
"Bagaimana kalau Anda menyuapi saya? Tangan saya teriris tadi saat mengupas bawang tadi." Ucap Surya dan membuat Gina terperanjat dengan gurauan yang diucapkan seberani itu padanya setelah semua yang telah ia lakukan.
"Berani-beraninya kau." Tanggapan Gina datar tapi dengan pandangan tajam.
"Kau sudah bosan hidup? Mau ku antar kemana? Ke ICU atau ke pemakaman?" Lanjut Gina yang membuat Surya tertawa.
Gina memalingkan wajahnya melihat tawa Surya seperti itu. Sederet gigi rapi dengan mata kecoklatan yang menyipit saat tertawa membuat Gina harus buru-buru mengalihkan pandangannya atau ia harus begadang semalaman nanti karena selalu terbayang wajah pria di depannya itu. Selanjutnya Gina lalu menyuapkan nasi kucing kedalam mulutnya dan menggigit sate usus dengan lahap. Melihat itu Surya ikut juga menyuap. Tapi Gina hanya memberinya satu tusuk sate telur dan sate kepala ayam. Selebihnya sudah berada dalam kekuasaan Gina. Surya hanya tersenyum menanggapi tingkah Gina.
"Kau punya banyak di warung, jadi semua ini untukku. Kau makan ini saja." Sambil meletakkan satu tusuk sate telur dan sate kepala ayam di depan Surya yang hanya bisa menerima saja keinginan Gina.
Surya masih memandang Gina yang makan dengan lahap hingga tanpa sadar Gina tahu itu.
"Kenapa? Apa aku terlihat semakin cantik setelah beberapa lama kita tidak berjumpa?" Ujar Gina tanpa menatap Surya dan masih menyibukkan diri dengan makanan di depannya. Mendengar suara Gina menarsiskan diri seperti itu, lagi-lagi Surya tersenyum.
Hari sudah larut, anak-anak panti sudah banyak yang memasuki kamar mereka. Hanya beberapa saja yang masih tinggal di ruang TV. Mereka adalah anak-anak yang sudah agak besar dan sedang menonton film Hollywood. Gina juga ikut berada diantara kerumunan anak-anak itu sedang melihat film action. Entah sejak kapan dia menyukai itu, yang jelas setahu Surya, Gina lebih menyukai film drama romantis daripada film action.
"Tidak ada yang tahu bagaimana isi hati seseorang." Ujar Bu Wati dari balik punggung Surya yang kemudian duduk di depannya. Surya yang sejak tadi memandang Gina mengikuti Bu Wati.
"Tapi semua bisa terlihat dari pandangan mata." Mendengar kalimat terakhir Bu Wati, Surya tersenyum seolah tahu apa yang wanita paruh baya itu maksudkan.
"Kalian terlihat sangat baik saat bersama. Sampai saat ini aku masih menyayangkan kenapa kalian harus berpisah begitu saja." Bu Wati kali ini menatap Gina dari arah duduk menyampingnya.
"Dia gadis yang baik. Dia juga cepat sekali akrab dengan anak-anak di sini. Bagaimana bisa kau menceraikannya begitu saja kalau kau juga bahkan masih menyukainya." Surya memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Bu Wati.
"Aku tahu bagaimana matamu selalu menatapnya penuh cinta."
"Bu Wati bisa saja." Kilah Surya.
"Aku sudah tua, aku mengenal banyak orang. Begitu pula dengan anak-anak remaja di sini. Aku tahu saat mereka jatuh cinta." Bu Wati lalu tertawa kecil.
"Dan aku melihatnya juga padamu. Kau bisa saja berbohong dengan bibirmu tapi matamu tidak bisa menutupinya. Kau memandang Nona Gina seolah kau tidak ingin melewatkan apapun darinya. Matamu benar-benar pembohong yang buruk."
Sekali lagi Surya hanya tersenyum menanggapi penilaian Bu Wati tentang dirinya. Dan itu bukanlah pertama kali untuknya. Beberapa orang yang cukup mengenalnya pun mengatakan hal yang serupa. Ibunya pun akhirnya tahu bagaimana Surya harus berpisah dari Gina. Berawal dari penilaian ibunya tentang bagaimana Surya sangat perhatian kepada Gina, ibunya tahu bahwa putranya sangat menyukai wanita itu. Sehingga ibunya tidak bisa percaya begitu saja ketika Surya mengatakan bahwa mereka terpaksa bercerai karena sudah tidak saling mencintai.
"Kau fikir ibumu ini buta? Ibu sangat mengenalmu. Ibu tahu ketika bagaimana kau berteman dengan Dinda atau dengan teman-teman wanitamu yang lain. Sehingga saat bersama Nduk Gina aku yakin kalian adalah pasangan yang saling mencintai. Kau mencintainya. Ibu tahu itu dan kau tidak perlu berbohong."
