
Surya berjalan menjauhi pintu masuk R-Store untuk menghindari serbuan para pengunjung yang pasti berebut ingin masuk. Dan benar, para pengunjung segera memadati pintu masuk begitu pintu utama R-Store dibuka. Surya merasa ada yang aneh. Akhirnya ia menyadari bahwa Gina tidak ada di dekatnya. Ia mulai celingukan mencari dimana Gina 'menyelamatkan diri'. Dari warna kemeja Gina yang mencolok, akhirnya Surya bisa menemukan keberadaannya. Gina tampak bersusah payah menghadapi serbuan para pengunjung. Lalu tanpa pikir panjang, Surya berjalan menerobos serbuan pengunjung dan menghampiri Gina. Surya menarik pundak Gina dan membuat tubuhnya berbalik untuk jatuh ke dalam dekapannya. Ia berusaha sekuat tenaga melawan arus para pengunjung agar tubuhnya tetap bisa menjaga mereka tetap seimbang.
Akhirnya para pengunjung telah memasuki R-Store. Tapi Surya merasa Gina belum ingin melepas pelukannya. Surya menjadi gelisah karena jantungnya berdebar sangat keras sejak tadi. Ia sangat khawatir dengan posisi itu Gina bisa mendengarkan suara nyaring detak jantungnya. Tapi melihat bagaimana Gina sangat nyaman memeluknya, itu membuat Surya ingin berlama-lama berada pada situsi itu. Surya tersenyum. Wajahnya menghangat. Ia yakin sekarang wajahnya pasti memerah merasakan pelukan Gina yang belum ingin lepas sama sekali. Sampai akhirnya Surya merasa perasaannya sudah kembali mereda. Ia juga merasakan wajahnya sudah tidak sehangat tadi. Barulah ia mulai menyadarkan Gina bahwa kerumunan para pengunjung sudah tidak ada.
Gina yang mendengar penjelasan Surya lalu mendongak memandangnya. Mata dengan bulu mata lentik secantik bidadari itu mengerjap-ngerjap lucu dengan wajah merona. Surya tahu Gina tersipu karena ulahnya sendiri seperti itu.
"Mari kita masuk Nona." Ajak Surya.
"Masuklah dulu, aku masih merasa gerah. Aku butuh udara segar." Gina mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Wajahnya masih memerah. Sangat menggemaskan.
"Baiklah, Nona. Saya masuk dulu."
"Iya... iya... masuklah."
Surya pun memasuki R-Store. Senyumnya seperti tidak ingin lepas dari bibirnya. Ada perasaan yang sukar untuk dijelaskan tapi sekuat tenaga berusaha ia tahan. Walaupun sesekali ia seperti lepas kendali dan membiarkan perasaan mengontrol tindakannya, tapi Surya berusaha untuk terlihat sebiasa mungkin. Tidak ingin Gina berfikiran yang bukan-bukan jika ia memperlihatkan apa yang sebenarnya ia rasakan.
🌸🌸🌸
"Ta... Kau pesan apa?" Gina dan Lita sudah ada di kafe biasa mereka dulu makan bersama saat masih menjadi pegawai Font. Gina memegang buku menu. Lita juga memegang buku menu yang lainnya.
"Ahh, aku sedang ingin yang rasanya lembut-lembut. Sepertinya ayam bakar keju sedang dibutuhkan oleh lidahku." Ujar Lita kepada pelayan yang sedang berdiri disampingnya. Gina juga sudah memesan makan siangnya. Ayam katsu.
"Makan di sini jadi rindu saat kalian semua masih ada di Font."
"Pindahlah ke R-Company. Kita bisa selalu makan siang bersama."
"Tidak mungkin. Apa jadinya Font jika tanpa aku."
"Alah... kau ini sok penting. Kalau kau keluar dari Font, Faris bisa memilih pegawai baru. Banyak yang mengantri ingin ada di sana." Lita lalu tertawa.
"Ngomong-ngomong, melihat kalian menikah aku jadi iri."
"Siapa?" Tanya Gina karena tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Lita.
