
Surya mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Malam sudah mulai larut. Pertemuan pengusaha yang berisi ramah tamah sudah cukup menyita waktunya. Tapi panggilan via telepon tadi juga harus ia datangi segera. Sepertinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Orang yang meneleponnya.
Surya menghentikan mobilnya di taman kota. Ia memarkir mobilnya di tepi taman yang memang disediakan untuk memarkir kendaraan. Setelah turun, Surya berjalan memasuki taman dan mencari orang yang sudah membuat janji dengannya untuk bertemu di tempat ini. Dari tempatnya berjalan, Gina bisa melihat seseorang yang ia kenal duduk di sebuah bangku panjang di taman yang sepi.
"Hai..." Sapa Surya pada Siska yang sudah menunggunya.
Siska tidak membalas tapi ia langsung berdiri dan memeluk Surya. Erat sampai Surya merasa sesak. Tapi ia lalu tersenyum sambil ragu-ragu membalas pelukan Siska.
"Kau tahu, aku sangat merindukanmu." Ujar Siska masih membenamkan wajahnya di dalam pelukan Surya. Surya tersenyum dan membiarkan kekasihnya melakukan itu.
"Rasanya menyesakkan. Bertemu denganmu setiap hari tapi tidak bisa berbincang sesukaku. Aku harus selalu menjaga jarak denganmu." Siska belum ingin melepas pelukannya. Surya tahu sebesar apa rindu kekasihnya saat ini.
"Kapan semua ini akan berakhir?" Keluh Siska yang lalu mendongak memandang wajah pria yang sangat dicintainya itu.
"Ketika Nona Gina sudah pantas memimpin R-Company." Jawab Surya membalas pandangan kekasihnya.
"Apa tidak ada cara lain? Nona Gina lebih suka bersenang-senang daripada belajar menjadi presdir R-Company. Lalu kapan kita bisa menujukkan pada dunia bahwa kita adalah sepasang kekasih?" Siska melepas pelukannya.
"Nona Gina sangat takut kehilangan R-Company, aku yakin kali ini dia tidak akan bersantai dan aku tahu dia sangat berambisi menyingkirkanku." Surya tertawa kecil untuk meyakinkan Siska bahwa semua akan segera berakhir.
"Tapi kapan?" Siska sekarang duduk di bangku panjang dibelakangnya.
"Jangan-jangan kau sangat menikmati peranmu sebagai suami pura-pura Nona Gina?" Siska meruncingkan bibirnya setelah mengatakan itu. Surya tersenyum melihat itu dan duduk disebelah Gina.
"Aku pria normal, jadi bagaimana aku bisa menolak wanita seperti Nona Gina." Jawaban Surya cukup membuat Siska gemas dan reflek memukul bahunya. Surya mengaduh dan tersenyum menanggapi tindakan Siska.
"Ayo kita makan nasi padang." Ajak Surya untuk mengalihkan kemarahan Siska.
"Tidak mau."
"Yakin?"
"Aku merindukanmu. Yang ku inginkan hanya bertemu denganmu. Mengobrol. Bercanda. Membicarakan hari-hari kita. Aku ingin melakukan banyak hal denganmu seperti pasangan normal lainnya." Tiba-tiba suara Siska meninggi dan air matanya mulai turun. Surya mematung memandang wanita yang dipacarinya itu terlihat berbeda saat ini.
"Kau tahu, aku kekasihmu. Aku kekasihmu jauh sebelum kau dan Nona Gina menjalani pernikahan pura-pura ini. Aku kekasihmu yang sebenarnya. Tapi kenyataannya, dia yang lebih banyak mendapatkan waktu bersamamu daripada aku. Kita selalu bertemu dengan sembunyi-sembunyi seperti ini. Lama-lama rasanya melelahkan." Siska mulai tersedu. Surya menarik kedalam pelukannya.
"Aku takut, Surya..." Siska masih menangis di dalam pelukan Surya.
