
Bu Marina masih mengekori Gina. Mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya semakin merasa terpojok.
"Apa kalian kembali rujuk?" Pertanyaan Bu Marina kali ini membuat Gina semakin mantap untuk membuka hubungannya dengan Surya. Ia memang telah memilih untuk tidak menyembunyikannya. Ia akan bersikap terbuka dan enggan menjalaninya dengan backstreet seperti yang pernah ia katakan kepada Surya ketika awal mereka kembali menjalin hubungan. Seperti yang telah Gina dan Surya bicarakan waktu itu.
"Nona, bagaimana jika Pak Rangga dan Bu Marina tahu tentang hubungan kita saat ini?" Tanya Surya sambil menghadapi Gina yang duduk di meja kasir saat kafenya sudah tutup dan hanya tinggal mereka berdua saja yang masih ada di sana.
"Kenapa?" Gina balik bertanya.
"Saya tidak yakin mereka akan langsung memberi tanggapan baik." Jawab Surya dengan senyum yang Gina tahu sengaja ia buat sempurna untuk menyembunyikan sesuatu. Entah apa. Mungkin sebuah ketakutan atau tanggapan sinis dari kedua orang tua Gina. Karena bagaimanapun juga Surya tahu Bu Marina tidak pernah menyukainya dan juga ia pernah menceraikan putri mereka demi menjaga perasaan kekasihnya dulu.
"Kau takut?" Goda Gina karena melihat Surya tampak sendu setelah mengatakan kalimatnya yang terakhir. Surya tidak menjawab tapi sekali lagi ia menyunggingkan senyum.
"Tidak. Karena satu-satunya hal yang membuat saya takut adalah kehilangan Anda." Jawab Surya dengan menatap Gina lembut.
"Asalkan Anda selalu bersama saya, semua hal didunia ini bukanlah masalah bagi saya."
"Bagaimana kalau Papa dan Mama tidak merestui hubungan kita?"
"Saya akan membuat mereka merestui kita, bagaimanapun caranya. Apakah harus mendirikan seribu candi dalam waktu semalam atau memindahkan istana negara ke sebelah R-Company, semua itu adalah hal mudah untuk saya. Tapi jika itu harus kehilangan Anda, maka itu artinya ada sebuah masalah besar yang sedang saya hadapi."
"Wah, apakah harus tersanjung atau geli aku mendengar kesombonganmu itu." Gina tertawa senang mendengar kalimat Surya walau itu terdengar seperti bualan. Entah karena ia sedang dimabuk asmara atau karena cinta telah benar-benar membuatnya buta hingga ia merasa semua yang ada pada Surya membuatnya merasa bahagia.
"Baiklah, melihatmu yang sangat percaya diri itu, aku rasa kita tidak perlu menyembunyikan apapun dan juga dari siapapun termasuk Papa dan Mama. Mari kita jalani hubungan kita seperti pasangan lain. Kita tidak perlu canggung dan khawatir pada pandangan orang. Apakah mereka menganggap kita plin plan atau apapun, ku rasa kata rujuk adalah yang akan sering kita dengar dari mereka." Gina menjelaskan. Surya memandang Gina dengan pandangan takjub.
"Anda memang tidak pernah berhenti membuat saya jatuh cinta walau hanya sedetik saja. Sikap pemberani dan percaya diri itu tidak bisa ditemukan disembarang orang. Tapi Anda bahkan memiliki semuanya." Ujar Surya dengan binar mata cerah memandang mata Gina.
"Kalau begitu, mari kita berusaha memperbaiki hubungan ini dan menyakinkan Papa dan Mama bahwa saat ini kita siap menjalin hubungan kembali dengan lebih baik." Gina tersenyum lebar melihat bagaimana Surya telah kembali yakin dengan tujuannya menjadikan dirinya sebagai pacarnya.
Gina berbalik badan menghadapi mamanya yang masih membuntutinya.
"Aku dan Surya berpacaran." Kalimat Gina tegas penuh percaya diri.
Sedangkan Bu Marina menatapnya lekat. Akhirnya kekhawatirannya kali ini benar-benar telah terjadi. Gina benar-benar telah memproklamasikan perasaan cintanya dengan kembali menjalin hubungan dengan Surya. Hal yang sangat tidak ia inginkan selama ini. Bagaimanapun juga, diluar kemampuan Surya menjadi seorang pemilik warung angkringan yang sangat terkenal bahkan akhir-akhir ini menjadi viral karena banyaknya pengunjung memberikan review di media sosial sehingga banyak food bloger yang juga mulai turut mereview dan memberikan tanggapan baik. Bahkan Bu Marina pun tahu Surya menjadi salah satu nama pengusaha kuliner yang bisa diperhitungkan di kota bahkan negeri ini.
