Tahta Surya

Tahta Surya
Wanita Kedua


__ADS_3

Gina memandang bagian belakang Surya yang masih sibuk menyiapkan makan malam dari bahan yang ada di dalam kulkas dan bahan yang baru ia beli di mini market tadi. Diam-diam Gina menyukai punggung Surya yang lebar dan bidang itu. Ia memangku tangan sambil memperhatikannya. Akhirnya ia harus memulai pendekatan itu dengan Surya. Ia bertekad harus bisa membuat Surya akhirnya benar-benar menyukainya juga. Sebagai seorang wanita, bukan sebagai putri dari bosnya. Gina juga akan mulai melancarkan strategi-strategi agar ia bisa mendapatkan perhatian Surya sehingga ia akan dengan senang hati menerima cintanya kemudian. Dan malam ini adalah kesempatan pertamanya untuk menarik perhatian Surya.


Mungkin merasa diperhatikan atau entah memang ingin melihat Gina, Surya tiba-tiba berbalik badan. Melihat itu Gina sempat salah tingkah karena terpergok memperhatikan Surya, tapi lalu ia berusaha mengatasinya dengan menyunggingkan senyum. Surya merasa sedikit heran dengan perubahan sikap Gina yang tiba-tiba menjadi manis.


"Mau ku bantu?" Tawar Gina sambil memandang Surya. Surya agak aneh mendengar pertanyaan Gina.


"Bisa tolong potong tomat ini, Nona?" Surya mengangkat sebutir tomat ditangannya masih dengan rasa heran di kepalanya atas perubahan sikap Gina yang mendadak.


"Baiklah." Gina berdiri dari duduknya dan mendekati Surya. Ia lalu mengambil salah satu pisau di tempat pisau di atas meja dapur. Surya tersenyum simpul melihatnya.


Surya juga sempat melirik saat Gina mulai memotong tomat. Sangat kaku dan terlihat bahwa ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Tapi Surya membiarkan itu dan berpura-pura tidak memperhatikanya.


Hingga beberapa saat kemudian Gina menyodorkan talenan dengan potongan-potongan tomat di atasnya. Surya memandang apa yang ada di tangan Gina. Potongan tomat yang diiris sembarang bentuk dan hampir hancur karena terlalu kuat Gina memegangnya.


"Bagaimana?" Tanya Gina sambil memandang Surya dengan senyum puas karena merasa telah membantunya memasak.


"Terima kasih, Nona." Akhirnya hanya itu jawaban Surya sambil tersenyum dan menerima sodoran talenan dari Gina.


Surya lalu memasukkan irisan tomat berbentuk abstrak itu ke dalam panci berisi rebusan iga sapi. Setelah itu Surya memasukkan beberapa bumbu pelengkap seperti garam dan penyedap sesuai selera. Gina memperhatikan Surya yang sedang mencicipi masakannya dari arah samping.


"Surya, biarkan aku mencicipinya." Pinta Gina.


Mendengar itu, Surya lalu mengambil sebuah sendok dan menuangkan sedikit kuah ke dalamnya. Lalu Surya meniup diatas kuah didalam sendok dan menyuapkan kepada Gina yang membuka mulut dengan senang hati.


"Bagaimana rasanya, Nona?" Tanya Surya sambil memandang Gina lurus. Gina diam dan mencoba merasakan dengan indra perasanya.


"Enak." Jawab Gina sambil tersenyum. Surya membalas senyumnya puas.


"Apa kau punya tangan ajaib sehingga semua masakanmu terasa enak?" Surya menoleh kepada Gina dan tersenyum.


"Seperti Nona yang menyukai seni bela diri, saya juga hobi sekali memasak."


"Oh ya?" Gina membelalakkan mata tidak percaya.


"Kau punya hobi memasak?" Surya mengangguk.


"Benar, Nona. Saya suka aroma makanan yang saya masak dengan tangan saya sendiri. Rasanya ada kenikmatan tersendiri ketika saya menyantapnya. Meskipun hanya masakan-masakan sederhana tapi bisa menyatukan semua bumbu menjadi masakan-masakan yang berbeda nama dan rasa itu rasanya menakjubkan. Semua masakan meskipun memakai bahan dasar yang sama tapi satu bahan saja bisa membedakan rasanya, Nona."


"Benarkah?" Gina tidak begitu faham dengan apa yang dikatakan oleh Surya.


"Seperti soto dan rawon yang memiliki bumbu dasar sama tapi karena memberikan kluwek ke dalamnya akan merubah rasa, aroma dan warna."


