
Gina berdiri di sebuah halte bus menunggu Surya datang. Ia tidak mungkin meminta Surya untuk datang menjemputnya di rumah. Papa dan Mamanya sedang berada di rumah sehingga ia tidak mau mendengar terlalu banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya tentang bagaimana dirinya dan Surya bisa kembali bersama.
Gina berjalan mondar mandir dengan sangat tidak sabar dan begitu ingin cepat bertemu dengan Surya. Sekarang ia menjadi gelisah sehingga setiap waktu yang berjalan seolah itu dilaluinya dengan sangat lambat. Mungkin seperti inilah rasanya menunggu karena ingin segera bisa bertemu. Semua itu karena Gina memiliki janji dengan Surya untuk mencari Hanna bersama-sama. Sehingga pagi ini ia sudah bersiap untuk pergi ke tempat Hanna berada. Gina tidak bisa jika harus menunggu sampai besok hingga mobilnya kembali dan bertanya pada orang yang mengantarkan mobil seperti yang Hanna katakan dalam pesan yang ia kirim kepadanya semalam. Itu semua karena ide yang Surya sampaikan pada Gina saat mereka berbincang dalam sambungan telepon tadi pagi.
"Saya sedang menikmati suara Anda dan itu membuat saya jadi rindu. Mari kita segera bertemu." Gina diam beberapa saat setelah mendengar kalimat Surya.
"Sudah, hentikan. Berhenti berbicara omong kosong. Cepat katakan apa yang sebenarnya kau inginkan?" Balas Gina sengit setelah bisa menguasai perasaannya dari kalimat manis Surya.
"Memang itu yang ingin saya katakan, Nona. Mari kita bertemu dan mendatangi Hanna bersama-sama."
"Kau sudah menemukannya?"
"Belum." Jawaban Surya membuat Gina menarik nafas panjang karena kesal.
"Kalau kau belum menemukan keberadaannya, lalu kenapa menghubungiku, mengajakku bertemu. Kau mau membuang waktuku?" Gina setengah berteriak.
"Nona, saya harap Anda mendengarkan saya lebih dulu."
"Apa lagi? Kau mau mengatakan apa lagi? Kau benar-benar sudah mengganggu waktu tidurku dan membuang waktuku." Omel Gina lagi. Surya menahan tawa mendengar itu.
"Nona, kita harus melacak GPS yang ada di mobil Anda untuk bisa menemukan Hanna." Ujar Surya jelas dan tegas. Mendengar itu Gina mengerjapkan matanya berkali-kali menyadari bahwa ide yang Surya katakan cukup masuk akal.
"Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?" Suara Gina melemah kembali.
"Saya memang sudah akan mengatakannya tapi Anda selalu mengomel."
"Ya... baiklah... kalau begitu aku akan melacak lokasinya." Jawab Gina yang kali ini dengan nada bicara pelan karena merasa bersalah sejak tadi hanya mengomel saja kepada Surya.
"Tapi, bagaimana caranya?" Tanyanya kemudian karena memang ia tidak pernah tahu cara pelacakan GPS. Ia tidak pernah belajar tentang itu dan malas melakukannya. Sehingga untuk melacak dimana keberadaan mobilnya yang bersama Hanna, Gina memerlukan bantuan Surya untuk melakukannya.
Dengan setelan celana jeans dan kemeja oversize serta tidak lupa sepatu sneakers dan kaca mata hitam, Surya langsung bisa mengenalinya. Surya mengulas senyum melihat Gina yang terlihat tetap selalu cantik dengan berbagai penampilan. Pun kali ini dengan penampilan ranbut diikat ekor kudanya. Surya merapatkan mobilnya di tepi trotoar dan menyapa Gina yang memandang mobilnya mendekati tempatnya berdiri.
"Mari, Nona." Ajak Surya. Gina segera bergegas menuju pintu di sisi lain mobil Surya dan kemudian masuk. Setelah itu Surya segera melarikan lagi mobilnya bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.
"Kau ini lama sekali. Aku menunggu hingga kepanasan. Lihatlah keringatku membanjir." Ujar Gina sambil memandang wajahnya dari cermin sun visor mobil Surya.
