malas karena baru bangun tidur
"Iya Nona, saya harus pergi dengan penerbangan pagi."
"Lukamu?"
"Saya sudah memastikan ini baik-baik saja, Nona."
"Kau memang keras kepala." Gina memperbaiki letak bantal di kepalanya untuk membuatnya lebih nyaman. Surya menanggapi ucapan Gina hanya dengan senyum.
"Kau membawa obatmu?"
"Tentu saja, Nona."
"Jangan pakai kaca mata hitam." Ujar Gina masih dengan malas untuk bangun dan hanya tiduran saja karena kantuknya masih terasa berat. Surya yang mendengar itu menjadi heran karena ucapan Gina benar-benar aneh.
"Maaf, Nona?"
"Pokoknya jangan. Dan juga, jangan pakai kemeja warna putih. Kau membawa kemeja warna putih?" Tanya Gina lagi yang membuat Surya semakin bingung.
"Tapi, kenapa, Nona?" Surya tidak bisa memahami perintah yang diucapkan oleh Gina.
"Sudah jangan banyak tanya. Ikuti saja perintahku. Atau aku akan benar-benar membuatmu gagal pergi ke tempat pertemuan itu."
Surya lalu mendekati tasnya dan membuka resleting. Ia mengeluarkan dua buah kemeja warna putih dari dalam tas itu dan bermaksud menggantinya dengan kemeja warna lain untuk dimasukkan kedalam tasnya lagi.
__ADS_1
"Kau membawa dua buah sekaligus?" Gina sekarang bangun dari tidurnya setelah melihat apa yang baru saja dikeluarkan oleh Surya dari dalam tas yang akan dibawanya.
"Apa kau tidak punya kemeja warna lain?"
"Sebenarnya kemeja saya sebagian besar berwarna putih dan hitam, Nona."
"Ya Tuhan, televisi saja sekarang sudah full color, lalu kenapa kau masih suka warna hitam dan putih?"
"Saya suka warna-warna monocrom, Nona."
"Baiklah, tapi saat tidak bersamaku, pastikan kau tidak pernah memakai kemeja warna putih." Surya mengerutkan kening.
"Jangan tanya kenapa, hanya lakukan saja apa yang ku katakan padamu." Lanjut Gina seperti tahu Surya pasti sangat penasaran dengan hal itu.
"Baiklah Nona, saya akan pergi sekarang." Surya sudah meletakkan kaca mata hitam dan kemeja putih yang ia ganti menjadi kemeja warna abu-abu di atas meja kamar Gina.
"Minum obatmu tepat waktu. Sesampainya di bandara, belilah coffe bun dan air mineral. Jangan teh atau kopi. Mereka tidak cocok untuk obat yang akan kau minum."
"Baik Nona."
"Ngomong-ngomong, kau akan pergi berapa lama?"
"Baiklah, jaga dirimu. Jangan sampai lupa minum obat."
"Terima kasih, Nona." Surya lalu keluar dari dalam kamar Gina.
Gina menarik nafas berat. Terbayang olehnya selama dua hari ini ia tidak akan bertemu dengan Surya. Ia pasti akan merasa kesepian. Gina lalu menarik selimutnya dan kembali merebahkan tubuhnya. Masih pukul 5 pagi. Itu terlalu pagi bagi Gina untuk beranjak dari tempat tidur.
Gina benar-benar tidak ingin Surya memakai kemeja warna putih dengan kaca mata hitamnya. Baginya saat Surya memakai semua itu ia akan terlihat tampan dan Gina sangat menyukai itu. Dia tidak ingin saat wanita melihatnya dengan penampilan itu akan tertarik juga kepadanya seperti apa yang dialami Gina saat melihat Surya berdandan seperti itu. Ia tahu sudah menjadi posesif sekarang. Tapi ia harus melakukan itu agar Surya tidak akan di sukai oleh wanita lain selain dirinya.
Kadang Gina sedikit menyesal karena mengubah penampilan Surya. Itu membuatnya menjadi pria yang nyaris sempurna. Baik hati, cerdas, pengertian, perhatian, berpenampilan baik dan juga berwajah... tampan, versi Gina. Semua yang ada pada diri Surya ditambah dengan penampilan yang good looking membuatnya terlihat menakjubkan. Setiap mereka pergi ke suatu tempat, tidak jarang orang akan memperhatikan. Sering juga ada yang berkomentar bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Cantik dan tampan. Setiap mendengar itu, Gina merasa bangga. Mengubah penampilan Surya ternyata bisa memunculkan sisi lain dirinya yang tidak terlihat sebelumnya. Dan mematenkan Surya dengan penampilan itu membuat Gina merasa tidak salah.
