Tahta Surya

Tahta Surya
Pemanasan Perang


__ADS_3

Suasana pagi R-Company tampak hangat. Gina mengedarkan pandangan pada lobi. Ini adalah pemandangan baru yang harus ia nikmati setiap hari. Tidak ada layar plasma raksasa yang menyajikan pemandangan indah atau kata mutiara berisi motifasi setiap hari seperti yang ada di lobi Font, tidak ada pegawai-pegawai berpakaian trendi sesuai selera mereka dan tidak ada Faris yang ia tunggu di pintu masuk. Gina menghela nafas berat dan mulai melangkah lagi. Hari ini rapat pemegang saham diadakan dan disusul serah terima jabatan Presiden Direktur. Gina mencoba sebiasa mungkin menghadapai berbagai pandangan pegawai berseragam R-Company terhadapnya. Ia seperti bisa membaca pandangan mereka. Bagaimana mungkin anak tunggal pemilik R-Company hanya menjadi pegawai biasa, sedangkan pegawai biasa menjadi presdir menggantikan pemiliknya. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya.


Bahkan ia tahu kekagetan mereka tidak hanya sebatas itu. Berita pernikahan dirinya dan Surya pun telah tersebar diseluruh R-Company. Berbagai gosip pun ikut menyebar tak terkendali sesuai sudut pandang dan pemikiran para pegawai.


Pagi ini Gina berjalan dengan sangat tenang dan kemudian bergabung dengan kerumunan pegawai lain di depan pintu lift.


"Entahlah, bagaimana kita tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan ini kelak. Presiden direktur digantikan oleh asisten pribadi? Bukankah itu sangat aneh?" Kata salah seorang pegawai wanita berseragam khas R-Company.


"Terlihat memang seperti itu. Tapi lebih aneh lagi ketika putri tunggal Pak Rangga yang tidak pernah mau terlibat di perusahaan kemudian tiba-tiba saja masuk dan hanya menjadi pegawai biasa. Aku yakin dia pasti menyesali perbuatannya yang mengabaikan perusahaan selama ini." Timpal pegawai lainnya.


"Kau tahu kan gosip Pak Surya dan Nona Regina akan melangsungkan pernikahan?" Sambung pegawai lainnya lagi.


"Iya, aku tahu itu." Jawab mereka hampir bersamaan.


"Bukankah itu sangat mengejutkan? Seorang asisten pribadi tiba-tiba dalam sekejap mendapat posisi tertinggi dalam perusahaan dan bisa menikahi putri pemilik perusahaan. Apa kira-kira yang sudah dilakukan oleh Pak Surya? Apa dia mempengaruhi Pak Rangga habis-habisan untuk bisa mendapatkan semua itu? Dan juga, Nona Regina yang cantik bagaimana bisa menyetujui begitu saja pernikahan itu? Apa dia memiliki selera yang rendah terhadap pria? Ahh, sangat disayangkan..."


"Aku juga heran, kenapa bisa putri tunggal pemilik R-Company mau menikah secepat ini. Bukankah bersenang-senang dan menikmati hidup jauh lebih penting." Secepat kilat beberapa orang disana menoleh ke arah sumber suara karena mereka merasa sangat asing dengan suara itu. Meskipun Gina mengenal beberapa pegawai R-Company tapi mereka pasti adalah pegawai kalangan atas. Bukan pegawai biasa seperti yang sedang ada didepannya. Dan betapa terkejutnya mereka orang yang mereka bicarakan tiba-tiba ada bersama mereka dan mungkin juga menyimak apa yang mereka bicarakan sejak tadi.


Mendangar ucapan terakhir wanita itu membuat Gina tidak tahan dan merasa gatal harus ikut bicara. Mereka benar-benar tidak menyadari kehadiran Gina dan berbicara seenak mulut mereka.

__ADS_1


"Ma... maafkan saya, Nona." Suara pegawai wanita terakhir dengan nada sangat menyesal. Lalu diikuti oleh pegawai yang lain. Tapi Gina tidak menjawab apapun dan hanya memandang mereka dengan pandangan dingin. Ia sangat kesal pada pegawai-pegawai yang membicarakannya itu. Ia juga tahu mungkin semua pegawai juga membicarakannya seperti mereka saat ini.


Hingga pintu lift terbuka tapi tidak ada yang masuk ke dalamnya. Tapi Gina tidak mempedulikan itu dan langsung masuk ke dalam lift. Bahkan saat Gina sudah berada di dalam lift pun belum ada pegawai yang mengikuti. Mereka seolah tersihir menjadi patung es oleh tatapan dingin Gina.


"Kalian tidak masuk?" Ujar Gina melihat mereka yang hanya diam membeku di depan pintul lift yang sebentar lagi mungkin akan tertutup.


"Tidak.. tidak Nona. Silakan Nona lebih dulu." Masih pegawai wanita yang tadi terakhir bicara. Gina rasa pegawai lain sudah tidak memiliki keberanian walau sekadar melirik Gina dengan ekor mata mereka. Mereka menundukkan wajah, entah malu, entah takut. Karena bagaimanapun juga Gina adalah putri pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Dan pembicaraan mereka sangat lancang jika harus didengar langsung oleh Gina.


Tanpa berkata lagi, Gina membiarkan para pegawai itu mati kutu dan merasa takut terhadapnya saat pintu lift tertutup.


"Mereka pikir siapa mereka. Seenaknya saja membicarakanku. Mereka pikir aku bodoh dengan menjadi pegawai biasa dan bukan pimpinan di sini." Gina berapi-api.


