Tahta Surya

Tahta Surya
Ceramah


__ADS_3

Gina memegang setir sambil memperhatikan jalanan di depannya. Mobil mewahnya melaju sedang di jalan raya malam ini. Ia sedang menuju ke restoran mewah yang telah di tentukan sebagai tempat pertemuan perserikatan para pengusaha di kota ini. Sebuah acara yang di gelar sebulan sekali ini memang selalu ia ikuti. Dan karena acara selalu diadakan di akhir pekan, sehingga banyak para anggotanya yang bisa hadir. Kecuali mereka yang sedang berhalangan. Tak jarang dari anggota yang bertepatan dengan jadwal mereka ke luar kota. Entah masih berhubungan dengan pekerjaan atau karena memang menikmati waktu akhir pekan bersama keluarga mereka.


Secara pribadi, Gina tidak pernah memiliki acara khusus di akhir pekan. Kedekatannya dengan keluarga yang bisa dikatakan jauh dari harmonis, tidak membuatnya memiliki alasan untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Sehingga ketika akhir pekan dan memiliki acara seperti ini malah membuat Gina senang. Apalagi jika dirinya sedang tidak nyaman berada di rumah seperti hari ini.


Pagi tadi Gina baru saja bangun tidur. Kebiasaannya jika akhir pekan, Gina akan membiarkan dirinya tidur hingga matahari mulai meninggi. Saat turun dari lantai dua, dimana kamarnya berada, Gina melihat Mama dan Papanya sedang berbincang di depan TV. Pemandangan yang jarang saja terjadi ketika akhir pekan begini Mamanya berada di rumah, bukan berada di luar untuk semua acara yang selalu ia agendakan bersama teman-temannya. Entah teman sekolah, teman arisan atau teman-teman mantan pengusaha wanita di kota ini yang masih sering ia temui untuk sekadar berkumpul dan mengisi waktu setelah mereka pensiun dari pekerjaan mereka.


"Gina..." Panggil Bu Marina yang melihat Gina baru saja turun dari tangga. Gina menoleh dan berhenti.


"Ya Ma." Jawabnya singkat sambil membawa langkahnya untuk mendekat.


"Kau tidak ada acara kemana-mana?" Tanya Bu Marina saat Gina sudah duduk di salah satu sofa single tepat di depannya.


"Tidak siang ini. Tapi nanti malam aku harus menghadiri pertemuan serikat pengusaha."


"Apa pertemuan itu cukup penting?" Tanya Bu Marina sambil memakan potongan buah di tangannya. Mendengar pertanyaan yang aneh itu, Gina jadi heran. Itu pasti adalah pertanyaan jebakan. Sepertinya saja sebuah pertanyaan tidak penting, tapi jika Mamanya yang menanyakan itu, pastilah ada maksud lain setelah ini.


"Tentu saja itu penting. Aku sudah membayar sejumlah biaya setiap bulannya sebagai member. Sehingga kalau aku tidak hadir, sayang sekali uang yang sudah ku buang." Jawab Gina santai.


"Lagi pula acara selalu digelar ditempat-tempat bagus dengan makanan dan minuman yang enak. Itu membuatku merasa nyaman. Bahkan, jika waktunya memungkinkan, kami akan mengadakan pertemua itu di luar negeri nanti. Sebenarnya hal itu sudah sering menjadi wacana tapi ada beberapa anggota yang masih belum siap karena mereka belum memiliki waktu luang untuk bepergian ke luar negeri yang pastinya akan memakan waktu beberapa hari." Gina berusaha memberi penjelasan selengkap mungkin agar Mamanya tidak memiliki pertanyaan lagi.


"Tapi, namanya saja pengusaha, mana mungkin mereka punya banyak waktu untuk bepergian beberapa hari hanya untuk berkumpul sesama anggota. Mereka tidak akan tega meninggalkan usaha mereka begitu saja tanpa pengawasan orang yang bisa dipercaya. Karena tidak semua pengusaha memiliki orang yang bisa menggantikannya seperti ketika Hanna mewakiliku." Tambah Gina lagi panjang. Ia melihat Bu Marina tampak diam dan tenang masih menikmati buah diatas piring yang ia pegang. Pak Rangga, setiap bersama seperti itu, matanya selalu tidak lepas dari layar TV yang menayangkan berita.


