
Surya berdiri di aula sebuah bioskop. Meski terlihat tenang dengan es krim cone di tangannya tapi sesekali matanya melihat ke satu titik. Dua orang remaja yang sedang berdiri di depan sebuah kios popcorn dan terlihat berbincang malu-malu. Mereka adalah sepasang remaja yang sedang jatuh cinta. Berkali-kali Surya melihat remaja pria tersenyum kepada remaja wanita dengan pandangan mata yang Surya tidak suka. Sedangkan remaja wanita tampak berkali-kali menyunggingkan senyum bahagia bersama pacarnya itu.
Beberapa saat kemudian mereka segera memasuki bioskop untuk menonton film. Dari judul yang Surya lihat, itu pastilah adalah film drama romantis. Surya lalu bergegas masuk mengikuti sepasang remaja itu. Ia memilih tempat duduk di dua baris belakang dua remaja itu duduk. Meski film sudah dimulai tapi Surya lebih fokus kepada dua remaja di depannya. Awalnya mereka hanya terlihat sedang menonton saja. Lalu sesekali mereka berbincang. Dari siluet wajah yang Surya lihat di tempat ia duduk, mereka sedang saling senyum. Lalu kemudian melihat ke layar bioskop lagi. Tapi tak lama kemudian remaja pria tampak sedang memandang remaja wanita yang masih menikmati film di depannya. Perlahan tapi pasti, remaja pria itu mendekatkan wajahnya kepada remaja putri. Surya menjadi panik. Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh remaja pria itu. Surya segera mengambil botol air mineral di sampingnya dan meneguknya tapi tidak sampai habis. Kemudian ia melemparnya ke arah remaja pria itu.
"Brukk!" Tepat mengenai kepala remaja itu. Ia mengaduh dan reflek melihat ke arah belakang. Tapi tidak ada satu pun orang yang peduli padanya. Surya juga berpura-pura menatap layar bioskop dengan serius seperti tidak tahu apa-apa seperti yang lainnya. Remaja wanita yang sempat mendengar pacarnya mengaduh sempat kaget dan bertanya apa yang terjadi. Surya menahan tawa melihat bagaimana remaja pria itu mengusap-usap kepalanya yang pasti terasa sakit karena botol yang masih berisi sedikit air itu.
Sampai durasi film berakhir, Surya masih mengawasi dua remaja itu dalam pengintaiannya. Setelah menonton bioskop, remaja yang Surya tahu masih bersekolah SMA itu memasuki sebuah restoran di sisi lain pusat perbelanjaan tempat mereka menonton.
Tidak mau kehilangan momen apapun dari merek berdua, Surya pun turut memasuki restoran itu. Ia mengambil tempat di sebuah meja yang agak sudut dan sedikit terhalang pengunjung lain. Surya menebak remaja wanita itu pasti akan memesan french fries dan jus jeruk, menu makan malam remaja itu. Menjadi pengawal yang tidak pernah remaja itu ketahui, Surya menjadi tahu banyak tentangnya. Makanan yang disukainya, semua kegiatannya dan juga setiap kebiasaannya. Itu adalah pekerjaan yang harus dijalaninya selama setahun belakangan ini sehingga sudah menjadi rutinitasnya mengikuti kemanapun remaja wanita itu pergi.
Karena misi yang diberikan oleh bosnya adalah menjaga anak gadisnya, jadi Surya akan melakukan segala hal yang bukan hanya bisa membuat pria memanfaatkan dirinya baik dari segi fisik dan materi tapi juga dari hal yang bisa membuat remaja wanita itu terluka atau terlibat masalah. Sehingga Surya akan berusaha memasang badan secara tidak langsung demi menjaga putri bosnya itu, bagaimanapun caranya.
Seperti suatu ketika di sebuah club malam, seorang pria mabuk menggoda gadis itu tapi karena gadis itu tidak terima, sehingga ia marah dan hampir saja menghajar pria mabuk yang bahkan berjalan saja dia sudah sempoyongan. Tapi Surya yang wajahnya tidak dikenali oleh putri bosnya itu segera menghalau dan berpura-pura menjadi temannya lalu mengajaknya keluar dari dalam club. Jika saja perkelahian itu terjadi, maka bisa jadi pihak berwajib akan datang dan nama remaja itu akan dikenali sebagai putri bosnya. Sehingga Surya harus melindunginya demi melindungi bosnya juga.
Sangat melelahkan memang menjadi pengawal bayangan putri seorang bos tapi itu sebanding dengan gaji yang ia terima sehingga Surya bekerja dengan sebaik mungkin untuk tetap bisa menjadi pagawai Pak Rangga, Papa Gina. Ya, gadis yang dibuntutinya itu adalah Gina saat masih remaja.
