
Surya duduk dibalik meja ruangannya, di lantai atas cafe yang juga adalah tempat tinggalnya sekarang. Ia memilih untuk tinggal di sana karena terdapat beberapa ruang yang bisa ia gunakan secara maksimal. Saat melihat gedung dua lantai itu, Surya langsung terfikir untuk membuka usaha apa disana. Sebuah bangunan yang terletak di tepi jalan ramai dan hanya berjarak 200 meter dari area sebuah perguruan tinggi, itu membuatnya menemukan ide untuk membuka cafe yang bisa dijadikan tempat berkumpul para anak muda.
Awalnya Surya melihat iklan gedung itu dijual di sebuah situs jual-beli properti online dan bermaksud membuka warung angkringan baru tapi setelah melihat lokasinya yang lebih dari sekadar memiliki letak yang bagus, Surya pun berinisiatif untuk membuka cafe kali ini. Walaupun ia telah memiliki banyak warung angkringan, tapi membuka sebuah cafe juga tidaklah mudah baginya. Ia harus mencari seorang barista dan juga para tenaga yang ahli dibidang ini. Termasuk untuk menu, Surya pun banyak mencari tahu dari cafe-cafe yang sudah berkembang dan banyak dikunjungi oleh banyak orang. Bukan bermaksud menjiplak, tapi Surya berusaha mencari tahu menu apa yang bisa membuat sebuah cafe ramai didatangi oleh pengunjung. Banyak cafe yang menyediakan makanan olahan cepat saji, menyiapkan makanan utama berbahan dasar pasta, ataupun menu makanan penutup sejenis puding. Dari situ Surya pun belajar membuat menu ala dirinya sendiri dengan dibantu oleh para chef yang ia pekerjakan dan rata-rata adalah lulusan akademi atau sekolah tata boga.
Selain seorang chef berpengalaman yang ia terima adalah mantan chef dari hotel bintang lima, tapi kebanyakan dari chef lainnya adalah para fresh graduate yang baru saja menyelesaikan studinya dibidang itu. Surya memang sengaja membuka lowongan chef untuk para lulusan baru dari akademi atau kampus dengan jurusan tata boga karena ia merasa perlu memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan diri setelah lulus sekolah. Ia tahu risiko yang akan ia terima adalah mungkin mereka belum seprofesional para chef yang sudah berpengalaman di bidangnya, tapi selain mengembangkan bisnis, Surya pun memiliki tujuan untuk menciptakan lapangan kerja terutama bagi mereka yang butuh memiliki pengalaman. Ia berpendapat jika semua bidang usaha membutuhkan para pekerja yang telah memiliki pengalaman, lalu darimana para lulusan baru itu akan memiliki pengalaman dibidangnya kalau tidak pernah ada tempat yang memberi mereka kesempatan untuk mendapatan pengalaman. Sehingga beginilah cafe baru yang Surya buka. Dengan bangunan yang ia renovasi sehingga bertema modern minimalis, dan dengan para pegawai yang ia rekrut setelah proses interview, Surya bersama para pegawainya mulai belajar mengembangkan bisnis cafe yang keberadaannya telah menjamur dimana saja.
Walaupun begitu, tapi Surya tidak takut untuk bersaing dengan cafe lain. Ia akan menerapkan inovasi-inovasi menarik sehingga dapat menarik pengunjung datang meramaikan cafenya. Seperti memberi bonus untuk pengunjung dengan kategori party atau datang beramai-ramai atau menentukan menu harian yang disajikan menjadi sebuah paket hemat yag berganti-ganti setiap hari. Itu karena Surya menyesuaikan denga lokasi cafe yang dekat dengan area kampus sehingga untuk menarik minat pengunjung mungkin sebagian besar adalah para mahasiswa, Surya akan membuat sesuatu di cafenya mudah dijangkau dan cukup ekonomis untuk kantong mereka. Begitulah salah satu inovasi yang Surya buat untuk cafenya.
"Aku khawatir mungkin kau salah faham terhadapku. Atau bisa saja kau juga salah mengartikan ucapanku. Yang jelas aku memperbolehkanmu merayuku bukan berarti aku memberimu harapan untuk kita bisa bersama lagi pada akhirnya."
Mengingat kalimat Gina waktu itu, Surya akhirnya tahu kenapa ia seolah menjauhinya. Rupanya Gina sedang bimbang terhadapnya. Itu membuat dirinya merasa harus membuat Gina yakin kepadanya lagi. Meyakini perasaannya bahwa adalah benar jika ia memang harus menerima cinta Surya. Entah karena pernah Surya tolak atau ada hal lain kemungkinan itulah yang sepertinya menyebabkan Gina mulai goyah terhadapnya. Oleh karena itu Surya pun perlu menemukan inovasi agar bisa menarik perhatian Gina kembali.
