Tahta Surya

Tahta Surya
Panik dengan Tenang


__ADS_3

"Kulihat kau tampak mengobrol sangat akrab dengan Monica. Kalian sudah berbaikan?" Sindir Devon dengan senyum lebarnya setelah puas menguasai microphone beberapa saat yang lalu.


"Apakah aku dan Monic pernah terlibat perseteruan? Ku rasa tidak pernah." Jawab Gina ringan sambil meneguk sirup dalam genggaman tangannya.


"Atau mungkin dia merasa memang punya masalah denganku sedangkan sebaliknya aku tidak merasakan hal yang sama?" Lanjut Gina. Devon memanyunkan bibirnya karena masih mendapati Gina yang sama. Gina yang masa bodoh tapi sombong.


"Kau benar-benar tidak berubah sedikitpun." Devon sambil melihat ke arah Surya yang terlihat di depan pintu aula sedang menerima telepon.


"Salahmu juga hobi sekali merebut pacar orang lain."


"Hei, maaf ya. Aku bukan ****** yang bisa merebut milik orang. Aku terlahir dengan semua orang menyerahkan miliknya padaku bahkan sebelum aku memintanya."


"Iya iya, baiklah. Itulah dirimu." Devon tertawa menanggapi Gina.


"Tapi pada akhirnya kau berpacaran juga dengan Marco. Mantan pacar Monica."


"Itu karena menurutku akan seru berpacaran dengan pria yang juga memiliki banyak pacar. Tapi ternyata aku hanya dia jadikan sebagai bahan taruhan. Kurang ajar dia." Gina tampak marah.


"Lagi pula dia sudah memutuskan Monica sebelumnya. Jadi siapa yang merebut pacar orang."


"Tapi setauku sampai sekarang Monica masih menanamkan dendam kesemutan padamu."


"Dendam kesumat maksudmu?" Devon cekikikan mendengar Gina protes pada plesetan yang diucapkannya.


"Biarkan saja. Aku tidak peduli." Gina meneguk minumannya lagi sampai habis.


"Lihatlah karena perbuatan kalian Monica jadi tidak menikah sampai saat ini."


"Jadi kau belum menikah sampai sekarang juga karena ada yang membuatmu patah hati?" Ganti Gina menyindir Devon.


"Tentu saja tidak. Aku ini terlalu populer untuk menikah muda. Kau tahu, semua fans-ku bisa patah hati kalau aku menikah sekarang. Aku membiarkan mereka memilikiku sebelum aku benar-benar dimiliki seorang wanita yang tepat untukku."


"Teorimu seolah kau ini benar-benar digilai oleh banyak wanita." Cibir Gina.


"Hei, lihat saja follower-ku di media sosial milikku. Sebagian besar mereka adalah wanita. Dan mereka selalu rajin berkomentar pada setiap apa yang aku posting disana." Devon menyombongkan diri.


"Benarkah?" Gina sinis.


"Oh iya, kau tidak akan pernah tahu. Kau tidak memiliki akun sosial media apapun."


"Aku tidak suka bermain dengan sosial media." Gina masih cuek.


"Sudah, selesai masalah." Devon mendengus.


"Ngomong-ngomong, mumpung kau ada di sini. Aku mau bertanya tentang rumor yang sedang beredar tentangmu." Devon memelankan suaranya agar orang di sekitarnya tidak bisa mendengar apa yang ia bicarakan.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Gina heran melihat perubahan sikap Devon.


"Kau, sekarang bukan pewaris R-Company?"


"Kau tahu dari mana?" Gina memicingkan mata memandang Devon.


"Ada pokoknya." Devon masih belum mengaku.


"Kau percaya dengan gosip itu? Kau pikir Papaku sudah gila menghapus namaku sebagai pemilik R-Company selanjutnya?"


"Aku juga berfikir itu pasti tidak benar. Tapi bagaimana dengan suamimu yang menjadi presdir baru di R-Company?"


"Kau ini katamu penyiar radio. Tapi sejak kapan kau jadi wartawan tabloid gosip?" Devon cengengesan dengan tuduhan Gina.


"Kau tahu banyak tentangku dari mana?"


