
Surya buru-buru turun dari wahana yang barus saja ia naiki dan sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia segera berlari menuju toilet pertama yang ia temukan dan mengeluarkan isi perutnya di sana. Surya sudah tidak mampu menahan mualnya. Wahana terakhir yang ia naiki benar-benar membuatnya menyerah.
Surya keluar dari toilet dan menemukan Gina menunggunya.
"Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri." Ujar Gina merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya yang tidak bisa mengukur kemampuan saya. Saya fikir saya bisa ternyata saya lebih lemah dari yang saya kira." Surya lalu terkekeh.
"Tetap saja aku jadi merasa bersalah jadinya." Gina menundukkan kepalanya.
"Setelah mual, saya jadi lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu, Nona?" Ajak Surya.
"Baiklah." Jawab Gina masih dengan wajah mendungnya.
"Di sana ada kantin dengan berbagai macam menu. Ayo kita ke sana." Gina menoleh ke arah yang ditunjuk Surya.
Gina melihat sebuah kantin dengan berbagai outlet makanan. Dari jauh Gina sudah tahu pasti akan banyak pilihan menu di sana. Surya melangkahkan kaki menuju ke sana diikuti oleh Gina di sebelahnya. Sesampainya di sana ramai sekali pengunjung yang memadati seluruh tempat. Surya dan Gina celingukan mencari meja kosong. Tak lama kemudian ada satu meja yang ditinggalkan oleh penggunanya. Lalu Surya mengajak Gina untuk menuju ke meja itu dan memintanya untuk duduk di sana.
"Anda ingin memesan menu apa, Nona?"
Gina melihat deretan outlet makanan di sana. Tapi mata Gina lalu terpaku pada bakso. Di cuaca panas dan terik seperti ini menu itu cukup menggodanya.
"Bakso. Aku mau bakso dan es kelapa muda." Jawab Gina.
"Oh iya, tambah juga bakso bakar."
"Baik, Nona." Setelah itu Surya meninggalkan Gina untuk memesan menu makan siangnya.
Sambil menunggu Surya kembali, Gina melihat keluar kantin. Akhir pekan memang saat yang tepat untuk pergi ke taman hiburan seperti ini. Mereka ada yang bersama keluarga, bersama teman, bersama pacar. Tiba-tiba pandangan Gina tertuju pada pasangan muda dengan seorang anak kecil mungkin baru berusia dua tahunan. Seorang anak laki-laki yang sedang berlarian dikejar oleh ayahnya. Sedangkan ibunya berjalan dibelakangnya mendorong sebuah stroller dengan perut yang terlihat membuncit pula. Sepertinya pasangan muda itu juga sedang menunggu kelahiran anak kedua mereka.
Melihat itu Gina jadi berfikir, kenapa mereka pergi ke tempat ini? Si ibu juga tidak akan bisa menikmati wahana apapun karena sedang hamil. Lalu pandangan mata Gina tertuju pada anak laki-laki tadi yang menaiki komidi putar bersama ayahnya. Anak itu tampak sangat senang sambil melambaikan tangan kepada ibunya. Tanpa ia sadari senyumnya mengembang. Ia merasa keluarga kecil itu tampak bahagia.
Gina jadi membayangkan bagaimana seandainya nanti saat ia benar-benar menjalani kehidupan rumah tangganya seperti pasangan lain. Ia pasti juga akan sebahagia itu. Anak-anak yang lucu dan suami yang baik. Tapi kemudian Gina sadar dengan apa yang sedang ia fikirkan. Ia menjadi heran bagaimana bisa memikirkan hal yang sama sekali belum pernah difikirkannya. Gina menggelengkan kepalanya karena tidak habis fikir dengan apa yang sedang ada di dalam kepalanya saat ini.
"Ini pesanan Anda, Nona." Kedatangan Surya sedikit mengagetkannya. Tapi hal itu tidak disadari oleh Surya karena ia sibuk meletakkan mangkuk bakso dan piring berisi bakso bakar yang keduanya mengepulkan aroma daging yang berbeda. Daging kuah dan daging bakar.
Disisi lain, Surya menjadi merasa aneh merasa dari tadi Gina memperhatikannya.