"Setiap saat aku khawatir bagaimana kalau kau akhirnya terpikat oleh Nona Gina? Bagaimana kalau akhirnya kau menyukainya? Bagaimana kalau akhirnya kalian akan berada pada pernikahan itu selamanya? Bagaimana dengan aku? Aku takut kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu." Siska menumpahkan semua isi hatinya kepada kekasihnya malam ini. Surya tidak mengucapkan apapun dan hanya membelai rambut Siska berusaha untuk menenangkannya. Ia membiarkan Siska menumpahkan semua keluh kesahnya kepadanya karena memang itu konsekuensi yang harus ia terima ketika harus bersedia menerima tugas dari atasannya untuk misi menarik putrinya ke dalam R-Company.
Sejak awal memang ia merahasiakan hubungannya dengan Siska karena mungkin akan tidak nyaman jika berpacaran dengan teman satu tempat kerja. Surya khawatir mereka akan menjadi pusat perhatian bagaiamanapun dan kapanpun. Sehingga Surya menginginkan agar mereka tetap berada pada hubungan rahasia agar tidak terlalu banyak hal yang menganggu kinerja mereka. Lagipula Surya juga tidak berniat bekerja di R-Company selamanya sehingga hanya menunggu waktu saja untuk mempublikasikan hubungan mereka nanti.
Tapi ternyata Pak Rangga menginginkannya untuk menjadi syarat Gina mendapatkan posisinya di R-Company yaitu dengan menikahinya, sehingga ia harus menunda rencananya bersama Siska untuk mengumumkan hubungan mereka dalam waktu dekat. Meski sebelumnya Surya sudah memberi Siska pengertian atas pernikahan pura-pura yang akan ia jalani bersama Gina dan Siska pun setuju serta memberinya kepercayaan atas hati yang bisa ia jaga, tapi bagaimanapun juga ia sadar bahwa Siska adalah seorang wanita, seorang manusia biasa yang pasti masih memiliki rasa khawatir, jadi Surya sangat memaklumi itu. Ia bisa menerima setiap kemarahan Siska jika itu ada hubungannya dengan pernikahan yang sedang ia jalani dengan Gina. Ia juga tahu selain rasa takut kehilangan, Siska pasti memiliki rasa cemburu ketika kekasihnya bersama wanita lain. Sehingga untuk sesuatu yang dianggap kesalahannya itu, Surya akan berusaha menenangkan Siska bagaimanapun caranya.
Tanpa mereka sadari, saat itu seseorang yang sudah diutus oleh Pak Rangga menemukan kebersamaan Surya dan Siska. Pak Rangga bukan tanpa alasan melakukan itu pada orang yang sangat dipercayainya selama ini. Tapi ada hal yang ia ingin pastikan tentang Surya dan akhirnya mendapatkan fakta tentang hubungan rahasianya bersama Siska.
Gina dan Surya masih memandang mobil mewah yang Bu Marina tumpangi hingga berjalan semakin menjauhi mereka berdiri. Langit masih redup dengan gerimis kecil yang turun. Gina dan Surya berdiri tanpa payung yang melindungi mereka.
"Jadi, kau dan Siska pacaran?" Surya menoleh kepada Gina yang masih memandang mobil mamanya yang sudah sampai jauh. Suara Gina yang ia dengar seperti es yang menyentuh gendang telinganya. Dingin dan kaku.
"Benar?" Kali ini Gina menghadap Surya dan memandangnya lekat.
"Hmm..." Jawab Surya singkat dan membalas tatapan Gina yang sama dinginnya dengan suaranya.
Mendengar jawaban singkatnya, Gina lalu beranjak masuk ke dalam rumah. Surya segera mengejar Gina masuk ke dalam rumah juga.
Saat memasuki rumah, Surya melihat Gina duduk di depan TV dan memainkan ponselnya. Melihat Surya masuk, ia hanya melihatnya sekilas lalu kembali melihat ke dalam ponselnya.
"Kau mau apa untuk sarapan?" Tanya Gina masih menekuni ponselnya.
"Saya akan memasak untuk Anda saja, Nona."
__ADS_1
"Tidak, aku sedang ingin wafel dengan whipped cream dan taburan stroberi diatasnya." Ujar Gina masih menekuni ponselnya tanpa ingin menoleh kepada Surya.