Tapi bagi Bu Marina, silsilah keluarga pun juga masih cukup penting baginya. Sehingga Surya yang hanya adalah anak angkat dari Pak Wirorejo dan Bu Maryam, sepasang suami istri dari kampung yang hanya seorang buruh tani sangat jauh dari harapan Bu Marina dalam memenuhi standarnya sebagai kekasih putrinya.
"Aku tidak tahu bagaimana Surya mengguna-gunaimu. Tapi, ku rasa kau sudah kehilangan akalmu menjadikan Surya sebagai pacar." Kalimat Bu Marina sinis.
"Mama benar, aku juga merasakan hal seperti itu. Tapi anehnya aku merasa bisa dengan senang hati menerima guna-guna Surya."
"Tentu saja, memang begitulah cara kerja guna-guna. Itu akan membuatmu tidak menyadari bahayanya dan kau hanya akan terus menjadi tidak waras sedikit demi sedikit."
"Ya Tuhan, itu artinya aku sedang dalam bahaya?" Gina membelalakkan matanya dengan tatapan kosong ke depan.
"Ku rasa aku harus segera bertemu Surya agar dia bisa menyelamatkanku dari guna-guna yang selalu membuatku menyukainya ini."
"Kau ini." Bu Marina menepuk bahu Gina dengan keras karena tahu putrinya itu sedang meledeknya dengan kalimatnya yang seolah mendukung argumentasinya sementara ekspresi wajahnya terlihat sebaliknya. Gina mengaduh tapi kemudian tertawa dan itu membuat Bu Marina kesal dan segera meninggalkannya di ruang tengah itu.
Gina masih memandang Bu Marina dengan senyum lucu karena Mamanya terlihat kesal dengan lelucon yang ia buat itu. Ia lalu menghela nafas berat. Ia tahu ini hanyalah reaksi awal dari Mamanya. Gina tidak tahu bagaimana reaksi Mamanya selanjutnya. Sepertinya ia akan benar-benar harus bersiteru dengan Mamanya kalau Mamanya tidak juga bisa menerima Surya.
Bu Marina memasuki kamarnya dan terlihat Pak Rangga sedang tertidur pulas. Ia lalu menaiki tempat tidur dengan sembarangan sehingga membuat Pak Rangga terbangun oleh gerakan Bu Marina.
"Kenapa kau ini?" Tanyanya malas sambil melihat Bu Marina yang duduk di sampingnya. Matanya masih cukup berat untuk terbuka tapi gerakan Bu Marina yang seenaknya saat menaiki tempat tidur benar-benar mengusik lelapnya.
"Kau ini tidur saja bisanya. Kau tidak tahu anak kita satu-satunya mulai menghancurkan hidupnya sendiri."
"Siapa?" Pak Rangga yang tampaknya belum sepenuhnya sadar dari tidurnya menjadi tidak mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Ya Tuhan. Tidurlah terus sampai lusa. Jangan bangun-bangun." Bu Marina tampak marah dan lalu membaringkan tubuhnya. Tidak itu saja, ia pun menarik semua selimut semula sebagian menutupi tubuh suaminya, sekarang berpindah membuat tubuhnya tidak terlihat sama sekali. Pak Rangga memandang punggung Bu Marina yang sedang membelakanginya. Ia benar-benar bingung dengan apa yang istrinya lakukan.
"Apakah dia usai mimpi buruk? Atau sedang mengigau?" Gumamnya sambil melihat Bu Marina yang sudah tidak bergeming lagi.
🌸🌸🌸
Sunday tampak turun dari taksi yang ia naiki tepat di sebuah kafe. Ia buru-buru memasuki kafe yang lumayan rame sore ini. Itu adalah kafe yang telah ia sepakati bersama Lita dan Gina untuk bertemu setelah sekian lama mereka tidak pernah pergi bersama. Sehingga sore ini Sunday datang untuk menemui teman-teman semasa ia masih bekerja di Font, tempat kerja Lita sekarang dan juga tempat kerja Sunday sebelum ia menikah dengan Faris serta tempat kerja Gina sebelum ia menjadi Presdir di R-Company. Dari pintu masuk, ia mengedarkan pandangan mencari dimana teman-temannya berada. Ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya dan benar itu adalah Lita yang melambaikan tangan padanya. Sunday membalasnya dengan senyuman kemudian melangkahkan kaki menuju kepadanya.