"Lagipula, tidak banyak juga pengusaha yang masih semuda dirimu. Yang masih memiliki hobi traveling sangat besar. Yang suka berjalan-jalan, berbelanja dan berpacaran." Mendengar kata terakhir Bu Marina, Gina tersenyum kecut.


Itulah hal yang sudah bisa Gina tebak sejak awal. Pasti akan selalu ada arah pembicaraan tak terduga yang diangkat oleh Mamanya. Gina sangat mengenal wanita yang telah melahirkannya itu walau mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


Pak Rangga sempat menunjukkan ekspresi menahan tawanya mendengar penuturan Bu Marina. Gina pun melihat itu. Papanya yang sepertinya sejak tadi serius menonton TV ternyata juga turut menyimak obrolan mereka. Hanya saja ia selalu tidak ingin terlibat terlalu banyak dengan para wanita di rumahnya ini. Pak Rangga merasa akan tidak efektif banyak berbicara dengan para wanita yang selalu mengedepankan emosi dan perasaannya saat berbincang daripada logika. Sehingga, ia memilih untuk menyimak dan menanggapi seperlunya saja ketika berada di tengah perbincangan dengan istri maupun putrinya seperti ini.


"Tapi bagaimanapun juga aku merasa pertemuan itu memang bagus diadakan setiap bulan. Itu bisa membantu para pengusaha untuk mencari realasi atau bertukar fikiran demi perkembangan bisnis mereka. Ku lihat selama ini para member tampak antusias untuk hadir di setiap pertemuan. Apalagi para pengusaha perusahaan rintisan. Mereka sangat butuh wawasan dalam mengembagkan usaha. Sedangkan untuk urusan persaingan pada perusahaan yang bergerak di bidang yang sama aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Mereka memiliki kode etik masing-masing untuk menjalankan bisnis." Ujar Gina dengan tidak menanggapi ucapan terakhir Mamanya.


"Apakah saat menghadiri pertemuan pengusaha dulu Papa pernah mengalami kendala dengan perusahaan saingan?" Tanya Gina yang ingin melibatkan pula Papanya dari pada dia hanya menguping saja sejak tadi. Pak Rangga yang merasa dirinya turut diajak masuk dalam perbincangan itu lalu memalingkan wajahnya menatap Gina.


"Tidak. Aku tidak mengalami masalah apapun. Tidak ada yang bisa mampu menyaingi R-Company sehingga aku tidak pernah memiliki masalah di pertemuan pengusaha." Jawab Pak Rangga yang terlihat sekali dia menyombong. Tapi yang lebih Gina tangkap dari jawaban Pak Rangga adalah dia langsung sigap dengan jawaban lugas padahal sejak tadi matanya tidak teralihkan dari layar kaca. Itu tandanya Pak Rangga memang mengikuti alur pembicaraan mereka sejak tadi.


"Tentu saja, mana ada yang bisa mengalahkan perusahaan sebesar itu." Timpal Bu Marina dengan wajah dingin karena kesal merasa kodenya tidak disadari oleh Gina.


"Tapi, bagaimana dengan pengusaha kuliner seperti Surya? Bukankah banyak juga pengusaha franchise di kota ini dengan berbagai label dagang mereka dan menawarkan berbagai olahan menu. Sedangkan dia hanya menawarkan menu angkringan saja. Kenapa bisa kepala anggota menerimanya bergabung juga di dalam komunitas pengusaha."


"Kalau seperti itu, ku rasa dia memang memenuhi syarat untuk bisa masuk. Warungnya banyak sekali di mana-mana. Tidak hanya di kota ini, bahkan ada beberapa di luar kota. Saat ini dia juga sedang berada di luar kota untuk mulai membuka lagi Angkringan Rejo yang baru. Lagipula, menu angkringan adalah pilihan unik diantara menu-menu restoran franchise yang kebanyakan hanya menawarkan ayam goreng dengan variasi saus dan sambal saja." Jawab Gina dan membuat Pak Rangga serta Bu Marina menatapnya lekat. Melihat itu, Gina menyadari Bu Marina telah berhasil memancingnya.


"Aku heran, ternyata kau cukup tahu banyak tentang Surya." Ujar Bu Marina sinis menatapnya. Sebaliknya, Pak Rangga tersenyum tipis melihat tingkah Gina yang serba salah karena telah terpergok.


"Itu karena aku dan Surya berada dalam satu komunitas sehingga informasi tentang dirinya yang datang padaku tidak bisa aku hindari."


