
Gina bergegas turun dari tangga menuju ruang kerja dimana Papanya dan Surya berada seperti yang baru saja dikatakan oleh Mamanya. Tapi terlambat, Surya sudah keluar dari ruangan Pak Rangga dan berjalan menuju ke arahnya yang baru saja meninggalkan tangga. Gina berhadapan dengan Surya masih terengah setelah berlari dari kamarnya seperti itu.
"Kau dan Papa..." Ucap Gina sambil masih menata nafasnya.
"Ehhmm... maksudku, apa yang kau bicarakan dengan Papa? Apa benar kau ingin mengundurkan diri dari R-Company?" Cerca Gina menatap Surya lurus. Surya heran dari mana Gina tahu hal itu.
Bu Marina masih duduk di atas tempat tidur Gina mengingat apa yang baru saja di dengarnya. Awalnya, saat Bu Marina keluar dari dalam kamar melihat Surya memasuki ruang kerja suaminya. Bu Marina berfikir pasti ada hal yang perlu ia bicarakan dengan suaminya. Sehingga itu memicu rasa penasarannya untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Perlahan Bu Marina mendekati pintu ruangan Pak Rangga dan mulai menempelkan wajah di pintu agar telinganya bisa mendengar apa yang Surya dan suaminya bicarakan.
"Saya akan mengundurkan diri dari R-Company." Kalimat Surya yang saat Bu Marina mendengarnya ia melebarkan matanya dan kemudian tersenyum senang.
"Kau sudah yakin Gina bisa menggantikanmu sekarang?"
"Iya Pa, saya melihat Nona Gina sudah memiliki kemampuan itu. Bahkan Hanna menyatakan semua hal sudah bisa Nona Gina tangani dengan baik."
"Baiklah kalau itu yang terjadi." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Pak Rangga.
"Tapi, apa kau sudah yakin akan meninggalkan R-Company?"
"Saya yakin, Pa."
"Apa rencanamu setelah ini? Kau akan pulang ke kampung halamanmu?"
"Itu adalah salah satu option saya, Pa."
Bu Marina mengerjapkan matanya mendengar penuturan Surya. Berfikir jika itu berarti Surya memiliki option lain juga.
"Sayang sekali kalau potensimu yang sebaik ini hanya kau gunakan untuk menjadi petani." Lanjut Pak Rangga dan membuat Bu Marina menajamkan lagi pendengarannya.
"Menjadi petani juga baik, Pa. Saya akan menyuplai makanan pokok bagi seluruh lapisan masyarakat." Mendengar itu Pak Rangga teratawa. Bu Marina bisa mendengar itu juga.
"Saya akan segera menyelesaikan perceraian dengan Nona Gina." Ujar Surya selanjutnya setelah Pak Rangga berhenti tertawa.
"Apa setelah itu kau akan segera menikahi Siska?"
"Itu juga termasuk salah satu option saya."
Bu Marina lalu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan kamar Gina. Bermaksud mengikuti kemana Gina pergi.
Gina menatap Surya dan menunggu jawaban yang keluar dari bibirnya. Tapi saat melihat Mamanya turun dari tangga, Gina menarik tangan Surya untuk pergi dari tempat mereka dan menuju ke taman samping rumah.
"Benarkah kau mengundurkan diri?" Ulang Gina setelah mereka berada di tempat itu berdua saja.
"Benar, Nona. Saya akan segera mengalihkan semua tanggung jawab R-Company kepada Anda."
"Kenapa?" Mendengar kata tanya Gina, Surya mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Karena saya merasa Anda sudah cukup mampu mengambil alih R-Company."
"Apa itu karena skandal yang kau ciptakan? Kau ingin mengakhirinya seperti ini? Dengan pergi meninggalkanku dan menikahi Siska?" Surya menatap Gina lurus mendengar pertanyaan-pertanyaannya.
"Sudah saatnya saya mengembalikan apa yang pernah saya pinjam dari Anda, Nona."
"Apa kau takut denganku?" Pertanyaan Gina selanjutnya sama sekali tidak berhubungan dengan pernyataan Surya.
"Anda sama sekali tidak tampak menakutkan bagi saya." Surya terkekeh sambil menjawab itu.
"Ku minta kau jangan pergi." Surya mengerutkan kening berfikir arti ucapan Gina.
"Jangan pergi kemanapun. Kau bisa kan tetap di dekatku? Aku baru saja menyukaimu. Tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk menunjukkan rasa sukaku lebih jauh?"
"Tapi Nona, saya tidak berhak mendapatkannya."
