
Gina melihat jam di dinding kamar Surya menunjukkan pukul 11 malam. Gina turun dari tempat tidur untuk ke kamar mandi. Tapi saat melihat ke tempat Surya tidur, ia tidak ada. Gina lalu keluar dari kamarnya memuju ke kamar mandi. Saat kembali ke kamar, Surya juga belum kembali. Gina kembali berbaring di atas tempat tidur. Tapi beberapa saat ia memejamkan mata, ia membukanya kembali. Teringat kejadian siang itu saat ia merasa ada seseorang masuk ke dalam kamar Surya. Gina lalu menyalakan lampu kamar. Ia kembali berbaring tapi saat memejamkan mata ia merasa ada yang aneh di kamar itu. Gina membuka matanya lagi dan mengedarkan pandangan ke kamar yang sempit itu. Akhirnya ia meraih ponselnya dan menghubungi Surya.
"Surya... Kau dimana?" Ucap Gina lirih saat Surya sudah mengangkat teleponnya. Ada suara riuh orang-orang berbincang di seberang sana.
"Cepat pulang. Aku takut sendirian." Gina menggumam dibalik selimut.
"Mari semua, aku pulang dulu." Pamit Surya pada semua orang di warung setelah menerima kembalian dari pemilik warung.
"Kenapa pulang sekarang, Sur? Tanggung, belum juga pagi." Seseorang yang meletakkan cangkir kopinya melarang.
"Heh, Surya ini pengantin baru. Biar saja. Istrinya sudah menelepon." Kali ini Surya tersenyum mendengar kalimat dari yang lainnya disana.
"Oh iya. Kalau begitu pulanglah. Semoga berhasil." Timpal orang pertama.
"Berhasil apa, Mas?" Tanya Surya tak mengerti.
"Halah, kau ini berlagak tidak tahu." Balas orang itu. Tapi kemudian Surya tidak menghiraukan ucapan mereka.
"Oh iya, terima kasih sudah membayar kopi kami." Kata orang di samping pintu.
"Iya, sama-sama." Surya lalu keluar dan menuju untuk pulang. Udaranya sangat dingin di malam hari karena tadi sore sempat turun gerimis. Surya berjalan kaki menuju rumah yang jaraknya tidak jauh dari warung kopi tempatnya mengobrol tadi.
Sampai di rumah, saat membuka pintu kamar Surya menemukan Gina yang menggulung tubuhnya di dalam selimut. Surya tersenyum lucu melihat Gina bertingkah seperti itu. Ia teringat kue dadar gulung. Kemudian Gina membuka selimutnya dan berbalik melihat Surya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Kau kemana? Kenapa meninggalkanku sendiri di sini?" Gina bangun dari posisi tidurnya.
"Saya ke warung di perempatan sana, Nona."
"Kenapa ke warung malam-malam begini?"
"Ngopi, Nona."
"Ngopi?"
"Di sini tidak ada kafe, Nona. Orang sini ngopinya di warung kopi."
"Oh, ku pikir itu warung nasi."
"Iya Nona, selain nasi, mereka juga menyediakan kopi, mi rebus, gorengan." Gina manggut-manggut mengerti.
"Kau tahu, rumahmu ini jauh lebih kecil daripada rumahku tapi rasanya lebih seram. Jadi aku merasa takut setiap sendirian. Jangan pergi-pergi sesuka hatimu tanpa sepengetahuanku."
"Seram?" Surya mengerutkan kening.
__ADS_1
"Kau tahu, saat pertama aku tidur di kamar ini, aku merasa diajak 'berkenalan' dengan hantu penunggu kamarmu."
"Hantu penunggu kamarku? Kamar ini maksud Anda?"
"Ya."
"Bagaimana Anda yakin kamar ini berhantu? Selama saya menempati kamar ini, saya tidak pernah diganggu."
"Tentu saja kau tidak akan diganggu. Kau adalah temannya."
"Temanku?" Surya merasa geli dengan ucapan Gina. Ia jadi tertawa.
"Biasanya hantu penunggu tidak akan mengganggu pemilik tempatnya. Tapi dia akan mengganggu orang asing yang datang ke sana."