"Kau fikir aku bodoh? Kau pacarnya, tentu saja tahu segala hal yang dia lakukan?" Ujar Bu Marina to the point. Gina berusaha tetap tenang menghadapi kilatan mata tajam matanya mulai mengintrogasi.

__ADS_1


"Apa yang Mama bicarakan. Kenapa tiba-tiba berganti topik kepada Surya?" Keluh Gina.


"Aku tidak berganti topik. Aku hanya menambah konteks baru saja." Dalih Bu Marina.


"Ya, baiklah. Terserah Mama saja." Jawab Gina santai dan tidak berniat untuk mengelak lagi karena memang sejak awal ia merasa tidak ingin merahasiakan hubungannya dengan Surya dan ingin menjalani dengan leluasa karena memang selama ini ia tidak pernah menyembuyikan hubungannya denga siapapun. Sehingga, walau Mamanya yang tidak menyukai Surya pada akhirnya mengetahui hubungannya, Gina pun tidak begitu memusingkannya. Gina hanya harus tetap bersikap santai dan tidak terbebani walau Mamanya dengan tegas menolak hubungannya dengan Surya dan membuat dirinya harus menerima sikap dingin Mamanya setiap mereka berjumpa di rumah.


Malam mulai turun perlahan, lampu-lampu kota sudah mulai menyala berwarna warni menerangi setiap sisi jalan yang Gina lewati.


"Apa Surya sengaja pergi ke luar kota untuk menghindariku?" Gumam Gina sambil mengendarai mobilnya yang mulai dekat dengan restoran tempat pertemuannya.


"Alasannya untuk keperluan mengurus warung angkringan baru, tapi sebenarnya dia kecewa padaku?" Gina masih berspekulasi sendiri dengan fikirannya dan membelokkan mobilnya ke area parkir restoran di basement.


Gina berjalan memasuki restoran yang malam ini khusus dibooking oleh komunitas pengusaha demi acara itu. Banyak member yang telah datang. Gina menyapa beberapa orang yang mereka lewati dan sedikit berbincang dengan mereka lalu setelah itu mengambil duduk di salah satu meja setelah ia merasa cukup dengan komunikasinya dengan member lain. Malam ini ia sengaja tidak datang bersama Hanna karena ia tidak mau menyiksa pegawainya yang sedang hamil muda itu untuk mengantar jemputnya. Gina tidak ingin membuat Hanna kelelahan sementara trimester pertama kehamilannya tampak membuat badannya sering lemas. Sehingga malam ini Gina meminta Hanna untuk datang bersama Marco saja agar lebih mudah.


Seorang pelayan menawarkan minuman kepadanya. Gina memesan coklat panas kesukaannya. Ia tahu restoran ini menyajikan coklat yang diimpor langsung dari Swedia sehingga Gina merasa pilihan paling tepat saat berada di restoran ini adalah coklat panas yang harum.


"Maaf, saya terlambat, Nona." Ujar Hanna yang sudah ada di depannya. Gina mendongakkan kepala dan melihat Hanna yang memakai dress longgar.


"Tidak apa." Gina menanggapi dengan tersenyum.


Di salah satu meja, Gina melihat Marco sudah berbaur dengan member lain dan berbincang. Entah apa yang ia bicarakan, tapi sifatnya hang supel memang membuatnya mudah bergaul dengan orang lain. Sejak pertama kali mengikuti pertemuan ini, Gina selalu melihat Marco yang seperti sangat bisa menempatkan dirinya.


Gina menarik nafas berat setelah menatap ponselnya beberapa saat. Tidak bisa ia pungkiri, ketidakhadiran Surya malam ini memang sedikit mengganggu fikirannya. Ia terlanjur berharap bisa bertemu Surya di sini dan berbincang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya untuk mengurangi rasa tidak enak dihatinya yang telah menolak lamaran Surya. Tapi ternyata Surya mengatakan tidak bisa hadir dan itu membuat harapan Gina menjadi pupus.


"Surya, kau tahu bukan nanti adalah pertemuan pengusaha." Suara Gina setelah Surya membalas sapaannya di seberang.


"Benar, Nona." Suara Surya tenang seperti biasanya.


"Kita akan datang bersama, bukan?"


"Maaf Nona, saya masih berada di luar kota. Jadi, saya tidak bisa hadir kali ini."