"Kluwek? Apa itu?" Gina merasa asing dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Kluwek itu biji sebuah pohon yang kulitnya keras dan didalamnya berisi daging biji yang lembek berwarna hitam dan biasa dijadikan bumbu saat memasak rawon." Jelas Surya dan Gina manggut-manggut saja mendengarnya walaupun tidak faham sama sekali karena belum pernah melihatnya.


"Seperti ini, Nona." Surya menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan layar yang menunjukkan gambar tentang kluwek dari web browser ponselnya.


"Oh ini..." Gina memperhatikannya.


"Kalau kulitnya keras, lantas bagaimana cara mengeluarkan daging bijinya?"

__ADS_1


"Dengan ditumbuk, Nona. Saat kulitnya pecah, maka kita bisa mengambil isi di dalamnya." Gina akhirnya mengangguk mengerti.


"Kau juga tahu apa itu kluwek. Pengetahuanmu tentang kuliner tidak sebatas hanya sebagai penikmat. Kau bahkan tahu semua bumbu itu."


"Karena kalau saya tidak tahu bumbunya, saya tidak akan bisa memasaknya, Nona."


"Ya, kau benar." Jawab Gina.


"Menyenangkan sekali kau bisa memiliki hobi yang bisa membuatmu senang."


"Iya Nona, memasak adalah hobi yang membuat saya senang."


"Ku fikir hanya dengan bekerja saja bisa membuatmu senang."


"Memang benar, Nona. Saya sangat senang bekerja. Karena dengan bekerja saya bisa menghasilkan uang."


"Apa? Serius? Serius kau adalah orang yang seperti itu?" Surya tersenyum lebar sambil mengangguk menanggapi kalimat Gina.


"Lalu kenapa kita harus berlelah bekerja kalau itu tidak menghasilkan keuntungan apa-apa, terutama uang, Nona?"


"Dasar pria matrealistis." Cibir Gina.


"Sudah saya katakan, saya bukannya metrealistis tapi saya sangat realistis, Nona."


"Iya iya, baiklah. Terserah bagaimana kau beropini." Gina mendekati dispenser di sudut dapur dan menempatkan gelas yang baru saja diambilnya untuk diisi air.


"Asal kau tahu, bela diri bukanlah hobi bagiku. Itu hanya sesuatu yang bisa ku lakukan untuk melindungi aset yang Papa punya." Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Gina terasa aneh, Surya mengerutkan alisnya.


"Aset yang Papa punya?" Tanya Surya.


"Tapi saya yakin itu tidak akan pernah terjadi."


"Benar, para 'penguntit' yang Papa tugaskan pasti tidak akan membiarkan ada orang jahat menyakitiku."


"Papa membuat Nona berlatih taekwondo dengan sebuah harapan."


"Apa itu?"


Pak Rangga duduk di meja makan dan mulai mengisi piringnya dengan menu makan malam.


"Bagaimana lukamu?" Tanya Pak Rangga setelah Surya mengambil duduk di salah satu kursi di meja makan.


"Sudah lebih baik, Pa." Jawab Rangga sopan.


"Anak itu memang kadang menjengkelkan tapi juga kadang terlihat mengagumkan." Ujar Pak Rangga lalu meminum air dari gelas di depannya.


"Aku berharap setelah belajar ilmu bela diri dia akan menjadi anak yang bisa membentuk pertahanan diri. Dengan begitu dia bisa menjadi pribadi yang percaya diri dan juga bisa mengontrol dirinya." Pak Rangga memandang Surya untuk melihat ekspresinya.


"Baik, aku mendapatkan apa yang aku harapkan. Dia bisa mempertahankan diri dengan baik jika berhubungan dengan kekuatan fisik. Dia juga percaya diri dan tidak mengenal rasa takut saat berhadapan dengan siapapun. Tapi kemudian akhirnya aku tahu dia tidak bisa mengontrol dirinya dan membuatnya sering kali membahayakan diri sendiri karena menganggap dirinya mampu menghadapi orang lain yang dinilainya jahat dan bisa menyakiti. Dia sering sekali cepat bereaksi saat melihat tindakan premanisme. Dia tidak akan tinggal diam dan berusaha mencegah hal itu terjadi karena merasa mampu melakuan pencegahan dan perlawanan jika itu tidak berhasil dicegahnya." Pandangan mata Pak Rangga seperti meredup saat mengatakan hal itu. Ada kekhawatiran dari nada suaranya.


"Kali ini dia memang tidak terluka, tapi pada akhirnya dia membuatmu terluka. Dan aku tahu saat ini dia pasti sangat merasa bersalah kepadamu." Pak Rangga memandang lurus kepada Surya.