"Ya Tuhan, kulitku terbakar matahari." Keluh Gina sambil meneliti kulit lengannya.
"Itu tidak akan terjadi, Nona. Sinar matahari pagi yang mengandung vitamin D baik untuk kesehatan tulang Anda." Jawab Surya santai masih menatap lurus jalan di depannya.
"Memangnya kau bisa menjamin kulitku tidak akan menghitam saat tulangku menjadi lebih sehat?"
"Tone kulit eksotis sedang trend saat ini, Nona."
"Tidak, aku tidak harus mengikuti semua trend dan aku tidak terbiasa dengan itu. Aku lebih suka menjadi trendsetter." Ucapan terakhir Gina membuat Surya menahan tawa.
"Ngomong-ngomong, Anda sudah memeriksa aplikasi GPS mobil Anda?" Tanya Surya untuk mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak semakin berdebat.
"Aplikasi ini?" Gina menujukkan layar ponselnya kepada Surya.
"Benar."
"Sudah ku katakan padamu kalau aku tidak tahu cara mengoperasikannya, bukan." Jawab Gina santai.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita sarapan lebih dulu." Surya menepikan mobilnya. Gina seketika menatap Surya lurus tidak mengerti dengan tindakannya yang semaunya sendiri.
"Hei, apa maksudmu?"
"Saya harus melihat aplikasi GPS di ponsel Anda. Tapi bagaimana bisa saya melihatnya kalau saya juga menyetir? Dan lagi, saya belum sarapan. Kalau saya lapar itu bisa sangat berbahaya bagi penumpang yang saya bawa." Surya membuka seatbelt-nya dan mematikan mesin mobil.
"Mari kita sarapan bubur ayam dulu, Nona. Bubur ayam yang kata Nona enak." Gina hanya bisa bengong melihat Surya yang turun dari mobilnya. Itu membuat mau tidak mau Gina pun ikut turun.
Gina berjalan perlahan meemasuki warung bubur ayam itu. Akhirnya Gina menjadi tahu dimana biasa Surya membeli bubur ayam enak itu. Tampak Surya sedang berbincang dengan pemilik warung yang sedang meracik bubur ayam pesanannya. Dan saat melihat Gina, pemilik warung itu tersenyum sambil memberi kata sambutan.
"Silakan duduk, Nona." Gina mengangguk dan mengambil duduk di dekat tempat pemilik warung itu menyiapkan bubur. Surya menatapnya hangat sambil melempar senyum.
Tak lama kemudian Surya menghampiri Gina dan duduk di sana sambil membawa dua botol air mineral. Minuman wajib setiap Gina makan selain minuman tidak wajib lainnya. Seperti teh manis, es jeruk atau bermacam jus buah yang semua itu adalah kegemarannya setiap makan di luar.
"Cantik sekali istrimu, Sur." Puji pemilik warung sambil meletakkan pesanan bubur ayam buatannya. Gina langsung menatap Surya dan ia memberi isyarat untuk mengiyakannya saja. Gina jadi serba salah harus bersikap bagaimana.
"Terima kasih, Bu." Akhirnya hanya itu yang Gina ucapka dengan senyum yang ia tampakkan sambil menerima buburnya.
"Baiklah, aku harus ke belakang. Kalian silakan makan dulu." Gina mengangguk diikuti oleh anggukan juga oleh Surya.
"Kau mengatakan padanya kita masih pasangan suami istri?" Tanya Gina setelah yakin pemilik warung tidak ada di dekat mereka.
"Hmm..." Jawab Surya sambil menyantap buburnya.
"Kenapa harus berbohong?"
"Saya tidak berbohong, saya hanya tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan. Itu akan butuh waktu yang lama. Sedangkan kita harus bergerak cepat." Jelas Surya.
"Oh iya, biarkan saya melihat aplikasi GPS Anda, Nona." Gina lalu menguarkan ponsel dari saku celana jeansnya. Surya menerima dan membuka aplikasi yang dimaksud yang ada di ponsel Gina sambil masih menyendok bubur ayamnya.
"Nona, Anda tidak makan?" Ujar Surya melihat Gina yang hanya bengong dan tidak segera menyendok buburnya.
"Oh iya..." Gina jadi salah tingkah terpergok oleh Surya sedang memandangnya begitu.
