Tahta Surya

Tahta Surya
Selamat Jalan


__ADS_3

Gina dan Surya berjalan menuju ruang tunggu VIP bandara. Surya mendekati pintu ruang tunggu diikuti Gina. Dan terlihat Pak Surya yang menyambut dengan senyum mengembang saat Surya membuka pintu.


"Syukurlah kalian tidak terjebak macet." Ujar Pak Rangga.


"Mana ada macet dijam seperti ini." Gumam Gina dan Pak Rangga mendengar itu.


"Aku selalu merasa bahagia melihat kalian bersama. Kalian terlihat sangat serasi."


"Terima kasih..." Jawab Gina dengan senyum sarkasnya. Pak Rangga sangat mengenal putrinya dan ucapan terima kasih itu sebenarnya bentuk protes karena Gina tidak menyukai apa yang Pak Rangga ucapkan.


"Itu terlihat sekali diwajah Papa. Apa Papa sangat senang akan melakukan perjalanan bulan madu kedua kalian?"


"Ya tentu saja. Sudah lama kami tidak merasakan indahnya berjalan-jalan dan berlibur. Walaupun sudah sering ke luar negeri tapi itu semua untuk perjalanan bisnis jadi perjalanan kami kali ini pastilah sangat menyenangkan. Kami akan sangat menikmatinya nanti."


"Baguslah, memang harus begitu. Papa harus menikmatinya. Lagipula seharusnya Papa sudah melakukan ini dari dulu. Papa terlalu banyak bekerja sehingga butuh melakukan refreshing untuk menyegarkan badan dan fikiran. Seandainya Papa melakukan itu sejak lama mungkin aku tidak akan terjebak dalam pernikahan ini." Mendengar penuturan Gina, Pak Rangga secara spontan tertawa terbahak. Ucapan Gina yang sangat berterus terang itu membuatnya merasa geli. Secara langsung Gina mengatakan bahwa karena Pak Rangga kurang berlibur sehingga membuatnya harus menikahi Surya.


"Apa hubungannya?" Tanya Pak Rangga pura-pura tidak faham apa yang dikatakan Gina.


"Seandainya Papa lebih menikmati hidup, lebih banyak berlibur dan tidak gila kerja seperti itu mungkin Papa akan lebih berfikiran jernih."


"Jadi kau fikir aku melakukan itu terhadapmu karena aku kurang waras?"


"Papa sendiri yang mengatakannya, bukan aku." Pak Rangga sama sekali tidak tersinggung apalagi marah mendengar penuturan Gina. Ia merasa tidak perlu meladeni putrinya dengan serius.


"Wah, sudah waktunya kita pergi." Ajak Bu Marina kepada suaminya sambil bangkit dari duduknya untuk menghindari perdebatan suami dan putrinya semakin serius. Mendengar itu Pak Rangga melihat jam tangannya.


"Ahh, benar. Sudah waktunya." Pak Rangga pun turut berdiri.


"Kalian baik-baik saja di sini. Aku harap setelah kembali dari perjalanan berpesiarku aku mendapat berita bahagia akan segera menimang cucu." Gina memutar bola matanya malas. Surya hanya membalas dengan senyuman.


"Aku harap bisa bersama kalian sepanjang waktu tapi karena Gina menolak untuk berbulan madu dan tiket sudah ku persiapkan, akan sayang sekali jika ku biarkan hangus begitu saja."


"Ahh, tenang saja Papa bisa tetap bisa menikmati perjalanan dengan nyaman. Papa memiliki cctv dimanapun, di rumah dan di luar rumah. Bahkan di tempat yang tidak pernah dijangkau manusia pun 'cctv' Papa bisa menjangkaunya dan memberi informasi secara tepat dan akurat kepada Papa."


"Ya, sehebat itulah Papamu ini." Pak Rangga menyombong sambil tersenyum lebar. Gina membalas dengan senyum kecut.


"Baiklah, silakan kalian berangkat. Aku harap Papa dan Mama bersenang-senang disana hingga lupa pulang. Nikmatilah perjalanan kalian."


"Tentu saja kami akan bersenang-senang." Balas Pak Rangga.


