
Depan rumah Ayu tampak sepi walaupun pintunya terbuka. Gina memanggil nama Ayu tapi tidak ada sahutan sama sekali. Kemudian Gina mengulangnya dan muncul seorang gadis bercelana pendek keluar sambil memeluk guling.
"Oh, kau Mbak. Masuklah." Ayu setengah berteriak dari dalam rumahnya.
Gina memasuki rumah Ayu yang juga berukuran hampir sama seperti rumah Surya.
"Ada apa, Mbak?" Sekarang Ayu duduk di salah satu kursi di ruang tamunya. Gina ikut juga.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin ke rumahmu saja." Gina mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Oohhh..." Hanya itu yang keluar dari bibir Ayu sambil melihat ke dalam ponselnya.
"Yu, kau yakin Dinda hanya temannya?"
"Teman siapa, mbak?" Ayu mengubah pandangannya kepada Gina.
"Teman mas Surya?" Ayu memastikan apa yang dimaksud Gina. Gina mengangguk.
"Mbak Gina cemburu?" Goda Ayu.
"Bukan... sama sekali bukan..." Gina buru-buru menyanggah tuduhan Ayu.
"Kalau bukan cemburu lalu apa? Dari tadi mbak Gina sangat tertarik tentang mbak Dinda."
"Bukan begitu. Hanya saja mereka sepertinya sangat dekat."
"Memangnya Mas Surya tidak pernah bercerita tentang Mbak Dinda?"
Bercerita tentang Dinda? Untuk apa dia menceritakannya padaku? Kalau difikir-fikir Surya memang tidak punya kepentingan untuk bercerita tentang Dinda. Jawab Gina tapi hanya di dalam hati. Tapi kepada Ayu Gina hanya menggelengkan kepalanya.
"Wah, itu bisa berarti dua hal, Mbak."
"Apa itu?"
"Pertama, Mas Surya menganggap pertemannya dengan Mbak Dinda tidak penting sehingga tidak perlu diceritakan padamu. Atau kedua, Mbak Dinda pernah menjadi orang penting bagi Mas Surya sehingga dia harus merahasiakannya darimu agar kau tidak berfikir macam-macam lagi tentang mereka."
"Benarkah seperti itu?" Gina tampak berfikir.
"Di rumah Pakde sepertinya ramai, kenapa kau malah ke sini?" Tanya Ayu sambil melongok ke cendela samping ruang tamunya.
"Iya, ada Dinda di sana."
"Wah, jadi kau sedang terbakar cemburu dan kabur, Mbak?" Ayu mendekati Gina.
"Sini biar ku kipasi. Atau mau ku guyur air es?" Ayu cekikikan.
"Apa-apaan kau ini." Sambil mendorong Ayu agar menjauh darinya. Ayu malah tertawa sejadi-jadinya melihat Gina cemberut. Sifat Ayu yang gampang akrab membuatnya tidak segan untuk menggoda Gina.
Sebenarnya Gina ingin sekali mencari tahu lebih banyak tentang Dinda tapi pasti Ayu akan semakin gencar menggodanya. Jadi ia tahan saja keinginannya itu.
"Kau sendirian saja?" Gina mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Bapak dan Ibu belum pulang."
Rumah Ayu sepi di jam seperti ini. Dirinya adalah anak tunggal dan kedua orang tuanya adalah pemilik toko kelontong di pasar. Sehingga Ayu terbiasa sendirian. Hampir sama seperti dirinya. Tapi orang tua Ayu tetap pulang setiap sore dan tetap membersamai Ayu seperti anak-anak yang lain.
"Apa pasarnya jauh dari sini?"
"2 kilometer dari sini, Mbak"
"Ayo kita ke pasar.
"Sekarang?" Gina mengangguk.
"Sudah tutup jam segini, Mbak."
"Oh begitu." Wajah Gina tampak meredup.
"Kenapa ingin ke pasar?"
__ADS_1
"Bukankah di pasar banyak penjual makanan? Misal soto ayam jawa."
"Iya. Ada Mbak. Di pasar ada soto ayam jawa yang rasanya enak sekali."
"Oh ya? Apa memang seenak itu?" Ayu mengangguk mantap.
"Recomended pokoknya."
"Besok mari kita coba."
"Boleh." Gina tersenyum senang mendengar Ayu menyanggupinya.
🌸🌸🌸
Malam menjelang, Gina keluar dari kamar mandi setelah mencuci wajahnya. Kamar mandi sederhana yang hanya terdiri dari bak mandi dan gayung membuatnya tidak bisa berlama-lama di dalamnya. Berbeda saat ada di rumahnya sendiri. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam 'ritual' mandinya di kamar mandi yang penuh dengan lilin aroma terapi. Lagipula ini adalah kamar mandi bersama, jadi sangat tidak mungkin jika Gina menghabiskan waktu berjam-jam disana.
