Tahta Surya

Tahta Surya
Hilang Rasa


__ADS_3

Surya menghentikan mobilnya di tempat yang sama sekali asing bagi Gina. Sebuah toko dengan interior yang berwarna warni dan menjual barang yang sama sekali belum pernah Gina sentuh.


"Mari turun, Nona."


"Kenapa kita ke sini?" Gina berpura-pura tidak tahu apa yang sedang Surya rencakan dengan mengajaknya masuk ke sebuah baby shop.


"Kita harus membawakan bayi Pak Faris sesuatu, Nona."


"Kalau begitu belilah dulu, aku akan menunggumu di sini."


"Akan lebih enak kalau bersama Anda, Nona." Gina seketika menatap Surya tajam.


"Karena Anda seorang wanita pastilah Anda lebih tahu yang mana yang sesuai untuk anak bayi."


"Aku belum punya anak. Jadi jangan ajak aku melakukan hal yang aneh-aneh."


"Tapi Anda memiliki selera yang bagus jadi saya rasa Anda bisa membantu saya untuk memilih apa yang bisa kita berikan kepada bayi Pak Faris sebagai hadiah."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau sangat peduli kepada mereka. Bukankah Faris hanya relasimu saja."


"Tapi Pak Faris adalah teman Anda, Nona. Begitu pula dengan Nona Sunday. Jadi teman Anda juga teman saya."


"Kalau mereka temanku, kenapa kau jadi yang lebih peduli?"


"Karena Anda istri saya, Nona." Lagi-lagi Gina berdebar hanya dengan mendengar kata istri dari Surya.


"Suami dan istri memiliki teman yang sama."


"Baiklah... baiklah... ayo kita pilih." Gina tidak tahan dengan apa yang diucapkan oleh Surya. Semua itu membuat hati Gina terasa kesemutan dan membuatnya senang. Jadi demi menutupi perasaannya, Gina memilih untuk turun dan mengalihkan perhatiannya pada benda-benda mungil di toko itu.


Seorang penjaga toko menghampiri mereka berdua dengan ramah.


"Ini pasti anak pertama ya?" Tanya penjaga toko dengan senyum mengembang.


"Benar." Jawab Surya.


"Wah, selamat, Nona." Penjaga toko itu tersenyum kepada Gina. Gina memelototi Surya.


"Ini memang anak pertama mereka, Nona." Bisik Surya kepada Gina.


"Tapi dia pikir saat ini aku sedang hamil." Balas Gina. Surya tidak membalas kata-kata Gina dan hanya tersenyum saja.


"Jadi bagaimana, Tuan, Nona?" Tanya penjaga toko itu.


"Saya mau boneka itu." Tunjuk Surya pada sebuah boneka kelinci rajut berwarna coklat di salah satu rak. Gina menoleh ke arah yang ditunjuk Surya. Begitu pula dengan penjaga toko.


"Ya Tuhan, itu lucu sekali." Ucap Gina lalu mendekati boneka kelinci yang dimaksud Surya.


"Aku juga mau satu." Gina mengambil 2 sekaligus boneka rajut. Hanya saja Gina memilih boneka rajut dengan benang berwarna putih dan baju berwarna merah muda dengan kombinasi hijau pastel. Penjaga toko mengerutkan kening melihat tingkah Gina. Gina tahu apa yang difikirkan penjaga toko dan pasti merasa heran dengan orang yang dianggapnya sebagai calon ibu itu.


"Dress ini juga cantik. Ambil yang ini. Sunday suka motif bunga-bunga dengan warna lembut." Gina mengambil salah satu dress untuk bayi dengan motif bunga-bunga warna lilac. Surya hanya mengangguk sambil tersenyum melihat Gina yang awalnya sangat malas untuk pergi jadi bersemangat setelah memilih barang-barang yang akan ia beli untuk kado.


Gina berjalan di depan Surya sedang memilih perlengkapan bayi lainnya. Dari matanya, Surya tahu Gina sangat antusias dengan benda-benda berukuran mungil itu.


"Surya, kemarilah..." Panggil Gina sambil melambaikan tangan. Surya mendekati Gina yang memandangnya dengan senyum ceria.

