
"Jadi, siapa dia? Apa dia pacarmu? Apa kau punya pacar? Kau benar-benar punya pacar atau tidak?" Gina mengejar Surya dengan segala pertanyaan yang ingin sekali segera dijawab olehnya. Rasa ingin tahunya sangat tinggi untuk hal itu.
Surya yang melihat Gina seperti itu merasa jadi sedikit lucu. Gina seperti sangat penasaran. Tapi Surya menyembunyikan perasaannya dan hanya mendengarkan semua pertanyaan Gina sambil menunggu saat ia harus menjawabnya.
"Orang itu adalah ibu, Nona." Gina memandang Surya seolah mencari kebebaran dari jawabannya. Sekali lagi Surya merasa lucu dengan ekspresi Gina yang seperti itu.
"Apa itu cukup membuat Anda tenang sekarang?" Sekarang ganti Surya bertanya kepada Gina.
"Apa?" Gina tidak jadi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Surya.
Kenapa Surya tiba-tiba ingin tahu bagaimana perasaannya, itu membuat Gina bingung. Lalu apa yang harus Gina katakan padanya karena Gina melakukan itu tanpa ia sadari sehingga mungkin membuat Surya merasa tidak nyaman. Ia selalu mengatakan bahwa hubungan mereka bukan sebuah hubungan yang bisa membuat mereka boleh saling tahu perasaan masing-masing dan menjadi masalah karena ada orang lain diantara mereka. Gina gusar karena tidak bisa menjawab pertanyaan Surya.
"Jadi benar apa yang saya tahu dari sebuah iklan bahwa lapar bisa mengubah orang." Ujar Surya yang membuat Gina menatapnya bingung.
"Kesimpulan saya setelah melihat iklan itu, ketika kita lapar, kita mungkin akan terlihat seperti menjadi orang lain." Jelas Surya.
"Oh itu. Iya, kau benar. Aku memang sedang sangat lapar sekarang." Ujar Gina mengiyakan asumsi Surya karena ia memang tidak akan mengatakan kepada Surya kalau dirinya sangat penasaran dengan yang dikatakan Surya sebelumnya. Gina lalu menyuapkan lagi makanan dari piringnya. Surya tersenyum melihat Gina yang sekarang sedang menikmati makan malamnya.
Usai menghabiskan makan malam, Surya mengemasi meja makan. Gina meminum air putih dari gelasnya lalu berdiri mengikuti Surya yang berjalan menuju meja dapur.
"Uangmu banyak, kenapa kau tidak membeli rumah yang besar?" Tanya Gina sambil meletakkan gelas di dalam tempat cuci piring.
"Akan butuh waktu yang sangat lama untuk membersihkan rumah dengan ukuran besar, Nona."
"Kau bisa memanggil jasa pembersih rumah."
"Sebenarnya saya tidak suka orang lain menyentuh apapun milik saya. Saya lebih suka merawat sendiri apa yang saya punya."
"Wah, kau tipe pria posesif." Gina pura-pura kaget setelah mendengar penuturan Surya yang hanya memberinya senyum.
"Nona, bisa tolong ambilkan saya cangkir di rak itu?" Surya menunjuk dengan dagunya. Gina mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk oleh Surya dan lalu mendekati rak disalah satu sudut meja dapur.
"Ini lucu sekali, Surya." Gina memegang sebuah cangkir dengan warna merah muda dengan ornamen bunga daisy di salah satu sisinya. Terlihat sangat manis.
"Kau punya cangkir warna ini?" Ujar Gina sambil memandang Surya tidak percaya. Seorang pria memiliki cangkir semacan itu di rumahnya.
"Sebenarnya itu satu set dengan cangkir yang satunya, Nona." Jawab Surya yang meletakkan piring terakhir di rak tempat mengeringkan piring basah.
"Dengan yang ini?" Gina mengangkat cangkir warna hitam dengan gambar kelinci berwarna putih.
"Ini juga lucu sekali." Gina memandang kagum pada cangkir itu.
"Dimana kau membelinya?" Tanya Gina sambil menimang kedua cangkir di tangannya.
"Saya mendapatkannya saat berada di Milan, Nona." Gina manggut-manggut mengerti.
"Tapi, apa kau memang membelinya sepasang?" Tanya Gina menyelidik. Fikirannya sudah membayangkan bahwa Surya membelinya agar bisa menggunakan saat bersama Hanna.
"Itu harus dibeli satu set, Nona. Tidak bisa ecer." Surya tersenyum memamerkan giginya.