"Anak-anak banyak yang tahu itu. Aku tidak tahu dari mana sumbernya tapi aku tahu itu dari anak-anak. Jadi karena aku sedang bersamamu baiknya aku tanyakan langsung padamu. Aku rasa dulu kita teman dekat jadi aku boleh menanyakan ini padamu bukan?"


"Baiklah, biar kujelaskan..."


"Sayang, kita harus pulang." Tiba-tiba Surya sudah ada di samping Gina.


"Kenapa buru-buru?" Tanya Gina heran dengan sikap Surya.


"Aku membutuhkanmu."


"Maaf, aku harus membawa ratu sekolahmu pergi. Aku harap itu tidak akan membuatmu kecewa." Ujar Surya jenaka memandang Devon dan tidak menghiraukan pertanyaan Gina. Seketika Devon tertawa menanggapi kelakar Surya.


"Baiklah, ratu harus memenuhi titah raja jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa." Devon mempersilakan.


Gina masih bingung dengan ajakan Surya yang tiba-tiba.


"Jadi, ada apa sebenarnya?" Tanyanya lagi setelah mobil mulai melaju meninggalkan pelataran parkir sekolah Gina.


"Tuan Adskhan akan kembali ke negaranya siang ini."


"Kenapa tiba-tiba? Bukankah kemarin dia mengatakan akan di sini hingga beberapa hari lagi?"


"Entahlah. Itu yang harus kita cari tahu."


"Kenapa anak buahmu tidak mencari tahu?"


"Mereka hanya mengawal dan tidak memiliki akses untuk tahu apa yang terjadi. Aku harus datang untuk memastikan ada apa sebenarnya." Gina hanya diam mendengar itu. Ia bisa melihat wajah serius Surya kali ini. Mungkin ia takut harapannya berakhir sia-sia jika Tuan Adskhan pulang tiba-tiba. Mereka belum mencapai kesepakatan apapun tentang proposal kerja sama yang sudah Surya sampaikan waktu itu. Berkas kesepakatan juga belum Surya terima kembali. Akankah di terima atau sebaliknya Tuan Adskhan memberikan penolakan.


Tidak ada pembicaraan selama perjalanan mereka menuju ke bandara. Surya tampak serius dalam berkendara. Ia ingin cepat sampai dan berjumpa dengan Tuan Adskhan. Bukan sekadar untuk mengucapkan selamat jalan tapi Surya berharap Tuan Adskhan memberinya kabar baik dengan tercapainya kesepakatan kerja sama R-Company dengannya.

__ADS_1


Tiba-tiba ada rasa sesal di hati Gina melihat Surya yang sangat ingin menyembunyikan kepanikannya yang masih bisa terbaca olehnya. Kalau saja Gina tidak marah kepadanya soal pergi ke tempat reuni bersama, mungkin ia bisa bersama Tuan Adskhan dan kejadian ini tidak akan ia alami. Mungkinkah Tuan Adskhan merasa diabaikan sehingga memilih pulang lebih cepat dan menolak bekerja sama dengan R-Company. Gina juga merasa ia adalah orang yang sangat egois dengan mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan orang lain. Berkali-kali Gina mengutuki dirinya dan merasa sangat menyesal.


Surya berjalan dengan langkah yang cukup lebar. Gina berusaha mensejajari langkahnya. Dengan stileto yang ia pakai, Gina masih tetap bisa mengikuti Surya dengan baik karena sudah bersahabat dengan sepatu-sepatu hak tinggi.


Dari jauh Surya bisa melihat Tuan Adskhan duduk di ruang tunggu VIP bandara dan Nyonya Adskhan yang ada di dalam pelukannya. Surya dan Gina hampir memiliki fikiran yang sama. Apa yang sedang terjadi sehingga Nyonya Adskhan tampak sedih seperti itu.


"Tuan..." Sapa Surya. Tuan Adskhan mendongak kepada Surya.


"Kami harus kembali siang ini." Ujar Tuan Adskhan masih memeluk istrinya.


"Maaf jika kami kurang baik dalam melayani Anda, Tuan."


"Tidak, kami sangat menikmati selama berada di sini. Tapi kami harus segera pulang. Cucu kami sedang di rawat di rumah sakit jadi kami harus ada di dekatnya." Mendengar itu ada sedikit kelegaan di hati Surya. Penyebab kepulangan Tuan Adskhan yang mendadak bukanlah disebabkan karena dirinya.