"Jangan membuatku terlihat menyedihkan dengan mengatakan aku terlalu baik untukmu, aku tidak seharusnya bersamamu, kau merasa tidak pantas bersamaku. Aku tahu semua itu hanya alasan untukmu pergi dariku. Tidak usah membuatku tinggi hati kalau itu hanya tipu daya untuk akhirnya menghilang dariku."
"Maafkan saya, Nona." Surya menundukkan kepalanya. Kali ini ia tidak bisa menatap mata Gina yang memohon padanya.
"Apa aku tidak harus mengambil R-Company kembali agar kau tetap bertahan di sini?" Surya mengangkat wajahnya dan menatap Gina lekat. Wajah itu menyiratkan permohonan yang sangat besar kepadanya.
"Maafkan saya, Nona." Kalimat Surya sambil lalu memutar tubuhnya untuk pergi dari tempatnya bicara dengan Gina.
Mendengar kata maaf Surya, sudah cukup membuat Gina tahu jawaban yang ingin Surya berikan padanya. Gina berjalan dengan lesu menuju teras samping rumahnya dan duduk di sana. Membiarkan matahari menghujani dirinya dengan sinar yang semakin terang.
Bu Marina melihat Surya menuju tangga lalu menaikinya. Ia lalu berjalan menuju arah yang baru saja Surya tinggalkan dan menemukan Gina duduk termenung di sana. Entah apa yang Gina dan Surya bicarakan, tapi ia yakin itu bukan sesuatu yang baik bagi Gina. Ada mendung tebal yang menyelimuti wajah Gina saat ini. Bu Marina membiarkan Gina melakukan itu. Ia tidak ingin mendekati dan hanya mengawasi saja.
Gina berniat untuk mandi saat melihat Surya turun sudah dengan pakaian formalnya sambil menenteng sebuah kopor.
"Surya, apa secepat ini kau akan pergi?"
__ADS_1
"Iya Nona, lebih cepat lebih baik."
"Apa kau benar-benar sudah sangat ingin pergi?"
"Iya Nona, saya hampir terlambat."
"Terlambat?" Gina merasa aneh dengan ucapan terakhir Surya.
"Benar Nona, saya sudah memesan taksi dan sepertinya sudah menunggu diluar."
"Kenapa menggunakan taksi?" Gina semakin heran dengan tindakan Surya.
"Hari ini akan ada acara konferensi perusahaan rintisan di luar kota dan R-Company menjadi salah satu perusahaan yang akan melatarbelakangi perusahaan-perusahaan rintisan yang bergerak di bidang yang sama. Saya akan berada beberapa hari di sana hingga acara selesai, Nona."
"Oh, baiklah..." Gina menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena telah salah sangka kepada Surya. Gina mengira Surya akan pergi dari rumahnya sekarang.
Setelah pamit, Surya lalu berjalan keluar sambil menarik kopornya. Gina merasa harus mempersiapkan diri jika Surya akan benar-benar pergi darinya nanti. Ia tahu saat ini yang bisa menahan Surya adalah hubungan pernikahan mereka tapi tentu saja itu hanya memiliki kekuatan hukum sedangkan hati Surya mungkin sama sekali tidak akan pernah terikat dengan pernikahan itu dan tidak akan segan untuk mengakhiri dengan jalan perceraian.
🌸🌸🌸
Gina keluar dari pintu lift dan berjalan menuju basement diikuti Hanna disampingnya. Ia lalu mendekati mobil Surya dengan sopir yang ada di sampingnya.
"Kita naik mobilku saja." Ajak Gina kepada Hanna yang menurut.
Mereka lalu menaiki mobil untuk menuju tempat makan siang yang mereka sepakati sebelumnya. Sebuah warung nasi campur yang ramai pengunjung. Di jam makan siang seperti ini warung ini tampak lebih ramai kata Hanna.
"Kau memang pantas menjadi tim kreatif acara TV wisata kuliner daripada menjadi asistenku. Semua makanan enak kau tahu tempatnya." Ujar Gina. Hanna tertawa mendengar itu.
"Itulah kelebihannya menjadi anak kos, Nona. Saya selalu mencari tahu dimana makanan yang enak dan juga makanan yang murah meriah sehingga pengetahuan saya tentang kuliner lumayan bagus."
"Wah, pasti menyenangkan sekali menjadi dirimu. Hidup sebagai anak kos dan bisa melakukan apapun yang kau mau."
"Tidak juga, Nona. Saya harus repot keluar setiap kali lapar. Kalau sedang malas, mi instan menjadi andalan." Hanna lalu terkekeh.
"Kau tahu, aku sering memimpikan bisa hidup mandiri dengan tinggal sendiri tapi Papa selalu menghalangi jalanku." Hanna hanya tersenyum menanggapi itu.