"Kau dan Sunday." Gina mengerutkan kening.
"Lihatlah wajah kalian setelah menikah. Terlihat bahagia dan bercahaya."
"Hei, jangan salah. Aku menghabiskan banyak uang untuk terlihat bercahaya seperti ini."
"Bukan bercahaya yang seperti itu. Tapi wajahmu tampak berseri dan energi bahagiamu benar-benar terasa. Apa memang semembahagiakan itu menikah?"
"Kalau kau iri kenapa tidak menikah saja?"
"Itulah, aku harus menikah dengan siapa? Pacarku yang kurang ajar sudah kau habisi waktu itu. Dan sekarang aku tidak punya lagi sandaran hati yang bisa ku ajak menikah." Lita memasang wajah sedih.
"Lebih baik tidak berpacaran daripada mendapatkan pria seperti dia." Gumam Gina.
"Ahh, yang paling beruntung tetaplah Sunday. Dia bisa bersama Faris."
"Kau ini masih belum sembuh juga." Lita mencibirnya.
"Padahal sudah memiliki suami tampan tapi kau masih saja mengharapkan suami orang."
"Tampan? Menurutmu Surya tampan?"
"Hei, tampan itu bermacam-macam bentuknya."
"Bentuk?" Gina tertawa kecil mendengar istilah yang Lita pakai.
"Kau tahu, Tom Cruise dengan wajah kebuleannya sama-sama tampan dibandingkan dengan Song Jong Ki yang oriental."
"Jadi maksudmu, Surya tampan dari sudut pandang yang berbeda?" Lita mengangguk.
__ADS_1
"Lihatlah badannya yang tegap, wajahnya yang tegas, dan kulitnya yang indah itu. Aku suka pria-pria berkulit sawo matang. Sangat menggemaskan." Puji Lita dengan wajah sumringah. Melihat itu tiba-tiba Gina ingin sekali memukul kepala Lita.
"Kau tahu, setiap melihat tatapan mata Pak Surya rasanya aku meleleh." Mata Lita berbinar saat mengatakan itu.
"Hei, kau menuduhku mengharapkan suami orang tapi apa yang kau lakukan ini? Kau bahkan memuji-muji suami orang didepan istrinya."
"Kenapa memangnya? Bukankah kau menyukai Pak Faris, jadi aku rasa aku bisa memuji dia sesukaku. Bukankah kau tidak akan cemburu kalau aku melakukan itu?"
"Lanjutan kata-katamu. Aku pastikan aku akan memukul kepalamu setelah ini." Lita terbahak mendengar ancaman Gina.
"Kau bisa cemburu juga rupanya."
"Siapa yang cemburu. Aku hanya tidak suka ada orang yang mengusik milikku."
"Milikmu?"
"Paling tidak kami menjalani pernikahan yang sah. Jadi, harga diriku sangat terluka kalau kau membicarakan pasangan menikahku secara langsung seperti itu."
"Ahh, kau benar-benar cemburu." Goda Lita.
"Sudah ku katakan aku tidak cemburu." Gina mendengus kesal. Lita masih tersenyum lucu melihat sahabatnya yang berusaha menutupi rasa cemburunya seperti itu. Ternyata Gina bukanlah orang yang pandai menyembunyikan rasa cemburu dan Lita jadi tahu satu kekurangan Gina diantara segala kemampuan yang ia miliki. Akhirnya perdebatan mereka harus berakhir karena makanan yang mereka pesan sudah datang.
🌸🌸🌸
"Terima kasih, Lita. Kau mau mampir ke tempat kerjaku?" Gina melepas seatbelt-nya.
"Tidak, lain kali saja. Aku harus segera kembali ke Font."
"Aku iri sekali padamu yang sekarang memiliki mobil. Sedangkan aku malah kehilangan mobilku."
"Lama tidak bertemu, setelah bertemu kita jadi banyak merasa iri antara satu sama lain." Lita tertawa, Gina juga karena menyadari sejak tadi mereka hanya mengatakan saling iri pada keadaan mereka masing-masinh.
