
Malam ini Gina tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dirinya yang dulu telah kembali. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari itu. Hanya saja ia akan butuh waktu untuk memastikan apakah yang dirasakan olehnya adalah nyata atau hanya sesaat saja. Yang jelas ia ingin menikmati apa yang ia rasakan saat ini. Toh menurutnya ini hanya karena pelet yang Surya tiupkan. Jadi Gina akan membiarkan perasaanya mengalir begitu saja.
Gina merasakan perasaannya sangat tenang bersama Surya. Ia tahu itu konyol karena hampir dua bulan yang lalu ia menolak mentah-mentah hingga jungkir balik agar Papanya tidak membuat ia menikahi Surya demi mendapatkan R-Company kembali. Tapi hanya butuh waktu yang relatif sebentar saja untuknya merasa nyaman bersama Surya walaupun saat memikirkan Faris, ia juga masih meraskan perasaan rindu padanya. Cukup membingungkan memang. Hanya saja, Gina mulai berfikir bagaimana jika ia akhirnya harus menjilat ludahnya sendiri. Dia yang dulu memang sama sekali tidak berfikir bahkan hanya sekadar melirik Surya, sekarang Gina malah merasa Surya terlihat istimewa dimatanya.
Aku jatuh cinta lagi... Gina mempererat pelukannya pada pinggang Surya. Surya menjadi gelisah karena ia hampir sesak nafas merasakan pelukan Gina.
Itu adalah jatuh cinta versi terbarunya sejak beberapa tahun terakhir ini, sejak ia menobatkan Faris sebagai cintanya sampai beberapa saat yang lalu.
"Surya, kau tahu apa itu?" Gina berbicara kepada Surya di dalam perjalanan mereka yang masih melintasi jalan terjal.
"Apa Nona?" Surya masih berkonsentrasi dengan jalan di depannya agar mereka tetap seimbang dan tidak terjatuh.
"Ada banyak lampu disana." Celetuk Gina lagi. Surya yang belum memalingkan wajah dari jalanan terjal semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Gina. Surya khawatir apa yang dilihat Gina hanya sebuah halusinasi. Atau mungkin sebenarnya Gina belum sepenuhnya bangun sehingga masih bermimpi melihat banyak lampu ditempat sepi dan gelap seperti ini.
"Mungkin itu adalah aliran listrik yang dipasang para petani untuk mencegah tikus merusak tanaman padi." Jawab Surya asal.
"Apa aliran listriknya bisa memiliki pola secantik itu?"
"Seharusnya sudah tidak ada aliran listrik di sawah untuk membunuh tikus karena itu bisa merusak ekosistem. Kalau tidak salah itu sudah dilarang sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi saya tidak tahu jika masih ada petani yang memasang aliran listrik di sawah." Jelas Surya sama sekali tidak berkaitan dengan pertanyaan Gina.
Akhirnya jalan terjal sudah berhasil mereka lalui. Sekarang berganti jalan mulus menuju rumah Surya yang mereka lewati. Di ujung jalan menuju rumah Surya ada sebuah keramaian. Surya mengerutkan kening dengan apa yang ada di hadapannya. Sejak kapan tempat itu menjadi ramai dan sangat terang.
"Apa ini?" Surya menggumam. Tapi Gina mendengar itu.
"Itulah yang ku maksud tadi." Akhirnya Surya tahu lampu-lampu yang dibicarakan oleh Gina adalah lampu-lampu di sebuah pasar malam yang dilihat Gina saat melewati persawahan. Memang lapangan kampung Surya ada di dekat persawahan sehingga tidak heran Gina bisa melihat lampu-lampu pasar malam itu dari tempatnya tadi.
"Oh, ini adalah pasar malam, Nona."
"Pasar malam? Apa di pasar malam memang ada permainan seperti itu?" Gina menunjuk sebuah wahana bianglala berukuran tidak begitu besar di tengah pasar malam.
"Surya, ayo kita ke sana." Gina mengajak Surya tanpa menunggu jawaban dari pertanyaannya kepada Surya. Ia terlalu penasaran dengan pasar malam yang ia lihat. Ini adalah kali pertama ia melihat sebuah pasar malam.
Surya menghetikan motornya di depan lapangan tempat pasar malam itu diadakan. Gina turun dari atas motor tanpa menunggu Surya menyuruhnya. Gina berjalan masuk ke lapangan berumput. Terasa basah karena hujan yang baru saja reda. Ia ingat saat menuju ke sawah Surya tadi sempat melihat sebuah kerumunan tapi hanya sekilas dan Gina tidak begitu memperhatikan apa itu. Baru akhirnya sekarang ia tahu itu adalah pasar malam yang baru saja disiapkan tadi sore.
