Tahta Surya

Tahta Surya
Benci Tapi Rindu


__ADS_3

"Terima kasih." Jawab Gina sambil mengambil tas di tangan Surya.


Tapi belum sempat Gina mengambil tasnya, Surya menangkap tangan Gina dan kemudian menggenggamnya. Gina menatap tangannya lalu memandang wajah Surya tidak mengerti dengan tindakannya yang tiba-tiba.


"Anda terluka, Nona." Surya mengangkat tangan Gina menunjukkan sebuah lecet di punggung tangannya yang terlihat seperti sebuah luka baru.


"Hanya luka kecil." Gina menarik cepat tangannya dari genggaman tangan Surya. Ia tahu luka itu a dapat saat mengambil selang dan tangannya terkena sudut meja yang dilapisi dengan plat aluminium.


"Tetap saja itu adalah luka, Nona." Surya lalu menarik tangan Gina lagi dan mengajaknya ke suatu tempat.


"Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku." Gina mencoba melepaskan tangannya dari tangan Surya tapi meskipun ia jago bela diri nyatanya genggaman tangan Surya tidak bisa membuatnya bisa terlepas begitu saja.


"Surya, aku bisa saja melukaimu kalau kau memperlakukanku seperti ini."


"Setelah ini Anda boleh melukai saya." Ujar Surya masih berjalan tanpa menoleh ke belakang, dimana Gina yang masih ia gandeng.


"Baiklah kalau begitu." Gina mulai memutar tangan Surya tapi kemudian Surya malah berbalik memeluk Gina sebelum ia bisa membanting tubuh Surya.


Gina mengerjapkan matanya berkali-kali mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Surya seperti itu. Jantungnya yang berdebar kencang membuat tubuhnya meleleh tak berdaya sehingga tidak bisa melakukan tindakan apapun. Ia tidak pernah menyangka Surya akan melakukannya. Beberapa pasang mata dari orang-orang di tempat itu menatap aneh kepada mereka yang sepertinya dengan berbagai fikiran mengomentari lewat pandangan mata. Sempat beberapa detik berlalu saat Surya mendekap Gina ke dalam pelukannya. Dan ketika Gina tersadar, ia mulai mendapatkan tenaganya kembali lalu menendang kaki Surya dan membuatnya mengaduh kesakitan.


"Aaawww..." Surya mengelus tulang keringnya sambil meringis.


Gina sempat menyesal sudah melakukan itu pada Surya dan hampir saja reflek mendekati serta menenangkannya yang kesakitan. Tapi kemudian akal sehatnya menyadarkan agar ia tidak melakukan itu. Ia harus tetap menjaga harga dirinya untuk tidak lagi memberi perhatian apalagi menunjukkan sikap baik kepada Surya.


"Ini sakit sekali, Nona." Surya mengeluh.


"Kalau bukan di tempat ramai, pasti aku sudah menghajarmu."


"Saya hanya akan mengobati luka Anda, Nona."


"Tidak usah berlebihan melakukan kebaikan apapun lagi padaku." Ujar Gina dingin lalu meninggalkan Surya di tempatnya dengan sesekali meringis merasakan tulangnya ngilu.


Surya menatap Gina yang berjalan semakin menjauh lalu memasuki mobil dan melajukannya meninggalkan alun-alun kota. Ia harus melakukan gerakan cepat agar Gina tidak bisa memukulnya dengan cara memeluk seperti itu. Tentu Gina tidak akan bisa melakukan apapun kalau kedua tangannya bahkan berada dalam kuasa dirinya.


Ia yakin Gina pasti sangat membencinya sekarang. Bahkan jauh lebih besar daripada kebenciannya kepada Marco. Tanpa sadar, Surya menarik nafas berat. Sebanyak apapun meminta maaf, itu tidak akan merubah keputusan Gina untuk membencinya. Ia tahu pilihan yang pernah ia ambil memang akan mengantarkannya pada keadaan saat ini. Meski tidak pernah sedekat itu sebelum menikah, tapi, Surya hampir bisa dikatakan mengenal Gina dengan baik. Menjadi pengawasnya secara diam-diam, membuatnya tahu sikap, sifat dan kebiasaan putri bosnya saat itu.


"Jantung, kenapa sulit sekali aku bisa mengendalikanmu." Satu tangan Gina meraba dadanya yang masih berdebar kencang walaupun ia sudah berada jauh dari Surya. Tapi setiap mengingat wajah pria itu, jantungnya seperti melompat ke sana kemari membuatnya kuwalahan sendiri.