"Saya bisa membuatkannya untuk Anda sekarang."
"Aku sangat lapar, aku malas menunggu terlalu lama." Gina masih menscrol layar ponselnya mencari menu yang diinginkannya itu di aplikasi favoritnya.
"Saya akan membuatnya lebih cepat daripada Anda membelinya di aplikasi pemesanan makanan."
"Benarkah?" Kali ini Gina menatap Surya untuk memastikan apa yang ia katakan.
"Saya janji."
"Baiklah. Tapi kalau kau membuatku kelaparan, kau yang akan ku makan." Ujar Gina sambil memelototkan matanya dan tertawa diakhir kalimatnya. Surya tersenyum lebar melihat itu.
"Aku harus melanjutkan jemuran yang kutinggalkan." Gina melangkahkan kaki menuju tempat mesin cuci meninggalkan Surya.
"Oh iya, saat aku selesai menjemur pakaian, sarapanku harus sudah jadi." Ancam Gina saat membalik badannya memandang Surya yang juga akan menuju dapur.
"Kalau rasanya tidak enak, jangan salahkan saya, Nona." Jawab Surya sambil memamerkan giginya dengan senyum lebar.
"Wah, kau balas mengancamku." Gina memasang wajah pura-pura marahnya lalu berbalik badan menuju tempat yang sedari awal ingin dituju.
Sesampainya di ruang cuci, Gina berdiri di depan mesin cuci dan belum ingin melakukan apapun. Bagaimanapun juga foto-foto itu mampu membuatnya galau. Ia tidak habis fikir, bagaimana bisa seseorang seperti Surya mempunyai pacar lebih dari seorang. Hanna yang manis dibanding Siska yang cantik, tentu saja akan sulit memilih diantara mereka berdua. Pantas saja keduanya harus ia pertahankan. Kalau ditambah dirinya juga bersama Surya, itu berarti ia benar-benar dikelilingi wanita rupawan. Batinnya dengan menarsiskan dirinya sendiri juga jadinya.
Saat melihat foto-foto tadi Gina merasa ia semakin ingin mendapatkan Surya. Rasa cemburunya semakin membuatnya berusaha lebih keras untuk menarik perhatian Surya. Ia akan menjadi jahat walau tidak terlihat. Tapi ia tidak ingin gegabah dan tetap akan bersikap manis demi menarik perhatian Surya. Ia akan menekan kuat-kuat rasa cemburunya kepada Siska ataupun Hanna demi mendapatkan Surya yang utuh menjadi miliknya nanti.
🌸🌸🌸
Gina duduk dibalik meja kerjanya dan membuka file-file pembelian bahan baku di dalam laptop yang sedang ia hadapi.
"Hanna, kirimkan padaku file pembelian bahan baku untuk bulan lalu. Aku harus melihat dimana perbedaannya dengan bulan ini. Sepertinya aku melewatkan sesuatu." Perintah Gina pada Hanna di meja seberangnya.
"Baik, Nona." Hanna mulai membuka file yang ingin ia kirimkan kepada Gina.
Gina lalu membuka dan menelitinya kembali. Ia melihat satu per satu daftar pembelian bahan baku itu dan menemukan salah bahan baku dengan jumlah besar bulan itu.
"Bulan lalu pembelian biji plastik sangat besar. Apakah itu untuk produk alat makan berkonsep shabby chic tahan banting?"
"Iya benar, Nona. Banyak konsumen yang anstusias dengan alat makan ini sehingga permintaan meningkat drastis sehingga kita memproduksi ulang dengan jumlah dua kali lipat lebih banyak agar konsumen bisa mendapatkan alat makan ini di setiap R-Store di seluruh negeri. Laporannya sudah ada di dalam penjualan bulan ini, Nona. Saya sudah lampirkan kemarin." Jelas Hanna.
"Oh ya?" Gina mengerutkan kening karema merasa belum melihatnya.