__ADS_1


"Jadi, menurutlah apapun yang dia lakukan padamu karena itu bisa membuatnya merasa lebih baik."


"Hei, Surya..." Gina menggerak-gerakkan lengannya. Surya mengalihkan fikirannya kembali kepada Gina yang ada di depannya.


"Iya, Nona."


"Kau menakutiku ya?"


"Maaf Nona?" Surya tidak faham pada apa yang Gina ucapkan.


"Kau tiba-tiba melamun. Apa kau sedang kemasukan roh halus penunggu rumahmu ini? Karena konon katanya rumah yang jarang ditempati akan dijadikan tempat tinggal oleh para hantu." Mendengar itu Surya tersenyum lalu mengangkat panci dan memindahkannya ke atas meja makan minimalis yang ada di dapur. Surya tidak membalas ucapan Gina.


"Hei, kenapa kau diam saja? Itu membuatku berfikir yang ku khawatirkan benar terjadi." Gina mengekori Surya.


"Tidak Nona. Rumah ini tidak pernah sepi. Saya selalu datang paling tidak satu minggu sekali. Tapi lebih sering satu minggu dua kali."


"Oh ya? Untuk apa?"


"Hanya untuk menyapa rumah saya dan agar hantu tidak sempat mampir ke sini karena menemukan jejak pemiliknya di rumah ini."


"Benarkah hanya dengan begitu rumah tidak jadi ditempati hantu?"


"Hmm... menurut pengetahuan saya begitu."


"Lalu... siapa yang biasa kau ajak kemari?" Terdengar suara Gina melemah dan sangat hati-hati saat menanyakan hal itu. Surya menatapnya lekat. Gina merasa seperti Surya sedang mencari sesuatu di kedalaman hatinya. Surya lalu berjalan kembali ke dapur meninggalkan Gina yang masih diam di ruang makan tanpa memberi jawaban. Gina memanyunkan bibirnya karena Surya menghindari pertanyaannya barusan.


Apa itu? Jadi dia biasa membawa Hanna ke sini juga. Batin Gina dengan tanpa ia sadari wajahnya menunjukkan ekspresi cemberut.


"Anda adalah wanita kedua yang saya bawa kemari." Jawab Surya sambil membawa piring dan gelas untuk diletakkan di atas meja makan.


"Jadi, kau biasa mengajak wanita itu ke rumahmu?" Nada suara Gina menjadi dingin karena menahan sesuatu di dadanya. Rasa cemburu. Ia yakin Hanna pasti sering sekali diajak datang ke sini olehnya.


"Tidak sering tapi hanya beberapa kali." Surya menata makanan dan juga piring yang tadi ia bawa dari dapur.


"Beberapa kali? Itu berarti lebih dari satu kali." Cecar Gina sangat ingin tahu.


"Hmm..." Jawab Surya singkat dan mulai duduk di kursi meja makan. Gina semakin gemas kepada Surya yang sepertinya dengan santai mengakui semua yang ada dalam fikiran Gina.


"Jadi, siapa dia?" Tanya Gina sambil ikut duduk juga di kursi. Surya menyendokkan nasi di atas piring Gina.


"Apa dia pacarmu?" Tanyanya lagi dan saat ini Surya masih sibuk menuangkan sup iga di dalam mangkuk untuk kemudian diletakkan di depan ia duduk.


"Apa kau punya pacar?" Kejar Gina dengan pertanyaannya lagi. Surya masih sibuk menyiapkan makanannya sendiri dan belum menjawab pertanyaan Gina.


"Kau benar-benar punya pacar atau tidak?" Gina menjadi gemas melihat Surya yang seolah mengabaikannya.


"Saat aku baru membeli rumah ini aku membawa ibu kemari untuk melihatnya. Lalu saat kita menikah, ibu juga menginap di sini, Nona." Ujar Surya santai sambil menyunggingkan senyum khas ala dirinya.


Mendengar itu, hati gina yang semula seperti sedang berada di dalam oven mendadak seolah diguyur air es. Rasa cemburunya mendadak hilang entah kemana.


"Ohh..." Tapi hanya itu tanggapan yang bisa ia keluarkan karena hatinya menjadi lega.

__ADS_1


"Apa itu cukup membuat Anda tenang sekarang?" Sekarang ganti Surya bertanya kepada Gina.


Gina tidak jadi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Pertanyaan Surya yang tiba-tiba seperti itu membuatnya bingung untuk mengartikan apa artinya itu.


__ADS_2