Kemudian mereka kembali makan dan Surya masih dengan aktifitas gandanya. Hingga beberapa saat kemudian Surya meletakkan ponsel Gina.
"Sudah dapat." Kalimat Surya membuat Gina memandangnya.
"Dimana dia?" Tanya Gina antusias tentang dimana keberadaan Hanna.
Mobil Surya kembali melaju dan kali ke arah luar kota. Gina meminum air mineral di cup holder hingga tinggal setengah. Ia tidak tahu harus bicara apa dengan Surya sehingga Gina hanya diam saja sejak tadi. Surya pun merasakan hal serupa. Sejak mulai berkendara lagi, tidak ada percakapan apapun dari mereka.
"Nona, Anda sedang ingin mendengar musik apa?"
"Entahlah..." Jawab Gina masih dengan menatap lurus ke jalanan di depannya dengan kaca mata hitam agar sinar matahari tidak membuatnya silau.
Mendengar jawaban Gina yang sepertinya sedang tidak ingin mendengarkan musik tertentu, Surya lalu berinisiatif untuk memutar lagu yang ia rasa cocok untuk didengar saat melakukan perjalanan. Surya kemudian memutar lagu dari Jason Mras dengan tajuk I'm Yours untuk lagu pertama dari aplikasi musik online di ponselnya. Gina juga menikmati lagu itu dengan sesekali bibirnya berkomat-kamit turut menyanyikan liriknya tanpa mengeluarkan suara. Surya tersenyum melihat itu dan membiarkan Gina menikmati perjalanan versi dirinya sendiri.
"Dasar Hanna, kenapa dia harus pergi ke tempat sejauh ini." Gumam Gina yang bisa di dengar oleh Surya.
"Hanna pasti butuh waktu untuk sendiri disuatu tempat." Jawab Surya santai dengan memakai kaca mata hitam yang Gina tahu berharga mahal untuk melindungi sinar matahari yang memang cukup menyilaukan.
Gina sempat berfikir ternyata walau sudah bercerai darinya dan sudah bukan lagi menjadi presdir R-Company, Surya masih selalu berpenampilan stylish. Surya memang tidak berubah sama sekali baik dari segi penampilan maupun perbuatan. Dia masih Surya yang perhatian, yang bertutur kata dengan lembut, masih bertatapan hangat dan masih memiliki senyum yang bisa membuat Gina berdebar.
__ADS_1
"Kasihan sekali dia. Seharusnya disaat seperti ini aku ada untuknya. Aku merasa aku menjadi orang yang jahat karena saat aku bersedih dia selalu meghiburku, sedangkan saat terjadi berikutnya, aku malah hanya bisa mengkhawatirkannya seperti ini."
"Ini adalah hal yang terbaik yang sudah Anda lakukan, Nona."
"Benar, andai saja anak buahmu tidak libur di akhir pekan, aku pasti tidak akan jauh-jauh mencarinya dan menjadi lebih kejam lagi." Ujar Gina perlahan.
"Aku baru tahu ternyata anak buahmu yang banyak jumlahnya itu juga memiliki hari libur. Padahal dulu kau bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan tanpa henti." Sekarang Gina menoleh kepada Surya.
"Itulah Nona, saya membuat aturan yang berbeda untuk para pegawai saya. Termasuk orang-orang yang bekerja di luar warung yang biasa saya mintai tolong itu. Saya memberi mereka hari libur agar kualitas bekerja mereka menjadi lebih baik." Jelas Surya.
"Kau benar. Papaku kadang memang kejam hingga tidak memberi hari libur pada pegawai di luar kantornya."
"Pak Rangga juga tidak salah membuat aturan itu. Saat itu kami setuju dengan kontrak yang dibuat dan juga beliau memberi gaji yang sangat sesuai."
"Kau ini selalu saja membela Papa." Gerutu Gina dan membuat Surya lagi-lagi tersenyum melihat ekspresinya.
Perjalanan mereka memakan waktu lama karena memang Hanna pergi hingga keluar kota semalam. Karena sedang kalut akhirnya tanpa ia sadari, mobilnya sudah mengarah jauh dari kota dan semakin jauh. Setelah menyadari hal itu, Hanna sudah berada di sebuah tempat yang biasa ia datangi dengan Bayu yang di sana terdapat warung nasi goreng yang menurutnya rasanya enak.