"Benarkah?" Gina seperti masih tidak percaya.
"Ku fikir kau membelinya agar bisa minum bersama pasanganmu dengan cangkir pasangan." Gina sinis.
"Pasti, Nona. Suatu saat nanti."
"Tidak boleh." Jawab Gina spontan. Surya mengerutkan kening.
"Maksudku, karena cangkir ini sangat imut, kau harus memberikannya padaku. Cangkir ini untukku saja." Surya masih memandang Gina dengan pandangan bingung. Tiba-tiba Gina menjadi penguasa.
"Kenapa? Tidak boleh?" Tanya Gina mencari tahu arti tatapan Surya yang menurutnya mungkin dia keberatan jika memintanya.
"Kau kaya, kau bisa membelinya lagi nanti."
__ADS_1
"Bukan begitu, Nona."
"Oh, kau takut tidak mendapatkannya lagi? Atau kau tidak tahu kapan akan kembali ke Milan? Tapi ini hanya cangkir jadi kau bisa membeli cangkir yang lain. Atau bagaimana kalau kita memproduksinya di R-Company? Ini sangat lucu pasti akan banyak yang berminat memilikinya."
"Tidak Nona, tidak begitu. Anda boleh memilikinya. Hanya saja kalau kita memproduksinya di R-Company, itu akan membuat kita seperti penjiplak."
"Bagus, mulai sekarang cangkir ini adalah milikku." Gina tersenyum senang.
"Tapi, ini hanya cangkir, siapapun boleh mendesain. Kita tidak harus membuatnya sama persis tapi berkat cangkir ini membuatku terinspirasi untuk memproduksi cangkir pasangan."
"Sebenarnya R-Company sudah memiliki banyak terbitan alat rumah tangga untuk pasangan, Nona. Termasuk cangkir. Kami juga sudah memproduksi koleksi itu."
"Oh ya?"
"Cangkir pasangan, gelas pasangan, kursi pasangan, sampai alat makan pasangan. Semua sudah pernah kami produksi."
"Ooohh..." Gina hanya ber-oh saja mendengar penjelasan Surya. Ia bahkan tidak tahu apa saja produk di R-Company tapi Surya sangat menguasai itu. Sekali lagi Gina jadi tahu kenapa Papanya lebih percaya jika Surya yang memimpin perusahaan dari pada dirinya.
"Mau saya tunjukkan apa saja yang sudah diproduksi R-Company sebelum Anda masuk, Nona?" Surya menawarkan diri.
"Ini bisa jadi pengetahuan untuk Anda juga, Nona. Anda harus tahu semua produksi R-Company saat menjadi presdir nanti."
"Untuk apa? Toh mungkin itu tidak akan di produksi lagi."
"Tapi kadang ada beberapa barang yang akan diproduksi ulang karena masih memiliki rating penjualan yang tinggi dan sangat diminati, Nona."
"Benarkah?" Surya mengangguk mantab.
"Anda lupa bahwa R-Company adalah yang terbaik?" Surya meyakinkan Gina bahwa opininya memang benar.
"Ahh iya, kalau bukan kita yang memuji lalu siapa yang akan melakukannya." Mendengar itu Surya tertawa.
"Itu juga benar, Nona. Tapi memang kita harus percaya produk kita adalah yang terbaik. Bagaimana kita menyakinkan konsumen bahwa barang kita yang terbaik kalau kita sendiri tidak yakin?" Gina menyimak ucapan Surya.
"Kita harus mempromosikan produk kita dengan sangat yakin, Nona. Kita harus membangun kepercayaan konsumen pada produk yang kita pasarkan."
Pak Rangga sedang duduk di kursi ruang keluarga saat Mbak Yuyun datang mengantarkan secankir kopi untuknya.
"Gina dan Surya belum datang?" Tanyanya pada mbak Yuyun.
"Belum, Tuan?"
"Apa mereka selalu pulang bersama setiap hari?"
"Benar, Tuan. Nona Gina dan Pak Surya biasa pergi bekerja dan pulang bersama. Entah kenapa malam ini mereka belum pulang." Jelas Mbak Yuyun.
"Baguslah kalau mereka sudah menjadi akur akhirnya."
"Saya rasa lebih dari akur, Tuan." Mbak Yuyun tersenyum saat mengatakan itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Pak Rangga tidak mengerti.
"Itu... Nona Gina dan Pak Rangga akhir-akhir ini sering terlihat manis. Mereka tampak bahagia." Wajah mbak Yuyun jadi sumringah mengingat apa yang akhir-akhir ini ia lihat diantara Gina dan Surya.