Surya selalu mengawasi Gina dari jauh, bahkan saat dia mengikuti bimbingan belajar dan malah pergi ke tempat arena bermain sekalipun. Karena itulah yang memang Pak Rangga perintahkan. Dari apa yang Surya lihat selama mengikuti Gina, ia sering mendapati Gina membolos dari bimbingan belajar yang seharusnya ia ikuti. Surya melaporkannya kepada Pak Rangga tetapi Pak Rangga menyuruhnya untuk membiarkan saja. Entah apa yang difikirkan Pak Rangga terhadap Gina tapi Surya hanya patuh saat bosnya itu menginstruksikan agar ia membiarkan Gina melakukan semua hal semaunya asal Surya selalu membuntutinya.
Itulah yang membuat Gina juga tidak menjadi murid pandai baik di sekolah maupun di tempat bimbingan belajar. Hal itu membuatnya menjadi bahan perbincangan teman-teman sekelasnya di tempat bimbingan belajar.
"Ku rasa dia hanya memiliki wajah cantik dan orang tua yang kaya. Otaknya benar-benar tidak berfungsi." Ujar seorang anak yang sedang duduk di lobi bimbingan belajar tempat Gina mendapatkan pelajaran tambahan.
"Benar, bagaimana bisa nilai tesnya sangat buruk." Ujar anak yang lain.
"Aku kasihan padanya. Dia cantik dan kaya tetapi sayangnya dia bodoh." Tambah gadis terakhir yang duduk di sofa paling ujung.
"Kalian tahu yang namanya keseimbangan?" Suara tiba-tiba dari arah belakang mereka. Ketiga gadis teman sekelas Gina di tempat bimbingan belajar tapi berbeda sekolah dengannya itu serentak menoleh.
"Aku hanya mencoba berada pada situasi itu. Bagaiamana bisa ketika aku berwajah cantik dan juga kaya lalu sekaligus memiliki kepandain diatas rata-rata. Aku takut orang-orang seperti kalian pun akan bergosip lagi tentangku. Apakah aku jelmaan malaikat sehingga terlahir begitu sempurna." Kalimat Gina membuat ketiga gadis itu mengerutkan kening.
"Aku memang sengaja membuat nilaiku buruk. Aku mengikuti bimbingan belajar ini hanya karena aku harus memiliki kesibukan. Jadi, tidak masalah walau harus mengulang tes bimbingan belajar sampai ribuan kali sekalipun." Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Gina lalu berlalu dari sana. Ketiga gadis itu memandang Gina sambil memanyunkan bibir mereka. Gina memang sangat percaya diri dan membuat orang lain jadi sebal kepadanya.
__ADS_1
Tapi bukan Gina namanya kalau tidak bersikap menyebalkan kepada orang yang tidak suka padanya. Ia akan terang-terangan menunjukkan itu pada mereka. Sebaliknya jika ada orang yang baik padanya, maka Gina akan lebih baik lagi dua kali lipat pada orang itu. Itulah sifat Gina yang sebenarnya. Dan tidak jauh dari tempat ketiga gadis yang membicarakan Gina tadi, ada seorang pria berpenampilan seperti seorang pelajar juga dengan tas ransel di punggungnya. Surya. Surya yang mendengar semua pembicaraan ketiga gadis itu termasuk perkataan Gina jadi menahan tawa. Ia menganggap Gina memang luar biasa. Gina tidak pernah melakukan hal dengan setengah-setengah. Kalau mau cantik, dia melakukan perawatan yang terbaik. Kalau mau nilai buruk, ia akan menjadi si nilai terburuk.
Surya ingat, setelah menjadi bahan pembicaraan teman-teman bimbingan belajarnya saat itu dengan santai Gina meninggalkan mereka lalu memasuki mobil yang dikemudikan sopir Papanya untuk menjemput. Surya pun sudah siap dengan mobilnya di belakang mobil Gina dengan jarak yang lumayan jauh tapi masih tetap bisa memantau.
Mobil Gina terlihat berhenti di sebuah toserba. Beberapa saat Gina berada di dalam lalu ia keluar sambil membawa beberapa bungkus snack dan sebotol minuman coklat dingin kesukaannya. Surya masih mengawasi Gina dari dalam mobilnya yang ia parkir di seberang jalan tempat Gina menikmati camilannya sendirian. Ia terlihat sangat menikmati kesendiriannya.
Gina yang duduk di kursi yang disediakan di depan toserba terlihat sesekali menarik nafas berat lalu menghembuskannya kasar. Dia terlihat sangat kesepian. Itu bukan pertama kalinya Surya mendapati Gina terlihat seperti itu. Gina yang tidak pandai berteman dan terlihat kesepian. Ingin sekali Surya duduk dimeja yang sama mengajaknya berbicara dan mendengarkan segala yang ingin dikatakan oleh gadis itu. Tapi ia adalah 'penjaga' yang ditugaskan Papanya untuk mengawasi dirinya. Sehingga ia tidak mungkin muncul dihadapan Gina jika tidak ingin wajahnya dikenali oleh Gina. Bisa-bisa suatu saat ketika mengintai, ia bisa ketahuan oleh Gina.
Surya tersenyum mengingat semua itu. Mengingat hal-hal yang dialaminya saat masih menjadi 'pengawas' Gina.