Membuka kamarnya, Gina tidak menemukan Surya. Lalu ia membuka kopernya dan mengambil tas berisi perlengkapan perawatan wajahnya. Gina mengoleskan sebuah serum di wajahnya dan menepuk-nepuknya perlahan di depan cermin di kamar Surya. Tepat saat itu pintu kamar diketuk sebelum terbuka walau tanpa persetujuan Gina. Ini berbeda dengan di rumahnya, jadi ketukan dari Surya adalah pertanda ia akan masuk sehingga Gina bisa bersiap jika ia sedang dalam keadaan yang 'tidak memungkinkan'.
"Nona, saya akan tidur di bawah." Surya mengambil bantal di atas tempat tidur dan melebarkan sebuah tikar kecil. Gina melihat tikar yang dijabarkan oleh Surya di atas lantai yang dingin. Lalu Surya berbaring di atas tikar dengan sebuah sarung yang menutupi tubuhnya. Gina belum beranjak dan hanya memandang Surya.
"Nona, Anda tidak tidur?" Gina masih memandang Surya.
"Maafkan saya Nona. Rumah saya memang sekecil ini. Jauh berbeda dengan rumah Nona yang nyaman." Surya bangun lagi dari tempatnya berbaring.
"Akan saya pesankan tiket untuk penerbangan Anda besok pagi." Surya meraih ponselnya dan membuka aplikasi tiket pesawat online.
"Kau benar-benar ingin aku pulang?" Ujar Gina tenang. Surya memandang Gina, menghentikan jemarinya menyentuh layar ponsel dan mencari tahu apa yang sebenarnya difikirkan oleh Gina.
"Saya tidak ingin merepotkan Anda lagi, Nona. Saya akan mengatakan kepada Bapak dan Ibu kalau Nona harus menggantikan saya di perusahaan selama saya tidak ada." Jelas Surya. Gina masih memandangnya lurus.
"Tentu saja itu hanya alasan saja. Nona tidak akan benar-benar menggantikan saya."
"Kenapa? Kau takut benar-benar tergantikan olehku secepat ini?" Gina memicingkan matanya sinis.
"Bukan, Nona belum mengetahui segala yang ada di R-Company jadi saya khawatir Anda akan kerepotan."
"Benar, Nona." Jawab Surya.
"Sebaiknya Anda segera tidur. Hari sudah malam. Anda harus pulang besok."
"Siapa yang setuju untuk pulang besok? Aku masih ingin disini. Jangan pesankan aku tiket." Gina beranjak dan berjalan ke tempat tidur.
"Memangnya hanya kau yang ingin berlibur? Aku juga ingin." Gina menepuk bantalnya yang tidak seempuk bantal di rumahnya yang berisi bulu angsa. Bantal itu mungkin hanya berisi dakron sehingga tingkat keempukannya berbeda.
"Enak saja, sudah mengajakku ke sini lalu memulangkanku begitu saja setelah kau tidak membutuhkanku lagi."
"Baiklah Nona." Surya tersenyum dan meletakkan kembali ponsel di samping bantalnya. Surya bangun untuk mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang remang-remang lalu kembali tidur.
"Surya..." Panggil Gina.
"Iya Nona."
"Kau pasti senang sekali bisa pulang ke rumahmu." Gina menarik selimutnya.
"Tentu saja, Nona."
"Karena kesibukanmu melayani Papa, kau pasti jarang sekali pulang."
"Benar Nona."
"Lalu kapan biasanya kau pulang?" Tanya Gina lagi. Mereka saling berbincang dari atas tempat tidur dan di lantai.
"Tidak pasti, Nona. Tergantung kapan saya ingin pulang. Seperti pegawai lain saya juga memiliki jatah cuti tahunan. Jadi biasanya saya mengambil jatah cuti itu untuk pulang."
"Wah, Papa bahkan bisa pelit kepadamu yang padahal sangat loyal." Terdengar tawa kecil Surya setelah Gina mengatakan itu.
"Papa hanya bersikap adil saja, Nona."
"Adil bagaimana? Kau melayaninya sepenuh jiwa dan ragamu, tapi dia memperlakukanmu seperti pegawai lainnya. Kalau begitu apa bedanya kau dengan mereka? Padahal kau yang setiap saat ada untuk Papa dan juga memiliki andil besar dalam perkembangan R-Company."
__ADS_1
"Itu bukanlah hal penting, Nona. Papa membayar saya dengan sangat pantas."
"Ahh iya, akhirnya aku tahu kenapa kau seloyal itu. Ternyata itu memang sebanding dengan gajimu." Gina bangun dari tidurnya dan melongok Surya yang tidur di bawah.