"Selera rendah? Enak saja. Kalau bukan karena harus memenuhi syarat 'Tuan Rangga yang berkuasa' mana mungkin aku menikahi pria kampungan itu." Gina mengomel sendiri di dalam lift menumpahkan kekesalan.


Rapat pemegang saham selesai. Beberapa orang penting di perusahaan memberi selamat kepada Surya. Gina memandang dengan benci. Seharusnya dia yang mendapat ucapan selamat itu, bukan Surya si cupu. Ditambah lagi saat melihat papanya juga menampakkan wajah bahagia, membuat Gina semakin kecut. Ia benar-benar merasa seperti anak yang terbuang.


"Nona, meskipun terlalu cepat, tapi saya mengucapkan selamat kepada Anda." Sapa seseorang yang sudah ada di samping Gina. Gina menoleh dan yang ia tangkap adalah wajah Pak Indrawan, Manager Senior bagian pemasaran di R-Company.


"Selamat untuk apa, Pak?" Gina ramah karena ia adalah bawahan papanya yang sudah ia kenal dan mereka sering bertemu dibeberapa acara serta kesempatan.

__ADS_1


"Pernikahan Anda dan Pak Surya bukankah akan dilangsungkan dalam waktu dekat?" Pak Indrawan melebarkan senyumnya.


"Ahh, iya... terima kasih." Gina pura-pura menerima begitu saja ucapan itu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersandiwara habis-habisan demi keinginannya mendapatkan R-Company tercapai.


"Saya hampir tidak percaya dengan berita itu. Anda dan Pak Surya menikah. Pak Rangga benar-benar menjadikan kalian berdua satu kesatuan. Putri dan pengelola perusahaan. Walaupun seharusnya Anda sudah cukup jika memegang keduanya. Tapi saya tidak tahu apa yang Pak Rangga fikirkan dengan membuat Pak Surya menjadi pemimpin perusahaan dan juga sebagai menantu. Ya... Pak Rangga orang yang jenius, pastilah beliau memiliki rencana tepat saat ini." Gina hanya membalas senyum saat Pak Indrawan menyampaikan analisanya. Lalu ia mempersilakannya berlalu untuk memberi selamat pula kepada Surya.


Benar, bahkan Pak Indrawan pun berfikir seperti itu. Tapi tentu saja ini sangat aneh. Semua orang merasa sangat ganjil dengan pemindahan kekuasaan dan pernikahan itu.


Apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Papa? Aku benar-benar penasaran. Tapi tentu saja Papa tidak akan menjawab saat aku menanyakannya secara langsung padanya. Gina berfikir keras ditempatnya berdiri. Tapi fikirannya terbuyarkan saat Pak Rangga tiba-tiba memanggilnya untuk mendekat.


"Kemarilah, temanilah calon suamimu. Kalian saling dekatlah satu sama lain." Pak Rangga memberi isyarat pada Gina untuk berdiri disamping Surya. Ragu-ragu Gina mendekati Surya. Ia benar-benar sangat tidak nyaman. Lagi-lagi ia membayangkan sebentar lagi pria cupu ini akan menjadi suaminya dan hatinya menjadi sangat kecut.


"Kau tahu, dibalik keberhasilan pria selalu ada wanita hebat dibelakangnya. Seperti aku yang selalu didukung penuh oleh Mamamu." Pak Rangga menoleh kepada Bu Marina yang ada di sampingnya. Bu Mariana memberi senyum sekilas lalu menekuni ponselnya kembali. Wanita karier ini sangat sibuk dan saat ini sedang berdialog dengan seseorang melalui saluran telepon dengan ponsel ditangannya.


"Aku tidak tahu sampai kapan ini akan berlangsung, Pa. Tapi secepatnya aku akan merebut posisi Surya." Bisik Gina pada papanya dengan senyum dibuat-buat seolah sangat manis. Agar semua orang disana tidak curiga jika yang disampaikan Gina pada ayahnya adalah ungkapan perlawanan.


"Aku selalu menanti saat itu datang. Penuhi persyaratannya dan kau akan menggantikan Surya." Pak Rangga membalas bisikan Gina juga dan masih memasang wajah tenang serta senyum berwibawanya. Gina menjadi sangat gemas pada papanya yang seolah meremehkannya itu. Hatinya sangat dongkol. Percakapan itu benar-benar seperti sebuah pemanasan untuk berperang. Antara Gina dan papanya sendiri. Gina harus menunjukkan kepada Pak Rangga bahwa ia bisa menjadi pemimpin R-Company untuk mengakhiri perang itu.


"Oh iya, nanti malam datanglah ke rumah. Kami harus merayakan pengangkatanmu sebagai presiden direktur yang baru. Bagaimanapun juga kau adalah calon menantu dalam keluarga kami." Ujar Pak Rangga setelah mereka keluar ruang rapat dan semua orang sudah meninggalkan mereka setelah berpamitan.

__ADS_1


Ya Tuhan... bukankah papa yang mengangkatnya menjadi presdir dan sekarang papa juga yang membuatkan perayaan untuknya? Aku benar-benar harus mengirimkan santet kepada dukun yang disewa Surya agar Papa tidak semakin gila dan memperlakukan Surya sebagai anak emasnya.


Surya menganggukkan kepala penuh hormat. Gina membuang muka, muak melihat dua orang menyebalkan baginya itu. Ia juga kesal kepada mamanya yang belum juga kembali setelah pamit akan membicarakan hal penting di telepon dengan seseorang. Ia benar-benar merasa sendirian. Karena satu-satunya yang bisa ia mintai tolong dan dukungan hanyalah mamanya. Paling tidak itu yang ia dapatkan dari pengakuan mamanya tempo hari.


__ADS_2