Surya sudah sampai di Bandara dan berjalan menuju ke gerbang keberangkatan. Di tangan kanannya terdapat kotak roti yang Gina sarankan tadi. Memang hanya toko roti itu yang buka 24 jam di bandara sehingga sangat mudah didapatkan oleh para calon penumpang jika ingin mengganjal perut sebelum mengikuti penerbangan terutama di jam sepagi ini.
Surya dan sekretarisnya sudah memasuki pesawat sekarang. Kelas bisnis adalah dimana Surya sedang duduk menikmati perjalanannya sebentar lagi. Siska tampak membuka laptop yang ia bawa memeriksa sesuatu di sana. Surya membuka kotak berisi roti itu. Ia juga mengeluarkan sebuah cup berisi obat yang harus ia minum.
"Apa Anda benar-benar tidak apa-apa?"
"Iya, aku tidak apa-apa."
__ADS_1
"Tapi Nona Gina kemarin mengatakan kepada saya untuk membiarkan Anda cuti selama beberapa hari."
"Nona Gina hanya terlalu khawatir. Hanya luka kecil, jadi aku masih bisa melakukan banyak hal."
Surya sendiri bingung mendefinisikan sikap Gina akhir-akhir ini. Gina jadi sering bersikap baik kepadanya. Kadang Surya berfikir mungkin saja Gina memiliki suatu maksud yang Surya tidak tahu. Entah karena Gina harus berpura-pura baik agar Papanya segera memberikan R-Company padanya atau ia sedang memilik strategi lain yang entah apa itu dan Surya tidak tahu.
Sementara itu Gina berada di atas tempat tidurnya berkali-kali mengubah posisi tidurnya. Ia terlihat gelisah. Serasa semua posisi tidur tidak nyaman untuknya. Lalu dengan kesal ia mengangkat tubuhnya untuk bangun dengan posisi duduk.
"Menyebalkan. Aku sudah tidak bisa tidur lagi." Gina mengacak-acak rambutnya kesal.
Tiba-tiba saja ia merasa kamarnya menjadi sepi. Dengan hanya membayangkan tidak akan ada Surya di sana dalam beberapa hari ke depan saja Gina sudah merasa kesepian.
"Kenapa dia harus ke luar kota? Kenapa pertemuannya tidak di adakan di kota ini saja." Keluh Gina.
"Ya Tuhan, aku bahkan sudah merindukannya." Pandangan mata Gina menerawang jauh.
Ia teringat bagaimana semalam dia tidur satu tempat tidur dengan Surya. Rasanya sama seperti saat ia tidur bersama Surya di rumahnya. Ia merasa lebih tenang dan ada rasa yang entah bagaimana Gina harus mendefinisikannya tapi yang jelas Gina menyukai itu. Ia menyukai berada satu tempat tidur dengan Surya. Ada debaran-debaran indah dan juga rasa khawatir. Khawatir bagaimana kalau dirinya mengorok saat tidur. Atau bagaimana kalau dirinya bertingkah secara berlebihan tanpa ia sadari sehingga membuat Surya tidak nyaman. Atau bagaimana kalau ia melakukan hal yang tidak semestinya ketika dia sedang tidur. Tapi dari semua kekhawatiran itu saat bangun tidur Gina merasa senang tidur bersama Surya. Ia sempat berfikir apa karena usianya yang sudah pantas berada pada usia menikah atau karena memang selama ini ia belum pernah tidur seranjang bersama pria manapun sehingga tidur bersama Surya rasanya menenangkan. Ia memiliki seseorang yang saat terjaga, bisa ia lihat. Dan itu memang sungguh menenangkan.