"Kenapa kau ke luar kota?" Tanya Gina heran karena ia tidak tahu Surya sedang berada di luar kota sekarang.


"Saya mulai mempersiapkan untuk pembukaan Angkringan Rejo yang baru, Nona."


"Oh, begitu." Jawab Gina agak kecewa karena Surya bahkan tidak memberitahunya saat pergi ke luar kota. Tapi ia kemudian menyadari kesibukannya yang tinggi dan masih harus mengurus sendiri pembukaan warung baru mungkin membuat Surya tidak sempat mengabarinya.


"Kapan kau akan pulang?" Lanjut tanya Gina.


"Entahlah, Nona. Masih banyak yang harus saya urus di sini jadi saya baru akan pulang saat semua sudah beres."


"Baiklah..." Suara Gina lemah mendengar ucapan Surya yang artinya dalam beberapa hari dan tidak tahu berapa lama itu, ia tidak bisa berjumpa dengannya. Padahal selama tiga hari sebelumnya pun mereka tidak bertemu dan Gina sudah merasa rindu. Bagaimana kalau Surya masih lebih lama lagi di luar kota? Gina menjadi resah.


"Hanna, aku ke toilet." Pamit Gina kepada Hanna yang sedari tadi menemaninya.

__ADS_1


"Baik, Nona."


Gina sudah kembali dari toilet dan kembali duduk di mejanya saat seseorang menyapanya.


"Selamat malam, Bu Bos." Panggilnya dengan wajah ceria yang menjadi ciri khasnya.


"Malam juga, Pak Bos." Balas Gina.


"Ahh, rasanya enak sekali di dengar. Tapi kenapa hatiku tidak sebahagia itu mendengar panggilan 'Bos'." Kini Faris duduk di sofa samping Gina. Sedangkan Hanna karena perlu memberi ruang pada atasannya dan temannya untuk berbincang, maka ia berpamitan untuk pergi ke tempat lain. Entah ke mana, tapi Gina tahu Hanna melakukannya karena ia harus bagaimana.


"Kenapa?" Tanya Gina heran.


"Ku rasa karena aku menjadi Bos menggantikan Papi." Setelah itu Faris lalu tertawa. Mendengar penuturan Faris yang seperti juga menyindir dirinya, Gina menanggapi dengan senyumnya kecut.


"Aku yakin kau tidak merasa seperti itu karena R-Company akhirnya jatuh sepenuhnya padamu. Berbeda dengan diriku yang harus berbagi saham Font dengan kedua Kakakku."


"Kau benar, aku bahkan langsung merasa sangat memiliki R-Company jauh sebelum menduduki tahta di sana." Ujar Gina sambil terkekeh. Ia merasa memang seperti itulah yang dirasakan sejak awal. R-Company adalah miliknya karena dia yang akan melanjutkan pemerintahan di sana walau kapanpun itu waktunya. Sehingga begitu tahu Surya tiba-tiba memegang kekuasaan, Gina merasa sangat tidak rela dan sangat berambisi untuk merebutnya.


"Entah bagaimana rasanya memiliki usaha yang kita bangun sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Pak Surya. Dia benar-benar memulainya dari sebuah warung angkringan biasa lalu banyak pengunjung yang datang sehingga perlahan tapi pasti usaha kulinernya bisa berkembang seperti sekarang." Terlihat bahwa Faris merasa salut kepada Surya yang sedang ia bicarakan. Sunday pun sependapat dengan Faris dalam hal ini.


"Aku selalu berfikir alangkah membanggakannya memiliki bisnis yang ku rintis dari bawah hingga berkembang dengan pesat. Tapi, Papi selalu memintaku untuk melanjukan kariernya di Font karena aku anak laki-laki satu-satunya. Kedua Kakakku perempuan, Papi tidak bisa memberi beban kepada mereka ketika telah menikah. Adapun Kak Novi bisa bekerja di Font karena suaminya tidak mempermasalahkan itu. Bagaimana coba kalau Kak Nova yang Papi beri tanggung jawab itu, rumah tangganya akan jadi taruhan. Suaminya seorang Duta Besar yang ditempatkan di Inggris, mana mungkin mereka selalu berada dalam hubungan jarak jauh terus menerus. Jadilah, aku satu-satunya yang dianggap paling kompeten oleh Papi dan harus dipaksa turun dari kapal untuk memimpin Font."