"Oh, tentang itu aku juga menyadarinya. Tapi apa selama aku tidak ada beberapa hari ini mereka juga tetap seperti itu?"
"Benar, Tuan."
"Bagus." Pak Rangga tersenyum senang karena ia sempat berfikir bahwa Gina dan Surya hanya melakukan itu dihadapannya saja demi keperluan sandiwara. Karena di awal pernikahan mereka Pak Rangga tahu Gina mengajak Surya untuk bermain sandiwara agar Pak Rangga lebih cepat memberikan tahta R-Company dan bisa segera berpisah dari Surya.
Tapi dari apa yang disampaikan oleh Mbak Yuyun barusan, yang ada di dalam fikiran Pak Rangga sekarang adalah bahwa hubungan Gina dan Rangga menunjukkan kemajuan ke arah yang lebih baik. Seperti apa yang diperhitungkannya, tidak butuh waktu lama untuk Gina bisa membuka kembali hatinya untuk orang lain. Terbukti dengan kehadiran Surya di dekatnya membuat Gina cepat sekali mulai bisa menerimanya dan melupakan Faris. Apalagi Pak Rangga tahu Surya orang yang sangat peka dan bisa selalu diandalkan sehingga sangat mudah bagi Gina untuk kemudian menyukainya. Pak Rangga juga sangat tahu Gina menyukai perlakuan manis dan juga perhatian sehingga Gina pasti akan luluh dengan sikap dan sifat yang Surya miliki.
Pak Rangga masih menikmati makan malamnya sendirian saat Mbak Yuyun kembali ke ruang makan dan tergopoh-gopoh menghampiri. Pak Rangga yang melihat Mbak Yuyun berdiri di sampingnya dengan senyum lebar dan mata berbinar membuatnya mengerutkan kening.
__ADS_1
"Pak... Ini..." Mbak Yuyun menyodorkan ponsel miliknya kepada Pak Rangga.
Pak Rangga menatap ponsel yang dibelikan oleh Gina untuk asisten rumah tangganya itu dan seketika merubah ekspresi wajahnya.
🌸🌸🌸
Dua buah cangkir berada di tempat yang sama dan diletakkan hanya berjarak sekitar sejengkal saja. Cangkir berbeda warna dan berisi coklat panas yang mulai dingin itu tampak serasi bersamaan begitu. Di sebelah cangkir itu masing-masing duduklah Gina dan Surya di teras samping rumah Surya yang menghubungkan langsung dengan kolam ikan. Gina melemparkan makanan pada ikan-ikan koi dengan warna-warni cantik itu. Gina terlihat senang saat melakukannya. Surya mengamati sejak tadi bagaimana Gina sangat menikmati pemandangan yang ada di depannya.
"Surya, sejak kapan kau memelihara ikan? Apa sejak kau membangun rumah ini?" Gina menoleh kepada Surya.
"Iya, Nona. Saya memang ingin ada sebuah kolam di rumah yang akan saya tempati jadi saya membuatnya."
"Kenapa? Agar saat kau rindu kampungmu, kau bisa ikut berenang bersama ikan-ikan itu?" Gina lalu tertawa diakhir kalimatnya.
"Analisa Anda bagus sekali." Surya ikut tertawa.
"Saya selalu suka berada di tambak, Nona. Saat memberi makan ikan-ikan saya akan duduk ditepi sambil memperhatikan mereka. Itu sangat menyenangkan. Itu seperti memberi saya sebuah terapi dan membantu menyembuhkan saya dari stres."
"Benarkah?" Tanya Gina.
"Benar, Nona."
"Wah, kau pasti orang yang memiliki tingkat stres paling tinggi di R-Company saat itu. Semua hal kau mengerjakannya. Menjadi asisten Papa pasti sangat melelahkan untukmu. Lelah fisik dan pasti juga fikiran." Tebak Gina.
"Walaupun kau juga adalah pegawai dengan gaji paling tinggi di R-Company tapi tetap saja tubuh dan fikiranmu tidak bisa berbohong. Kau pasti lelah menjalani pekerjaanmu dengan 'jam terbang' setinggi itu." Gina mengalihkan pandangan dari ikan-ikan itu kepada Surya lagi.
"Apa kau pernah merasa sangat lelah dan ingin berlibur ke suatu tempat dan meninggalkan pekerjaanmu beberapa saat?"
"Tentu saja pernah, Nona."