"Anda tahu tentang semua itu?" Surya menahan tawa.
"Iya, Ayu memberitahuku. Dia juga mengatakan kalau kamar atau rumah yang jarang di huni oleh orang, itu akan menjadi tempat tinggal para hantu. Sedangkan kau jarang sekali pulang sehingga kamarmu pun sering kosong jadinya." Mendengar itu Surya tertawa. Gina cemberut ditertawakan seperti itu.
"Apa yang Anda maksud didatangi hantu itu saat Anda baru tiba di rumah ini saat Anda tidur sepulang dari rumah sakit?" Gina mengangguk.
"Lihat saya baik-baik, Nona." Gina menatap Surya dengan heran. Kenapa ia harus memperhatikan Surya.
"Apa saya cukup seram untuk disebut hantu?"
"Itu adalah saya, Nona?"
"Hah?"
"Iya, waktu itu saya pulang untuk mengambil kunci mobil karena Bapak sudah diperbolehkan untuk pulang. Tapi saya ingin memastikan apakah Anda sedang beristirahat di kamar jadi waktu itu saya masuk, Nona. Saya mendengar Anda mengatakan tidak ingin dibangunkan dulu jadi saya tidak mengganggu Anda dan membiarkan Anda tidur kembali."
"Jadi itu kau?" Gina membelalakkan matanya menatap Surya yang tersenyum lucu.
"Iya Nona."
"Ya Tuhan. Kenapa aku lantas percaya juga kepada Ayu. Padahal jelas-jelas sebelumnya dia membantahku. Tapi ketika dia akhirnya mengiyakan fikiran burukku kenapa aku tidak curiga sama sekali kalau dia sedang membohongiku. Dasar Ayu, awas saja, besok aku akan menghajarnya sudah menakut-nakutiku." Gina kelihatan kesal.
"Baiklah Nona, silakan kembali tidur." Surya menunduk untuk merapikan selimut Gina yang sudah kembali dalam posisi tidur.
"Oh iya, bagaimana luka Anda Nona?" Surya mencari tangan Gina di dalam selimut. Setelah menemukannya lalu melihat telapak tangannya.
"Bagus, tidak bengkak." Sambil melihat luka Gina yang tertutup oleh plester anti air.
"Surya..." Panggil Gina lirih.
__ADS_1
"Iya Nona." Surya mengalihkan pandangan ke wajah Gina masih sambil menunduk.
"Terima kasih." Ucap Gina.
"Untuk?"
"Selalu baik kepadaku." Surya mengerjapkan matanya beberapa kali. Rasanya aneh tiba-tiba seorang Gina mengucapkan kata emas yaitu 'terima kasih'.
"Padahal aku sering sekali jahat padamu. Perlakuanku padamu juga selalu buruk." Gina memandang Surya lekat-lekat. Surya lalu tersenyum dipandang seperti itu. Baru kali ini ia melihat Gina berbicara setulus itu. Terlihat sekali dari matanya.
"Maafkan aku." Surya lebih kaget lagi ketika Gina menambahkan kata maaf setelahnya.
"Iya Nona." Surya melepaskan tangan Gina dari tangannya dan merapikan lagi selimut Gina.
"Hanya iya?" Gina tidak percaya semua perkataannya hanya ditanggapi secara biasa oleh Surya. Surya yang sudah menegakkan badannya jadi mengerutkan dahi.
"Jadi, saya harus bagaimana?"
"Ahh, sudahlah. Aku mau tidur saja." Gina menarik selimutnya hingga ujung kepala dan membelakangi Surya. Surya tersenyum melihat itu.
"Dasar manusia robot. Bagaimana bisa dia hanya mengatakan itu saja. Apa dia tidak tahu aku bersusah payah untuk mengungkapkan semuanya." Gumam Gina di dalam selimutnya dengan kesal.
"Dia fikir ini mudah bagiku? Aku sudah melepaskan setengah kilogram gengsiku demi mengatakan ini dan dia hanya mengatakan 'iya Nona'. Sangat menyebalkan." Gina menarik lagi selimut dan bergerak gerak di dalamnya. Melihat itu Surya ingin sekali tertawa tapi ia tahan karena tidak ingin Gina memarahinya. Gina sekarang benar-benar mirip kepompong.