"Oh ya? Bukankah karena alasan utamanya adalah Sunday?" Gina mencibir.


"Seingatku, bukankah karena Sunday membenci pelaut sehingga kau ingin berhenti menjadi pelaut agar Sunday bisa mempertimbangkanmu?" Gina tahu semua cerita itu karena Faris sempat mengatakan kepadanya. Mendengar itu Faris tertawa lagi.


"Ya, itu juga menjadi salah satu faktornya." Faris masih tertawa.


"Begitulah cinta. Aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi tidak bisa. 2 tahun adalah waktuku menahan perasaan cintaku padanya sebelum akhirnya Kak Novi memberitahuku bahwa Sunday masuk dan menjadi salah satu pegawai di Font. Begitu tahu hal itu, tanpa berfikir panjang, ketika kontrak kerjaku berakhir di perusahaan kapal, aku yakin untuk tidak memperpanjangnya lagi dan bersedia masuk juga di Font. Aku sangat berharap ini adalah peluangku untuk mendapatkan Sunday kembali dan berharap dia bisa ku dapatkan dengan kehadiranku yang kedua kali padanya. Dan, usahaku berhasil. Sekarang aku bisa memilikinya."


"Hahh, pria memang selalu berusaha dengan gigih dan mencari peluang-peluang." Ujar Gina mencibir Faris lagi.


"Hei, itu adalah naluri lelaki. Semakin agresif, semakin baik." Ujar Faris jumawa. Mendengar ucapan Faris, Gina jadi teringat Surya. Gina merasa akhir-akhir ini Surya memang terlihat semakin agresif terhadapnya. Mendekatinya hingga akhirnya memacari dirinya dan yang terjadi selanjutnya Surya tiba-tiba mengajaknya menikah. Jika dibuat sebuah grafik, tingkat keagresifan Surya benar-benar meningkat tajam dan itu membuatnya jadi penasaran kenapa.


"Kau tahu, aku memang mengenal banyak gadis, tapi entah kenapa hanya Sunday yang selalu membuatku yakin melakukan sesuatu. Seperti ketika mengajaknya pacaran, aku sangat yakin ingin melakukannya. Tapi buruknya, ketika aku memacarinya, aku menjadi mudah merindukannya, ingin selalu bersamanya dan tidak ingin berlama-lama jauh darinya. Aku seperti orang yang kecanduan terhadapnya dan aku yakin menikahinya adalah cara yang tepat untuk mengurangi rasa sakauku terhadap Sunday." Faris tertawa kecil menceritakan pengalamannya itu. Sebaliknya, Gina malah semakin memikirkan Surya setelah mendengar cerita Faris. Ia berfikir mungkin itu juga yang saat ini sedang terjadi pada Surya.


Saat ini Gina telah meninggalkan acara pertemuan pengusaha setelah acara itu diakhiri dengan penentuan agenda bulan depan acara pertemuan akan diisi apa dan diselenggarakan di mana. Dalam perjalanan pulangnya, Gina masih memikirkan Surya. Itu karena ucapan Faris saat berbincang dengannya tadi. Gina berfikir jika mungkin yang dialami oleh Surya sama dengan yang dialami oleh Faris waktu itu kepada Sunday. Ketika Surya mengajaknya menikah, mungkin itu karena Surya ingin memiliki Gina seutuhnya sebanyak waktu yang ia punya. Dan perlahan jantung Gina berdebar kencang memikirkan itu.


Jika memang seperti itu, seharusnya Surya memiliki cinta yang sangar besar untuknya. Dengan tingkat keseriusan Surya sekarang, pantaslah jika ia menginginkan Gina untuk dijadikan sebagai istrinya. Tapi masalahnya, Gina belum yakin jika menikah adalah solusi terbaik untuk hubungan mereka selanjutnya.


Lamat-lamat kalimat Mamanya muncul lagi di kepalanya.


"Coba fikirkan kembali hubunganmu dengan Surya. Apakah itu akan berhasil atau tidak jika aku tidak bisa merestuimu."


Kalimat Bu Marina adalah sebuah peringatan keras untuk Gina. Ia sangat mengenal Mamanya sehingga ia memiliki kekhawatiran lain sekarang. Bukan hanya kesungguhan perasaannya saja yang ia ragukan, tapi juga Mamanya bisa saja menggunakan cara-cara yang tak terduga untuk memisahkan dirinya dengan Surya.

__ADS_1


__ADS_2