"Terima kasih." Sunday mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang baru saja mengantarkan segelas moccachino dingin pesanannya.
"Dasar bos satu ini benar-benar mengabaikan kita." Gerutu Lita sambil menatap layar ponsel yang tertera nama Gina sedang ia panggil dalam saluran telepon.
__ADS_1
"Apa dia lupa?" Lanjutnya.
"Ku rasa tidak. Mungkin dia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu." Ujar Sunday usai meminum minumannya.
"Dia adalah bos, jadi dia pasti sibuk."
"Tapi dia bisa memberi kita kabar lebih dulu."
"Sudah, kita tunggu saja dulu. Ngomong-ngomong bagaimana kabar teman-teman?" Sunday mengalihkan pembicaraan mereka.
"Semuanya baik. Hanya saja, semakin banyak project yang harus kami tangani. Ku rasa tim Fedora butuh personil tambahan."
"Apa sesibuk itu?" Tanya Sunday serius.
"Ya, saat ini kami menangani beberapa project sistem informasi toko dan juga kafe. Kau tahu bukan, Fedora selalu kebanjiran project tapi tim kami kekurangan tenaga system analys. Kau ingat? Saat banyak project yang tiba pada deadline, kau hampir tidak pernah ada di Font saat jam kerja dan juga ketika harus bertemu klien, kau selalu jadi pulang malam."
"Bicarakanlah pada pihak HRD kalau tim kalian mengalami hal itu. Agar mereka bisa memberikan solusi. Apakah harus membagi project Fedora dengan tim lain atau menambah personil di timmu." Saran Sunday.
"Kau benar. Tapi seharusnya yang melakukan itu bukankah Pak Dedi? Sedangkan setiap kami menyampaikan keluhan itu, dia selalu mengelak dan mengatakan kami pasti bisa mengerjakannya. Benar-benar menyebalkan." Lita tampak cemberut.
"Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kau mengatakannya kepada Pak Faris?" Ujar Lita lemah lembut dengan senyum manis dan mata mengerling manja."
"Wah... ternyata benar. Ini memang tujuanmu sejak awal ingin mengajakku bertemu? Kau ingin menggunakanku sebagai penyalur aspirasimu?" Sunday tergelak.
"Tidak, tidak... enak saja kau ini menuduhku. Aku tidak begitu. Aku benar-benar rindu kalian dan ingin bertemu. Hanya saja aku tidak bisa menahan diri ketika kau menanyakan kabar kami di Fedora."
"Seharusnya aku tidak bertanya padamu tadi." Sunday memanyunkan bibirnya berpura-pura menyesal.
"Ternyata tidak ada gunanya juga berteman dengan istri bos. Aku tetap tidak bisa menggunakan 'kartu khususku'." Mendengar itu Sunday memelototkan matanya memandang Lita yang sedang tertawa setelah mengatakan kalimatnya.
"Kau ini benar-benar mau memanfaatkanku." Sunday gemas dan mencubit bahu Lita yang duduk di sampingnya. Lita mengaduh sambil tertawa.
Tapi kemudian ia memandang lurus ke depan kafe berdinding kaca itu. Dengan reflek Lita mencolek tangan Sunday. Saat Sunday menanyakan kenapa, Lita memberi isyarat dengan dagunya agar turut melihat ke arah yang ia maksud.
Gina turun dari mobil Surya dan setelah itu Surya menghampirinya. Lalu mereka berbincang sebentar hingga Surya kembali memasuki mobilnya dan meninggalkan Gina yang melambaikan tangan. Sunday dan Lita memandang Gina yang mulai berjalan masuk ke dalam kafe. Menemukan Sunday dan Lita yang memandang ke arahnya, Gina lalu melambaikan tangan dan sedikit mempercepat langkahnya.
"Hai kalian... Ya Tuhan, aku sangat merindukan kalian." Gina lalu menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk dua temannya itu sekaligus.
"Ehh, mana Cena? Kau tidak mengajaknya? Kenapa kau tidak mengajaknya? Aku sangat merindukan pipinya yang bulat seperti bakpau itu?" Gina lalu cekikikan sendiri usai menyapa kedua teman yang sudah menunggunya itu.
Melihat tidak ada respon apapun dari keduanya, Gina jadi merasa aneh. Ia pun mulai merasa tidak enak hati kepada teman-temannya.