"Nona... ada apa?" Tegur Surya yang merasa Gina masih memperhatikannya.
"Tidak, tidak apa-apa."
"Silakan, Anda makan lebih dulu."
__ADS_1
"Punyamu?" Tanya Gina karena melihat menu itu hanya milik Gina.
"Pesanan saya akan diantar sebentar lagi."
Benar, baru saja Surya mengakhiri kalimatnya, seorang pelayan membawa masing-masing tiga piring di tangannya. Surya memesan nasi padang dengan berbagai sayur dan lauk.
"Makanmu banyak sekali?" Ujar Gina setelah pelayan itu meletakkan seluruh pesanan Surya di atas meja mereka.
"Saya berharap Anda bisa membantu saya menghabiskan ini."
"Kau pasti bercanda. Bakso kuah dan bakso bakarku bagaimana kabarnya?" Gina menunjuk makanan di depannya sendiri.
"Tidak, kau sudah memesan, jangan ajak aku untuk membantumu. Kau yang berbuat, kau juga yang harus bertanggung jawab." Gerutu Gina. Surya tertawa mendengar itu.
"Baiklah, Nona." Surya mulai mengguyur nasinya dengan kuah rendang. Lalu ia meletakkkan daging di atas piring dan mulai menyendokkan makanan. Gina juga mulai menikmati baksonya.
Tapi baru sekali suapan, Surya sudah beranjak lagi dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Gina dengan bakso di mulutnya.
"Sebentar, Nona." Jawab Surya sambil terus berlalu.
Gina hanya bisa membatin entah akan kemana pria itu. Dia suka sekali mondar-mandir bahkan saat sedang makan sekalipun. Tapi Gina tidak ambil pusing dan melanjutkan makannya. Rambutnya yang panjang sering kali jatuh ke depan sehingga ia harus berkali kali mengarahkan rambutnya agar saat menikmati bakso berkuah itu rambutnya tidak masuk ke dalam mangkuk baksonya. Ditambah lagi keringatnya yang mulai membanjir di wajahnya karena panas dan pedas dari bakso yang ia makan.
Senyum Gina pun mengembang. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Senang dan terharu jadi satu. Ternyata Surya perhatian terhadapnya bahkan pada hal sekecil itu.
"Sudah, silakan lanjutkan kembali, Nona." Surya kembali duduk di kursinya lagi. Ternyata kepergian Surya tadi untuk meminta sebuah karet gelang kepada salah satu pemilik outlet makanan dikantin itu. Gina tersenyum pada Surya.
"Terima kasih." Surya hanya membalasnya dengan senyuman lalu menikmati lagi makanan yang sudah sempat dimakannya tadi.
Diam-diam Gina mencuri-curi pandang ke arah Surya. Pria itu benar-benar penuh inisiatif. Bahkan ia tidak bisa membiarkan Gina makan dengan kerepotan seperti itu. Gina lagi-lagi tersenyum sendiri setelah menyimpulkan sikap Surya terhadapnya.
Hari sudah hampir gelap. Gina dan Surya sudah memasuki mobil. Gina sudah mencoba semua wahana di taman bermain itu.
"Ahh, rasanya aku masih belum mau pulang." Ujar Gina sambil memasang seatbelt-nya. Mendengar itu Surya jadi merasa lucu.
Sehari ini Gina sudah menaiki semua wahana tanpa terkecuali. Tapi ia mengatakan masih betah disana. Dari situ Surya tahu betapa selama ini sebenarnya Gina merasa sangat kesepian dan membutuhkan teman untuk bermain bersamanya. Walaupun dulu Gina sering bermain ke klub malam, tapi Surya tahu itu karena saat di rumah pun ia tidak akan bertemu siapapun dan membuatnya semakin sedih karena merasa kesepian. Sehingga ia akan menghabiskan waktu di tempat yang masih buka di malam hari. Setelah berjalan-jalan di mall dan berbelanja, ia akan berpindah ke klub malam karena disana tempat yang akan selalu buka sampai pagi. Dan setelah ia merasa lelah dan mengantuk, ia akan pulang lalu tidur. Jadi Gina tidak akan merasa terlalu kesepian.