"Kau datang sendirian saja? Tidak bersama pacar yang biasanya?" Tanya istri dari penjual nasi goreng saat Hanna membayar nasi goreng yang sudah habis dimakannya.
"Tidak." Hanya itu jawab Hanna sambil menyunggingkan senyum. Ia tahu wanita itu pastilah berfikir sesuatu tentangnya tapi Hanna tidak peduli karena memang itu tidak penting sama sekali untuknya sekarang. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin ke suatu tempat tanpa ada orang yang mengenalnya. Sehingga ia bisa bebas berdiam tanpa membangun komunikasi dengannya. Ia butuh waktu untuk sendirian menikmati kekalutan hatinya, kelelahan perasaannya yang harus sering memaklumi tingkah Marco.
Hanna duduk di sebuah meja di tepi pantai dengan kelapa muda di depannya. Ia menikmati laut yang menggulung ombak dan angin yang bertiup membelai tubuhnya yang masih memakai pakaiannya kemarin. Ia juga tidak berniat berganti baju saat tidur dipenginapan semalam. Ia sudah terlalu lelah untuk mengganti pakaiannya. Lagipula di pedesaan seperti ini ia juga tidak menemukan toko pakaian sehingga ia hanya akan memakai pakaiannya sejak kemarin.
Mobil Surya masih melaju sedang di jalan beraspal mulus itu. Kawasan pedesaan mulai terlihat dan didepan terlihat sebuah pantai di sisi kiri jalan. Gina yang melihat itu sontak membuka kaca matanya memastikan bahwa itu adalah laut yang memiliki pantai berpasir putih.
"Wah, pantai..." Seru Gina sambil membuka kaca cendela mobil dengan mata berbinar. Ia lalu menghirup udara kuat-kuat.
"Aroma laut..." Gina memejamkan mata sambil menikmati aroma laut yang terbawa oleh angin kearahnya. Surya tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan dari Gina.
"Aku lupa kapan terakhir kali ke pantai. Mungkin 5 tahun atau 7 tahun? Entahlah." Gina seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Kenapa Nona tidak pernah mengatakan kepada saya untuk pergi ke pantai? Waktu itu Nona hanya mengatakan kepada saya ingin pergi ke taman hiburan sehingga saya hanya membawa Anda ke taman hiburan."
"Lagipula kalau aku mengatakan padamu aku ingin ke pantai, apa kau akan mengajakku ke pantai?"
"Tentu saja."
"Kenapa?"
"Karena Anda menginginkannya."
"Kenapa ketika aku menginginkannya, kau terlihat seolah selalu berusaha ingin memberikannya."
"Karena saya memang ingin melakukannya, Nona."
"Kenapa kau selalu melakukan kebaikan padaku kalau pada akhirnya kau tetap meninggalkanku seperti itu?" Pertanyaan Gina kali ini membuat Surya menoleh kepadanya dan mendapati wajah sinis didepannya.
"Kalau saya mengatakan kepada Anda alasannya, apa Anda akan percaya?" Gina menautkan alis karena Surya malah kembali bertanya kepadaya.
"Itu sama saja dengan ketika aku harus bertanya padamu apakah itu sesuatu yang harus ku percayai?" Gina menatap Surya lekat-lekat.
"Kau bahkan belum menanyakan apapun padaku, tapi kau sudah meragukanku untuk percaya atau tidak. Itu sangat tidak adil. Kau selalu melakukan semua hal yang kau kehendaki tanpa memikirkan perasaanku. Padahal..."
__ADS_1
"Saya menyukai Anda." Potong Surya yang membuat Gina merasa saat ini telinganya mungkin sedang kemasukan air atau serangga sehingga pendengarannya jadi terganggu. Itu adalah suara Surya yang paling tidak masuk akal yang ia dengar saat ini. Tapi pandangan mata Surya seperti tidak membutuhkan jawaban apapun atas segala bentuk pertanyaan yang sedang ada di kepalanya saat ini. Semua terlihat jelas tapi Gina merasa sangat ganjil. Sangat aneh. Sangat tidak masuk akal.