
Surya berjalan dari dalam ruangannya diikuti oleh Hanna di belakang. Langkah lebar Surya membuat Hanna mau tidak mau harus menyamai langkahnnya. Tapi Surya tiba-tiba melambatkan kakinya saat melihat pemandangan yang ia tangkap.
"Katamu Gina sedang makan siang."
"Benar."
"Tapi dia ada di sana." Surya menunjuk ke arah taman. Hanna ikut melempar pandangan ke arah yang ditunjuk Surya.
"Mungkin Nona Gina sudah selesai."
"Lain kali jangan biarkan dia sendirian. Kau asisten pribadinya jadi kau harus selalu bersamanya kapanpun dan dimanapun terutama jika masih di ada di jam kantor seperti ini." Surya menatap Hanna dan tersenyum sambil memberi penjelasan.
"Baik."
"Kau juga harus belajar apa saja yang ia suka dan tidak ia suka." Lanjut Surya kemudian sambil mulai melanjutkan langkah.
Mendengar itu Gina akhirnya mengingat sesuatu. Pak Marco adalah orang yang tidak Gina sukai. Jadi seharusnya ia bisa menyelamatkan Gina dari situsi tidak nyaman saat bertemu Marco. Ada sedikit rasa bersalah yang dirasakan Hanna saat menyadari hal itu.
Surya mengarahkan langkahnya untuk mendekati dua orang yang sedang berbincang di bangku bawah pohon flamboyan itu. Hanna masih mengikuti dibelakangnya. Semakin dekat, sayup-sayup terdengar pembicaraan Gina dan Marco.
"Tidak berperikepacaran?" Tanya Surya menyahuti pembicaraan Gina dan Marco saat ia hanya berdiri dengan jarak beberapa langkah saja dengan tempat mereka duduk. Gina dan Marco serentak menoleh.
"Oh, Pak Surya ada di sini. Saya bermaksud langsung menemui kepala HRD tapi melihat Nona Gina duduk di sini saya merasa harus menyapanya lebih dulu. Sebagai teman lama kami butuh sedikit mengobrol untuk tetap menjaga persahabatan." Ucap Marco dengan senyum iklan pasta giginya. Gina tersenyum kecul sambil memalingkan wajah mendengar penuturan Marco.
Gina tahu, apapun penjelasannya, itu tidak akan mempengaruhi hubungannya dengan Surya karena Gina dan Surya sudah sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Walau Gina bersama siapapun, Surya tidak akan terpengaruh dengan hal itu dan begitu pula sebaliknya. Gina tidak akan merasa keberatan jika Surya memiliki kedekatan dengan wanita manapun. Entah itu kedekatan dalam arti umum yang mungkin berhubungan dengan pekerjaan, pertemanan atau relasi apapun, maupun kedekatan dalam arti khusus misal adalah pacar.
"Iya, itu sangat dibutuhkan." Jawab Surya ramah. Surya selalu tahu bagaimana harus bersikap.
"Baiklah, saya harus pergi untuk menemui kepala bagian HRD Anda agar perubahan kesepakatan administrasi bisa segera kami tangani."
"Seharusnya Pak Marco tidak perlu datang sendiri untuk mengurus tentang ini. Anda bisa menyuruh pegawai Anda untuk melakukannya."
"Sebenarnya pegawai saya dibagian HRD sedang menangani banyak pekerjaan jadi saya akan melakukan ini sendiri untuk sedikit mengurangi beban pekerjaannya."
"Wah, Anda adalah bos yang sangat pengertian." Puji Surya masih dengan senyum ramahnya. Gina memperhatikan itu. Ternyata orang seperti Surya yang sering Gina lihat bersikap dingin dan formal, bisa menunjukkan sikap hangat juga.
"Tidak juga. Saya hanya memberi mereka rasa nyaman saat bekerja."
"Sepertinya saya harus banyak belajar dari Anda dalam memberi perlakuan kepada pegawai."
"Apa pegawai bagian HRD-mu itu seorang wanita?" Tanya Gina tiba-tiba.
"Iya. Dari mana kau tahu?" Marco penasaran.
"Tidak, aku hanya menebak saja." Gina memamerkan senyumnya sarkas. Setelah itu Marco benar-benar pamit untuk meninggalkan tempat itu. Gina masih duduk di bangku dibawah pohon, Surya memperhatikan Marco yang menjauhi mereka. Begitu pula Hanna yang sedari tadi hanya menjadi pemirsa di sana.
__ADS_1
"Nona, sebaiknya kita pergi sekarang." Ujar Surya yang masih berdiri di depan tempatnya duduk. Gina masih menikmati semilir angin. Hanna sudah kembali ke ruangannya atas perintah Surya.
"Kemana?"
"Ke Bandara."
"Kenapa?" Gina mengerutkan kening tidak mengerti maksud Surya.
"Papa dan Mama akan memulai perjalanan berlibur mereka siang ini."
"Oh..." Hanya itu tanggapan Gina.
"Mari kita ke bandara agar masih bisa mengantar mereka."
"Kau saja. Aku sedang malas kemana-mana. Cuacanya sangat panas." Gina masih belum bergeming dari tempatnya.
"Tapi Nona, kita harus meyakinkan mereka bahwa kita baik-baik saja saat ini."
"Untuk apa?"
"Untuk membuat pencitraan agar Papa percaya kita memiliki hubungan yang baik."
"Apa pentingnya?"
Benar juga apa yang dikatakan Surya. Papanya tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja. Berlibur? Itu hanya sebuah kata yang sedang papanya jalani. Tapi dia memiliki banyak orang untuk tetap mengawasinya. Ia tahu Surya faham betul akan hal itu karena telah bertahun-tahun bekerja untuk Papanya.