Sejak tadi Surya membuka laptopnya sambil mencari tahu disetiap halaman web browser kiat dan cara untuk menarik hati seorang wanita. Ia merasa perlu melakukannya lebih serius dan lebih berhati-hati karena tidak ingin sedikit saja tindakannya yang tidak sesuai dengan keinginan Gina malah membuat ia kehilangan wanita yang disukainya sejak pertama kali berjumpa itu.
Surya membaca artikel-artikel dari internet dan mulai belajar bagaimana cara yang tepat untuk meluluhkan hati Gina. Ternyata banyak sekali trik yang ditulis oleh berbagai artikel untuk mendukung usahanya.
Malam itu Surya dan Gina keluar dari Panti Asuhan Rumah Gina. Surya mendekati mobilnya dan hampir membuka pintu tapi ia teringat salah satu trik di dalam sebuah artikel bahwa 'lakukan pendekatan dengan sebuah alasan agar bisa bersama'. Kemudian ia berbalik badan dan berjalan cepat menuju mobil Gina sebelum ia meninggalkan tempat itu.
"Ada apa?" Tanya Gina melihat Surya dari dalam mobil yang kaca pintunya ia buka.
"Nona, bisakah saya naik mobil Anda? Ban mobil saya kempes, tukang tambal ban juga sangat jauh. Lagipula dijam semalam ini sepertinya tukang tambal ban pasti sudah tutup. Di sekitar sini juga tidak ada tukang tambal ban 24 jam." Surya mulai melancarkan aksinya dengan alasan yang membuat Gina tidak bisa menolak dirinya.
Begitu pula dengan acara makan malam yang pegawai Gina adakan juga adalah salah satu trik yang dilakukan oleh Surya untuk bisa menemui Gina yang seperti sedang tidak ingin menemuinya. Kalau Surya memaksakan diri untuk menemui di rumah atau menunggunya sepulang kantor, itu seolah Surya menyergapnya padahal Gina sedang tidak ingin menemuinya sehingga seperti menggunakan trik yang ia baca Surya harus melakukan cara yang seolah alami untuk bisa menemuinya walau harus sedikit meminta bantuan orang lain.
🌸🌸🌸
Gina mengendarai mobilnya memasuki pelataran parkir R-Company yang terletak di basement. Ia lalu menempatkan mobilnya di salah satu sudut basement dan keluar dari dalam mobil dengan memakai structured leather crossbody bag keluaran Gucci di pundaknya. Ia berjalan menuju pintu masuk R-Company sambil memeriksa ponselnya. Ada sebuah pesan masuk. Dari Surya. Melihat nama Surya yang terpampang pada layar notifikasi ponselnya, hati Gina masih terasa kebat-kebit tak menentu. Ia lalu membaca isi pesan yang Surya kirim dan semakin gelisah karena saat menatap ke depan, dimana pintu lobi terbuka, Surya telah ada di sana sedang menunggunya.
Melihat Gina yang memasuki lobi dari arah basement, Surya lalu berjalan menghampirinya. Gina diam terpaku di tempatnya. Surya yang dengan kemeja putih lengan panjang yang ia lipat hingga ke siku membuatnya bisa memperlihatkan otot lengan yang mencuri perhatian Gina. Berjalan dengan langkah tegap kaki panjang dan senyum yang sempurna semakin membuat jantung Gina berdebar semakin kencang. Seperti ada sepasang sayap putih yang terlihat di balik tubuh Surya yang hanya Gina yang bisa melihatnya. Surya benar-benar rupawan bak malaikat.
"Selamat pagi, Nona." Sapa Surya yang sekarang sudah ada tepat di depannya dengan sepasang mata coklat semakin indah karena mendapat sentuhan sinar matahari dari atap kaca lobi di atasnya.
"Ada apa?" Tanya Gina dengan usaha yang cukup keras menahan perasaanya agar ia tidak terlihat gugup. Rambut model wet look Surya pagi ini yang tidak sepenuhnya menutupi dahi sangat menyita perhatiannya. Tapi sekali lagi Gina harus tetap menekan perasaannya demi melihat itu.
"Ini coklat panas untuk Anda. Menu baru di cafe. Silakan dicicipi dan berikan saya review nanti." Ujar Surya sambil menyodorkan sebuah paper cup berwarna hitam dengan sebuah logo nama cafe miliknya.