"Hei, kau senang sekali ya mencampuri urusan orang lain?" Surya mengerutkan kening mendengar kalinat Gina.
"Itu karena saya peduli, Nona."
"Oh ya?" Gina memicingkan matanya menyelidik.
"Kau peduli padaku karena Papa memerintahkanmu untuk melindungiku. Tentu saja itu memang bagian dari pekerjaanmu."
"Memang begitulah, Nona. Saya harus profesional dan harus melindungi Anda bahkan lebih dari diri saya sendiri. Karena bagi Papa, Anda jauh lebih berharga dari apapun."
"Papa melakukan itu karena ingin membuat kehidupan Anda nyaman, Nona. Papa tidak ingin Anda dipusingkan dengan berbagai hal yang ada di R-Company. R-Company bukanlah sesuatu yang sederhana seperti yang Anda bayangkan."
"Jadi dengan kata lain maksudmu aku terlalu bodoh untuk menjadi presdir di R-Company?" Gina mulai meninggikan nada suaranya.
"Bukan Nona, Bukan begitu."
"Aku tidak percaya. Kau benar-benar melukai harga diriku sudah menganggapku seperti itu."
"Tidak Nona. Saya tidak bermaksud begitu."
"Sudah, jangan teruskan. Aku benar-benar marah sekarang." Gina berdiri dari tempatnya dan hendak pergi tapi Surya berhasil menahannya dengan menyahut tantannya.
__ADS_1
"Nona, jangan marah. Saya tidak bermaksud seperti yang Anda fikirkan." Jelas Surya. Gina berbalik memandang Surya karena ia masih juga menahannya.
"Dengarkan saya, Nona." Sekarang kalimat Surya terdengar lembut. Itu adalah nada bicara khas Surya yang membuat ia menyukai pria itu. Nada bicara yang menenangkan hatinya. Gina menurut dan duduk kembali di tepi tempat tidurnya. Surya yang semula duduk bersandar kepala ranjang pun mengubah posisi berada di sebelah Gina.
"Seperti yang Papa katakan sebelumnya, Anda harus belajar terlebih dulu dari awal tentang R-Company. Papa tidak ingin Anda tiba-tiba memegang kekuasaan tetapi tidak mengetahui sedikitpun tentang R-Company. Papa tidak ingin ada pihak-pihak yang akan memanfaatkan ketidaktahuan Anda sebagai pimpinan sehingga membuat R-Company dalam bahaya. Anda bukan tidak mampu menjadi pimpinan di R-Company tapi belum. Pada saatnya nanti Anda akan menjadi pimpinan R-Company selanjutnya, yang hebat seperti Papa." Surya berbicara dengan sungguh-sungguh. Gina menyimaknya seperti sedang mendengarkan alunan musik favoritnya. Terlebih saat berdekatan begini mata kecoklatan Surya benar-benar membuat Gina terpesona.
"Jadi, semakin Anda cepat belajar memahami R-Company, maka Anda akan menduduki kursi presiden direktur."
"Ya, mungkin kau ada benarnya juga." Gina terlihat bisa menerima penjelasan dari Surya.
"Maka saat itulah saya akan mundur, Nona." Tambah Surya.
"Mundur?" Gina membulatkan kedua matanya memandang Surya.
"Benar, Nona. Lalu Anda akan menempati posisi Anda sebagaimana mestinya. Dan saya sudah tidak ada lagi di sana."
"Tentu saja. Karena aku sudah menggeser posisimu." Gina tampak senang memikirkan hal itu.
"Tapi kira-kira kau akan ada di posisi mana? Wakil presiden direktur. Ahh, kau jadi ada dibawahku. Tapi tenang saja, aku akan bersikap baik padamu. Bagaimanapun juga kau tetap adalah orang pernah menduduki tahta presiden direktur di R-Company sebelumku dan juga tentu saja Papa tidak akan pernah mengampuniku kalau aku menindasmu." Gina tertawa sendiri. Surya menanggapinya dengan senyum.
"Saat itu Anda akan lebih nyaman karena saya tidak ada di sana sebagai apapun, Nona." Mendengar itu otak Gina mulai mencerna maksud ucapan Surya.
"Hei, apa maksudmu?"
"Saya akan benar-benar pergi dari R-Company, Nona."
"Kenapa?" Ada perasaan tidak enak di hati Gina.
"Apa kau merasa kecewa karena aku menggeser posisimu?"
"Tidak Nona, tidak sama sekali. Justru saya menantikan hal itu."
__ADS_1
"Kalau kau menantikannya dan dengan senang hati ku gantikan, kenapa kau harus pergi?" Gina menatap Surya dalam-dalam. Ia sangat penasaran apa yang sebenarnya pria itu inginkan.
"Jangan pergi. Jangan pergi kemanapun. Aku mau kau tetap disini. Bersamaku. Jadi, jangan kemana-mana." Saat mengatakan itu mata Gina tiba-tiba langsung berkaca-kaca. Tangannya menggenggam erat tangan Surya. Seolah ingin mengisyaratkan bahwa ia benar-benar tidak ingin kehilangan Surya.