Tahta Surya

Tahta Surya
Terluka


__ADS_3

"Berhenti. Surya, berhenti." Perintah Gina. Seketika Surya menginjak rem.


"Ada apa, Nona? Ada yang tertinggal?"


"Mundur." Perintah Gina lagi dan membuat Surya mengerutkan kening. Meskipun heran dengan apa yang terjadi, tapi Surya menurut juga pada apa yang Gina perintahkan.


"Berhenti." Aba-aba Gina lagi.


"Apa yang terjadi, Nona?" Surya memandang Gina serius kali ini karena tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh Gina.


Tapi Gina tidak menghiraukan Surya dan turun dari mobilnya begitu saja lalu berjalan ke arah belakang mobil. Pandangan Surya mengikuti ke mana arah Gina pergi. Setelah itu Surya tahu apa yang terjadi. Gina menghampiri segerombolan orang di tempat tidak jauh dari mobilnya berhenti.


"Maaf, ada apa ini?" Gina menghampiri gerombolan yang terdiri dari tiga orang pria dengan seorang gadis itu.


Ketiga pria itu sudah siap untuk 'menyambut' Gina sejak mengetahui mobil yang dinaiki Gina berhenti tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Tidak ada apa-apa, Nona." Salah seorang pria berbicara santai padanya.


"Apa Nona mengenal salah satu dari mereka?" Surya sudah sampai di samping Gina sekarang.


"Tidak." Jawab Gina dengan suara berbisik. Surya menangkap sesuatu yang tidak baik dengan gelagat Gina.


"Kalau begitu, biarkan aku berbicara dengan gadis itu." Ujar Gina kemudian. Ia melihat gadis dengan wajah pucat karena takut itu seperti mengirim isyarat pertolongan padanya. Sebuah motor masih terparkir di samping gadis itu.


"Kenapa kau ingin bicara dengannya? Kau mengenalnya? Atau hanya pura-pura mengenalnya?" Preman itu sepertinya tahu apa yang akan Gina lakukan.


"Tidak, aku tidak mengenalnya. Tapi ku rasa tidak baik seorang gadis bersama tiga pria di jalan sepi dan gelap seperti ini. Biarkan aku membawanya. Aku akan berpura-pura tidak melihat hal ini."


"Bawalah, dia." Pria yang sedari tadi berbicara kepada Gina menarik lengan gadis itu kasar untuk dekat dengannya.


"Juga motor itu." Tambah Surya.


"Motor? Kenapa aku harus menyerahkan motor milikku?"


"Kenapa motor milikmu kuncinya ada pada gadis itu?" Jawab Surya seolah mengatakan bahwa ia tahu preman itu menginginkan motor gadis itu.


"Sialan." Umpat pria itu. Ia sudah mulai menunjukkan sikap kasar karena merasa terganggu oleh kedatangan Gina dan Surya.


"Kalian pergilah dari sini. Jangan ikut campur urusan kami."


"Kami tidak akan pergi tanpa gadis itu." Ujar Surya.


"Kalian pasti sedang mencari kesialan malam ini. Aku sudah memperingatkan untuk pergi tapi kalian menolak. Baiklah, kalau ini mau kalian." Pria itu memberi kode pada anak buahnya yang menjaga gadis itu untuk mendekat. Salah satu anak buah preman itu mendekati bosnya. Dan hanya dengan satu pandangan saja anak buahnya sudah tahu harus melakukan apa. Mereka secara satu per satu mulai menyerang Gina dan Surya.

__ADS_1


Gina yang sudah siap sejak tadi pada serangan pria preman dengan senang hati meladeninya. Surya juga tampak mulai mengimbangi serangan anak buah si preman. Meskipun tidak jago bela diri, tapi Surya cukup lumayan saat berkelahi. Sayangnya entah karena lengah atau karena kurang terbiasa dengan perkelahian, Surya sempat mendapat pukulan tepat diwajahnya. Melihat hal itu Gina sempat khawatir. Tapi Gina juga masih harus meladeni pria preman sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya dan masih terus melawan berbagai pukulan si preman.


Sementara itu lawan Surya kini mengeluarkan sebuah pisau dan mencoba melukai Surya dengan senjatanya. Surya mengatasi itu meski dengan sedikit kuwalahan. Itu dimanfaatkan oleh lawannya untuk membuat Surya semakin kerepotan. Dan akhirnya sebuah sabetan pisau melukai bahu Surya. Gina yang melihat itu jadi panik. Tapi ia masih belum bisa membantu Surya karena masih harus meladeni lawannya.