__ADS_1
Gina menerima hot cup holder yang berisi gelas coklat yang dibawa oleh Surya. Dari situ saja Gina sudah bisa mencium aroma coklat yang sangat harum. Ia sudah bisa membayangkan betapa nikmat rasanya.
"Baiklah." Jawab Gina singkat karena ia merasa tidak ingin menjadi gagap jika terlalu banyak mengeluarkan suara karena efek samping dari kegugupan yang sedang ia alami.
"Akan lebih baik lagi jika Anda menulis review di website atau media sosial cafe. Itu pasti menambah nilai plus untuk cafe saya, Nona."
"Kalau begitu aku harus menandatangani kontrak endorsement terlebih dulu." Mendengar itu Surya lalu tertawa. Ia tidak peduli banyak pegawai yang memandang mereka dan mungkin ada berbagai fikiran yang memenuhi kepala mereka.
"Baiklah, mari lakukan itu, Nona." Ujar Surya dengan masih ada sisa tertawa darinya. Gina menjadi ikut tersenyum. Bukan karena senang mendengar ucapan Surya tapi karena senyum Surya membuatnya tidak tahan untuk tidak membalas dengan menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
"Ngomong-ngomong, sepagi ini kau kemari hanya untuk ini?"
"Saya akan pergi melihat biji kopi di suatu tempat. Tapi beberapa hari ini saya tidak bertemu Anda dan itu membuat saya rindu. Jadi apa salahnya jika saya mampir lebih dulu sambil beralasan membawa coklat itu." Gina menatap Surya lurus mendengar kalimat Surya sangat jujur dan membuat hati Gina semakin cenat cenut kesemutan. Ditambah dengan Surya yang sekarang menatapnya lembut, Gina benar-benar hampir meleleh kalau saja lobi itu tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan yang cukup.
"Baiklah, terima kasih coklatnya." Akhirnya hanya itu yang bisa Gina ucapkan. Ia merasa Surya harus segera pergi dari situ karena semakin lama bersamanya, Gina semakin takut tidak bisa mengendalikan diri.
"Baik Nona, saya pergi dulu." Pamit Surya yang seperti tahu kode yang Gina ucapkan agar ia segera pergi.
Suryapun berbalik badan dan meninggalkan Gina. Ia menarik nafas panjang karena salah satu trik telah ia lancarkan lagi. Sebuah trik 'menarik perhatian wanita yang ditaksir dengan berpenampilan seperti yang wanita itu sukai'. Setelah membaca trik itu, Surya pun mengingat-ingat kira-kira penampilan apa yang bisa membuat Gina menyukainya. Lalu ingatan Surya sampai pada saat Gina melarangnya pergi ke luar kota dengan membawa kemeja warna putih. Ia bahkan melarangnya memakai kemeja itu didepan wanita lain kecuali dirinya. Sehingga Surya beranggapan mungkin dirinya terlihat menarik bagi Gina saat memakai kemeja putih. Jadi, akhirnya Surya membuat dirinya menemui Gina dengan memakai kemeja putih itu. Dan benar, melihat bagaimana reaksi Gina saat menatapnya tadi, Surya yakin Gina terpesona melihat penampilannya. Sambil langkahnya semakin menjauhi Gina, tanpa sadar Surya tersenyum mengingat itu dan berharap Gina segera menyadari untuk tidak boleh kehilangan dirinya.
"Dia sudah tidak mengindahkanku. Sudah ku katakan untuk tidak memakai kemeja warna putih. Kenapa dia malah memakainya begitu. Hatiku benar-benar terancam." Ujar Gina sambil meraba dadanya sendiri untuk merasakan debaran yang perlahan namun pasti mulai stabil kembali.
Gina keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ruangannya. Di ujung lorong ia bisa melihat Hanna dan Feby yang sudah menunggunya. Hanna di samping meja Feby, sedangkan Feby berada di balik mejanya sendiri.
"Selamat pagi, Nona." Sapa asisten pribadi dan sekretarisnya bersamaan.
"Selamat pagi..." Saat berjalan melewati kedua pegawainya itu, Gina melihat dua buah paper cup sama dengan miliknya ada di atas meja. Ia yakin cup itu juga berasal dari Surya.
"Nona juga mendapatkan kopi itu?" Ujar Hanna yang melihat Gina membawa hot cup holder ditangannya.
"Ya, kalian juga." Jawab Gina sambil melirik dua cup milik mereka.