"Kalian kenapa?" Tanya Gina dengan sangat hati-hati.
"Baiklah, maafkan aku. Bukankah tadi aku sudah meminta maaf karena datang terlambat dan membuat kalian menunggu. Maafkan aku, Lita. Maafkan aku, Sunday." Gina memeluk kedua temannya secara bergantian saat ia sudah duduk diantara kedua temannya itu.
"Hei, apa yang terjadi?" Tanya Lita dengan menatap Gina lekat.
"Kau sengaja memberi kami kejutan?" Tanya Sunday tidak kalah dengan pandangan yang sama seperti apa yang Lita lakukan.
"Kejutan apa?" Tanya Gina heran sambil menatap keduanya secara bergantian.
"Kelihatannya kau dan Pak Surya masih berhubungan baik." Ujar Lita.
"Kalau tidak berhubungan baik, memangnya kita harus bagaimana?" Jawab Gina.
"Iya juga. Perceraian bukanlah sesuatu yang bisa mengakhiri sebuah hubungan sama sekali. Tapi kau fikir aku bodoh dengan berpura-pura lupa apa penyebab perceraianmu?" Lita memelototi Gina yang malah tersenyum simpul menanggapi ekspresi wajah Lita yang sangat jelas merasa kesal kepadanya.
"Kau tidak cukup gila untuk diperlakukan tidak adil lagi, bukan?"
"Kau ini lama-lama keterlaluan." Gina memukul bahu Lita mendegar kalimatnya yang semuanya terdengar pedas.
"Ketika orang mengatakan cinta kadang tidak ada logika itu mungkin ada benarnya. Karena yang ku alami sekarang adalah hal itu. Dia mempuanyai alasan untuk menceraikanku saat itu. Tapi kemudian dia segera berlari kepadaku karena takut akan benar-benar kehilangan diriku." Gina tersipu-sipu saat mengatakan itu. Sunday dan Lita tertawa melihat tingkah Gina yang membuat mereka merasa geli karena sangat terlihat wajah sumringah jatuh cintanya.
"Hei, aku masih ingat kau mengomeliku saat aku berfikir merasa keberatan jika mantan pacar yang pernah kau banting saat itu memutuskanku. Tapi apa sekarang? Kau kembali bersama mantan suamimu.
"Iya, aku tahu, tapi ini berbeda darimu."
"Baiklah, jelaskan padaku dimana perbedaannya. Karena setahuku dia pergi kemarin juga demi pacarnya sama seperti yang mantan pacarku lakukan." Lita mensedakapkan tangannya di dada seperti menantang Gina untuk memberinya penjelasan yang bisa membuatnya tahu apa perbedaan yang ia maksud.
__ADS_1
"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Itulah, cobalah katakan agar aku mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi." Kejar Lita penasaran.
"Sebenarnya dia hanya pergi sejenak dan kembali setelah menyadari apa yang seharusnya ia lakukan."
"Dan kau percaya begitu saja?"
"Ya, ku rasa begitu. Aku cukup mengenalnya sehingga aku merasa aku harus memberinya kesempatan kali ini."
"Kau yakin?" Gina mengangguk sambil menatap Lita.
"Baiklah, apapun alasan kalian untuk kembali bersama, yang jelas aku turut senang melihatmu senang begini." Kalimat Sunday dengan senyum yang membuat lesung dipipinya jadi lebih terlihat.
"Terima kasih, Sunday." Lagi-lagi Gina memeluk Sunday.
"Dasar dua drama queen." Gumam Lita. Tapi kemudian Gina menarik Lita juga untuk ia peluk juga. Lita yang kaget sempat meronta tapi kemudian Sunday pun memeluknya dan itu membuatnya tidak berdaya sehingga satu-satunya hal bisa ia lakukan adalah pasrah dan turut merentangkan tangan memeluk kedua sahabatnya. Mereka bahkan tidak peduli dengan tingkah lebay mereka yang mendapat pandangan aneh dari para pengunjung kafe yang lain.
Sekarang Gina telah berada di dalam mobil Surya setelah ia menjemputnya tadi di kafe tempatnya berkumpul bersama Sunday dan Lita.
"Apakah pertemuannya menyenangkan?" Tanya Surya kepada Gina disela obrolan mereka.
"Ya, sudah lama sekali aku tidak berkumpul bersama mereka. Ada banyak hal yang kami bicarakan." Ujar Gina dengan wajah cerahnya. Surya senang melihat hal itu.