__ADS_1


"Lihatlah sepatu ini." Tunjuk Gina pada sepasang sepatu bayi dengan pita kecil warna senada dress bayi yang tadi ia pilih.


"Ini sangat cantik. Aku ingin kembali menjadi bayi dan memakai ini." Gina mengangkat sepasang sepatu itu ke depan wajahnya, meneliti sambil memandang dengan gemas. Melihat tingkah Gina, Surya yang malah menjadi gemas kepadanya. Wajah ceria Gina sanggat menggemaskan.


"Kita ambil itu juga, Nona."


"Baiklah, kita ambil dua ya?"


"Maaf, Nona?" Surya bingung apa yang Gina maksud.


"Dua biji, bukan dua pasang." Setelah mengatakan itu Gina lalu tertawa karena melihat wajah Surya yang bingung.


"Baik Nona." Senyum Surya lebar.


Tiga buah paper bag sudah ada di tangan Gina. Mereka lalu keluar dari toko setelah membayar semua yang mereka pilih.


"Kau tahu, ini adalah boneka keduaku yang aku punya." Ujar Gina sambil mengeluarkan boneka rajutnya dari dalam paperbag. Sekarang mobil mereka sudah berjalan menelusuri jalan raya menuju rumah Faris.


"Jadi boneka pertama Anda adalah si beruang?"


"Kau benar." Jawab Gina sambil memainkan tangan boneka kelincinya.


"Aku tidak pernah punya boneka sejak kecil. Aku selalu bersama Kak Roby. Aku selalu meniru apapun yang dia lakukan dan dia senangi. Aku suka sekali bersepeda karena Kak Roby saat kecil suka bersepeda. Aku suka mengikuti saat dia balapan dengan teman-temannya. Aku tidak punya teman wanita karena aku lebih suka permainan anak laki-laki. Sehingga temanku kebanyakan adalah anak laki-laki." Gina mulai bercerita tentang masa kecilnya.


"Tapi suatu ketika mungkin Kak Roby mulai melihat sisi aneh dalam diriku yang selalu meniru dirinya. Sepertinya ada kekhawatiran darinya jika aku akan menjadi gadis tomboy kalau terus saja seperti itu. Lalu dia mulai melarangku memakai celana pendek dan menggantinya dengan rok. Dia mengajak Mbak Yuyun pergi ke toko untuk membeli baju anak perempuan. Kau tahu bukan, Mama tidak akan pernah punya waktu untuk kami." Wajah Gina berubah sendu. Matanya berkaca-kaca mengingat masa kecilnya yang hampir tidak mendapat dampingan dari kedua orang tuanya sama sekali.


"Lalu aku mulai memakai rok, memanjangkan rambutku. Mbak Yuyun mengepangku. Saat pergi ke pasar dia juga sering membelikanku jepit rambut. Meski ku rasa jepit rambutnya terlihat murah dan kampungan aku tetap memakainya karena Kak Roby mengatakan aku cantik saat memakai jepit rambut. Jadi aku selalu membiarkan rambutku dikepang dan diberi jepit rambut oleh Mbak Yuyun karena itu bisa menyenangkan hatinya." Sekarang air mata Gina sudah tidak bisa ditahan lagi. Itu mengalir begitu saja. Setiap mengingat Roby, Gina selalu tidak bisa menahan dirinya untuk bersedih.


Surya yang melihat itu lalu meraih tangan Gina dan menggenggamnya. Surya tidak mengatakan apapun. Hanya menggenggam jemari Gina mencoba membuatnya lebih tenang. Satu tangannya yang lain masih memegang setir. Gina masih terisak dan menundukkan wajahnya.


"Iya, Nona..."


"Bisa lepaskan tanganku sebentar?" Gina memandang Surya dengan mata basah. Lalu Surya melepaskan tangan Gina yang lalu ia gunakan untuk mengambil tisu dan mengusap air mata serta ingus usai Gina menangis.


"Surya..." Panggil Gina lagi.


"Iya Nona."


"Apa tanganku boleh digenggam tanganmu lagi?" Surya menoleh ke arah Gina. Lalu Surya meraih tangan Gina lagi untuk ia genggam.


