Tahta Surya

Tahta Surya
Pengintai


__ADS_3

"Kau... disini..." Gina masih terpukau dengan jelmaan malaikat di hadapannya.


"Sudah merindukan aku?" Tanya Gina percaya diri dan tanpa malu pada dua orang lain disana. Seolah Gina ingin menunjukkan pada Surya seberapa dekat dirinya dan Faris.


"Kau benar-benar tidak akan pernah berubah. Dasar!" Faris mengacak-acak rambut dipuncak kepalanya. Gina manyun dan merapikan lagi rambutnya.


"Pasti Font seperti kota mati saat aku tidak ada di sana. Pemandangan indah tidak lagi terlihat. Satu-satunya icon yang Font punya sudah berpindah ke R-Company." Gina semakin menarsiskan diri.


"Apa? Pemandangan indah? Icon?" Faris terbahak menanggapi Gina.


"Bukankah satu-satunya wanita cantik di Font telah pergi?" Gina memamerkan senyum lebarnya. Surya ikut tersenyum melihat Gina.


"Ya... memang, setelah Sunday ku rumahkan, kau memang menjadi satu-satunya wanita tercantik di Font." Mendengar itu tiba-tiba Gina ingin telinganya mendadak tuli agar ucapan Faris tidak membuat hatinya cemburu. Sudah sangat bahagia bertemu Faris tapi masih saja nama Sunday disebut dan dipuji seperti itu. Itu membuat suasana hatinya menjadi tidak baik.


"Ahh, iya iya... dia wanita tercantik di negeri ini versimu. Aku lupa itu." Kecemburuannya sangat tampak dari wajah cemberutnya.


"Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini kau suka sekali memberi kejutan. Setelah ini apa lagi?" Faris menyelidik.


"Apa?" Gina pura-pura tidak tahu maksud Faris. Padahal ia bisa membaca bahwa kalimat Faris pasti tertuju pada undangan pernikahannya yang telah Faris terima. Ia tahu itu karena sejak beberapa hari yang lalu undangan itu sudah tersebar. Karena kekayaan yang dimiliki Papanya, persiapan pernikahan yang diselenggarakan secara singkat itu pasti bisa segera terlaksana. Undangan, gedung dan segala yang dibutuhkan untuk sebuah pernikahan mewah bisa dengan mudah digelar dengan sangat mudah.


"Setelah resign secara tiba-tiba dari Font, lalu mendadak akan segera menikah. Lalu akan ada kejutan apa lagi darimu?" Faris melebarkan senyum menggodanya.


Atau jangan-jangan dalam waktu dekat ini kau bahkan melahirkan seorang bayi?"


"Hei, jaga mulutmu." Gina melotot mendapat ucapan Faris. Sedangkan Faris tampak puas melihat Gina marah seperti itu dan menertawakannya hingga terbahak.


"Kau pikir aku gadis seperti apa." Gina berapi-api.


"Jangan mencoba menebar fitnah apalagi dihadapan orang lain. Kau bisa merusak nama baikku."


"Baiklah... baiklah... aku hanya bercanda. Lagi pula aku tahu Pak Surya adalah pria baik-baik." Faris memandang Surya sekilas yang membalasnya dengan senyum.


"Jadi, itu artinya aku wanita tidak baik?" Gina semakin cemberut.


"Aku tidak mengatakan itu. Kau sendiri yang mengatakannya." Faris masih sangat seru menggoda Gina. Gina semakin kesal sekaligus gemas pada pria yang sangat disukainya itu.


"Ngomong-ngomong, selamat untuk kalian." Faris memangdang Gina dan Surya bergantian.


"Pak Surya, ku titipkan adik perempuanku kepadamu. Aku harap kau menjaganya dengan baik. Dia sangat nakal dan juga cengeng. Kau harus mempunyai banyak stok coklat dan permen untuk membujuknya saat dia rewel."


"Hei, apa itu. Aku bukan anak kecil." Gina menggerutu, membuat dua orang disana, Surya dan Hanna, menahan tawa mendengar penuturan Faris.

__ADS_1


"Hari sudah hampir gelap, mari kita pergi, Pak Faris." Suara Surya memecah suasana.


"Kemana?" Tanya Gina ingin tahu.


"Aku harus mengenal presdir R-Company yang baru dengan lebih baik. Meskipun kami sudah saling kenal tapi aku harus mengenalnya secara pribadi." Faris melirik Surya yang ada di sampingnya.


"Sebagai software house yang mendukung sistem informasi milik R-Company, kami harus menjalin hubungan baik bukan."


"Oh, begitu." Tanggapan singkat Gina dengan nada mencibir. Gina merasa harusnya dia yang ada di posisi itu, bukan Surya. Harusnya untuk urusan antara R-Company dan Font, dirinya yang akan menemui Faris, bukan Surya.