"Tapi cepat pulang atau lebih kerasan di sana juga tergantung kalian. Semakin kalian baik-baik saja, aku akan semakin betah di sana." Kali ini Surya melempar senyum karena mengerti apa yang di maksud oleh mertuanya itu. Sedangkan Gina memanyunkan bibirnya.


Gina dan Surya mengantar Pak Rangga dan Bu Marina hingga ke gerbang keberangkatan. Sebelum pergi Bu Marina sempat memeluk putrinya.

__ADS_1


"Mama tidak ada di dekatmu, tapi apapun yang kau butuhkan katakan saja padaku." Bisik Bu Marina saat mereka berpelukan.


"Baik, Ma. Terima kasih sudah melakukan ini. Aku sangat menyayangimu." Senyum Gina puas.


Ya, kepergian Pak Rangga dan Bu Marina bukanlah sebuah kebetulan karena Gina menolak kado bulan madu yang diberikan Pak Rangga. Tapi ini adalah rencana yang Bu Marina buat untuk putri kesayangannya. Ide untuk memberi kado bulan madu itu datang dari Bu Marina yang ia sampaikan kepada Gina. Bu Marina ingin Gina menolaknya sehingga Bu Marina dan Pak Ranggalah yang akan pergi menggantikannya. Dengan begitu, Gina akan terbebas dari pengawasan secara langsung Papanya terutama saat di dalam rumah. Dengan kepergian Papanya, Gina akan bebas bersikap terhadap Surya. Ia tidak perlu berpura-pura baik dan patuh layaknya seorang istri. Ia juga bisa melakukan banyak hal di R-Company tanpa takut Papanya akan tiba-tiba muncul dan mendiktenya secara langsung. Oleh karena itu Gina menyambut secara antusias ide yang dianggapnya sangat brilian yang diutarakan oleh mamanya waktu itu.


"Kita benar-benar adalah partner in crime." Bisik Gina sambil lalu melepas pelukan dengan mamanya. Mamanya menganggukkan wajah dengan senyum lembutnya.


Gina merasa sangat bahagia hari ini. Papanya yang sudah pergi dari negara ini membuatnya merasa benar-benar bebas. Perasaan bahagianya tidak sengaja membuat senyumnya terkembang. Surya melihat itu.


"Nona, saya akan ke suatu tempat. Saya harap Anda belum buru-buru untuk pulang."


"Kemana? Kau tidak berniat menculikku lalu membunuhku dan menghilangkan jasadku di sana 'kan?" Ucap Gina asal.


"Saya tidak bisa melakukan itu, Nona. Anda jago sekali bela diri. Saya tidak akan mampu melawan Anda." Surya tertawa kecil mendengar itu. Apa yang diutarakan Gina membuatnya merasa lucu.


"Oh ya? Bukankah kau memiliki banyak cara untuk melakukannya? Racun. Jebakan. Atau yang lainnya."


"Anda memberi saya inspirasi yang segar, Nona. Baiklah, kapan-kapan akan saya coba." Surya membalas Gina dengan nada candaan.


"Coba saja kalau kau berani." Gina ketus.


"Kau pikir kau bisa berbuat semaumu saat Papa tidak ada? Jangan harap." Gina menekankan pada kalimat terakhir yang ia ucapkan. Surya hanya bisa tertawa.


Tapi saat Gina masih dengan fikirannya tiba-tiba Surya berhenti di sebuah toko sembako. Di sebuah pasar.


"Kenapa berhenti? Kau mengajakku ke sini?" Tanya Gina tidak percaya dengan penglihatan di sekitarnya. Sebuah pasar yang sangat ramai. Para penjual berjajar di sepanjang pasar.


"Jadi, kau tidak jadi membunuhku tapi malah mau menjualku di pasar?" Mendengar itu Surya tertawa lagi.


"Ternyata Anda sangat imajinatif, Nona." Surya masih dengan sisa tertawanya.


"Anda tunggu saja di sini. Saya harus membeli sesuatu."


"Kenapa disini? Kau bisa membelinya di supermarket. Atau, kau bisa membelinya secara online. Kau tidak segaptek itu 'kan?" Surya memandang Gina dan tersenyum.