Tangan Gina yang lembut sekarang ada dalam genggamannya. Setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Gina hanya sedang menikmati kenyamanan yang ia rasakan bersama Surya saat ini. Hingga saat tiba di rumah Faris, kemudian Surya melepas genggamannya dengan menatap Gina. Tidak seperti yang Lita katakan tadi pagi, ternyata siang tadi Sunday sudah pulang sehingga mereka langsung datang ke rumah Faris.


"Mari kita turun, Nona." Gina mengangguk.


Surya membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil paperbag yang akan ia bawa turun. Gina menunggunya dan kemudian mengambil alih paperbag di tangan Surya. Lalu ia menggandeng lengan Surya untuk selanjutnya menuju pintu pagar rumah Faris. Surya melirik lengannya yang sekarang berada pada kuasa Gina. Sesampai di depan pagar, Surya memencet bel di samping pintu pagar. Tidak berapa lama seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah lalu membukakan pagar, asisten rumah tangga Faris.


Mereka memasuki rumah Faris dan disambut dengan suara tangisan seorang bayi. Gina masih belum melepas pegangan tangannya pada lengan Surya. Saat memasuki ruang tengah terlihat Faris sedang menggendong bayinya yang menangis, sedangkan Sunday malah tertawa melihat Faris yang tampak kerepotan itu.


"Sudah berikan padaku, biarkan Cena bersamaku dulu. Mungkin dia masih lapar." Ujar Sunday yang belum menyadari kedatangan Gina dan Surya.


"Tapi aku masih ingin menggendongnya." Faris tampak enggan melepaskan bayinya untuk diberikan kepada Sunday.


"Sudahlah Faris, kau tidak boleh posesif begitu." Sahut Gina yang akhirnya sepasang orang tua baru itu memalingkan wajah mereka kepadanya.


"Seorang bayi juga tahu siapa yang lebih baik bersamanya."

__ADS_1


"Hai... kalian..." Sunday menyambut Gina dan Surya yang berjalan ke arahnya dengan riang.


Saat sudah dekat lalu Gina menatap wajah bayi perempuan mungil yang cantik itu. Wajah dengan dominasi wajah Faris.


"Hai cantik..." Sapa Gina sambil mencolek lembut pipi bayi yang digendong oleh Sunday. Faris dan Surya berbincang di beberapa langkah Gina dan Sunday berada.


"Kenapa menangis, Sayang?" Gina gemas sekali dengan bayi yang masih berkulit merah itu.


"Aku akan memberinya ASI dulu." Sunday meraih selembar kain penutup untuknya agar bisa menyusui dengan leluasa. Gina membiarkan Sunday memberikan ASI pada bayinya. Tapi bayi Sunday yang tadi sempat Gina dengar dipanggil dengan nama Cena oleh Sunday itu tetap tidak mau. Ia tetap menangis entah kenapa. Lalu Sunday menggendongnya dengan berdiri dan sedikit mengayunnya. Tapi tetap saja Cena tidak mau menghentikan tangisannya. Sunday mulai gelisah harus bagaimana menenangkan Cena yang rewel. Gina juga tidak tahu harus melakukan apa.


"Bolehkah saya menggendongnya?" Tiba-tiba Surya sudah ada di samping Gina yang ikut panik melihat Cena tidak juga berhenti menangis.


"Kau yakin bisa menenangkannya?" Gina mencibir Surya.


"Entahlah Nona, tapi setidaknya saya harus mencoba dulu." Ujar Surya kepada Gina tenang.


"Benar kan... Maaf, siapa namanya?" Tanya Surya kepada Sunday.


"Oceana, Cena." Jawab Sunday.


"Cena, ayo kita bermain bersama." Surya meminta Sunday untuk mengulurkan Cena berpindah ke tangannya. Lalu Sunday memberikan Cena kepada Surya untuk digendong.


Dengan hati-hati Surya menggendong bayi yang baru berusia beberapa hari itu. Cena masih saja menangis saat Surya mengangkat tubuh mungilnya dan mendekap ke dadanya. Cena mulai merasa nyaman dan perlahan menghentikan tangisnya. Sunday yang melihat itu terlihat senang. Begitu pula dengan Faris yang ada di sebelah Sunday dan sedang memeluk pundaknya.