Lalu suasana menjadi hening. Gina sempat melihat sopir Surya di meja tidak jauh dari mereka juga sedang makan di tempat yang sama. Ia sangat lahap menikmati makanannya.
"Hanna, aku rindu bali." Ujar Gina tiba-tiba dan membuat Hanna memandangnya setelah menyendokkan makanan ke dalam mulut.
"Sepertinya aku harus ke sana."
Bukan Gina namanya kalau tidak semaunya sendiri. Kemarin setelah pulang bekerja ia lalu memesan tiket secara online untuk penerbangan pesawat pagi ini. Ia juga sudah mengemas beberapa barang di dalam tasnya. Ia berencana untuk menjadi seorang back packer saja. Hanya membawa barang-barang yang benar-benar dibutuhkannya selain baju ganti.
Ia menuju dapur untuk menemui Mbak Yuyun. Melihat Gina membawa tas, Mbak Yuyun menjadi ingin tahu. Tapi sebelum ia sempat bertanya, Gina sudah memberitahunya.
"Aku akan pergi berjalan-jalan beberapa hari. Sampaikan kepada Mama dan Papa." Ujar Gina kepada Mbak Yuyun yang sedang memotong sayur-sayuran.
"Kemana, Nona?"
"Ya, berjalan-jalan."
"Iya, tapi di mana?"
"Kalau mereka tanya di mana, biar mereka menghubungiku saja."
"Oh baiklah, Nona." Mbak Yuyun mengerti. Gina pun keluar untuk menunggu taksi online yang sudah ia pesan.
🌸🌸🌸
Surya keluar dari dalam taksi yang baru saja berhenti. Seorang sopir taksi membuka bagasi dan mengeluarkan koper dari dalamnya. Setelah membayarkan sejumlah tarif kepada sopir taksi itu, ia lalu memasuki rumah. Tepat saat itu Bu Marina duduk di ruang keluarga.
"Mana Gina?" Tanya Bu Marina kepada Surya yang berjalan sambil menarik kopornya melewati ruang keluarga.
"Nona Gina?"
"Dia mengatakan akan menyusulmu ke sana. Memangnya apa yang telah kau lakukan padanya sampai dia benar-benar tidak bisa jauh darimu." Kalimat Bu Marina membuat Surya semakin tidak mengerti.
"Kau pasti sudah merayunya sampai dia jadi seperti itu." Tambah Bu Marina.
"Nona Gina pulang ke rumah saya, Ma. Saya harus pulang ke sini untuk mengambil beberapa barang." Ujar Surya yang menyadari ada hal yang tidak beres pada Gina sehingga mengaku menyusulnya. Padahal selama di luar kota ia bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan Gina. Ia yakin Gina pasti sedang pergi ke suatu tempat dan tidak ingin orang lain tahu.
Setelah memasuki kamarnya sebentar, Surya lalu membawa sebuah paperbag yang ia isi dengan beberapa baju Gina lalu keluar rumah agar Mama Gina tidak curiga terhadapnya. Surya mengendarai mobilnya lalu melakukan sebuah panggilan ke beberapa orang yang mungkin tahu dimana Gina berada. Pertama Surya menelepon Hanna karena ia adalah asisten pribadinya sehingga mungkin saja Gina mengatakan sesuatu padanya.
"Hanna... hari ini Gina tidak masuk kerja bukan?"
"Benar, sudah tiga hari ini Nona Gina tidak masuk kerja."
__ADS_1
"Apa kau tahu kemana Gina pergi?"
"Dia hanya mengatakan akan melakukan perjalanan liburan sebentar."
"Dia tidak mengatakan akan kemana?"
"Tidak." Jawab Hanna dan setelah itu Surya memutuskan sambungan telepon.
Surya semakin panik harus mencari kemana. Lalu ia menelepon kembali sebuah nomor.
"Bon, cari keberadaan Nona Gina di kotamu." Perintahnya singkat pada pengawasnya yang bertugas mengawasi R-Store di sebuah kota.
Surya juga melakukan hal yang sama pada pengawas-pengawas lain di beberapa kota untuk mencari keberadaan Gina. Sejak sebagai asisten Pak Rangga Surya sudah biasa melakukan hal itu. Mencari sebuah informasi dengan menggunakan jasa anak buahnya yang tersebar di seluruh negeri ini.
Surya masih berkendara tidak tentu arah. Ia tidak tahu harus mencari Gina mulai dari mana dan sampai ke mana lagi. Gina tidak mempunyai banyak teman sehingga Surya tidak bisa mengandalkan informasi dari teman-temannya. Tapi walaupun begitu ia tetap menemui Lita di Font untuk mencari tahu darinya karena tidak memiliki nomor teleponnya.
