Tahta Surya

Tahta Surya
Pemotretan


__ADS_3

Hanna merapikan berkas yang tadi dikerjakannya saat ada sebuah pesan masuk. Dari Gina.


Aku tidak bisa kembali ke ruanganku sekarang. Aku masih ada sedikit urusan.


Hanna tersenyum membaca pesan dari atasannya. Entah untuk urusan apalagi Gina belum bisa kembali bekerja tapi Hanna hanya bisa memakluminya. Ia lalu keluar untuk membuat secangkir kopi. Saat berjalan ke pantry ia melihat Bayu berjalan ke arahnya. Ia masih merasa tidak nyaman setelah pertemuan terakhir dengannya waktu itu. Sedikit canggung, ia tidak tahu harus bagaimana.


"Hanna..." Panggil Bayu saat mereka sudah dekat.


"Kau masih marah?" Tanyanya. Hanna berhenti dari melangkahkan kakinya dan memandang Bayu.


"Sebaiknya kita tidak membicarakan tentang itu lagi. Biarkan itu menjadi masalahku. Aku akan mengatasinya sendiri." Jelas Hanna.


"Baiklah, aku tidak akan mengusik tentang hal itu lagi."


"Baiklah." Hanna lalu menyunggingkan senyum kepada Bayu. Melihat itu Bayu lega karena itu adalah pertanda sebuah perdamaian diantara mereka.


Hanna berjalan meninggalkan Bayu untuk menuju pantry. Bayu membalik badannya dan melihat Hanna yang masih berjalan. Ada sesuatu yang sangat ingin Bayu lakukan tapi mengingat Hanna tidak menginginkan itu ia hanya bisa diam. Diam atau sejenak saja diam.


Gina keluar dari tempat ganti dengan memakai pakaian casual. Konsep pemotretan yang mengusung tema ruang publik ini membuat Gina harus berpenampilan casual layaknya masyarakat biasa yang sedang berada di ruang tunggu. Make up yang ia pakai juga sangat natural tapi tetap terlihat jika dibidik oleh kamera.


"Nona, silakan berada di set yang telah kami siapkan." Pandu Wenny. Gina menurut dan memasuki set yang ada di depannya.


Gina memasuki set dengan sedikit canggung. Bagaimanapun juga ini adalah kali pertamanya menjadi model dalam sebuah pemotretan. Sehingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu seorang fotografer menginstruksikan kepadanya untuk duduk di kursi tunggu dengan alami. Gina melakukannya. Dan jepretan pertama pun dilakukan. Fotografer itu tampak puas setelah melihat hasilnya.


"Mari kita ubah posisi duduknya, Nona." Mendengar itu Gina merumah posisi duduknya dengan menyilangkan kaki. Lalu fotografer memotret lagi.


"Bagus." Begitu komentarnya melihat pose Gina.


Selanjutnya pemotretan mulai berjalan baik. Dengan wajah cantik, tubuh indah dan kepercayaan diri yang tinggi tidak sulit bagi Gina untuk bisa berada pada gambar-gambar yang bagus. Fotografer benar-benar tidak kesulitan mengambil gambar. Karena dari angle manapun foto Gina terlihat bagus dan tepat dibidik. Akhirnya setelah tiga kali berganti busana, Gina berhasil menyelesaikan pemotretan siang ini.


"Terima kasih, Nona. Foto-foto ini sangat menakjubkan. Anda dari agency apa?" Tanya fotografer kepada Gina.


"Oh, itu... sebenarnya... begini, Jod. Kemarilah. Mari kita bicara di sana. Tunggulah aku disana ya." Tunjuk Wenny ke arah meja seperangkat alat pemotretan karena Wenny ingin mengalihkan perhatian agar fotografer itu tidak berbicara banyak kepada Gina.


"Nona, saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda." Gina tidak menjawab apapun dan hanya mengangguk sambil memberinya senyum. Lalu Wenny mendekati fotografer setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Gina.


Sepeninggalan Wenny, Gina berniat mengganti pakaiannya dengan bajunya semula. Tapi ia baru sadar ternyata Surya tidak ada di sana. Dan sejak ia melakukan pemotretan tadi Surya memang sudah pergi dari tempat itu. Ada rasa kesal karena Surya tidak melihatnya saat di potret. Sebenarnya Gina ingin memperlihatkan kepada Surya bahwa ia juga bisa berperan sebagai model katalog untuk R-Company. Dan itu juga merupakan sesuatu yang penting untuk menunjang kesuksesan R-Company dalam hal pemasaran.


Surya meletakkan gagang telepon ke tempatnya kembali. Sekretarisnya masuk membawa sebuah berkas.