Gina lalu duduk di samping Nyonya Adskhan. Meraih tangannya dan menggenggamnya.


"Tidak apa-apa Nyonya, semua akan baik-baik saja. Cucu Nyonya pasti bisa melaluinya. Mari kita berdoa untuknya." Nyonya Adskhan mengangguk.


"Terima kasih, Nona." Balas Nyonya Adskhan. Gina masih berusaha menenangkan dan memberi dukungan kepada Nyonya Adskhan sementara Surya dan Tuan Adskhan juga berbincang di sisi lain ruang tunggu VIP itu.


"Saya senang Anda datang kemari. Tidak hanya berlibur tapi juga memberi saya inspirasi."


"Inspirasi?" Tanya Tuan Adskhan heran.


"Ya Tuan, saya tahu Anda adalah seorang pekerja keras hingga bisa menjadi sesukses ini. Tapi Anda tidak pernah mengesampingkan keluarga. Dari apa yang saya lihat, keluarga adalah prioritas utama bagi Anda. Selain suami dan ayah yang hebat, Anda juga kakek yang baik."


"Itu karena merekalah milik saya yang tidak akan saya bagi dengan orang lain. Mereka juga adalah tanggung jawab saya yang tidak akan saya limpahkan kepada orang lain. Jadi, sayalah yang harus selalu ada untuk mereka karena keberadaan saya tidak akan ada yang bisa menggantikannya."


"Anda benar-benar luar biasa, Tuan." Surya memberi senyum tulus kepada Tuan Adskhan. Tuan Adskhan memadang Surya lalu membalas senyumnya.


"Semoga Anda juga diberkahi keluarga yang baik." Ucap Tuan Adskhan kemudian. Dan itulah kalimat yang mengakhiri pembicaraan mereka karena waktu untuk memasuki pesawat sudah tiba.


Melihat Tuan Adskhan dan rombongan pengawalnya akan beranjak dari negeri ini, Gina bisa melihat wajah gelisah Surya. Dari situ ia menduga bahwa Surya belum mendapatkan kejelasan atas rencana kerja sama yang ia sodorkan kepada Tuan Adskhan. Akankah disetujui atau ditolak.


"Kami berharap ini bukan kunjungan Anda yang terakhir, Tuan." Ucap Surya sebelum Tuan Adskhan memasuki gerbang keberangkatan.


"Tentu saja. Aku akan sering kemari." Tuan Adskhan dengan senyum lebarnya.


"Aku harus memantau bagaimana kerja sama kita agar tidak pernah terjadi kesalahfahaman."


"Maaf, Tuan..." Surya masih mencerna arti ucapan Tuan Adskhan. Sedangkan Gina merasa dadanya bergemuruh mendengar kalimat pria tinggi berwajah khas timur tengah itu.


"Mari bekerja sama mulai saat ini. Semua kelengkapan berkas akan saya kirimkan kembali. Maafkan saya karena belum bisa memberikan perjanjian kontrak kita secara resmi. Tapi ini adalah awal kontrak kerjasama yang kita sepakati. Waktuku tidak banyak kali ini, aku benar-benar meminta maaf." Tuan Adskhan menyodorkan tangan untuk menjabat Surya. Ia pun menyambut dengan wajah yang cerah dan senyum yang mengembang sempurna. Gina bahagia melihat pemandangan itu. Senyumnya turut mengembang juga.


Surya dan Gina berdiri di depan mobil saat mereka memandang langit dan melihat sebuah pesawat milik maskapai penerbangan asing melintas di atas mereka yang mereka tahu adalah pesawat yang mengantarkan Tuan Adskhan kembali ke negaranya. Tanpa ia sadari, Surya menarik nafas lega. Gina menoleh ke arah Surya dan memperhatikannya. Dari jarak hanya selangkah darinya, Gina bisa melihat garis wajah Surya yang tegas. Tanpa sadar bibirnya melengkungkan senyum.

__ADS_1


"Nona..." Tegur Surya. Gina mengerjapkan mata karena terpergok sedang memperhatikannya.


"Ayo kita pulang." Gina segera meninggalkan Surya dan masuk ke dalam mobil untuk menyamarkan kegugupannya.


__ADS_2