
Gina masih mengelus-elus kepalanya. Ada benjolan di sana. Rasanya ngilu saat disentuh. Dan itu membuat wajahnya manyun karena merasakan sakit yang belum reda.
"Apa masih sakit sekali, Nona?" Tanya Surya sambil berkendara. Mereka dalam perjalanan pulang sekarang.
"Kenapa masih bertanya. Tentu saja ini rasanya sakit sekali." Gina bertambah manyun. Surya tersenyum melihat tingkah Gina.
"Oh iya, siapa nama anak tadi?"
"Kenapa, Nona? Bukankan dia sudah meminta maaf?" Surya merasakan firasat buruk dengan pertanyaan Gina.
Saat masih di panti asuhan, Gina melihat Surya dari sisi ia duduk. Dengan perlahan Surya meniup puncak kepala Gina. Tanpa Gina sadari, ia menikmati itu. Rasanya sangat nyaman dan menenangkan. Seperti anak kecil yang sedang berada dalam buaian ibunya, Gina seperti pernah merasakannya dalam waktu dekat ini. Tapi kapan dan di mana ia lupa.
"Kakak, aku minta maaf." Seorang anak laki-laki mendekati Gina yang masih mendapatkan perawatan tiup dari Surya. Anak laki-laki itu yang tadi melempar bola dengan sangat kencang ke arahnya. Gina memandangnya lurus. Anak itu tampak takut.
"Baiklah." Ucap Gina sambil membalas uluran tangan anak laki-laki itu. Ia terlihat lega saat Gina bersedia memaafkannya.
"Semoga cepat sembuh, Kak." Ujar anak laki-laki itu kemudian sambil menyunggingkan senyum. Gina membalasnya.
"Aku harus bertemu dengannya lagi." Gina masih memandang lurus ke depan jalan yang mereka lintasi dalam perjalan pulang.
"Nona, itu tadi hanya sebuah kecelakaan. Dia tidak sengaja melakukannya. Lagi pula dia masih anak-anak." Suara Surya tampak khawatir.
"Memangnya kenapa kalau dia anak-anak? Lemparannya sangat cepat dan juga keras. Dia sangat berbakat."
"Berbakat?" Sekarang Surya menjadi bingung dengan apa yang Gina ucapkan.
"Ya, dia berbakat menjadi atlet."
"Ahh, iya..." Surya tertawa dan bernafas lega. Ternyata itu tidak seperti yang Surya bayangkan.
Saat Gina bertanya tentang anak itu, Surya berfikir mungkin Gina akan membuat perhitungan dengannya dan membalasnya nanti. Tapi ternyata itu hanya kekhawatirannya saja.
"Siapa anak berbakat itu?"
"Andika. Namanya Andika."
"Andika..." Gina mengulang nama anak laki-laki yang sudah membuat kepalanya benjol.
"Sepertinya dia harus berlatih dengan seorang pelatih untuk menentukan cabang olah raga yang tepat untuknya. Mungkin lempar cakram, lempar lembing atau basket mungkin? Dengan kekuatan lemparannya seperti itu dia bisa mencetak 3 poin. Atau saat menjadi atlet voli dia bisa membuat tim lawan kocar kacir dengan smash-nya. Oh, bulu tangkis juga boleh. Kekuatan tangannya sangat dahsyat." Cerocos Gina dengan semangat membayangkan cabang olah raga apa yang kira-kira cocok untuk Andika. Surya tidak bisa berhenti tersenyum melihat Gina semangat seperti itu.
"Anda sendiri adalah taekwondoin hebat. Kenapa tidak ingin menjadi atlet?"
"Untuk apa? Aku tidak mau menjadi terkenal. Itu pasti akan sangat merepotkan." Gina mulai menarsiskan diri.
"Bukankah banyak orang ingin sekali menjadi terkenal? Jangankan yang memiliki talenta, bahkan yang tidak bertalenta pun berusaha agar bisa terkenal." Jelas Surya.
"Dijaman ini orang-orang seperti berlomba-lomba untuk mencari popularitas. Media sosial adalah andalan mereka. Tujuan mereka beraksi di sana adalah menjadi viral sehingga dikenal oleh banyak orang."
__ADS_1
"Aku terlalu sibuk untuk bermain media sosial." Jawab Gina singkat. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Oh iya, kenapa panti asuhan itu diberi nama Rumah Gina? Kenapa kebetulan sekali namanya sama dengan namaku?"
"Entahlah... mungkin itu karena nama Gina terlihat cantik sehingga panti asuhan itu bernama Rumah Gina." Jelas Surya.
"Kau benar-benar tidak tahu kenapa panti asuhan itu bernama mirip namaku?" Selidik Gina.
"Iya Nona, saya benar-benar tidak tahu dan tidak pernah menanyakannya kepada Bu Wati."
"Wah, ternyata Papa tidak sekeren itu. Bagaimana bisa dia memberiku nama yang sama dengan nama sebuah Panti Asuhan." Gerutu Gina. Surya yang bisa mendengar itu pun tersenyum.
Hari sudah malam. Surya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Musik selalu mengalun setiap ia berkendara. Apalagi saat bersama Gina seperti ini. Ia tahu wanita disampingnya ini tidak menyukainya sehingga tidak akan ada banyak percakapan antara mereka di setiap berkendara. Jadi Surya selalu memainkan musik di audio mobilnya agar suasana tidak terlalu kaku dan ia berharap Gina merasa lebih nyaman selama sedang bersamanya.
"Kruuuuuukkk..." Disela sayup-sayup suara audio dalam mobil Surya menyanyikan lagu Main Hati oleh Andra And The Backbone terdengar nada asing.