🌸🌸🌸
Dinda memeriksa kertas-kertas di depannya. Sebagai guru ia masih memiliki tugas walaupun sudah berada di rumah. Meskipun malam sudah larut tapi soal-soal ulangan harus segera ia koreksi untuk selanjutnya diberikan nilai. Menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil. Ia adalah tipe orang dengan semangat belajar yang tinggi. Ia juga senang ketika dulu teman-temannya meminta bantuan untuk menjelaskan kembali pelajaran yang mereka belum fahami saat guru menerangkan. Baginya menjadi tahu adalah sesuatu yang menyenangkan jika akhirnya bisa berguna untuk orang lain.
Surya juga sering menanyakan tentang pelajaran padanya. Sebagai teman dekat sejak kecil, mereka pun sering belajar bersama. Saling berdiskusi dan saling mencari solusi dari pekerjaan rumah yang mereka kerjakan. Karena kedekatan dan kesamaan mereka dalam prestasi, teman-temannya sering menjodohkan mereka untuk berpacaran.
"Sudah, kalian pacaran saja. Kalau kalian bersama pasti akan lebih baik. Kalian akan menjadi rakitan komputer yang sangat canggih." Goda teman-temanya. Dinda dan Surya hanya tersenyum menanggapi.
Tapi sebenarnya Dinda suka digoda seperti itu. Tidak bisa ia sangkal kalau sebenarnya ia menyukai Surya. Entah sejak kapan tapi yang jelas ia menyukai teman bermainnya sejak kecil itu. Meskipun banyak pria yang mengatakan cinta padanya tapi nyatanya mereka tidak cukup menarik perhatian Dinda. Hanya saja ia tidak pernah tahu apakah Surya merasakan hal serupa padanya.
Surya memang baik kepadanya dan juga perhatian. Tapi Surya tidak pernah mengungkapkan perasaan suka padanya. Sedangkan ia juga cukup malu untuk mengatakan perasaannya lebih dulu sehingga ia tidak pernah bisa memberitahu Surya apa yang sebenarnya ia rasakan.
Dinda meletakkan bolpoin di atas meja dengan kertas-kertas yang berserakan disana. Fikirannya teringat pada Surya yang ditemuinya beberapa hari yang lalu. Tidak bisa ia pungkiri bahwa Surya masih menempati suatu ruang di hatinya. Setiap bertemu dengannya, ia masih berdebar layaknya orang yang sedang jatuh cinta.
Tapi sejak berita pernikahan Surya ia dengar, ia akhirnya tahu bahwa selama ini cintanya memang bertepuk sebelah tangan. Ia memang tidak pernah menunggu Surya atau berusaha melupakannya. Ia selalu membiarkan perasaannya berkembang tanpa menuntut adanya kesamaan perasaan. Ia terlalu malu mengungkapkan sehingga menyimpannya sendiri menjadi hal yang dianggapnya paling aman.
Dinda menghela nafas panjang. Detak jarum jam terdengar di kamarnya. Kepulangan Surya ke kampung kali ini benar-benar mengusik hari-harinya. Ia ingin selalu bertemu dengannya. Ingin menyapanya dan bersamanya seperti dulu. Ia tidak pernah tahu bahwa Surya memiliki seorang kekasih apalagi memiliki rencana akan menikah. Bebepa kali bertemu saat pulang, Surya tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah punya pacar. Tapi itu juga karena Dinda tidak pernah menanyakannya. Ia terlalu takut pada jawaban yang diberikan Surya. Sehingga kabar pernikahan Surya adalah pukulan telak untuk hati Dinda yang selalu berharap Surya memiliki perasaan yang sama dengannya.
Tapi aku adalah orang yang dulu selalu dipedulikan olehnya. Bagaimanapun juga aku adalah wanita pertama yang selalu ada disampingnya. Batin Dinda dengan memegang selembar foto dirinya dan Surya berseragam SMA di depan sebuah gerbang sekolah.
__ADS_1