Tahta Surya

Tahta Surya
Selamat, Hanna


__ADS_3

Surya turun dari kereta yang ia tumpangi. Setelah beberapa lama akhirnya ia benar-benar kembali menginjakkan kaki di kota ini. Ia menenteng tasnya dan berjalan keluar untuk menaiki taksi yang mengantarnya ke rumah.


Sepanjang perjalanan, ia melihat keluar kaca cendela taksi dan mengenang beberapa tempat yang sering ia datangi. Beberapa jalan dan rumah makan yang biasa ia jadikan tempat bertemu relasi masih berdiri tegak menjadi saksi atas setiap lobi-lobinya bersama para pengusaha lain. Tapi, yang paling selalu menyita perhatiannya adalah setiap ia melewati R-Store. Ingatannya masih sangat segar bahwa setiap R-Store yang berdiri itu ada andilnya yang sangat besar. Terlebih saat melihat baliho R-Store dengan gambar Gina di sana. Surya berharap Gina sudah baik-baik saja sekarang. Ia berharap Gina sudah bisa tersenyum seperti pada baliho-baliho itu. Karena ia ingat bagaimana terakhir kali meninggalkan Gina di depan rumahnya.


Surya tetap memasuki mobil meski Gina menangis dan berusaha menahannya mengatakan agar dirinya tidak pergi. Rasanya ada yang menusuk dadanya melihat tangis Gina pecah begitu saja. Dari kaca spion mobilnya, Surya bisa melihat bagaimana Gina menangis sambil memandang kepergiannya. Sempat ada keinginan Surya untuk berhenti dan menghampiri Gina, tapi ia tahan dengan sekuat tenaga karena ia takut jika kembali mungkin ia tidak akan pernah bisa meninggalkannya lagi dan akan bertahan di sana selamanya.


Surya menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Perutnya mulai terasa lapar karena pagi ini ia belum sempat sarapan. Ia membuka kembali kertas undangan yang terkirim untuknya. Kertas undangan itulah yang membuatnya menginjakkan kaki kembali di kota ini.


"Hanna... kau yakin dengan keputusanmu ini? Kau sudah tidak ingin berubah fikiran lagi?" Gina memandang wajah Hanna yang berseri dengan kebaya berwarna putih yang melekat di tubuhnya. Hanna terlihat sangat cantik ditambah dengan riasannya kali ini.


"Tidak Nona." Jawab Hanna dengan senyum di wajahnya.


"Sampai sekarang aku selalu membayangkan tiba-tiba kau menolak untuk menikahi Marco. Ya, sebenarnya aku mengharapkan itu. Tapi melihat sebahagia apa dirimu sekarang, aku yakin keputusan yang kau ambil sudah benar. Dan juga, si playboy itu seperti sudah kena batunya sekarang. Dia bertekuk lutut dikakimu seperti singa yang tidak memiliki taring." Gina terkekeh mengatakan kalimat terakhirnya mengingat bagaimana Marco terlihat sangat menyukai Hanna hingga sering sekali datang ke R-Company walau hanya untuk melihatnya bekerja.


Akhirnya Gina menyadari hal itu setelah tahu bahwa Hanna dan Marco berpacaran. Marco pernah mengatakan kepadanya bahwa pekerjaan hanya sebuah alasan baginya datang ke R-Company. Karena tujuan utamanya hanya ingin bertemu Hanna yang bahkan jarang memiliki waktu untuknya karena kesibukan sebagai asisten Gina. Mendengar itu sebenarnya ada rasa bersalah juga di hati Gina karena seolah ia sudah membuat Hanna bekerja sangat keras. Karena ketidakmampuan Gina diawal ia bekerja di R-Company, banyak pekerjaan yang akhirnya disempurnakan oleh Hanna. Tapi semakin bertambahnya waktu, kemudian Gina mulai menguasai pekerjaannya. Dan kemudian Gina menjadi presdir sehingga semakin banyak kesibukan Gina dan itu berarti Hanna pun harus selalu ada untuk di sampingnya.