"Baiklah, ayo kita ucapkan selamat jalan. Mari kita buat Papa merasa tenang dengan liburannya agar dia betah berlama-lama di sana. Itu akan sangat baik untuk kita." Gina berjalan mendahului Surya menuju tempat parkir. Surya mengikuti di belakangnya.
Pusat kota tidak pernah berhenti dengan kesibukannya. Pun dijam-jam seperti ini. Kendaraan berlalu lalang menerjang panasnya jalan beraspal seperti tidak peduli pada cuaca yang terik. Semua orang punya keibukannya masing-masih di jam seperti ini. Mobil Surya berhenti di sebuah pertigaan dengan lampu lalu lintas yang menyala merah. Sejak mulai berkendara tadi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Gina dan Surya. Mereka benar-benar tidak membangun percakapan sama sekali. Surya sengaja membiarkan Gina menikmati perjalannya dengan kebisuannya. Ia tahu Gina tidak suka mengobrol dengannya apalagi itu hanya sebuah basa basi darinya.
Gina memang tidak pernah tertarik untuk berbincang dengan Surya kalau bukan untuk suatu maksud. Ia berfikir untuk apa berbicara dengan Surya. Apalagi saat ini ia merasa tidak memiliki kepentingan dengan suami pilihan Papanya itu. Lebih baik diam dari pada harus membangun komunikasi dengannya. Gina tidak mau Surya salah faham dan beranggapan Gina mulai menerima hubungan mereka.
Setelah mobil berjalan beberapa meter meninggalkan lampu lalu lintas yang menyala hijau, tiba-tiba Surya menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu keluar setelah membuka pintunya.
"Tunggu sebentar, Nona." Pamit Surya sebelum keluar dari mobil. Gina tidak menanggapi dan hanya memandang ke arah Surya penasaran.
Dari dalam mobil, pandangan Gina mengikuti langkah kaki Surya yang melintasi depan body mobil yang ternyata menuju kepada seorang kakek yang berjualan di tepi jalan. Gina melihat Surya berbincang dengan kakek penjual kerupuk itu. Gina tidak tahu apa yang Surya bicarakan dengan kakek itu tapi kemudian terlihat Surya menguarkan dompetnya dan membayarkan sejumlah uang kepada si kakek. Dari situ Gina tahu Surya bermaksud membeli kerupuk danganannya. Tapi meski dari tempat agak jauh Gina tahu berapa lebar uang pecahan yang dibayarkan. Gina masih mengawasi Surya yang membawa beberapa ikat kerupuk ditangannya dan menuju mobil.
"Kau, memborong semua kerupuk ini?"
"Iya." Ujar Surya sambil memasang sabuk pengamannya kembali.
"Untuk apa?"
"Untuk camilan."
__ADS_1
"Sebanyak ini?" Gina menunjuk segerombol kerupuk di jok belakang mereka.
"Iya Nona." Surya melempar senyumnya karena melihat Gina merasa heran kepadanya.
"Aku yakin kau akan terbang setelah memakan kerupuk sebanyak ini?"
"Mari kita habiskaan berdua."
"Tidak mau. Aku tidak pernah makan makanan seperti itu."
"Kerupuk ini sehat, Nona. Digoreng tanpa menggunakan minyak?"
"Tanpa minyak? Bagaimana bisa?"
"Ya, ini digoreng dengan menggunakan pasir."
"Apa? Pasir?"
"Iya."
"Kau pikir aku bodoh? Aku bukan anak-anak jadi jangan mendongeng."
"Saya serius, Nona."
"Bagaimana bisa?" Gina tidak percaya.
"Lain kali akan saya tunjukkan cara menggorengnya."
"Ahh, tidak usah repot. Aku tidak tertarik." Gina memandang lurus ke depan. Surya hanya menanggapi dengan senyum.
Di dalam ruang tunggu bandara VVIP Pak Rangga sedang menikmati kopinya yang masih mengepulkan asap. Bu Marina duduk disampingnya menatap layar televisi yang menayangkan sebuah film sinetron. Sejak beberapa waktu lalu dirumahkan, ia jadi memiliki kebiasaa menonton sinetron. Acara TV andalan hampir seluruh ibu-ibu dijagat negara ini. Akhirnya Bu Marina menjalani hidupnya dengan normal layaknya ibu rumah tangga lain karena ia tidak lagi sibuk dengan urusannya di dalam R-Company yang sangat menyita waktunya.
"Apakah Gina akan datang?"
"Tentu saja." Jawab Pak Rangga sambil menoleh kepada istrinya.
"Aku sangat tidak yakin anak kita yang keras kepala itu akan datang."
"Surya adalah pria yang sangat tepat untuk Gina. Aku yakin dia bisa membawanya kemari."
"Kau sangat yakin."
"Aku sudah bersamanya selama ini. Aku tahu bagaimana Surya melakukannya. Dia memiliki keahlian yang orang lain tidak punya."
"Apa?" Tanya Bu Marina. Pak Rangga tidak menjawab dan hanya menunjuk ke arah pintu masuk ruang tunggu yang terbuat dari kaca transparan. Bu Marina menoleh ke arah yang dimaksud oleh Pak Rangga. Gina dan Surya berjalan menuju ke arah mereka berada. Bu Marina terperanjat. Apa yang dikatakan suaminya benar. Bu Marina semakin yakin bahwa ucapan Gina benar. Surya memiliki ilmu pelet. Dan sekarang Gina juga terkena pelet itu.
__ADS_1