Mendengar jawaban Surya, tiba-tiba Gina menjadi iba kepada Surya yang selama ini seperti menjalani kehidupan tidak selayaknya manusia normal. Ia hanya bekerja dan bekerja tanpa sempat membiarkan dirinya untuk menikmati hari sesuai keinginannya sendiri. Dan bahkan sampai saat ini pun Surya masih menjalani ketidaknormalan itu. Ia harus berpura-pura menikah dengannya sentara ada wanita lain yang menjadi pacarnya. Demi pekerjaan yang ia lakukan atas Papanya, Surya harus melakukan sandiwara dan mengesampingkan perasaannya.
Tiba-tiba perasaan Gina menjadi tidak enak. Ia merasa menjadi wanita kejam telah berfikir untuk merebut Surya dan memisahkannya dari Hanna. Surya yang selama ini menjalani hidup tidak normal malah sengaja Gina rampas kembali kenormalan hidupnya dibalik sandiwara yang sedang Surya lakukan dengannya.
Tapi bagaimana dengan aku? Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas hatiku? Dia sudah terlanjur mencuri hatiku dengan segala sikapnya yang manis itu. Aku harus membuat hatiku tenang dengan memenangkan hatinya. Apapun caranya, aku tidak akan melepaskan Surya dan membuatnya lebih bisa bersamaku, bukan Hanna.
"Saat masih tinggal di kontrakan, ketika saya sedang lelah dan mulai bosan dengan segala rutinitas saya, saya suka sekali memandang ikan-ikan di dalam aquarium yang saya letakkan di kamar, Nona."
"Apakah itu benar-benar manjur?"
"Nona tahu, melihat ikan-ikan berenang dengan sangat profesional kesana kemari membuat saya tenang, Nona. Itulah cara yang saya pakai untuk mengatasi kejenuhan saya. Dan ketika saya memiliki rumah sendiri, saya lalu membuat kolam ini untuk menghibur saya."
"Memangnya kapan kau pergi ke rumahmu? Setahuku kau selalu bekerja dan berada di rumahku."
"Setiap pagi sambil berlari pagi saya menyempatkan diri untuk mampir ke sini walau hanya sekadar bersih-bersih atau hanya untuk memberi makan ikan, Nona."
"Oh ya? Kau berlari hingga ke sini?"
"Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk bisa berlari santai ke sini, Nona."
"Tetap saja itu pasti melelahkan."
"Tapi itu rasanya jauh lebih baik daripada berlari diatas treatmill, Nona."
"Kau menyindirku?" Gina menatap Surya tajam yang menahan tawa karena Gina tahu apa yang sedang ia lakukan. Surya lalu tertawa melihat Gina menyadari maksud ucapannya.
"Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar hanya dengan ikan saja bisa merasa terhibur?" Surya mengangguk menjawab pertanyaan Gina.
"Kau tidak membutuhkan seseorang yang bisa menghibur dan menyemangatimu?" Gina memancing Surya meskipun Gina tahu ia tidak akan menjawab bahwa ada Hanna dibelakangnya saat menjalani kehidupan pribadinya.
Surya tampak menatap Gina lurus lalu tersenyum. Gina menunggu beberapa saat untuk mendengar jawaban Surya dan yang terjadi hanya hening. Surya tidak menjawab dengan bibirnya tapi pandangan matanya mengisyaratkan sesuatu yang bisa diartikan Gina sebagai sebuah kode bahwa Gina tidak boleh terlalu jauh mencampuri urusannya seperti yang tertulis pada kontrak yang ia buat.
Tapi sikap Surya malah membuat Gina semakin ingin menaklukkan hatinya. Walaupun ia tahu Surya memiliki kekasih, tapi Gina tidak ingin patah hati lagi dengan membiarkan Surya menjadi milik Hanna seperti saat Faris akhirnya menikahi Sunday. Gina merasa inilah saatnya ia benar-benar harus mengikat Surya dengan dirinya. Pernikahan mereka yang awalnya ia benci dan sangat ingin ia akhiri sekarang membuatnya berubah fikiran untuk mempertahankannya. Menarik perhatian Surya dan menjatuhkan hatinya adalah keinginan terbesarnya saat ini.
__ADS_1
"Surya, mari kita tinggal di sini beberapa hari." Ujar Gina sambil tetap menatap ikan-ikan di dalam kolam yang berenang di sekitar makanan yang ia taburkan.
Seketika Surya memandang Gina. Mencari tahu apakah memang benar itu yang dikatakan padanya atau dia hanya sedang salah dengar saja.