"Ada di tumpukan file berwarna hitam, Nona. Kemarin saya meletakkannya di meja, Nona." Gina mencari di tumpukan fille case di ujung mejanya dan benar ia menemukan itu.
"Oh iya, aku menemukannya."
"Saya mendapatkannya dari divisi penjualan kemarin dan membawa copy-nya kepada Anda agar Anda bisa melihat sinkronisasi antara pembelian dan jumlah produksi serta hasil penjualan dari produk itu." Hanna menerangkan dengan Gina yang melihat isi file itu.
"Bagus, penjualan alat makan ini sangat baik. Luncurkan juga produk baru kipas angin portable yang dilengkapi power bank segera. Ku rasa itu akan sangat berguna bagi masyarakat penyuka traveling."
"Untuk produk itu masih dalam tahap uji coba untuk mendapatkan izin produksi, Nona."
"Baiklah, segera dapatkan hasilnya dari tim penguji agar bisa langsung diproduksi."
"Akan saya sampaikan ke bagian produksi, Nona."
"Bagus." Jawab Gina singkat dan melihat jam di tangannya.
"Wah, sudah masuk jam makan siang. Mari kita istirahat dulu."
"Baik, Nona."
__ADS_1
"Aku rasa Surya sudah menungguku. Kau tahu bukan, dia orang yang tepat waktu. Ku rasa dia mungkin sedang menungguku di mobil sekarang." Ucap Gina membeberkan semua yang ingin ia pamerkan kepada Hanna. Ia ingin Hanna melihat bahwa dia sangat bisa melakukan itu. Ia juga bisa melakukan apa saja dengan Surya. Ia berharap dengan melihat itu, Hanna akan mundur menjadi pacar Surya karena merasa terlalu berat bersaing dengannya. Setidaknya sampai disitulah kepercayaandiri Gina.
"Iya Nona." Hanya itu jawab Hanna. Gina sempat melihat senyum diwajahnya tapi Gina tahu mungkin itu hanya untuk menutupi perasaannya yang tidak ingin ia tampakkan kepada Gina.
"Tapi aku akan meneleponnya lebih dulu untuk memastikan." Lanjut Gina lagi berusaha tampak manis kepada Surya di depan Hanna. Ia memanfaatkan Hanna yang telah tahu perasaanya kepada Surya untuk memamerkan kedejatannya dengan pria itu.
"Surya, kau dimana? Masih ada tamu? Baiklah, aku akan menunggumu." Ujar Gina saat sudah tersambung dengan Surya.
"Hanna, aku akan menunggu Surya. Jadi aku keluar dulu."
"Baik, Nona. Selamat makan siang." Jawab Hanna ramah seperti biasanya. Gina merasa Hanna sangat pandai menyembunyikan perasaannya sehingga masih bisa bersikap sebaik itu padanya padahal tahu bahwa Gina akan pergi malan siang bersama kekasihnya. Gina yang Hanna tahu adalah wanita yang menyukai kekasihnya dan telah menikah secara resmi dengan kekasihnya.
Gina berjalan dengan santai dan penuh percaya diri. Sekarang ia menuju ke kantor Surya. Ia tahu Surya sedang memiliki tamu tapi ia butuh melakukan aksi selanjutnya. Ia butuh sedikit "berbincang" dengan Siska sekarang. Ada hal yang harus ia bicarakan dengan sekretaris Surya itu.
Saat keluar dari lift ia melihat Siska yang sedang duduk di balik mejanya. Gina mendekat dengan langkah yang sedang dan derap sepatu hak tinggi yang terdengar teratur berdetak dengan lantai. Siska menoleh ke arahnya saat mendengar langkah seseorang mendekat padanya. Ia lalu menyunggingkan senyum kepada Gina dengan ramah. Siska selalu punya senyum yang menawan. Gadis berkulit putih bersih dengan rambut panjang hampir melewati punggung yang diikat ekor kuda itu sangat cantik. Meski tinggi badannya tidak menyamai Gina tapi gadis itu memang cantik. Penampilannya juga cukup menarik. Dari yang Gina lihat, Siska selalu memakai setelan dengan warna-warna manis. Merah muda, lilac, mauve, itu warna pakaian yang sering Siska pakai untuk pakaian kerjanya. Warna-warna itu sangat cocok untuk kulit tubuhnya yang putih bersih seperti kertas.