Sampai pada saat yang tepat Gina berhasil melakukan tendangan tepat pada ulu hati preman itu. Preman itu kesakitan dan kesempatan itu Gina gunakan untuk membuat lawannya jatuh tersungkur kesakitan setelah pukulan bertubi-tubi ia layangkan padanya. Setelah lawannya benar-benar tak berdaya, Gina berlari menghampiri Surya yang masih berusaha membela diri dan bertahan dari serangan preman bersenjata itu.


Gina segera memberinya tendangan di punggung yang membuat preman itu terjungkal. Pisau ditangannya pun jatuh. Gina segera menindih preman yang terjatuh itu dengan lututnya dan menarik tangannya ke belakang. Preman itu kesakitan.


Satu preman yang menjaga gadis itu tidak tinggal diam dan mulai melakukan penyerangan pada Gina. Kesempatan itu digunakan oleh Surya untuk mengkomando gadis itu agar pergi dengan motornya. Gadis itu segera bergegas pergi dengan membawa motornya secepat mungkin meninggalkan tempat itu.


Sebelum preman terakhir menyakiti, Gina berbalik dan segera menangkis pukulannya. Lalu secepat kilat Gina memukul wajah si preman sehingga hidungnya berdarah dan ia merasakan kepalanya berputar-putar. Lalu setelah itu preman itu terjatuh. Pingsan, menyusul dua temannya yang tidak berdaya dan terkapal di jalan beraspal.


"Jangan mengotori keamanan kota ini dengan tindakan kalian." Ujar Gina dengan nafas yang masih terengah pada bos preman yang ada di bawahnya sedang kesakitan karena tendangan Gina tepat mengenai ulu hatinya.


Surya lalu memegang lengannya untuk membawa Gina pergi dari situ.


"Mari kita pulang, Nona." Ajak Surya dan mengalihkan perhatian Gina.


"Kemarikan tanganmu." Ganti Gina yang menarik tangan kanan Surya. Melihat luka yang preman itu berikan tadi.


"Ya Tuhan, ini lebar sekali." Mata Gina sampai membulat melihat sebesar apa luka yang Surya terima.


"Tidak apa-apa, Nona. Ini hanya luka kecil."


"Luka kecil apa? Sebesar ini kau bilang kecil." Mata Gina berkaca-kaca memandang Surya dan seolah ia bisa merasakan bagaimana sakitnya luka itu.


Surya akhirnya menurut. Karena mengingat Gina yang keras kepala, dia pasti akan tetap memaksanya. Dan juga luka yang ada di bahunya memang lumayan lebar, itu membuat Surya merasakan sakit sehingga pergi ke rumah sakit paling tidak akan mendapat pertolongan secar tepat.


Sesampai di mobil, Gina mengambil syal yang ada di tasnya lalu membalut sementara luka Surya yang terbuka dan mengeluarkan banyak darah itu. Gina membalut luka Surya dengan perlahan agar ia tidak bertambah merasakan sakit. Surya membiarkan lengannya dibalut oleh Gina dan pasrah saja. Ia melihat Gina mengusap air matanya. Surya tahu Gina sedang menyembunyikan tangis darinya.


"Nona..."


"Hmm..."


"Saya tidak apa-apa. Anda jangan menangis."


"Siapa yang sedang menangisimu. Aku adalah seorang hematofobia. Jadi melihat darah membuatku takut sampai aku menangis." Jawab Gina tanpa memandang Surya. Surya tahu Gina berbohong. Surya lalu menyunggingkan senyum melihat wajah Gina yang memerah dengan hidung serupa tomat saat menangis seperti itu.


Perlahan Gina mulai melajukan mobil Surya. Surya sekarang hanya bisa menurut apapun yang dilakukan oleh Gina. Gina sedang sedih, jadi jika membangkang, maka ia akan menjadi marah. Saat Gina marah, Surya pasti aka lebih repot.


Saat tiba di sebuah rumah sakit terdekat Gina melihat Surya menyandarkan tubuhnya di jok mobilnya. Wajahnya pucat. Ia pasti menahan rasa sakit selama ini.


"Jangan turun dulu, aku akan membantumu." Surya menurut lagi. Gina bergegas turun dan menghampirinya.

__ADS_1


Gina membantu Surya untuk keluar dari mobil. Dengan perlahan Gina menggenggam tangan Surya agar ia bisa berjalan dengan tegak. Rasa sakit yang Surya rasakan membuat dahinya berkeringat karena selama ini menahannya.


Saat memasuki ruang IGD petugas kesehatan langsung menyongsong Gina dan Surya untuk segera mendapat pelayanan. Gina mengusap peluhnya dan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya hingga lega. Ia menunggu di kursi tunggu di luar ruang IGD sementara Surya mendapat pengobatan.