"Aku yang iri kepadamu. Kau punya suami yang akan menemanimu pergi kemanapun. Ahh, alangkah romantisnya bisa bersama suami kemanapun pergi." Ucap Lita yang membuat Gina berfikir ulang tentang apa yang ada di kepalanya selama ini.
"Oke." Lita menyunggingkan senyum sebelum membawa mobilnya melaju lagi.
Gina memasuki lobi R-Company. Ia ingat oleh-olehnya untuk Hanna masih tertinggal di dalam mobil Surya sehingga Gina harus mengambilnya. Ia membatalkan niat untuk menuju ruangannya dan mengubah langkah menuju ruangan Surya. Ia harus meminjam kunci mobil Surya untuk mengambil barang-barang yang ia bawa dari rumah tadi.
Sambil berjalan ke ruangan Surya, Gina memikirkan apa yang dikatakan oleh Lita. Memiliki suami bagi Lita menyenangkan. Tidak memiliki mobil bisa membuat seorang istri lebih sering dimanjakan oleh suami. Seperti dirinya yang selalu diantar oleh Surya kemanapun saat ia pergi. Sebenarnya itu memang menyenangkan. Gina jadi tidak perlu berlelah menyetir. Ia hanya duduk diam dan menikmati perjalanan. Itu seolah Gina memiliki sopir pribadi.
Sekarang Gina sudah sampai di depan pintu ruangan Surya dan mengetuk pintunya. Ia mendengar Surya menjawab dan mempersilakan untuk masuk. Gina segera membuka pintu. Tapi ternyata Surya sedang tidak sendirian didalam ruangannya.
"Hanna... kau di sini?"
"Iya Nona, saya harus memberikan berkas kepada Pak Surya." Hanna berdiri dari duduknya di sofa ruangan Surya.
"Berkas apa?"
"Berkas yang harus Pak Surya periksa selama Nona dan Pak Surya pulang ke kampung kemarin."
"Oh... kenapa kau repot memberikannya kepada Surya. Kau sudah mengerjakannya, kenapa menyerahkan juga. Seharusnya biar aku saja yang melakukan itu."
"Maafkan saya, Nona. Tapi tidak apa biar saya yang menyampaikannya kepada Pak Surya." Hanna tersenyum kepada Gina.
"Baiklah, terima kasih, Hanna. Kau memang yang terbaik." Gina senang sekali memiliki asisten pribadi seperti Hanna. Hanna memang sangat bisa diandalkan.
"Surya, boleh aku pinjam kunci mobilmu?" Sekarang Gina mengalihkan pandangan kepada Surya yang masih duduk di sofa ruangannya.
"Untuk apa, Nona?" Tanya Surya. Gina tidak langsung menjawab.
"Oh iya Hanna, tunggulah aku di ruanganku." Perintah Gina. Hanna mengangguk dan berpamitan untuk keluar dari ruangan itu.
Gina harus membuat Hanna keluar agar ia bisa menyampaikan kepada Surya alasannya meminjam kunci mobil.
__ADS_1
"Aku harus mengambil oleh-olehku untuk Hanna." Gina kembali memandang Surya.
"Oh, itu sudah saya bawa ke sini, Nona."
"Benarkah?" Tanya Gina tidak percaya Surya melakukan hal yang bahkan tidak Gina minta.
Surya berjalan ke sudut ruangan dan mengambil beberapa paperbag berisi bawaan Gina yaitu oleh-oleh untuk Hanna. Cabe rawit dari kebun Surya dan camilan-camilan khas daerah Surya.
"Kenapa kau membawanya ke sini?" Tanya Gina pada Surya yang menyodorkan paperbag itu.
"Bukankah Anda akan memberikannya kepada Hanna?"
"Iya, tapi aku tidak memintamu untuk membawa ini ke sini."
"Saya membawanya ke sini karena pasti Anda akan mengambilnya kalau saya tidak membawanya. Itu akan membuat Anda kerepotan. Apalagi dengan tas sebanyak ini."
"Ahh, iya. Terima kasih." Gina tersenyum memandang Surya sambil menerima paperbag-paperbag itu dari tangannya.