"Berapa Papa membayarmu?"
"Banyak, Nona."
"Aku tahu, tapi sebanyak apa?"
"Banyak sekali. Bagi saya itu banyak sekali."
"Iya, banyak itu berapa?" Gina mulai gemas kepada Surya yang tidak juga berterus terang kepadanya. Surya mengalihkan pandangannya kepada Gina setelah selama ini hanya memandang langit-langit kamarnya. Surya menatap Gina dengan senyum yang tanpa Gina sadari ia mulai suka melihatnya. Hatinya menghangat dipandang oleh Surya seperti itu.
"Gaji yang bahkan membuat saya tidak pernah berfikir untuk mengkorupsi uang perusahaan."
"Kau ini sangat menjengkelkan." Gina melempar Surya dengan bantal di pelukannya. Bantal itu tepat mengenai dada Surya.
"Kalau kau mendapat gaji sebanyak itu, Papa juga harus memberiku lebih banyak darimu."
"Tapi sekarang bosnya adalah saya, Nona." Mendengar kalimat Surya, Gina membelalakkan matanya.
"Jadi sayalah yang berhak memberikan jumlah gaji untuk Anda."
"Woww, kau benar-benar... ahh, aku tidak tahu harus berkata apa. Sombong sekali kau sekarang." Gina turun dari tempat tidur dan memukuli Surya dengan guling.
"Rasakan ini."
"Aww, ampun Nona." Teriak Surya.
"Tidak. Aku akan menghajarmu tanpa ampun."
"Sudah Nona. Sudah..." Surya menangkis pukulan-pukulan Gina.
"Tidak, aku belum puas. Aku akan melakukannya sampai aku puas." Gina tidak mau berhenti.
Sementara itu diluar kamar Ibu Surya cekikikan mendengar suara Surya dan Gina yang terdengar sangat jelas. Mereka lupa kalau sedang berada di kamar kecil itu, bukan dikamar Gina yang luas sehingga suara apapun tidak akan sampai ke luar.
"Sedang apa, Bu?" Suara Bapak Surya tiba-tiba. Ibu Surya terkaget.
"Ahh Bapak ini mengagetkan saja." Ibu Surya menepuk lengan suaminya. Tapi Bapak Surya malah ikut menajamkan pendengarannya.
"Ayo Pak, biarkan mereka."
"Semoga kita cepat mendapat cucu ya, Bu." Bapak Surya berharap.
"Iya Pak. Aku sudah tidak sabar menggendong cucu." Ibu Surya sangat girang. Lalu mereka meninggalkan pintu kamar Surya.
"Sudah Nona... Ampuni saya." Perut Surya sampai sakit karena tertawa sambil menahan pukulan guling dari Gina secara bertubi-tubi. Gina pun sama terengah-engahnya dengan Surya. Ia mengusap keringat di pelipis yang membasahi rambut depannya.
"Itu bukan apa-apa. Kalau aku benar-benar memakai tinjuku, pasti kau sudah habis menjadi rempeyek." Gina sekarang duduk di tikar di depan tempat Surya duduk. Surya juga sudah bangun dari berbaring sebelum Gina menyerangnya lagi.
"Jangan Nona, saya pasti tidak akan bisa mengalahkan Anda."
"Bagus kau tahu itu. Jadi, jangan berlagak didepanku atau aku akan menghabisimu." Gina mengepalkan tangannya di depan wajah Surya.
"Baik Nona. Aku menyerah." Surya menurunkan kepalan tangan Gina.
"Anda sangat tangguh dalam bela diri. Sudah pasti saya akan KO sebelum ronde pertama dimulai."
"Hei, apa-apaan itu. Kau bahkan tidak berusaha melawanku?"
"Mana tega saya menyakiti wanita secantik Anda... Nona." Surya menambahkan panggilan 'Nona' dibelakangnya setelah menghela nafas berat. Dan mendengar pujian Surya, jantung Gina seperti kesemutan.
"Ayo kita tidur." Gina mengalihkan pandangan dengan beranjak untuk berdiri. Tapi tanpa sadar sejak tadi tangannya berada dalam genggaman tangan Surya.
"Oh, maaf Nona." Surya segera melepas genggaman tangannya. Gina yang salah tingkah segera naik ke atas tempat tidur dan meletakkan kepalanya di atas bantal.
Jantungnya berdegup tak beraturan dan saat meraba wajahnya, ia merasakan pipinya menghangat. Pelan-pelan Gina menarik nafas dalam-dalam berharap jantungnya bisa kembali normal tanpa diketahui oleh Surya. Dan tanpa sadar senyumnya mengembang.
__ADS_1