"Surya, pria itu sedang apa?" Gina menunjuk pada seorang pria yang mendorong komidi putar hingga bisa berputar.
"Dia mendorongnya. Semua wahana di sini masih manual, Nona. Belum ada yang menggunakan mesin."
"Ya Tuhan, betapa melelahkannya itu." Wajah Gina terlihat iba pada orang-orang yang melakukan hal yang sama juga pada wahana lain. Bianglala, pesawat putar, dan juga bahkan kereta troli untuk anak-anak masih didorong dengan tenaga orang secara manual.
"Begitulah mereka mencari nafkah, Nona."
"Kau tahu, aku merasa sangat beruntung menjadi diriku saat ini." Gina sangat berterus terang.
"Iya Nona, semua orang punya keberuntungan dan kemalangannya sendiri. Kita hanya harus terus menjalani hidup dan mensyukuri setiap yang kita miliki." Ucapan Surya terdengar seperti sebuah nasehat seorang kakak padanya. Gina memandang Surya. Surya terlihat keren saat mengatakan itu.
"Surya, aku mau permen kapas. Belikan aku permen kapas." Gina mengalihkan pandangannya karena takut Surya tahu bahwa Gina kini mulai mengaguminya.
"Baik, Nona." Surya lalu membawa Gina ke tempat penjual permen kapas.
Sebuah permen kapas sekarang sudah ada di tangan Gina. Ia tampak sangat senang.
"Kau tahu, dulu aku dan Roby sering sekali pergi ke taman hiburan. Dia selalu mengajakku naik rollercoaster karena tahu itu wahana yang paling aku sukai. Aku merasa saat menaiki rollercoaster semua bebanku menjadi ringan. Aku bisa melepaskan semuanya dalam teriakanku. Sangat melegakan." Gina menggigit permen kapasnya lagi.
__ADS_1
"Dia adalah orang yang paling baik yang pernah aku kenal." Sejenak wajah Gina meredup membicarakan kakaknya yang telah meninggal itu. Surya memang tidak mengenal Roby. Ia hanya membawa Roby ke rumah sakit saat menemukannya menjadi korban kecelakaan. Tapi melihat bagaimana Gina merasa sangat kehilangan saat Roby meninggal, ia tahu sedekat dan sebaik apa Roby sebagai kakaknya.
"Nona, mau adu tembak denganku?" Surya mencoba menghibur Gina agar tidak larut dalam kesedihan mengenang kakak satu-satunya.
"Adu tembak?" Gina tidak mengerti maksud Surya. Tapi ia akhirnya mengekori Surya untuk menuju sebuah kios.
"Wah, kau yakin mau menantangku?" Gina sudah ada di kios tembak. Sebuah kios dengan deretan kaleng dan sebuah senapan berisi peluru dari bola.
"Mas, apa hadiah terbesarnya?" Tanya Surya pada penjaga kios.
"Boneka taddy bear itu, Mas."
"Bagaimana aku bisa mendapatkannya?"
"Mas harus menembak jatuh semua kaleng itu." Penjaga kios menunjuk kaleng-kaleng yang berjumlah 10 buah di ujung sana.
"Baiklah, aku mau taddy bear itu, Mas."
"Silakan tembak dulu." Surya menerima senapan dari penjaga kios dan mulai membidik.
"Dor!!!" Satu buah kaleng jatuh setelah Surya menembaknya. Surya memandang Gina dengan bangga. Gina mengacungkan jempol padanya.
Lalu Surya membidik lagi. Dua kaleng, tiga kaleng, empat kaleng, tapi sayang di kaleng ke lima Surya meleset. Itu membuat Gina tertawa.
"Kau gagal." Gina mencibirnya.
"Berikan padaku." Gina meminta senapan yang dipegang Surya.
"Silakan Nona." Surya melambaikan tangan mempersilakan. Gina menarik nafas dalam-dalam sambil mengangkat senapannya. Lalu ia mulai membidik. Satu tembakan berhasil menjatuhkan sebuah kaleng. Beberapa detik kemudian kaleng kedua jatuh disusul kaleng ketiga, keempat, kelima hingga kaleng kesepuluh. Semua jatuh hanya dalam waktu kurang dari 1 menit.
Setelah menyapu bersih semua kaleng, Gina berbalik badan sambil meniup senapan layaknya jagoan di film-film. Surya yang melihat itu terlihat kagum sambil bertepuk tangan mendekati Gina. Sedangkan penjaga kios masih terperanjat melihat bagaimana Gina sangat cekatan menembak semua kaleng itu dalam waktu yang singkat.
"Anda memang juaranya." Puji Surya.