"Salah seorang pegawai Pak Surya sedang berpromosi di depan gedung. Jadi kami tertarik untuk mencicipinya. Saya juga sudah membeli untuk Anda. Tapi ternyata Anda juga sudah membeli sendiri." Ujar Hanna yang membuat Gina tahu darimana asal kopi yang mereka bawa itu.
Dan setelah mendengar penuturan Hanna, Gina merasa tidak perlu mengatakan darimana dan apa isi cup yang sedang ia bawa itu karena Surya memberikannya secara langsung padanya dan bukannya kopi tapi minuman coklat kesukaannya.
__ADS_1
"Tidak apa, aku akan meminumnya nanti. Kebetulan hari ini aku sedang lemas dan butuh banyak kafein agar tidak mengantuk saat rapat nanti."
"Tidak apa-apa, Nona. Biarkan saya saja yang meminumnya."
"Wanita hamil tidak boleh terlalu banyak minum minuman yang mengandung kafein, itu tidak baik untuk perkembangan janinmu." Ujar Gina melarang sambil membuka pintu ruangannya dan masuk. Itu membuat Feby yang belum tahu tentang kehamilan Hanna jadi menatapnya dan kemudian tersenyum seolah turut merasa senang atas kehamilannya.
"Kau hamil?" Tanya Feby mendekatinya. Hanna mengangguk.
"Wah, selamat..." Feby melebarkan senyumnya.
"Terima kasih." Jawab Hanna membalas senyum Feby.
Pagi ini disela pekerjaannya, Gina pun menikmati coklat panas pemberian Surya. Persis seperti apa yang dikatakannya tadi, coklat panas itu rasanya sangat enak. Rasa manis dan creamy yang sangat lembut membuat Gina merasa lidahnya sangat nyaman dengan rasa itu. Baru kali ini ia meminum coklat panas olahan lokal yang rasanya hampir mirip dengan coklat-coklat yang ia dapatkan dari luar negeri.
Kemudian Gina teringat pada pesan Surya untuk memberikan review tentang coklat yang ia cicipi. Ia lalu mengalihkan jemarinya dari touchpad laptop dan beralih pada ponsel yang ada di sampingnya.
Ia mulai membuka website kafe milik Surya yang tertulis di cup minumannya dan mulai mengetik sesuatu di kolom komentar. Tidak cukup dengan itu, Gina pun membuka media sosial kafe Surya dan memberi komentar di salah satu unggahan di sana.
Surya sedang duduk di balik meja kerja di ruangannya. Ia mendengar bunyi notifikasi pada ponselnya dan melihat nama Gina memberi sebuah tanggapan di website kafe. Surya tersenyum melihat itu. Akhirnya Gina menulis sebuah tanggapan juga disana walaupun tadi tidak mengiyakan permintaannya. Dan juga Surya pun tidak yakin Gina akan melakukanya. Tapi ternyata Gina melakukannya juga.
"Tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama teman dan menikmati hidangan yang sempurna. Puding coklatnya adalah yang terbaik di kota ini." Begitu tulis Gina pada halaman komentar website.
Surya juga melihat satu lagi notifikasi bahwa Gina memberi komentar pada sosial media milik cafenya. Setelah ia buka, ternyata Gina memberi komentar pada sebuah unggahan foto beef steak yang tampak sangat artistik disana.
"Tidak bisa move on dari menu yang satu ini. Rasamu mengalihkan duniaku." Surya tersenyum lucu melihat komentar Gina kali ini. Surya merasa Gina sangat manis saat memberi komentar begitu. Itu membuatnya tidak tahan dan membalas komentarnya dengan sebuah emoticon hug dan kiss.
Melihat umpan balik dari Surya, Gina mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Berani-beraninya dia membalas komentarku seperti itu. Bagaimana kalau orang lain salah faham saat melihatnya." Gumam Gina yang kemudian menombol nomor ponsel Surya untuk meneleponnya.
Melihat nama Gina memanggil di ponselnya, Surya tersenyum dan langsung menjawabnya.
"Hei, kenapa membalas komentarku? Seharusnya kau mendiamkannya saja seperti komentar-komentar yang lain. Kenapa harus membalasku dengan emoticon semacam itu? Bagaimana jika orang yang melihatnya akan menjadi salah faham?" Semprot Gina begitu Surya mengangkat teleponnya.
"Mereka tidak akan salah faham, Nona. Karena apa yang mereka fahami memang tidak salah."
__ADS_1
"Apa? Apa maksudmu?" Gina mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba mencerna jawaban Surya.