"Selamat siang, Nona."
"Siang, Siska."
"Maaf Nona, Pak Surya sedang ada tamu."
"Benarkah?" Gina pura-pura tidak tahu dan melihat jam tangannya.
"Padahal sudah waktunya makan siang." Gina masih berdiri di depan meja Siska.
"Kau tidak makan siang?" Tanya Gina kepada Siska yang masih duduk dibalik mejanya.
"Saya akan menunggu Pak Surya selesai, Nona." Siska ramah.
"Kau sekretaris yang baik."
"Ini memang tugas saya, Nona."
Kau adalah pacar Surya. Pasti sangat menyenangkan bisa sepanjang hari berada di dekatnya, bukan? Batin Gina yang iri kepada Siska.
Sebenarnya Gina penasaran sejak kapan Surya dan Siska mulai berpacaran tapi ia sudah terlanjur membuat perjanjian untuk tidak mencampuri urusan masing-masing sehingga ia menahan diri untuk menanyakan hal itu.
Sebentar kemudian Surya keluar dari balik pintu dengan seseorang di depannya yang telah lebih dulu keluar dari sana. Gina memandang Marco malas dan membuang muka.
"Mari, Nona Gina." Sapa Marco saat berpapasan dengannya yang menghampiri Surya.
"Ya." Jawab Gina acuh. Marco hanya tersenyum lebar melihat tingkah Gina yang tidak pernah berubah sama sekali padanya. Ketika seperti itu Gina jadi terlihat kekanak-kanakkan sehingga Marco ingin sekali menertawakannya.
"Surya, sepulang bekerja nanti aku harus mengambil beberapa barang di rumah untuk ku bawa ke rumahmu jadi jangan keluar terlambat. Aku tidak ingin pulang ke rumahmu terlalu malam." Ujar Gina setelah Marco menjauh dari tempatnya berdiri. Ia sengaja sedikit menaikkan volume suaranya agar Siska bisa mendengar itu.
Gina berharap setelah mendengar itu Siska akan cemburu. Ia melirik kepada Siska yang sekarang sepertinya sedang memperhatikan mereka.
"Baik Nona." Jawab Surya santai.
"Ayo kita makan siang." Ajak Gina.
"Aku mau nasi padang." Ujar Gina kepada Surya yang masih ada di depan pintu ruangannya yang juga berada di dekat Siska duduk.
Sebelumya Gina tidak pernah memperhatikan tanggapan Siska saat ia sedang bersama Surya. Tapi mulai hari ini ia akan membuat tindakan-tindakan yang mungkin akan memicu kecemburuan Siska. Ia akan totalitas menjadi wanita jahat demi bisa bersama Surya.
"Nasi padang yang waktu itu kita makan rasanya enak. Ayo kita makan di sana lagi." Ulang Gina memberi penegasan pada kalimat terakhir agar Siska tahu itu.
"Baiklah, Nona." Jawab Surya singkat.
Sejak tadi Surya menjawab dengan singkat, Gina merasa ia sedang menjaga perasaan Siska. Sebelumnya Gina juga tidak pernah memperhatikan itu tapi sekarang ia jadi menyadari jika memang setiap ada Siska di dekat mereka, Surya seolah selalu mengambil jarak dengannya.
__ADS_1
"Ayo, tunggu apa lagi." Gina menarik lengan Surya agar ia segera beranjak dari situ dan diikuti oleh langkahnya mensejajari Surya.
Gina tersenyum dalam hati. Ia yakin Siska sekarang mungkin sedang terbakar cemburu melihat kekasihnya pergi bersama wanita lain. Dan Gina tidak peduli hal itu, ia hanya akan terus berusaha menarik perhatian Surya. Tidak ada hal lain yang lebih ingin dilakukannya saat ini kecuali bisa mendapatkan Surya dan mengalahkan semua wanita yang mengitarinya.