Penerbangan yang dilalui Surya masih harus menempuh satu jam perjalanan lagi. Siska yang ada di sebelahnya tampak tertidur. Ia pasti bangun sangat pagi untuk bisa menunggu bosnya menghampiri. Sebenarnya Siska berniat untuk langsung ke bandara dan menemui Surya disana. Tapi Surya mengatakan akan menjemputnya sehingga dengan terpaksa dan dengan pasrah harus berangkat bersama bosnya itu. Awalnya Siska sudah menolak karena ia terlalu sungkan seorang bos malah harus menghampirinya.
"Sepagi ini akan sulit mendapatkan taksi ataupun ojek online. Jadi, agar kau bisa tepat waktu sampai di bandara dan perjalanan kita tidak kacau, lebih baik kau bersamaku saja."
"Tapi, aku tidak enak kalau atasanku menghampiriku."
"Aku melakukan ini bukan hanya demi bawahanku, tapi aku juga tidak ingin tertinggal pesawat hanya karena kau terlambat." Jelas Surya sambil tersenyum.
"Oh iya, benar. Aku juga harus tepat waktu. Maafkan tidak menyadari hal itu."
Surya melemparkan pandangannya ke arah luar cendela. Awan putih terlihat bergerombol bagai gumpalan kapas. Langit pagi ini juga tampak biru. Matahari sudah mulai merayap naik dan semakin mancarkan sinarnya. Di bawah pesawatnya terbang, ia melintasi persawahan yang luas membentang dengan padi yang mulai menguning. Ia teringat sawahnya yang mungkin sekarang sudah mulai musim panen. Seandainya memiliki waktu, mungkin ia akan mengajak Gina pergi ke kampungnya lagi dan mengajaknya memanen padi disawah dan mengikuti acara sedekah bumi yang biasanya di lakukan oleh warga kampungnya.
Mengingat Gina, Surya jadi teringat juga bagaimana semalam saat tidur bersamanya. Gina memang selalu seperti itu saat tidur. Selalu banyak bergerak dan memenuhi tempat. Dua buah guling yang ada di antara mereka pada akhirnya jatuh ke lantai karena ulah tingkah Gina yang tidur dengan banyak gaya. Surya sampai kuwalahan menempatkan posisinya agar tidak mendapat tendangan darinya. Ia sering mendapati itu saat terbangun di malam hari dan dari sofa melihat posisi tidur Gina yang banyak berubah-ubah.
Terlebih lagi semalam tanpa Gina disadari telah memeluk dirinya. Surya merasa ada yang menimpa tubuhnya sehingga ia terbangun. Ternyata saat membuka mata, Gina sudah berada sangat dekat dengannya. Dengan kepala sejajar dadanya dan tangan yang melingkar di tubuhnya. Merasakan hal itu tiba-tiba Surya menjadi sesak nafas. Bukan karena pelukan Gina yang terlalu erat tapi terasa jantungnya berdegup kencang sehingga membuat pernafasannya jadi tidak beraturan. Hangat nafas Gina yang menyapu tubuhnya membuatnya merasa ingin sekali menyentuh wanita di sampingnya itu.
Perlahan Surya mengangkat tangannya dan mulai menyentuh rambut yang menutupi pipi Gina. Sekilas tangan Surya bisa merasakan rambut yang halus dan beraroma harum itu sangat lembut. Ia hampir terhipnotis dan menyentuh kulit wajahnya. Tapi kemudian ia menyadari bahwa meskipun status mereka adalah sepasang suami istri tapi mereka tidak seharusnya berada pada posisi sekarang ini.
Surya lalu perlahan-lahan mulai menarik dirinya dan menghindari Gina. Tapi tampaknya Gina merasakan Surya mulai menggeser tubuhnya sehingga tanpa sadar Gina memeluk Surya dengan lebih erat seolah tidak ingin membuat jarak darinya. Surya menarik nafas panjang dan semakin gelisah. Gelisah jika ia tidak bisa mengendalikan diri dan melanggar perjanjian mereka dengan tindakan yang sangat fatal. Walaupun akhirnya ia harus pasrah dikurung Gina dengan posisi seperti itu.
Surya yang duduk di kursi penumpang itu meraba dadanya yang menghangat. Membayangkan kejadian semalam membuat dadanya kembali berdebar. Ia merabanya dan mulai merasa takut. Oleh sebab itu Surya pun ingin sandiwara itu segera berakhir agar ia tidak perlu lagi berada pada situasi yang membuatnya khawatir bisa setiap saat kehilangan kendali dirinya.
__ADS_1