Surya faham sekali hal itu walau dia bukan lagi pengawal pribadi Gina. Tapi orang yang bertugas mengawasinya selalu melaporkan apapun yang dilakukan oleh Gina padanya. Termasuk saat Gina sedang berusaha mengakhiri hidupnya saat itu. Pengawalnya melaporkan bahwa membeli obat tidur lalu pulang. Surya yang merasa janggal dengan tindakan Gina jadi curiga. Apalagi Surya pun tahu apa yang terjadi pada Gina yang saat itu sedang patah hati sehingga ia bergegas pergi ke rumah bosnya untuk memeriksa apa dugaannya salah. Ya, karena Surya berharap itu hanya kekhawatirannya yang terlalu berlebihan.
"Mbak, Nona Gina ada?" Tanya Surya pura-pura sedang mencari Gina saat Mbak Yuyun membukakan pintu.
""Iya, Pak. Sedang ada di kamarnya." Jelas Mbak Yuyun.
__ADS_1
"Ada perlu apa?"
"Bisa tolong panggilkan?" Pinta Surya. Ia sudah siap dengan segala jawaban jika memang Gina baik-baik saja sekarang. Entah hanya mengatakan kalau akan membantu menservis mobilnya atau memeriksa penyejuk udara di kamarnya, yang jelas Surya harus memastikan bagaiamana keadaan Gina.
"Baik." Mbak Yuyun masuk di ikuti Surya yang menunggu di ruang tamu.
Dan beberapa saat kemudian Surya mendengar teriakan Mbak Yuyun memanggilnya dan meminta tolong. Surya yang sejak awal memiliki firasat buruk segera berlari dan menghampiri Mbak Yuyun di kamar Gina. Saat masuk, Surya menemukan Gina yang dengan mulut yang sudah berbusa dan badan tidak bergerak sama sekali.
Surya segera mengangkat tubuh Gina dan memasukkannya ke dalam mobil bersama Mbak Yuyun untuk segera pergi ke rumah sakit.
Syukurlah saat tiba di rumah sakit Gina masih bisa diselamatkan. Dari kejauhan Surya bernafas lega saat mendengar dokter menjelaskan kepada Pak Rangga saat telah tiba juga di rumah sakit, bahwa Gina sudah baik-baik saja saat itu.
Sejak saat itu Surya merasa harus lebih ketat menjaga Gina walaupun dari kejauhan dan secara diam-diam. Dan ketika Pak Rangga memintanya untuk menjadi suami Gina, Surya mulai menjadikan dirinya sebagai teman Gina. Yang selalu ada untuknya, menemaninya dan menghiburnya.
Mobil yang dikendarai Surya sudah melaju membelah jalan raya senja ini. Suasana di dalam mobil terasa sepi, hanya terdengar Payung teduh yang menyanyikan lagu Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan.
Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya
Merasa Gina tidak bergeming Surya penasaran dan menoleh ke arahnya. Ternyata Gina tertidur. Surya tersenyum melihat Gina yang sepertinya kelelahan setelah seharian bermain di taman bermain.
Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya
Di malam hari
Menuju pagi
Sedikit cemas
Banyak rindunya
Surya membawa mobilnya menepi. Ia lalu membuat sandaran kursi Gina menjadi lebih rendah agar Gina lebih nyaman dalam tidurnya. Setelah itu Surya melajukan kembali mobilnya. Kali ini dengan lebih hati-hati agar tidak mengganggu Gina yang sedang tidur lelap sekali.
__ADS_1
Surya menarik nafasnya dalam-dalam sambil masih menatap jalan raya di depannya. Ia tahu hal itu tidak boleh terjadi. Debaran indah yang ia rasakan atau senyum bahagia Gina yang menenangkan, apapun itu adalah hal-hal yang harus Surya hindari. Ia sadar pada perasaannya yang berhasil digoyahkan oleh Gina sehingga ia merasa harus kembali pada kesadarannya semula. Kesadaran akan siapa dirinya dan siapa Gina. Mereka hanya pasangan pura-pura untuk kepentingan peralihan kekuasan semata.