"Ini bukan apa-apa. Seorang gamers sejati sepertiku sudah biasa melakukan hal ini." Gina sok cuek dan berjalan menghampiri penjaga kios. Surya menggelengkan kepala sambil masih tersenyum melihat tingkah Gina. Padahal selain jago dalam permainan tembak di wahana bermain, sebenarnya Gina jug sering berlatih menembak di arena tembak. Meskipun tidak memiliki senjata api apapun tapi ada kepuasan tersendiri ketika Gina berhasil membidik sasaran dengan tepat. Jadi, bukan hal sulit untuk Gina menjatuhkan semua kaleng dengan jarak yang hanya beberapa meter saja.
"Mana hadiahku?" Gina meminta pada penjaga kios.
"Ini Mbak." Penjaga kios tembak itu memberikan taddy bear berwarna coklat dengan ukuran sangat besar kepada Gina.
"Karena aku melakukannya dengan sangat cepat, seharusnya kau memberiku bonus."
"Iya, Mbak?" Penjaga kios tembak itu bingung dengan ucapan Gina.
"Berikan aku gantungan kunci itu." Gina menunjuk sebuah gantungan kunci yang terbuat dari kayu berbentuk hati.
"Oh iya, Mbak. Silakan." Penjaga kios tembak memberikan kepada Gina.
"Terima kasih, Mas."
"Mbak ini sebenarnya polwan ya?"
"Bukan, aku *******." Jawab Gina asal. Penjaga kios tembak tertawa. Sayup-sayup Gina masih sempat mendengar komentar penjaga kios saat ia menjauhi kios tembak.
__ADS_1
"Mana ada ******* secantik itu. Ada-ada saja mbaknya." Begitu komentarnya. Gina tidak peduli. Ia sudah sering dipuji cantik dan itu bukan hal yang aneh bagi Gina.
Surya dan Gina berjalan berkeliling melihat wahana-wahana yang ada di pasar malam itu.
"Surya, sebenarnya aku ingin naik bianglala itu. Tapi kenapa keranjangnya kecil sekali. Aku yakin itu tidak akan muat untukku."
"Itu hanya untuk anak-anak, Nona." Jawab Surya.
"Aku juga ingin naik komidi putar, tapi melihat pria itu dari tadi mendorong aku jadi tidak tega menaikinya."
"Kalau begitu jangan, Nona."
"Padahal aku ingin menaiki semuanya tapi kenapa semua wahana itu dimainkan secara manual. Itu membuatku merasa sadar diri aku terlalu dewasa untuk didorong seperti itu."
"Nanti kita pergi ke taman hiburan, Nona." Ujar Surya. Gina memandang Surya dengan mengalihkan taddy bearnya.
"Kemana?"
"Disneyland Tokyo, Disneyland Hongkong, Disneyland Shanghai, Disneyland Paris, Disneyland Florida atau Disneyland California?"
"Wah, kau mau mengajakku jalan-jalan ke luar negeri?"
"Iya, Nona. Anda mau ke Disneyland yang ada di mana?" Surya berjalan disamping Gina.
"Atau Anda mau ke semua Disneyland itu?"
"Kau keren sekali berani mengajakku berkeliling dunia. Memangnya kau sekaya itu?"
"Saya adalah tuan tanah di kampung ini. Saya juga seorang presdir sebuah pabrik besar di negara ini. Itu hal yang mudah untuk saya."
"Hahh, aku benar-benar hampir pingsan mendengar ucapanmu. Itu sangat mengerikan." Gina memandang Surya tidak percaya jika kali ini Surya menyombong lagi. Surya terbahak.
"Semakin hari sifat sombongmu semakin parah saja." Gina menggelengkan kepalanya heran.
"Saya harus menjadi sombong untuk bisa sepadan dengan seseorang, Nona."
"Siapa?" Tanya Gina heran sambil menggendong teddy bearnya dengan sayang.
"Anda." Jawab Surya. Gina menghentikan langkah dan memandang Surya lagi.
"Aku?"
"Ya, Anda adalah wanita dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Jadi saya harus terus menyombong di depan Anda agar kita bisa terlihat serasi."
"Jadi menurutmu aku begitu?" Surya mengangguk.
"Terima kasih atas pujianmu. Mari kita terus seperti itu. Kedengarannya bagus. Si percaya diri dan di sombong." Gina tertawa sendiri setelahnya. Surya tersenyum saja.
"Surya..." Panggilan seseorang yang sudah ada di depan mereka berdua. Gina dan Surya menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
Gadis berambut panjang dengan baju terusan warna biru muda sepanjang betis. Sangat anggun dipakai olehnya. Gadis itu tersenyum ke arah Surya. Seketika Gina menjadi gerah melihat itu padahal udara sedang dingin.
"Hai Dinda..." Sapa Surya kembali. Lagi-lagi Gina melihat mata Surya berbinar memandang Dinda, cinta pertamanya. Jatuh cintanya yang hanya sekali saja itu.
__ADS_1