Gina turut menahan nafas saat melihat proses akad nikah Hanna dan Marco. Suasana tampak hikmat. Marco yang memang berwajah blasteran, semakin tampan dengan pakaian adat jawa warna senada dengan kebaya yang dipakai oleh Hanna. Tapi kemudian Gina keluar dari acara akad nikah itu. Ia berusaha untuk tidak terpengaruh tapi nyatanya suasana yang hikmat itu membuatnya merasa terbawa perasaan. Ingatan pada pernikahannya bersama Surya yang ia langsungkan belum setahun berlalu membuat dadanya menjadi sesak berada di sana. Ia lalu pergi bermaksud ingin menghirup udara segar di luar gedung itu.


Gina ingat bagaimana sangat membenci Surya saat itu. Duduk di sebelah Surya dan hanya dalam sekejap saja ia langsung berubah status. Dari status single menjadi double, istri, nyonya Surya, dan kata lain yang membuatnya muak. Tapi saat ini Gina justru berharap ia bisa memutar waktu kembali. Andai ia tahu ia akan jatuh cinta pada Surya pada akhirnya, mungkin ia akan bersabar dengan hari-hari yang dianggapnya memuakkan saat itu. Sehingga ia memiliki banyak waktu untuk merebut hati Surya dan bisa menahan untuk tetap bersamanya.


Tapi tentu saja itu adalah fikiran tidak masuk akal yang hinggap di dalam kepalanya. Untuk menyesali itu, Gina bahkan sudah tidak memiliki tenaga lagi. Rasa patah hati menyita perasaannya sehingga ia hanya berusaha untuk segera move on dari Surya dan ingin menjalani hari-hari dengan nyaman. Hari-hari tanpa cinta. Ia akan membiarkan hatinya sunyi saat ini. Ia tidak siap untuk jatuh cinta lagi. Ia merasa lelah dengan perasaan yang sudah sering ia eksploitasi. Sehingga kali ini Gina memutuskan untuk mengistirahatkan hatinya dengan tidak jatuh cinta kepada pria manapun lagi.


Acara akad nikah pun usai, semua tamu yang hadir pada sesi ini hanya keluarga dan teman dekat. Hanna meminta Gina untuk hadir sebagai teman dekatnya sehingga ia pun datang saat acara akad. Sekarang, setelah merasa perasaannya lebih baik, Gina memasuki gedung acara lagi. Dari arah pintu masuk, Gina melihat Hanna menyapa teman-temannya. Ia lalu memilih duduk di salah satu sudut ruangan. Beberapa orang mulai menikmati hidangan yang ada di sisi lain ruangan. Tapi Gina tidak sedang ingin makan. Ia hanya merasa bahagia melihat Hanna berseri seperti itu. Senyumnya mengembang sempurna saat menyapa para tamu. Bahkan sesekali ia tertawa saat berbincang dengan teman-temannya. Baru kali ini Gina melihat sisi lain dari seorang Hanna. Yang saat bekerja dia adalah seorang gadis yang kalem tapi tegas, hari ini Gina melihat sisi ceria Hanna. Sepertinya itu karena Hanna sangat bahagia hingga tidah bisa menyembunyikan ronanya.


"Kenapa diam di sini?" Tanya suara yang tiba-tiba ada di samping Gina, duduk di salah satu kursi.


"Apa yang kau harapkan dariku? Bernyanyi menggantikan wedding singer di sana? Ku pastikan semua tamu undanganmu akan melarikan diri setelah mendengar suaraku. Aku bahkan fals saat menyanyikan lagu 'balonku ada lima'." Gina lalu tertawa kecil setelah mengatakan semua itu.


"Jangan. Kalau begitu jangan lakukan." Marco juga ikut tertawa.


"Kau masih saja sama, tidak pernah berubah. Inilah Gina yang ku kenal. Cantik tapi galak." Gina memelototi Marco


"Hei, memang itulah dirimu. Kau tidak boleh marah karena kritikanku. Seorang yang berjiwa besar akan menerima setiap kritikan dari orang lain." Komentar Marco setelah melihat reaksinya.


"Tapi meskipun begitu, kau adalah orang yang baik dan selalu bersikap apa adanya. Kau juga orang yang selalu konsisten. Bahkan kau masih konsisten membenciku sampai saat ini." Marco lalu tertawa. Gina tersenyum melihat Marco yang tertawa seperti itu.