Gina seperti di hadapkan pada dua pemandangan yang sama. Surya yang bisa menenangkan Cena yang rewel dan juga Faris yang memeluk mesra Sunday. Bergantian Gina menatap dua pemandangan di hadapannya itu. Menatap Surya lalu menatap Faris. Dari apa yang ia lihat itu dirinya mulai menyadari sesuatu. Perlahan kakinya melangkah dan mendekati Surya yang sedang mendekap Cena yang sangat menikmati ayunan Surya hingga mengantuk.


"Cena sayang, senyaman itu ya berada dalam pelukan Paman Surya?" Ujar Gina sambil menatap Cena yang mulai memejamkan matanya. Faris dan Sunday tersenyum melihat itu.


"Mereka sebentar lagi akan seperti kita." Komentar Sunday. Faris mengangguk.


"Sudah ku katakan bukan kalau Pak Surya memang pria yang tepat untuk Gina. Dia bahkan bisa membujuk anak kecil yang belum mengerti apa-apa, apalagi Gina yang wanita dewasa."


"Apa maksudnya?" Sunday mendongak demi menatap wajah suaminya yang memiliki postur tubuh tinggi itu.


"Pak Surya pandai mengambil hati orang lain."


"Ohhh..." Sunday manggut-manggut mengerti.


Gina memandang Surya yang masih menggendong Cena dan mengayunnya perlahan. Apa yang ia lihat itu menjadi pemandangan yang menenangkan baginya. Sinar mata Surya menyiratkan kasih sayang. Sama seperti ketika Surya memandangnya. Pandangan khas mata kecoklatannya yang tulus. Pandangan mata yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar indah. Akhirnya Gina tidak bisa memungkiri lagi bahwa dirinya menyukai Surya. Ya, sekarang Gina menyukai Surya. Bukan Faris.


Ia fikir saat melihat Faris berbahagia dengan Sunday ia akan merasa cemburu. Ditambah lagi mereka sekarang pasti lebih berbahagia dengan kehadiran bayi Cena, Gina berfikir dirinya pasti akan sangat iri melihatnya. Itulah sebabnya ia sangat enggan untuk datang mengunjungi Faris dan Sunday. Tapi setelah melihat bagaimana Faris bersikap manis sore ini kepada Sunday ternyata itu tidak sebanding dengan bagaimana saat ia melihat Surya ketika menenangkan Cena. Surya semakin terlihat menakjubkan baginya. Gina benar-benar jatuh cinta kepada Surya yang mampu melakukan banyak hal.


"Anda mau menggendongnya, Nona?" Gina buru-buru mengalihkan pandangannya kepada Cena agar Surya tidak mengetahui sejak tadi ia memperhatikannya. Mereka sekarang ada di ruang tamu. Faris dan Sunday membiarkan mereka bersama menikmati waktu dengan putrinya.


"Tidak, dia bukan boneka jadi aku merasa dia mungkin tidak akan aman berada di tanganku." Tolak Gina.


"Tidak apa-apa, Nona. Anda bisa memeluknya dengan lembut dan secara perlahan seperti ini."


"Jangan, aku takut akan membangunkannya. Sebaiknya dia tetap bersamamu saja. Sepertinya dia sangat menyukaimu."


Gina dengan serius menolak tawaran dari Surya untuk menggendong Cena. Ia benar-benar takut untuk menggendong bayi mungil yang rapuh itu. Surya hanya tersenyum melihat Gina. Gina yang percaya diri dan selalu terlihat kuat ternyata menjadi penakut saat harus berhadapan dengan seorang bayi.


"Benar, seorang bayi saja bisa secepat ini menyukaiku, apalagi wanita dewasa." Gumam Surya sambil memandang wajah Cena.


Gina yang mendengar itu jadi salah tingkah. Apakah Surya bermaksud menyindirnya? Apakah sikapnya kepada Surya sangat mudah ditebak sehingga dengan mudah ia tahu apa yang dirasakan oleh Gina terhadapnya. Gina berpura-pura tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh Surya dan menyentuh gemas pipi Cena yang masih saja tertidur pulas.

__ADS_1


"Oh ternyata begini caramu. Bisa-bisanya ya kau menikungku seperti ini." Suara seseorang dari arah pintu rumah Faris. Gina dan Surya seketika menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2