"Tidak Bu, kami tidak saling mencintai."
"Bersumpahlah demi Ibu kalau kau benar-benar tidak mencintainya." Kalimat Bu Maryam membuat Surya bungkam. Mana mungkin ia bersumpah demi ibunya kalau ia memang sedang berbohong.
Tidak hanya ibunya, Hanna bahkan sudah tahu sejak awal. Hanna tahu Surya menyukai Gina karena ia memang orang yang tidak pandai berpura-pura. Bagaimana ketika ia memberi perhatian kepada Gina dan mengkhawatirkannya terlalu berlebihan, itu mudah sekali dilihat oleh Hanna bahwa sebenarnya Surya menyukai Gina. Oleh karena itu ia sangat marah kepada Surya saat tidak tahu harus berbuat apa ketika dihadapkan pada dua pilihan antara harus bersama Siska atau berpaling kepada Gina.
Dan bahkan Siska sendiri pun tahu bagaimana perasaan Surya yang sebenarnya kepada Gina. Ketika itu Surya dan Siska datang untuk menghadiri pesta pernikahan Hanna. Surya menghentikan mobilnya di area parkir hotel.
"Ayo kita turun." Ajak Siska karena merasa aneh Surya seperti belum ingin beranjak dari balik kemudi.
"Sebentar, kita akan di sini dulu." Jawab Surya.
"Kenapa?" Tanya Siska heran.
"Tidak apa-apa. Kita akan di sini beberapa saat dulu."
"Kau tidak enak badan?" Siska khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tapi aku belum bisa masuk sekarang."
"Kau kenapa? Apa kau meninggalkan sesuatu di rumah? Kau ingin kembali mengambilnya?" Siska semakin bingung dengan Surya yang bersikeras untuk sementara waktu ingin berada di dalam mobil saja.
"Tidak, cukup ikuti saja aku. Kita di sini saja dulu." Bujuk Surya dan Siska benar-benar tidak mengerti kenapa. Hingga pada akhirnya pandangan mata Siska menangkap keberadaan Gina di depan gedung saat terdengar acara akad nikah dilangsungkan.
"Apa karena dia?" Siska menunjuk Gina dengan pandangan matanya. Itu membuat Surya diam tak bergeming tapi juga tidak memberi jawaban apapun. Hal itu membuat Siska yakin bahwa penyebabnya adalah Gina.
"Kau sedang menghadiri undangan Hanna, kau tidak perlu menghindari Nona Gina. Sudah saatnya kau menjalani hidupmu dengan normal tanpa menghindari siapapun. Kau tidak berhutang apapun padanya dan kau sudah meminta maaf atas kesalahanmu. Kau tidak perlu selalu merasa bersalah lagi." Bujuk Siska.
"Tidak semudah itu." Jawab Surya sambil masih memantau keberadaan Gina dari tempatnya.
__ADS_1
"Apanya yang tidak mudah? Kau terlalu larut dalam rasa bersalahmu. Apa kau sadar itu sangat menggangguku?" Suara Siska mulai meninggi.
Surya menatap lekat-lekat wajah kekasihnya yang memerah dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini ia melihat Siska berbicara denga nada meninggi semacam itu. Ada luapan emosi yang sepertinya telah Siska pendam dan seperti bom waktu yang bisa meledak, sekaranglah saatnya itu terjadi. Siska benar-benar terlihat marah sekarang.
"Kau tidak tahu selama ini aku berusaha mengerti dirimu? Mencoba memahami setiap jalan fikiranmu dan hanya bisa berharap suatu saat kau mengerti diriku. Kau selalu menempatkan Nona Gina sebagai prioritasmu. Saat itu kau memprioritaskan sebagai putri bos yang harus kau lindungi dan kau jaga dengan baik, lalu ku lihat kau mulai terlena dan sepertinya sangat menikmati peranmu sebagai suaminya. Kau fikir aku takut kehilanganmu dan cemburu terhadap kedekatanmu pada Nona Gina hanyalah kekhawatiran tak berdasar?" Siska mulai meneteskan air mata. Surya masih membiarkan Siska mengungkapkan segala yang ingin ia sampaikan.
"Kau tidak menyadari bukan kalau kau selalu sangat berlebihan jika itu mengenai Nona Gina. Dan itu melebihi ketika kau sedang berhadapan denganku. Aku sangat takut tapi aku berusaha berfikir bahwa itu hanya ketakutanku saja. Berharap semua baik-baik saja, tidak akan terjadi seperti apa yang ku khawatirkan. Tapi, melihatmu masih sangat menjaga perasaan Nona Gina begini, ketakutanku menjadi semakin besar." Siska mengusap air matanya.