🌸🌸🌸


"Nona, Anda benar-benar baik-baik saja?" Tanya Hanna saat menyambut Gina yang baru datang.


"Aku harus mengatakan padamu berapa kali lagi?"


"Oh, baiklah Nona." Mendengar jawaban dari Gina, membuat Hanna harus berhenti menanyakan keadaannya pasca kejadian yang semalam mereka alami.


"Oh iya..." Ujar Gina saat ia sudah mulai duduk di balik mejanya. Hanna yang akan segera duduk di kursinya mengurungkan niat demi menyimak perkataan atasannya.


"Kau sengaja mengajakku ke acara bazar itu untuk mempertemukanku dengan Surya lagi?" Tanya Gina yang membuat Hanna membelalakkan mata.


"Maaf, Nona?"


"Ada Surya di sana, bukan?"


"Entahlah, saya tidak tahu."

__ADS_1


"Kau yakin tidak merencanakan itu semua?" Gina menyidik.


"Merencanakan apa, Nona?"


"Hei, aku bertemu Surya di sana." Jelas Gina dengan nada suara meninggi.


"Benarkah?" Hanna mengerutkan keningnya.


"Saya tidak bertemu dengannya, Nona. Saya juga tidak tahu dia ada di sana."


"Kau yakin?" Hanna mengangguk pasti.


"Baiklah, kalau ketahuan kalian bersekongkol lagi, aku tidak akan hanya mendiamkanmu saja."


"Baik Nona, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi." Hanna tersenyum tapi fikirannya mencerna ucapan Gina yang mengatakan bahwa Surya juga berada di sana. Yang jelas Hanna memang tidak tahu ada Surya juga di tempat itu.


Mengingat kejadian semalam, Gina merasa akhir-akhir ini jadi sering bertemu Surya. Entah kebetulan atau tidak, tapi ketenangannya mulai terusik lagi. Gina memang sempat merasa sangat kehilangan Surya saat ia pergi meninggalkannya tapi ketika bertemu kembali itu malah lebih membuatnya resah. Ia benar-benar sulit mengatasi perasaannya kepada Surya. Perasaan sukanya yang masih sangat kental terasa.


"Hanna..." Panggil Gina kepada Hanna yang menghadapi PC tablet memeriksa jadwal Gina untuk satu minggu ini.


"Iya Nona." Jawab Hanna mengalihkan pandangan dari payar PC tablet kepada wajah atasannya dari balik meja kerja.


"Menurutmu, apa aku berlebihan membenci Marco sampai sekarang?" Hanna mengerutkan kening dengan pertanyaan tiba-tiba Gina.


"Aku bertanya kepadamu sebagai temanku dan juga sebagai istri Marco." Tambah Gina. Hanna menarik nafas demi menjawab pertanyaan itu.


"Begini, Nona. Saya ingin menjawab pertanyaan itu sebagai diri saya sendiri saja." Hanna tersenyum saat mengatakan itu.


"Anda mempunyai alasan untuk itu. Dan juga setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri menghadapi perasaannya. Semua itu pasti sulit untuk seseorang tapi mungkin juga menjadi mudah untuk orang lain. Semua ada di dalam hati Anda jika harus memutuskan untuk terus membenci atau berdamai dengan orang yang Anda benci." Pendapat Hanna.


"Tapi, menurut saya kebencian hanya akan membuat kita terus menyakiti diri sendiri, Nona. Anda akan selalu mendendam dan merasa tidak nyaman setiap kali bertemu. Atau bahkan hanya dengan mengingatnya saja Anda bisa merasa tersakiti dan itu bisa merugikan diri sendiri. Hati Anda yang nyaman tidak seharusnya merasa tersakiti secara terus menerus, bukan?" Gina diam memikirkan ucapan Hanna. Fikirannya melayang memikirkan Surya. Ia memang membenci Surya karena telah menolak cintanya dan berfikir mungkin ia harus berdamai dengan perasaannya sendiri dengan membiarkan kebenciannya hilang sehingga ia bisa lebih tenang menjalani hidupnya dan saat ia bertemu Surya.


Itu sebuah kamar di lantai dua warung angkringan miliknya. Setelah melewati lorong menuju tangga, Surya turun dan memberitahu salah satu pegawainya bahwa ia akan pergi keluar. Akhir-akhir ini Surya memang tinggal di warung itu. Di kamar lantai dua dari bangunan ruko yang di sewanya. Itu membuatnya lebih mudah dalam mengurus warungnya sebagai pusat usaha selain beberapa warung angkringan cabang lain yang juga dibukanya di kota ini. Surya memutuskan untuk mengelola semua warungnya sendiri sekarang. Meskipun para pegawai yang mengurus warungnya juga masih tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa, tapi sekarang Surya bisa jauh lebih fokus terhadap warungnya tanpa terbagi perhatiannya dengan pekerjaan lain seperti saat masih bekerja di R-Company.