"Surya, ayo kita makan jagung bakar." Ajak Gina saat melihat tukang jagung bakar di jarak tidak jauh dari mobil Surya. Surya pun menghentikan mobilnya dan ikut turun menyusul Gina yang sudah menghampiri tukang jagung bakar setelah mobil Surya berhenti.
Tampak Gina mulai memesan jagung bakar kesukaannya. Lalu ia memandang Surya dan melambai sebagai isyarat agar Surya bergegas menghampirinya.
"Surya, kau mau rasa apa?" Tanya Gina.
"Rasa cintaku padamu, ada?" Jawab Surya yang seketika memelototkan matanya. Itu membuat Surya tersenyum lebar karena berhasil menggoda pacarnya.
"Jagung mertega saja, Nona." Ujar Surya akhirnya sebelum Gina bertanya sekali lagi dengan nada tinggi karena tampak ia sudah mulai membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
Mendengar itu Gina kembali menutup mulutnya tapi lalu meminta kepada penjualnya untuk membuatkan jagung bakar mertega juga untuk Surya.
"Kau ini, kenapa memesan jagung bakar rasa original? Bukankah itu terlalu biasa?" Tanya Gina sambil memakan jagung bakar rasa pedas manis yang ada di tangannya.
"Karena saya memang suka rasa original, Nona."
"Terlihat sekali kau orang seperti apa. Orang yang sederhana dan takut mencoba hal baru."
Mendengar penilaian Gina terhadapnya, Surya mengerutkan kening. Bagaimana bisa Gina menilai dirinya hanya dari rasa jagung bakar yang ia pesan. Surya merasa Gina cukup sembarangan mengatakan itu. Tapi Surya hanya menanggapi dengan senyum lucu mendengar penuturan kekasihnya.
"Tidak, tidak seperti itu." Jawab Surya yang membuat Gina menoleh kepadanya.
"Buktinya, Anda adalah hal baru yang ingin saya taklukkan. Perasaan saya terhadap Anda juga bukan sesuatu yang sederhana. Jadi, saya bukan orang yang seperti itu." Saat melihat Surya mengatakan itu, Gina merasa Surya bersungguh-sungguh. Tidak ada nada candaan dari suaranya. Apalagi tatapan mata lembut tapi serius itu, jantung Gina berdetak dua kali lebih cepat saat mendapatinya. Tapi untuk membuat dirinya tidak canggung, Gina lalu tertawa dan kembali memakan jagung bakarnya.
"Kau ini, kenapa menganggapnya serius? Aku hanya bercanda." Kata Gina dengan sisa tawa yang masih ada.
"Tidak apa, Nona. Saya memang seserius ini jika itu tentang perasaan kepada Anda." Jawab Surya dengan senyum dibibirnya menanggapi wajah Gina yang masih saja terlihat gugup walau sudah berusaha ia sembunyikan.
"Sejujurnya kadang kau membuatku minder." Ujar Gina kemudian.
"Kenapa, Nona?"
"Aku takut tidak bisa mencintaimu sesuai apa yang kau harapkan." Gina kembali menatap Surya.
"Saya tidak mengharapkan cinta yang banyak dari Anda, Nona. Saya hanya berharap Anda selalu bisa mencintai saya, itu sudah cukup." Seperti air es yang mengguyur dadanya, kalimat Surya yang terdengar lembut penuh ketulusan itu benar-benar membuat perasaanya terasa nyaman.
"Surya, apakah kau seorang mentalis? Kenapa semua yang kau katakan seperti bisa menghipnotisku." Ujar Gina sambil menatap Surya sambil tersipu.
"Itu adalah mantra yang saya tiupkan agar Anda jatuh cinta lebih dalam kepada saya, Nona."
"Itu sangat berbahaya. Sepertinya aku harus waspada." Balas Gina dengan tawa kecilnya.
"Benar, Anda harus waspada kepada saya. Karena saya menjadi semakin serakah sekarang." Gina mengerjapkan mata berkali-kali mendengar kalimat Surya yang tidak ia mengerti maksudnya.
"Seserakah apa?" Tanya Gina lirih karena tiba-tiba merasa takut dengan apa yang sedang ada di fikiran Surya saat ini.
__ADS_1
"Serakah karena ingin menjadikan Anda sebagai istri saya lagi." Gina menatap Surya yang juga sedang menatapnya lurus. Mata kecoklatan yang ada di keremangan malam dengan pencahayaan hanya dari lampu jalanan itu seperti menelusuri perasaannya dan membuatnya berdebar lagi lebih cepat dari sebelumnya.