"Baiklah, kami pergi dulu." Surya berpamitan. Faris sempat memberinya senyum sebelum ia berlalu. Gina masih memandang punggung Faris yang semakin menjauhinya. Rindunya meledak sejak memandang wajah Faris tadi.


"Nona... apakah dia presdir Font yang baru?" Suara Hanna tiba-tiba membuat Gina tersadar dan mengalihkan pandangan.


"Heemmm." Jawab Gina mulai melangkah lagi.


"Sangat tampan." Ujar Hanna mensejajari langkah Gina.


"Pria idamanku."


"Maaf Nona?" Hanna ingin memastikan pendengarannya.


"Baik Nona."


"Kau tahu, aku menyukai Faris."


"Benarkah, Nona?" Gina mengangguk.


"Dia satu-satunya pria yang membuatku jatuh cinta hingga saat ini."


"Lalu... Pak Surya?"


"Coba kau fikirkan. Apa cukup masuk akal jika tiba-tiba aku menikah dengan Surya? Kita tidak pernah dekat apalagi pacaran. Bagaimana bisa kemudian kita melangsungkan pernikahan."


"Maaf, tapi saya juga berfikir seperti itu, Nona."


"Aku tahu. Aku sangat tahu semua orang di R-Company pasti berfikir yang bukan-bukan tentang pernikahanku yang tiba-tiba dengan Surya dan peralihan jabatan Papa kepadanya."


"Sampai saat ini hal itu masih menjadi trending topik disini, Nona."


"Aku tidak peduli apapun itu. Aku tidak peduli fikiran dan pendapat mereka tentang hal ini. Yang aku inginkan saat ini adalah aku hanya harus mendapatkan posisiku yang diambil oleh Surya. Bagaimanapun caranya. Kau harus membantuku." Kini mereka berdua sudah sampai basement setelah keluar dari pintu lift.

__ADS_1


"Baik Nona."


"Kau mau pulang?" Tanya Gina saat tiba di depan mobilnya yang terparkir.


"Iya Nona."


"Kau asistenku setiap ku butuhkan bukan?"


"Benar Nona."


"Maaf jika kali ini aku harus mengajakmu lembur."


"Lembur?" Hanna bingung dengan ajakan Gina yang tiba-tiba.


"Kemudikan mobilmu, ayo kita ke suatu tempat." Gina menarik tangan Gina agar membuka pintu mobilnya. Hanna patuh.


Mobil Hanna melaju dan berbaur dengan kendaraan lain di jalan raya.


"Ikuti mobil itu, Hanna." Tunjuk Gina pada sebuah Land Cruiser 200 sekitar 50 meter di depan mereka, mobil milik Surya yang melaju dibelakang mobil Faris.


"Bukankah itu mobil Pak Surya, Nona?"


"Ya." Mata Gina masih belum lepas dari pandangan di depannya. Hanna menyetir dengan turut mengawasi mobil Surya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Gina dengan mengikuti Surya seperti itu, tapi ia harus mengikuti perintahnya.


Mobil Surya dan Faris memasuki sebuah restoran mewah di kawasan elit. Faris keluar dari dalam mobil dan di sambut oleh seorang valet parkir. Begitu juga dengan Surya. Gina menunggu hingga dua pria itu memasuki restoran baru Gina turun dari dalam mobilnya. Hanna menuju basement restoran mewah itu untuk memarkir mobilnya.


Apa yang mereka lakukan? Kenapa firasatku tidak baik. Kenapa aku merasa Faris berbohong saat mengatakan pertemuan mereka hanya karena sebuah urusan pekerjaan. Saat memasuki restoran, Gina disambut oleh seorang pelayan.


"Apakah Anda sudah melakukan reservasi, Nona?"


"Belum."


"Baiklah, mari Nona." Gina tahu pelayan sedang menawarkan untuk menunjukkan meja kosong untuknya. Gina mengikuti. Saat berjalan menuju mejanya, Gina menangkap dengan pandangannya pada dua pria yang ia buntuti di sebuah meja. Mereka tampak berbincang dengan akrab.


Benar, karena mereka sering bersama dalam pekerjaan, mereka bisa seakrab itu. Semua itu berkat Pak Rangga yang selalu membawa Surya kemanapun ia pergi.


Seorang pelayan membawa Gina ke sebuah meja yang agak jauh dari meja Surya dan Faris berbincang. Ini membawa keuntungan tersendiri bagi Gina. Ia bisa mengawasi dengan lebih leluasa karena jarak pandang yang tidak terlalu dekat.


"Gina sayangku..." Suara tiba-tiba seorang pria saat Gina baru saja duduk dikursinya. Gina menoleh ke arah sumber suara. Suara yang tampak asing baginya.


Hari ini kenapa banyak yang memanggil namaku dari arah belakang. Batin Gina.

__ADS_1


__ADS_2