Surya menunggu Lita di lobi dan beberapa saat kemudian Lita datang setelah seorang resepsionis menghubunginya.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa ku bantu?" Sapa Lita yang bertanya-tanya sendiri sejak resepsionis mengatakan bahwa seorang pria bernama Surya mencarinya.
"Maafkan aku karena mengganggu waktumu. Aku juga tidak tahu harus bagaimana, tapi apakah akhir-akhir ini kau dan Gina berhubungan?"
"Ada apa sebenarnya?" Lita melihat sesuatu yang tidak baik dari pertanyaan Surya.
"Gina pergi tapi aku tidak tahu dia dimana." Lita membuka mulutnya karena kaget. Wanita itu kabur dan membuat suaminya panik seperti ini. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua tapi Gina pasti sedang ingin sendiri sekarang.
"Kami sudah lama tidak berhubungan. Dan aku juga tidak tahu dia pergi kemana." Jawab Lita yang membuat Surya mengurangi daftar informannya.
"Pak Surya?" Faris sudah ada di sampingnya memandang aneh kepada Surya yang sedang ada di tempat kerjanya. Surya menoleh.
"Apa kita mempunyai janji?"
"Oh tidak, saya hanya datang menemui Lita."
"Ada apa?" Tanya Faris heran kenapa Surya punya urusan dengan teman Gina itu.
"Emmm... sebenarnya begini. Apa saya boleh menanyakan sesuatu juga kepada Anda?" Tanya Surya dengan kalimat berhati-hati.
"Apa Nona Gina menghubungi Anda akhir-akhir ini?"
"Gina?" Faris mengerutkan kening.
"Tidak, kenapa?"
"Saya tahu seharusnya mungkin saya tidak menanyakan kepada Anda tapi sebenarnya Nona Gina pergi dan saya tidak tahu kemana."
"Gina kabur?" Faris memelototkan matanya tercengang.
"Entahlah, Pak. Tapi yang jelas beberapa hari ini Nona Gina tidak di rumah dan saya tidak tahu dimana keberadaannya."
"Aku tidak tahu dia kemana tapi coba ku tanyakan kepada istriku."
"Iya, terima kasih, Pak." Surya berharap usahanya ini akan membuahkan hasil.
Surya masih menunggu Faris menghubungi Sunday tapi panggilan pertama Sunday bahkan tidak mengangkatnya.
"Mungkin Sunday sedang sibuk mengurus Cena." Ucap Faris menjelaskan karena panggilannya tidak dijawab oleh Sunday.
"Aku akan menelepon rumah."
Setelah menunggu sebentar dan telepon Faris terjawab. Tapi dari pembicaraan yang ditangkap oleh Surya, sepertinya Sunday juga tidak tahu keberadaan Gina berlibur.
"Sunday juga tidak tahu." Ujar Faris kepada Surya yang ada di depannya. Lita juga masih ada di sana turut menyimak perkembangan pencarian Gina.
"Baiklah, terima kasih Lita, Pak Surya. Saya akan mencarinya ke tempat lain."
"Kalau sampai ketemu, aku akan mematahkan kakinya. Bisa-bisanya dia membuat suaminya panik begini." Ujar Faris kepada Surya yang sempat ditanggapi dengan tawa kecil dari Surya.
Surya tahu Faris bisa mengatakan begitu karena sudah menganggap Gina sebagai saudaranya sendiri sehingga turut menjadi gemas saat mendengar Gina pergi tanpa pamit pada siapapun.
Dengan tanpa putus asa, Surya masih mengendarai mobilnya yang tanpa arah itu mencari Gina. Tapi kemudian sebuah panggilan masuk. Hanna.
"Surya, aku ingat sesuatu. Sebelum Nona Gina pergi, dia sempat ingin pergi berlibur ke Bali."
Tanpa panjang lebar lagi setelah Hanna memutus teleponnya lalu berganti Surya menelepon seseorang.
"Made, cari lagi dengan teliti dimana jejak Nona Gina." Komando Surya kepada salah satu anak buahnya yang ada di Bali.
__ADS_1
Surya akhirnya sampai ke rumahnya sendiri. Sebelum Gina bisa ditemukan, ia akan tinggal di rumahnya sendiri seperti apa yang ia katakan pada Bu Marina. Dan saat baru saja Surya memasuki pintu rumahnya, orang yang dipanggilnya Made tadi menelepon.
"Saya sudah mengerahkan semua orang dan tidak menemukan Nona Gina dimanapun di sini, Pak." Kalimat anak buah Surya membuatnya semakin panik. Surya benar-benar bingung harus mencari Gina dimana. Ia tidak tahu harus bagaimana. Hinga akhirnya ia ingat sesuatu lalu mulai menelepon seseorang.