"Maafkan aku sudah bersikap seperti itu." Ujar Surya sambil menggenggam tangan Siska.
"Aku iri padanya." Siska mengalihkan pandangan pada Gina yang masih bersandar luar gedung pernikahan Hanna.
"Kau selalu memiliki pandangan mata yang tidak pernah kudapatkan darimu walaupun aku adalah kekasihmu tapi kau bisa memandang Nona Gina dengan cara seperti itu." Surya mengerutkan kening tidak mengerti apa yang sedang Siska bicarakan.
"Matamu tidak pernah berbohong. Kau memandang Nona Gina dengan cara yang berbeda dibanding saat memandangku. Pandangan penuh cintamu terhadapnya, tidak pernah ku dapatkan darimu." Siska memperjelas maksud ucapan sebelumnya. Surya membuang wajahnya ke arah luar mobil untuk menyembunyikan wajah salah tingkahnya mendapat ucapan Siska seperti itu.
"Itu hanya perasaanmu saja." Kilah Surya.
"Dan perasaanku memang benar. Akhirnya ketakutanku menjadi kenyataan." Kalimat Siska lirih.
"Aku harus pergi. Aku tidak bisa masuk dengan wajah berantakan seperti ini." Siska menunjuk wajahnya dengan mata sembab memerah setelah mengeluarkan air mata.
"Tidak, kita harus masuk bersama dan memberi ucapan selamat kepada Hanna."
"Aku tidak bisa menemanimu menunggu di sini hingga Nona Gina masuk lebih dulu. Jawab Siska.
"Aku juga... tidak akan bisa jika melihatmu menatap Nona Gina seperti itu. Rasanya sangat menyakitnya melihat kekasihku memandang wanita lain dengan cara seperti itu." Siska membuka pintu mobil dan keluar melepaskan genggaman tangan Surya.
Surya tahu akan sia-sia saja jika saat ini mengejar Siska. Ia membiarkan Siska pergi dan tidak memaksakan kehendaknya untuk tetap bersamanya menghadiri perta pernikahan Hanna. Sedangkan dirinya sendiri pun tidak mungkin melewatkan pesta pernikahan sahabatnya. Bagaimanapun juga sebagian besar yang dikatakan Siska memang benar. Jika pepatah mengatakan mata adalah cendela hati, maka mungkin seperti itulah yang orang lain lihat dari Surya setiap ia bersama Gina. Perasaannya telah jatuh kepada Gina dan ia semakin tidak bisa mengendalikan hatinya sehingga ketika secara seksama melihat Surya memandang Gina, orang akan tahu bagaimana ia sedang terpikat pada wanita itu.
"Surya..." Panggil Bu Wati setelah beberapa saat Surya tenggelam dalam lamunannya sendiri. Surya memandang Bu Wati yang tersenyum padanya.
"Entah apa yang terjadi diantara kalian, tapi aku berharap kalian baik-baik saja." Surya hanya menanggapi dengan tersenyum.
Gina bangun dari duduknya dan memutar pinggangganya ke kanan dan ke kiri untuk mengurangi rasa pegal setelah hampir 2 jam duduk di depan TV.
"Sebentar Kak, sampai jeda iklan."
"Tidak, ini sudah sangat malam." Gina menarik salah seorang anak untuk bangun dari duduknya.
"Jangan karena Bu Wati belum mengusir kalian ke kamar lalu kalian mau begadang." Canda Gina sambil menarik tangan anak lain yang masih duduk juga.
"Ayolah Kak, 5 menit lagi." Protes anak itu.
Melihat itu, Surya jadi tidak tinggal diam. Ia lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Gina yang sedang bersama anak-anak di depan TV. Pandangan Bu Wati mengikuti Surya.
"Ini sudah lewat pukul 10. Besok pagi kalian bisa mengantuk." Ujar Surya saat sudah dekat.
"Tidak Kak, kami janji akan tetap bangun pagi."
"Bagus, kalau begitu jangan lupa nyalakan alarm kalian. Jangan membuat Bu Wati dan yang lainnya repot kalau kalian bangun kesiangan. Kasihan adik-adik kalau tidak ada yang menangani."
"Baik kak, hanya sampai jeda iklan, lalu kami akan tidur." Ujar seorang gadis berusia remaja tanggung yang sejak tadi berupaya memiliki alasan untuk tetap menonton TV sampai acara terjeda iklan.
"Baiklah, kami juga akan pulang." Kali ini Surya memandang Gina seolah memberi isyarat padanya untuk pulang juga.