Surya memarkir mobilnya di sebuah kafe di pusat kota. Ia berjalan memasuki kafe dan menemukan Siska di salah satu meja. Surya segera menghampiri Siska yang terlihat sedang memegang ponsel. Siska mendongakkan kepala saat Surya sudah ada di depannya. Surya menyunggingkan senyum dan juga Siska membalasnya tapi dengan senyuman ragu-ragu.


🌸🌸🌸


Hanna berjalan keluar gedung R-Company dan bergegas menghampiri sebuah mobil yang terparkir di depan pintu masuk. Saat memasuki mobil, Hanna mendapati Marco yang tersenyum kepadanya.


"Sudah lama menungguku?" Tanya Hanna sambil memasang seatbelt.


"Iya, kenapa lama sekali? Apa bosmu memberimu pekerjaan terlalu banyak? Aku akan memprotesnya kalau dia benar-benar melakukan itu padamu." Gerutu Marco yang kemudian menginjak gas untuk melarikan mobilnya keluar dari pelataran R-Company.


"Kau ini bicara apa?" Hanna tertawa melihat wajah cemberut suaminya.


"Kau tahu bukan aku ini pegawai dengan loyalitas tinggi, jadi seharusnya kau tidak bicara seperti itu." Hanna masih menyisakan tawa pada akhir kalimatnya.


"Jangan-jangan Gina sengaja memberimu banyak tugas agar kau tidak punya banyak waktu denganku?"


"Hei, apa-apaan itu? Mana mungkin Nona Gina melakukannya. Dia tidak akan melakukan hal itu." Hanna menatap Marco dengan pandangan lucu.


"Maafkan aku, Sayang." Hanna meraih salah satu tangan Marco yang memegang setir dan menggenggamnya.


"Kau cukup mengenalku dan memang aku seperti itu. Aku menyukai pekerjaanku dan akan melakukan yang terbaik."

__ADS_1


"Jadi, kau lebih menyukai pekerjaanmu dari pada aku?" Marco cemberut.


"Bagaimana bisa itu terjadi? Tentu saja kau adalah hal yang paling penting dari sekian banyak hal yang ada di hidupku." Rayu Hanna.


"Benarkah?" Hanna menganggukan kepalanya.


"Lalu, kenapa kau lebih punya banyak waktu bersama pekerjaanmu daripada bersamaku?"


"Kapan? Bukankah aku jauh lebih lama bersamamu? Aku hanya selama 7 hingga 8 jam bersama Nona Gina. Paling lama 10 jam. Sedangkan kita bisa menghabiskan sedikitnya 14 jam setiap harinya. Apa itu artinya masih lebih banyak waktu bekerjaku daripada waktu menjadi istrimu?"


"Tapi kita tidur di malam hari dan aku seperti kehilangan momen bersamamu."


"Jadi, kau mau kita semalaman terjaga saja?" Kali ini Hanna mengucap kalimatnya dengan nada rendah memanja. Marco menoleh kepadanya dan Hanna mengerling.


"Apa itu? Kau merayuku?" Marco memalingkan wajah ke arah jalan di depannya karena kerlingan manja Hanna membangkitkan sesuatu yang lain dari dirinya. Hanna tidak menjawab tapi hanya memberikan senyumnya kepada Marco yang membuatnya jantungnya berdebar.


"Semakin hari kau semakin membuatku gemas. Kau semakin 'pandai' saja." Marco memacu laju mobilnya dan ingin segera cepat sampai rumah.


🌸🌸🌸


Gina masih duduk di balik meja ruangannya. Ia memang sengaja meminta Hanna pulang lebih dulu karena ia masih ingin berada di ruangannya. Tadi pagi saat memasuki R-Company ia sempat mendengar percakapan seorang pegawai di saat menuju lobi.


"Lihatlah ini, bukankah ini Pak Surya?" Seorang pegawai wanita memberikan ponselnya kepada temannya.


"Benar sekali, ini memang Pak Surya."