"Sudah, berhentilah tertawa. Ingatlah pesanku." Marco berhenti dari tawanya dan berganti menatap Gina serius.

__ADS_1


"Apa? Untuk menjaga Hanna?" Marco menebak apa isi fikiran Gina.


"Tanpa kau minta pun aku akan melakukannya. Dia wanita pertama yang membuatku sadar bahwa cinta itu bukan hanya tentang perasaan tapi juga perjuangan. Aku mengejarnya sampai memohon untuk bisa menjadi pacarnya tapi Hanna menolakku berkali-kali. Sehingga aku harus banyak berjuang demi mendapatkannya. Tapi akhirnya perjuanganku berbuah manis. Pada akhirnya entah karena dia lelah atau kasihan padaku, Hanna pun menerima cintaku. Dia memberiku syarat, tidak butuh 2 atau 3 kali, sekali saja aku menghianati cintanya maka tamatlah aku." Cerita Marco dan membuat Gina tahu kisah cinta anak buahnya juga.


"Kau benar, cinta memang tidak hanya sebatas perasaan tapi juga butuh perjuangan. Tapi, kadang tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan kita. Perjuangan juga tidak selamanya berbuah manis." Gina tersenyum getir mengingat apa yang ia alami. Bahwa ia sudah berusaha menarik perhatian Surya untuk mendapatkan cintanya tapi Surya memilih mengakhirinya dan memaksa Gina untuk berhenti berjuang.


Acara resepsi pernikahan Hanna digelar pada hari yang sama dan di gedung yang sama. Setelah mengganti busananya, Hanna kembali dengan penampilan baru gaun berwarna nude yang sangat cantik. Semua mata tertuju pada Hanna dan Marco yang memasuki gedung kembali. Mereka diarak untuk menuju pelaminan yang sangat megah di sana. Hanna sempat mengulas senyum pada Gina saat melintas di depannya. Gina membalas dengan mengacungkan kedua jempolnya memberi isyarat bahwa Hanna tampak sangat luar biasa.


Setelah Hanna duduk di pelaminan, Gina lalu menghampiri meja-meja yang berisi hidangan. Sejak tadi pagi Gina memang tidak makan apapun sehingga ketika hari mulai siang, perutnya merasa keroncongan. Dan Gina terpukau ketika melihat hidangan-hidangan di depannya. Di salah satu meja terdapat berbagai lauk angkringan. Tanpa pikir panjang Gina lalu mendekati meja itu dan mengambil satu nasi kucing. Ia juga mengambil aneka sate-satean untuk ia pindahkan ke dalam piringnya. Gina sangat menikmati itu dan seperti tidak ingin berhenti sampai seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


"Hei, bos R-Company malah mengkoleksi angkringan." Celetuk Devon, teman semasa SMA yang juga teman Marco.


"Hai..." Sapa Gina juga dengan makanan masih di dalam mulutnya.


"Sudah berapa tusuk kau habiskan?" Tunjuk Melly, teman SMAnya juga yang datang bersama Devon. Mendengar itu Gina hanya cengengesan dan tidak menjawab karena memang sudah banyak yang masuk ke dalam mulutnya.


Acara pernikahan teman memang biasa menjadi ajang reuni dadakan. Teman-teman semasa sekolah pasti banyak yang akan menghadiri undangan. Begitu pula dengan teman-teman Marco yang adalah teman Gina pula. Tapi Marco tidak mengundang banyak teman dan hanya mereka yang masih sering berhubungan dengannya saja hingga saat ini.


"Jadi, kau hadir di pesta pernikahan mantan pacar yang sejak dulu kau musuhi? Apa ini artinya kalian benar-benar sudah berbaikan?" Tanya Melly setelah meminum minuman yang sedari tadi ada di tangannya.


"Istrinya?" Tanya Melly penasaran.


"Ya, istri Marco adalah sahabatku."


"Benarkah? Kau bersahabat dengan istri Marco?"