"Iya Siska." Sambut Surya.


"Ini untuk Bapak tanda tangani." Siska membuka berkas itu untuk Surya. Lalu Surya membubuhkan tanda tangannya.


"Apa pemotretan untuk katalog bulan ini sudah selesai?" Tanya Surya pada Siska.


"Sudah, Pak." Siska mengambil kembali berkas dari meja Surya.


"Saya dengar modelnya tidak bisa datang karena mengalami kecelakaan dalam perjalanan saat menuju kemari sehingga Nona Gina menawarkan diri untuk menggantikannya."


"Iya benar. Nona Gina bahkan baru kali ini melakukan itu." Surya tertawa kecil mengingat bagaimana tadi Gina menawarkan dirinya untuk menjadi model. Terlihat percaya diri walaupun ia tidak memiliki pengalaman apapun tentang dunia modeling.

__ADS_1


"Tapi hasil fotonya sangat bagus, Pak."


"Benarkah? Bagaimana kau tahu?" Surya tidak percaya dengan kata-kata Siska karena ia tidak berada di tempat pemotretan saat pengambilan gambar sedang berlangsung.


"Sebenarnya..." Siska agak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Saya melihat foto Nona Gina di pesan grup obrolan, Pak."


"Pesan grup obrolan?"


"Grup pegawai, Pak." Siska menjelaskan.


"Oh begitu ya." Surya tertawa lagi. Ia tahu hal seperti itu memang terjadi. Sesama pegawai berada dalam satu pesan grup. Itu memudahkan mereka dalam melakukan komunikasi secara serentak. Itu juga mungkin berisi obrolan pribadi sesama pegawai yang tidak ingin diketahui oleh atasan mereka. Sehingga seorang atasan tidak mungkin dimasukkan ke dalam grup obrolan para pegawai biasa.


"Saya bisa menunjukkannya kepada Anda beberapa hasil pemotretannya, Pak. Walaupun ini hanya diambil dari kamera ponsel tapi ini akan dijadikan arsip agenda pemotretan hari ini."


"Ehhemm... baiklah kalau kau ingin menunjukkannya padaku." Surya agak canggung harus melihat foto-foto Gina dari ponsel Siska.


Siska keluar untuk mengambil ponsel di mejanya dan kembali masuk mendekati meja Surya.


"Ini Pak." Siska mengulurkan tangan untuk memberikan ponselnya.


Surya mulai melihat salah satu foto Gina yang sedang duduk di kursi tunggu itu. Gina yang berekspresi datar seperti itu memang terlihat seperti dirinya yang sebenarnya. Lalu Surya menggeser pada foto selanjutnya. Itu adalah pose Gina dengan senyum tipis. Ekspresi wajahnya melambangkan sesuatu yang elegan. Wajah cantik itu memang mengagumkan. Foto berikutnya Surya melihat foto Gina yang sedang tertawa ceria. Kali ini melihat itu bahkan Surya ikut menyunggingkan senyumnya. Aura bahagia bisa mempengaruhi orang lain saat melihat foto wajah ceria Gina. Surya pernah melihat wajah itu saat Gina mendapatkan boneka taddy bear raksasa dari arena tembak pasar malam. Juga saat Gina memakan permen kapas. Saat memanen cabe Surya mencuri-curi pandang kepada Gina dan walaupun kepanasan tapi senyum ceria Gina tidak lepas dari bibirnya.


Mengingat semua itu membuat Surya tersenyum sendiri. Siska mengerutkan kening melihat wajah atasannya. Tapi kemudian Siska ikut tersenyum. Surya terlihat seperti seorang pengagum saat ini. Siska tahu Surya mungkin sedang mengagumi foto-foto cantik istrinya.


Surya sudah selesai melihat semua foto Gina yang ada di ponsel Siska dan lalu mengembalikannya.


"Beliau sangat cantik dan juga multitalen. Saya tidak menyangka Nona Gina bisa sangat baik saat menjadi model."


"Iya..." Jawab Surya singkat karena ia tidak bisa berpendapat apa-apa lagi. Semua yang dikatakan oleh Siska sudah mewakili pendapatnya.


"Apa saya harus membagi foto ini untuk Anda, Pak?" Tanya Siska tiba-tiba.


"Apa?" Surya bingung harus menjawab apa. Karena ia berfikir kenapa harus menyimpan foto Gina di ponselnya tanpa alasan. Itu akan membuat Gina berfikiran yang bukan-bukan padanya kalau sampai dia tau.


Tapi kalau difikirkan lagi, kenapa Gina harus tahu ia menyimpan fotonya diponsel. Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Gina tidak akan tahu saat Surya melakukannya bukan?