"Saya tidak akan lama, Nona. Tunggulah di sini." Lalu Surya turun dari mobilnya dan meninggalkan Gina di dalam mobil.


Pandangan Gina mengikuti Surya yang memasuki toko sembako. Tampak Surya berbincang dengan seorang pria paruh baya. Gina menebak pria itu adalah pemilik toko. Gina melihat Surya sangat akrab dengan si pemilik toko.


Apa mereka masih keluarga? Pikir Gina.


Beberapa saat kemudian Surya berjalan ke arah mobil. Tapi ia diikuti oleh seorang pemuda dengan membawa sebuah troli yang berisi beberapa barang berat. Surya berjalan di bagian belakang mobil dan membuka bagasinya.

__ADS_1


"Taruh saja di sini, Wan." Terdengar suara Surya memerintah pemuda itu. Terasa ada beban yang dinaikkan ke bagasi mobil Surya. Sesuatu yang berat. Dari yang Gina lihat tadi sepertinya troli itu berisi beras, minyak, dan beberapa kardus lain yang mungkin adalah mi instan atau kue-kue kemasan. Entahlah, Gina tidak begitu jelas melihatnya karena bertumpuk antara satu dengan yang lain. Gina sempat melihat dari kaca spion mobil Surya memberi pekerja toko itu sebuah tip.


"Kau mau membuka toko sembako?" Sindir Gina. Seperti biasa, Surya hanya tersenyum lalu menutup pintu mobilnya.


"Seadainya saya bisa, Nona. Tapi sekarang saya adalah presdir di R-Company. Saya terlau sibuk untuk membuka usaha kecil-kecilan."


"Ya Tuhan... apakah ini kau? Kau menyombong?" Gina membelalakkan matanya memandang Surya yang mulai mengemudi mobilnya.


"Ini belum lama kau menjadi presdir dan kau sudah menununjukkan sifat aslimu." Surya tidak membalas kata-kata Gina dan hanya tersenyum sambil melihat lurus ke depan.


"Papa benar-benar berhasil kau kelabuhi ya."


"Tidak Nona, saya sudah memberi Pak Rangga jampi-jampi." Jawab Surya sambil menaham tawa.


"Ahh iya, benar. Kau melakukan itu." Gina masih memelototi Surya.


"Aku jadi merinding kalau-kalau aku juga akan menjadi korban jampi-jampimu."


"Iya Nona, tunggu saja. Anda juga pasti akan mendapat bagian."


"Tidak... tidak mungkin. Kau tidak mungkin bisa mengguna-gunai aku. Aku sangat kuat, badanku sehat, fikiranku selalu bersih dan tidak mudah dirasuki jampi-jampi. Jadi jangan coba-coba mengabiskan waktu dan tenaga untuk menjampi-jampiku. Sudah ku pastikan kau tidak akan berhasil." Gina terlihat panik dan takut jika Surya akan benar-benar menjampi-jampinya.


"Kita lihat saja, Nona." Surya masih berwajah tenang dan santai memgemudi mobil walau sebenarnya ia ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah takut Gina.


"Kalau begitu turunkan aku sekarang juga. Aku tidak mau menjadi korban jampi-jampimu." Surya masih santai mengemudi mobilnya seolah tidak mendengar ucapan Gina.


"Hei kau tidak mendengarku?"


"Iya, Baik Nona." Perlahan Surya mulai memelankan mobilnya seiring pedal rem yang ia injak semakin merendah hingga mobilnya benar-benar berhenti.


"Apa? Kau benar-benar menurunkan aku disini? Kenapa kau tega sekali melakukan ini pada seorang wanita?" Omel Gina.


"Oh, aku tahu. Papa dan Mama sedang tidak di sini jadi kau memperlakukanku semaumu?" Gina masih menyerocos.


"Baiklah, kalau itu maumu. Mari kita perjelas lagi kesepakatan kita..."


"Anda bisa turun, Nona."


"Hah? Kau bahkan mengusirku keluar dari dalam mobil? Kau ini pria atau bukan? Kenapa kau kejam sekali."


"Kita sudah sampai, Nona. Anda bisa turun." Jawab Surya dengan mengulas senyum lembut tidak menanggapi omelan Gina.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2