"Benar. Dan aku sudah berusaha untuk memisahkan sahabatku dari Marco. Tapi tentu saja takdir Tuhan tidak ada yang bisa mengubah, apalagi hanya seorang aku." Gina lalu terkekeh. Devon ikut tertawa menanggapi kalimat ****** Gina.


Tepat saat itu seorang wanita mencolek bahunya. Gina reflek menoleh. Ternyata Sunday yang datang bersama Faris.


"Hai, kau sudah di sini." Sapa Sunday.


"Aku adalah panitia acara sehingga datang jauh lebih cepat dari dirimu." Sunday tertawa mendengar leluconnya. Kedua temannya juga ikut tersenyum menyaksikan Gina yang sedari tadi berusaha melucu.


"Kami harus memberi selamat kepada Pak Marco dan istrinya. Permisi." Pamit Faris yang diikuti oleh Sunday dengan sebelumnya melambaikan tangan kepada Gina. Gina memberinya senyuman mempersilakan. Kemudian ia melanjutkan perbincangan dengan kedua temannya itu.


Hari semakin malam. Para tamu undangan sudah tersisa hanya beberapa orang saja. Gina yang sudah ditinggal teman-temannya hanya sendirian duduk di sebuah kursi. Kemudian ia melihat Hanna sedang berdua saja dengan Marco mulai turun dari pelaminan. Gina lalu mendekati sepasang pengantin baru itu.

__ADS_1


"Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua." Ujar Gina sambil memeluk Hanna.


"Terima kasih, Nona." Balas Hanna memeluk.


"Marco, kau tahu bukan, aku orang yang seperti apa. Sekali saja kau buat Hanna bersedih, maka kau akan berakhir di rumah sakit." Ancam Gina yang mengundang gelak tawa Marco.


"Itu sangat menakutkan." Kata Marco sambil terbahak.


"Baiklah, Nona. Aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia." Marco merangkul pundak Hanna dan menatapnya penuh cinta. Melihat itu, Gina memalingkan wajahnya. Ia merasa Marco memang sudah berubah. Ia tidak seperti dulu lagi.


"Kau tidak perlu khawatir. Serahkan saja kebahagiaanya padaku. Aku bertanggung jawab penuh atas itu."


"Bagus, ku pegang janjimu." Gina lalu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Marco.


"Baiklah, ini pertanda kita juga sudah menjadi teman, bukan?" Marco tersenyum lebar.


"Kau tidak boleh membuat Hanna tidak nyaman dengan kebencianmu padaku. Kalau kau berteman dengan Hanna, itu berarti kau juga harus berteman dengan suaminya."


"Hahh, modus sekali kau ini." Gina tersenyum kecut menanggapi ucapan Marco.


"Hanna pasti akan lebih senang kalau kita juga berteman baik. Iya kan, Sayang?" Marco meminta dukungan Hanna.


"Benar, Nona. Mari kita semua berteman." Pinta Hanna.


"Baiklah... baiklah... karena kau memintanya di hari pernikahanmu, ku anggap ini kado untukmu." Jawab Gina menyerah 'diserang' oleh dua orang di depannya.


"Sekali ini saja kau menggunakan istrimu untuk merayuku. Dan juga, jangan harap kau bisa menggunakannya dalam hal pekerjaan. Itu tidak akan berhasil. Bisnis adalah bisnis. Tidak ada hubungan pertemaan di dalamnya." Mendengar itu Marco tertawa keras karena merasa sudah langsung mendapat ultimatum dari Gina.


Setelah itu Gina berpamitan untuk meninggalkan pesta yang hampir usai. Keluar gedung dan menghampiri mobilnya yang terparkir di basement gedung hotel.


Seperginya Gina, Hanna melihat seorang pria tinggi berjalan ke arahnya. Hanna menyunggingkan senyum padanya.


"Kenapa datang terlambat?" Tanya Hanna kepada Surya.


"Secara teknis aku tidak datang terlambat. Hanya saja aku menunda menghampirimu." Jawabnya. Hanna mengangkat kedua alisnya mendengar penuturan Surya.


"Aku sudah datang sejak tadi. Tapi, aku harus menepati janjiku." Hanna akhirnya tahu apa yang membuat Surya sengaja terlambat menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2