Gina semakin takjub dengan sikap Surya yang sangat pengertian. Surya sangat tanggap dalam banyak hal. Mungkin inilah salah satu darinya yang membuat Papanya sangat senang dengan Surya. Sikapnya yang cekatan dan cepat tanggap membuat orang di sekitarnya merasa dimudahkan. Tiba-tiba pintu terbuka saat mereka masih saling pandang.
"Oh maaf, saya lupa mengetuk pintu." Hanna muncul dari balik pintu.
"Hanna, kenapa kau kembali lagi?" Tanya Gina.
"Bolpoin saya tertinggal, Nona. Maaf, saya harus mengambilnya." Pandangan Hanna lalu tertuju pada meja dimana tadi Hanna duduk. Gina dan Surya juga ikut menoleh ke arah Hanna berjalan.
"Ini dia bolpoin saya." Hanna mengacungkan bolpoinnya sambil tersenyum.
"Kau ini tidak seru sekali." Gina tiba-tiba memasang wajah merajuk.
"Maaf, Nona?" Hanna jadi merasa tidak enak karena telah mengganggu waktu berdua kedua bosnya.
"Aku bermaksud memberimu kejutan dengan oleh-oleh yang ku janjikan. Tapi kau malah kembali lagi ke sini. Itu jadi tidak seru." Gina mengangkat dua paperbag yang ada di tangannya.
"Oh, maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu." Hanna tertawa kecil.
"Baiklah, saya akan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Saya akan kembali ke ruangan Anda sekarang."
"Tidak. Karena kau sudah terlanjur melihat paperbag ini semua rencanaku jadi tidak seru lagi. Jadi mari kita pergi bersama." Gina sekarang menggandeng lengan Hanna dan mengajaknya berjalan mendekati pintu. Tapi saat akan menutup pintu kembali, Gina membatalkannya.
"Oh iya Surya, sekali lagi terima kasih." Gina mengulas senyumnya semanis mungkin. Surya mengangguk dan membalas senyum Gina. Setelah itu pintu benar-benar tertutup lagi. Surya kembali ke kursi dibalik meja kerjanya.
"Hanna... maafkan aku sudah membuatmu bekerja sangat keras saat aku tidak ada di sini." Gina masih menggandeng Hanna.
"Pekerjaanmu jadi bertambah banyak."
"Tidak apa-apa, Nona. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai asisten Anda."
"Terima kasih." Sambil menyodorkan paperbag-paperbag ditangannya.
"Seharusnya Anda tidak perlu repot begini." Gina menerima paperbag sambil tersenyum senang.
"Itu tidak sebanding dengan pekerjaan yang kau kerjakan."
"Ahh, tidak Nona. Ini sangat banyak. Terima kasih, Nona."
"Makanlah bersama Bayu. Undanglah dia ke rumahmu atau bawalah saat berkencan. Cabe rawitnya sangat pedas. Itu bisa menjadi teman baik memakan gorengan. Permen jahenya sangat enak. Benar-benar bisa membuat badanmu hangat dan membuat tenggorokanmu nyaman. Untuk permen asamnya entahlah. Aku tidak mencicipinya. Aku tidak suka yang masam-masam. Tapi kata Surya permen asamnya bisa menunda kantuk." Setelah mengatakan itu Gina tertawa kecil.
"Setauku permen yang bisa membuat melek adalah permen kopi. Tapi kata Surya permen asam juga bisa."
"Memang benar Nona, rasanya yang asam akan membuat kita segar sehingga kita tidak akan mengantuk saat memakannya."
"Iya kau benar. Jangan sampai kau tidur sambil makan permen asam. Bisa-bisa kau tersedak." Gina lalu tertawa setelah mengatakan itu. Hanna juga ikut tertawa mendengar kelakar Gina. Mereka berjalan menuju ruangan Gina dengan mengobrol. Sepertinya lebih dari satu minggu tidak bertemu membuat mereka ingin mengobrol tentang banyak hal sehingga banyak sekali yang mereka bicarakan.
__ADS_1