"Ini sudah waktunya makan malam, bukan?" Gina menutupi rasa malu karena perutnya bersuara.
"Ada makanan enak di daerah sini."
"Apa itu?"
"Angkringan, Nona."
"Makanan kaki lima?" Gina bergidik. Surya mengangguk.
"Sebenarnya itu tidak benar-benar makanan kaki lima karena tempatnya adalah sebuah warung. Tempatnya juga bersih, Nona."
"Mana ada warung pinggiran yang bersih. Aku tidak mau." Gina masih menolak.
"Warungnya sudah ada di depan, Nona." Surya memelankan mobilnya untuk menepi lalu masuk ke dalam sebuah pelataran parkir yang luas. Di sana ada berbagai macam mobil dan motor terparkir. Terlihat sangat ramai.
"Apakah ini tempat yang kau maksud?" Gina melihat keadaan luar yang ramai kendaraan terparkir. Dan di depan sebuah warung tampak sebuah antrian panjang.
"Kau mau aku mati sebelum mendapatkan asupan makanan?" Gina menoleh ke arah Surya dan memelototinya.
"Tidak Nona." Surya melepas seatbelt lalu turun dari dalam mobil. Gina cemberut dan masih tetap berada di tempat duduknya. Tapi Surya membukakan pintu untuknya.
"Sudah ku katakan aku tidak mau. Kau saja yang makan. Aku akan pergi ke tempat lain. Kau pulanglah dengan taksi."
"Tidak Nona, Anda akan suka makan di sini."
"Hei, lihatlah antriannya. Sepanjang itu." Omel Gina.
"Kita tidak akan mengantri. Saya kenal pemilik angkringan ini."
"Oh ya?" Gina mencibir tak percaya.
__ADS_1
"Iya Nona."
"Awas kalau kau berbohong."
"Saya tidak berani membohongi Anda, Nona."
"Bagus. Ku pegang kata-katamu." Gina akhirnya turun dan mengikuti Surya. Surya tampak menghampiri seorang juru parkir di tempat itu.
"Pak Bambang, apa kabar?" Sapa Surya pada seorang pria bertubuh agak gempal itu.
"Oh, Pak Surya. Saya baik." Pak Bambang menjabat tangan Surya dan menganggukkan wajah menyapa Gina. Gina membalas dengan senyum.
"Sedang ramai sekali, Pak. Jam makan malam. Akan saya sampaikan kepada Pak Jono Anda di sini." Pak Bambang sudah bersiap menuju warung tapi Surya melarang.
"Tidak usah, Pak. Saya akan langsung masuk saja."
"Baik Pak."
Surya dan Gina meninggalkan pelataran parkir dan menuju ke dalam warung, melewati antrian panjang para pembeli. Entah ada berapa orang yang mengantri untuk mendapat tempat meja untuk makan. Warung yang tidak begitu luas itu pun sudah penuh dengan para pengunjung yang menikmati angkringan mereka.
Saat Gina memasuki warung, di bagian meja prasmanan ada berbagai macam lauk yang berjajar menggiurkan. Aneka sate-satean ada di sana. Sate ayam, sate usus, sate telur puyuh, sate ati ampela, sate sosis, sate bakso dan banyak lagi bermacam-macam Gina tidak bisa menjangkau dengan penglihatannya. Ada berbagai macam gorengan juga dan entah apa namanya yang dibungkus dengan daun pisang.
"Pak Surya, kenapa tidak mengatakan akan ke sini." Sapa seorang pria yang Gina tebak dialah Pak Jono pemilik angkringan itu.
"Anda sendirian? Tidak bersama pak Rangga?" Gina akhirnya tahu bahwa Papanya biasa ke sini bersama Surya.
"Tidak Pak."
"Ini istri Anda?" Tebak Pak Jono sambil memandang Gina.
"Iya, Pak." Lalu Pak Jono menyapa Gina sopan.
"Silakan masuk ke dalam saja, Pak. Di sini terlalu antri." Surya hendak mengikuti Pak Jono dan menuju ke arah belakang warung. Tapi Gina yang masih terkesima dengan banyaknya lauk di atas meja prasmanan tidak menyadari ajakan Surya.
"Mari Nona." Ajak Surya untuk yang kedua kali dan akhirnya Gina tersadar lalu meninggalkan tempat itu.
Sebuah halaman belakang yang disana ada sebuah bangku panjang dan sebuah meja. Ada lampu temaram yang tergantung di sebuah tiang di dua sisi halaman. Surya duduk dibangku itu dan diikuti Gina.
"Anak-anak akan membawakan angkringannya ke sini." Ujar Pak Jono.
"Baik Pak." Jawab Surya tidak lupa dengan senyumnya sopan.
Gina melihat ke sekeliling. Halaman kecil ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan. Di sisi kanan adalah pintu belakang warung yang juga menjadi satu dengan dapur warung. Dan di sisi belakang yang bersebelahan dengan dapur sepertinya adalah sebuah kamar-kamar. Entah itu sebuah gudang atau tempat tinggal pegawai. Karena disana ada jemuran baju-baju pria. Gina menebak salah satu kamar itu pasti adalah kamar tempat tinggal. Dan sisi kiri Gina adalah pagar beton yang bersebelahan dengan bangunan tetangga.
"Kruuuuuuukkk..." Perut Gina berulah lagi. Gina menatap Surya lurus. Surya menahan senyum.
"Kenapa mereka lama sekali. Jangan-jangan mereka melupakan kita." Gerutu Gina.
__ADS_1
"Itu mereka." Tunjuk Surya pada pintu belakang warung. Gina mengikuti arah telunjuk Surya. Gina membulatkan mata saat melihat barisan penjaga warung dengan piring-piring yang mereka bawa.