Akhirnya setelah berpamitan kepada Bu Wati, Surya dan Gina keluar dari rumah panti asuhan itu. Surya dan Gina berjalan beriringan menapaki halaman panti tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Gina memang sengaja bungkam karena tidak tahu harus berkata apa. Hingga akhirnya Surya yang membuka suara lebih dulu.
"Selamat malam, Nona." Ucap Surya sebagai penanda salam perpisahan.
"Malam..." Jawab Gina singkat lalu membuka pintu mobilnya dan berusaha tidak menghiraukan Surya.
Tapi sebelum masuk mobil, Gina sempat melihat Surya mendekati mobilnya sendiri. Mobil yang sama dengan yang biasa ia pakai dulu. Gina jadi penasaran saat bertemu di kantor polisi waktu itu Surya malah menaiki motor, bukan mobil mewahnya yang sekarang sedang terparkir di samping bangunan gedung panti.
Dan hanya sebatas itu saja sampai saat Gina mulai menstarter mobil, ada sebuah ketukan pada kaca cendela disampingnya. Gina melihat Surya menunduk di cendela itu seolah ingin mengatakan sesuatu. Gina pun membuka kaca cendela mobilnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Gina masih acuh.
"Nona, bisakah saya naik mobil Anda?" Gina mengerutkan kening dengan permintaan Surya.
"Ban mobil saya kempes, tukang tambal ban juga sangat jauh. Lagipula dijam semalam ini sepertinya tukang tambal ban pasti sudah tutup. Di sekitar juga sini tidak ada tukang tambal ban 24 jam." Jelas Surya panjang lebar memberi alasan agar Gina bisa mengerti.
"Naiklah." Jawab Gina akhirnya. Surya pun berjalan memutari bagian depan mobil Gina dan membuka pintu lain untuk masuk dan duduk di sisi Gina.
"Terima kasih, Nona." Ucap Surya setelah Gina mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman Rumah Gina.
"Jangan salah faham, aku melakukan ini karena hanya demi kemanusiaan saja. Aku juga masih punya hati nurani untuk tidak meninggalkanmu bersama mobilmu yang kempes itu." Surya tersenyum menanggapi Gina yang masih berkonsentrasi dengan jalan di depannya.
Setelah itu kebisuan kembali menyelimuti mereka berdua. Gina masih memandang lurus jalan di depannya tanpa ingin berbicara apapun pada Surya disampingnya. Ia benar-benar membangun jarak dan menghindari Surya dalam hal apapun.
"Bagaimana kabar Papa, Nona?" Akhirnya Surya mulai membuka percakapan.
"Oh maksudku Pak Rangga." Ralat Surya karena ia merasa sudah tidak bisa memanggil orang tua Gina dengan panggilan itu lagi.
"Baik." Jawab Gina singkat.
"Kabar Bu Marina?"
"Baik."
"Kabar Mbak Yuyun?"
"Baik."
"Kabar Nona?"
"Baik."
"Ayo kita berteman?"
"Baik."
"Baiklah, mari kita berteman."
"Apa?" Gina mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menoleh pada Surya yang tersenyum lebar kepadanya yang baru menyadari kalau ia melakukan kesalahan dengan jawabannya kali ini.
"Tidak, aku tidak bisa." Gina meralat.
"Tapi Anda sudah terlanjur setuju."
"Aku meralatnya."
"Saya sudah terlanjur menerima persetujuan Anda."
"Terserah padamu, tapi aku tidak bisa melakukannya."
"Apa saya harus menyuap Anda dengan angkringan agar menjadi bisa?"
"Kau fikir harga diriku hanya sebatas angkringan?" Mendengar jawaban Gina yang semakin culas, Surya terkekeh.
"Saya tahu kesalahan saya mungkin tidak akan termaafkan. Saya juga sudah sering mengingkari janji dengan tidak akan menemui Anda lagi. Tapi nyatanya kita masih saja sering bertemu di beberapa kesempatan."
"Benar, itu sangat menggangguku. Aku ingin kau benar-benar tidak pernah lagi muncul di hadapanku."
"Maafkan saya, Nona." Ujar Surya lirih dengan pandangan lurus ke depan mobil yang masih melaju.
"Sebenarnya saya sangat menyesal pernah mengatakan janji itu." Gina tidak memberi tanggapan apapun tapi ia sangat penasaran dengan maksud Surya yang merasa menyesal.
"Seharusnya saya tidak pernah berjanji apapun agar saya bisa tetap melakukan segala hal kepada Anda." Mendengar itu, Gina mengerutkan kening.
"Hei, apa maksudmu?" Gina meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Agar saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan kepada Anda." Ujar Surya dengan tatapan mata lembut dan senyum khas miliknya yang membuat Gina harus segera memalingkan wajah menghindari tatapannya agar ia tidak semakin tenggelam dalam pesonanya.