Tiba-tiba saja air matanya meleleh lagi. Mengingat bagaiamana Surya mendapat sabetan pisau itu Gina sempat menyesal kenapa harus berhenti untuk menyelamatkan gadis itu. Tapi kemudian ia merasa tindakannya sudah benar karena kalau bukan dirinya, belum tentu ada orang yang akan menyelamatkan gadis malang itu dari preman-preman di tempat sepi dan gelap seperti itu.


Gina tahu bahwa gadis itu dalam bahaya adalah ketika melihat salah seorang preman menodongkan pisau saat Gina melintasi mereka. Tapi saat mendekat, preman itu menyembunyikan kembali pisaunya untuk mengelabuhinya dan berharap Gina meninggalkan mereka sehingga mereka bisa melancarkan aksi merampas motor gadis itu. Tapi, itu tidak diketahui oleh Surya dan dengan kemapuan bela dirinya yang pas-pasan, ia menjadi kuwalahan menghadapi preman bersenjata itu.


Seorang perawat keluar dari ruang IGD dan menghampiri Gina.


"Sudah selesai, Nona. Anda boleh masuk." Gina segera bergegas dan memasuki ruang IGD dimana Surya mendapat perawatan.


"Bagaimana keadaanmu?" Gina mendekati salah satu tempat tidur pasien yang tertutup tirai penyekat yang memisahkan dengan ranjang pasien yang lain.


"Aku baik-baik saja, Nona." Surya memandang Gina seraya tersenyum seperti biasanya.


"Maafkan aku, Surya. Ini semua adalah salahku." Surya mengerutkan kening mendengar permintaan maaf dari Gina.


"Kalau aku tidak meminta berhenti, pasti kau tidak akan terluka." Gina memandang Surya degan air mata yang sudah mengalir diwajahnya. Surya jadi panik melihat Gina menangis begitu.


"Tidak Nona, apa yang Anda lakukan sudah benar. Kalau bukan kita yang menolong gadis itu, pastilah motornya sudah dirampas oleh preman itu sekarang. Dan juga kita tidak tahu bakal bagaimana nasib gadis itu setelahnya."


"Tapi sekarang kau jadi terluka." Gina terisak. Surya lalu menarik tangan Gina untuk mendekat padanya yang duduk ditepi tempat tidur. Surya mengusap air mata Gina dan memandangnya lekat. Ada rasa sesal yang dalam dari wajah Gina.


"Ini bukan apa-apa dibanding dengan keberanian Anda melawan preman itu. Hanya saja saya memang tidak pandai berkelahi jadinya terluka sedikit seperti ini." Surya berusaha menghibur Gina agar ia tidak terus menyalahkan dirinya sendiri dan merasa bahwa dirinya adalah penyebab Surya terluka.


Gina masih menundukkan pandangannya merasakan air mata yang jatuh tidak terbendung.


"Nona, lihatlah. Aku tidak apa-apa. Aku masih bisa duduk, aku juga bisa berjalan bahkan berlari. Aku baik-baik saja, Nona."


"Berhentilah mengatakan kau baik-baik saja. Aku tahu lukamu sangat dalam. Entah berapa jahitan yang dilakukan dokter padamu jadi jangan menyembunyikan rasa sakitmu dariku."


"Ini memang tidak begitu sakit, Nona. Selain karena efek obat bius yang masih ada, kulitku juga setebal kulit buaya jadi ini tidak begitu sakit." Lalu Surya terkekeh setelah mengatakan itu.


"Itu sama sekali tidak lucu." Gumam Gina yang sekarang kedua tangannya berada dalam genggaman kedua tangan Surya. Surya tersenyum melihat Gina sudah berhenti menangis sekarang. Ia yakin sudah berhasil membuat Gina sedikit tenang.


"Terima kasih sudah menolong saya tadi, Nona. Anda benar-benar melindungi saya. Kalau Anda tidak segera menghabisi preman bersenjata itu, mungkin sekarang saya sudah menjadi daging cincang yang siap masuk ke dalam kuah rawon."


"Kuah rawon? Apa itu?" Gina merasa asing dengan jenis makanan yang dia dengar kali ini.


"Lain kali akan saya tunjukkan kepada Anda, Nona." Mereka masih berbincang dan belum ingin pergi dari situ.


"Sebenarnya itulah kenapa saya merasa nyaman setiap pergi dengan Anda. Anda jago bela diri dan tidak takut pada apapun juga siapapun. Keberanian Anda menghadapi orang-orang yang tidak baik membuat saya merasa aman, Nona. Itu membuat saya merasa memiliki body guard yang mendampingi saya." Surya lalu terkekeh.

__ADS_1


"Apa? Body guard? Kau menganggapku body guard?" Gina tampak marah.


"Tidak, tidak ada body guard secantik Anda, Nona." Mendengar Surya mengatakan dirinya cantik membuat pipi Gina menghangat. Ia yakin sekarang wajahnya pasti sedang merona.


__ADS_2