Hanna membuka ponselnya. Ada banyak pesan di grup obrolan pegawai. Hanna mulai membukanya. Ia terkejut saat membuka sebuah file foto dan ternyata itu adalah Gina yang sedang berada dalam sebuah acara pemotretan untuk katalog R-Company dan juga menjadi modelnya.


"Hanna..." Sapa ceria Gina begitu ia membuka pintu ruangannya.


"Nona..." Hanna berdiri dari duduknya.


"Apakah itu melelahkan? Haruskan saya membuatkan Anda segelas jus jeruk segar atau kopi atau teh?"


"Hei, kau ini kenapa bersemangat sekali." Gina memandang heran kepada Hanna yang menawarinya minuman saat ia baru datang. Ia lalu duduk di kursinya.


"Anda pasti lelah setelah melakukan pemotretan. Jadi sebaiknya Anda bersantai dahulu."


"Ahh, apa-apaan ini. Kenapa semua orang jadi tahu? Apa Surya memberitahumu?"

__ADS_1


"Apa? Pak Surya?" Hanna malah balik bertanya.


"Apa Pak Surya juga tahu Anda melakukan pemotretan?"


"Tentu saja. Aku menawarkan diri untuk menjadi model saat ada Surya juga di sana."


"Oh begitu, Nona." Gina mengangguk.


"Tapi ngomong-ngomong, foto-foto Nona benar-benar bisa mengalahkan para model berkelas dunia."


"Kau jangan berlebihan menjilatku. Aku tetap tidak akan menaikkan gajimu hanya karena itu saja." Gina lalu tertawa. Hanna ikut tertawa.


"Ehh, darimana kau tahu foto-fotoku?" Hanna lalu mendekati Gina dan memperlihatkan layar ponselnya. Gina melihat satu-per satu foto dari grup obrolan pegawai itu.


"Wah, ini bisa saja jadi pelanggaran hak cipta. Bagaimana bisa fotoku tersebar bebas begini. Siapapun yang memiliki fotoku harus membayar royalty padaku." Ujar Gina kepada Hanna yang hanya ditanggapi dengan senyuman.


"Tapi, memang benar. Aku terlihat mengagumkan di foto-foto itu. Apa sebaiknya aku menjadi model saja?" Gina mulai menarsiskan diri. Hanna tersenyum kecut mendengar itu.


🌸🌸🌸


Gina dan Surya menuju perjalanan pulang. Lagi-lagi mereka tidak banyak melakukan pembicaraan. Sampai akhirnya Gina mulai membuka percakapan lebih dulu.


"Surya, kau melihat foto-fotoku saat pemotretan?"


"Mmm, iya Nona."


"Wah, kau juga bahkan punya fotoku?"


"Maaf, Nona?" Surya tidak setuju ketika Gina mengatakan dia memiliki fotonya.


"Tidak, saya tidak memiliki foto Anda. Siska memperlihatkannya kepada saya."


"Untung saja. Kalau tidak aku juga akan meminta royaltyku darimu karena telah menyimpan fotoku diponselmu. Kau tahu bukan, kadang foto itu memiliki hak cipta."


"Iya Nona. Sebaiknya Anda harus mematenkan foto-foto Anda. Karena saya yakin hampir seluruh pegawai R-Company di grup obrolan pegawai menyimpan foto Anda."


"Ya kau benar. Bayangkan saja jika seluruh karyawan ku mintai royalty, akan sekaya apa aku saat ini." Gina lalu terkekeh.


"Ngomong-ngomong, kenapa mereka memiliki grup obrolan yang kita tidak ada di dalamnya? Bukankah itu sangat mencurigakan?"


"Mencurigakan bagaimana, Nona?"


"Bukankah itu akan memudahkan mereka membicarakan kita disana? Atau mungkin diam-diam mereka akan bermusyawarah tentang pemberontakan? Mogok kerja dan meminta kenaikan gaji?"


"Tidak Nona, mereka hanya akan bersenang-senang dengan itu. Mereka paling hanya mengobrol dan saling berbagi informasi. Saya tahu para pegawai R-Company sudah sejahtera sehingga tidak akan melakukan hal yang Anda fikirkan."


"Wah, kau sangat yakin dengan kata-katamu itu ya."


"Benar, Nona. Saya yakin dengan apa yang saya katakan ini karena melihat banyaknya pelamar setiap ada lowongan di berbagai cabang R-Company. Jadi menurut saya bekerja di R-Company juga menjadi incaran masyarakat yang sedang membutuhkan pekerjaan, Nona."


"Iya Pak Presdir. Aku mempercayaimu. Aku 1000% mempercayaimu." Ucapan Gina sarkas. Surya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2