"Wah, dia berhenti menjadi presdir R-Company dan sekarang menjadi pengusaha kuliner. Tidak menyangka, ternyata selama ini dia sudah memiliki usaha lain. Tentu saja meninggalkan R-Company tidak membuatnya bingung harus melakukan apa. Lihatlah, salah seorang netizen bahkan mengatakan warung angkringan Pak Surya ada lebih dari 10 cabang di berbagai kota. Dan semuanya selalu ramai pengunjung. Dia benar-benar pengusaha hebat. Mengelola pabrik peralatan memasak atau warung angkringan, itu sama-sama bisa membuat Pak Surya bisa membuatnya digemari banyak orang."


"Wah... dia hebat sekali." Puji pegawai wanita satunya. Mereka tidak tahu bahwa tidak jauh dari tempat mereka berdiri Gina menguping.


"Hei, ini lihatlah media sosial Angkringan Rejo." Mendengar nama angkringan itu, Gina jadi ingat sesuatu.


"Ini... lihat ini. Di foto ini Pak Surya terlihat sangat tampan. Ya Tuhan... dia memang sangat sempurna."


"Benar, lihatlah semua yang berkomentar adalah para wanita." Imbuh pegawai yang lain. Gina menjadi semakin penasaran dengan foto apa itu. Sejak mereka menyebutkan nama Surya hatinya sudah tidak tenang. Ditambah mereka mengatakan banyak para wanita mengomentari penampilannya dengan kagum, Gina merasa hatinya seperti terbakar.


Hari semakin gelap, Gina masih belum ingin beranjak dari duduknya. Ponselnya tergeletak di atas meja. Gina menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya yang nyaman. Berkali-kali ia menghela nafas panjang. Karena pembicaraan dua pegawainya tadi pagi, Gina menjadi penasaran dengan media sosial warung milik Surya. Ia lalu menginstalnya dan membuka media sosial dengan nama Rejo. Ada beberapa pengguna yang memakai nama itu. Tapi akhirnya Gina menemukan nama Angkringan Rejo di salah satu daftar pencarian yang ia temukan. Gina lalu membukanya dan menemukan berbagai foto-foto promosi warung itu. Dan tepat di salah satu foto ada foto Surya disana sedang berada di salah satu meja sedang melayani pengunjung. Difoto hasil bidikan secara candid itu Surya tampak tersenyum ramah sedang melayani pengunjung. Dan juga di foto itu terdapat paling banyak komentar dari netizen yang kebanyakan adalah wanita.


"Ku dengar, pria tampan dengan senyum menawan itu adalah pemilik angkringan rejo."


"Paket lengkap, pengusaha tampan dan baik hati. Aku jadi betah berlama-lama di sana."


"Makanannya enak, pelayannya ramah, pemiliknya tampan."


"Apa dia masih single?"


"Aku mau kalau dia masih single."


"Dia manis sekali. Bolehkah aku mengenalnya lebih dekat."


"Setiap pulang dari sana aku tidak mau makanannya di bungkus, kalau boleh, aku mau dia saja."


Banyak sekali komentar-komentar yang membuat Gina gemas kepada mereka. Memuji Surya, menginginkan untuk jadi pacarnya dan bahkan ada yang melamarnya secara terang-terangan dalam kolom komentar untuk bisa bersanding menjadi istri Surya. Gina benar-benar marah melihat semua itu. Hatinya seperti terbakar tanpa ia sadari. Ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja untuk meredam rasa cemburunya.


Gina merasa dirinya sangat berlebihan. Itu hanya sebuah komentar tapi dirinya ingin sekali mendatangi para wanita itu satu per satu dan membungkam mulut mereka dengan tinjunya. Bisa-bisanya mereka membicarakan Surya seperti itu. Seperti seorang penggemar kepada idola mereka. Dan baginya itu sangat mengesalkan.

__ADS_1


Jadilah sekarang Gina berdiam diri di ruanganya sambil menata perasaannya. Wajahnya, senyumnya, perawakannya, semua membuat Gina merindukannya. Dan itu membuatnya semakin membenci dirinya sendiri karena belum juga bisa melupakan segenap perasaannya kepada pria yang sudah menolak cintanya. Pria yang ingin sekali ia benci sepenuh hati tapi belum berhasil. Seandainya bisa, Gina ingin bisa membenci Surya lebih dalam daripada saat ia membenci Marco. Tapi nyatanya sampai saat ini kebencian Gina sering sekali pada akhirnya berubah menjadi rindu setiap kali Surya muncul di hadapannya.


Gina menarik nafasnya lagi. Tapi kali ini lalu ia beranjak dari duduknya dan menyahut ponsel di atas meja, meninggalkan ruang kerjanya.


__ADS_2