Tahta Surya

Tahta Surya
Panggilan Sayang


__ADS_3

Surya melihat Gina yang suka sekali menyentuh pipi Cena. Bayi kecil itu memang sangat cantik, jadi tidak heran Gina menyukainya.


"Surya, bagaimana kau bisa menidurkannya?" Gina masih memandang Cena dengan senyum di bibirnya. Surya yang memperhatikan itu jadi ikut tersenyum.


"Seperti yang pernah Anda katakan kepada saya, saya punya ilmu pelet, Nona. Saya juga memelet bayi untuk nyaman bersama saya." Canda Surya. Gina memanyunkan bibirnya tidak percaya. Untuk pertama kalinya Gina menyadari bahwa Surya tidak memiliki ilmu pelet. Karena bahkan bayi saja suka berada di dekatnya.


Sifat Surya yang sangat peduli dan sikapnya yang ramah membuat orang lain nyaman jika sedang bersamanya, itu yang Gina rasakan selama ini. Menuduh Surya memiliki ilmu pelet hanya ia gunakan karena ia membenci Surya yang telah merebut posisinya di R-Company. Sebenarnya Gina tidak begitu yakin apakah Surya benar-benar memiliki ilmu pelet atau tidak.


"Dia cantik sekali. Wajahnya mirip Faris tapi pipinya mirip Sunday."


"Begitulah Nona, orang mengatakan anak perempuan kebanyakan memiliki wajah mirip ayahnya. Sedangkan anak laki-laki biasanya mirip ibunya."


"Apa benar seperti itu?" Gina berfikir.


"Ahh, kau terlalu mengada-ada."


"Coba ingat, bagaimana bisa Anda memiliki wajah yang lebih mirip dengan Papa daripada dengan Mama."


"Tidak, aku sama sekali tidak mirip dengan Papa."


"Mata, hidung, bibir..." Surya menunjuk wajah Gina dengan dagunya.


"Semua itu adalah milik Papa. Anda adalah duplikat dari Papa. Hanya saja dalam versi wanita."


"Benarkah?" Gina berfikir lagi dan mengingat-ingat wajahnya sendiri dan wajah Papanya.


"Akhirnya aku tahu, seperti dua kutub sejenis yang didekatkan akan selalu tolak menolak. Itulah kenapa aku dan Papa tidak pernah akur. Kami memiliki wajah yang sama." Analisa Gina. Surya tertawa mendengar itu. Ia merasa sangat lucu bagaimana kesamaan wajah bisa memicu ketidakcocokan sebuah hubungan.


Tapi sepertinya Gina tidak peduli Surya menertawakannya begitu. Ia masih seru memandang dan menyentuh pipi Cena yang tertidur pulas dalam gendongan Surya.


"Tapi ngomong-ngomong, kau tidak mirip ibu." Ujar Gina sambil memandang Surya.


"Ehh, kau juga tidak mirip Bapak. Lalu kau ini anak siapa?" Gina memicingkan mata meneliti setiap detail wajah Surya. Dipandang seperti itu, Surya menjadi salah tingkah.


"Oh, banyak yang mengatakan kalau saya mirip Mbah Kakung, Nona."


"Mbah kakung? Siapa itu?"


"Kakek, maksud saya kakek saya."


"Oh ya? Apa gen dari kakek bisa menurun lurus padamu secar dominan seperti ini. Bahkan mata, hidung, bibir tidak ada yang sama dengan Bapak dan Ibu."


"Iya Nona, itulah kenapa aku selalu dijuluki sebagai titisan Mbah Kakung."


"Ohh..." Gina hanya menanggapinya singkat.


"Apa Mbah Kakung juga punya mata coklat seperti matamu?" Tanya Gina penasaran dengan mata indah Surya yang tidak diturunkan oleh Bapak dan Ibunya yang bermata hitam seperti orang pribumi kebanyakan.


"Bisa jadi, Nona. Saya tidak tahu pasti karena Mbah Kakung meninggal saat saja belum lahir."


"Sepertinya kau enar-benar dititiskan oleh Mbah Kakung ya." Surya tersenyum sambil mengangguk.


"Anda mau menggendongnya, Nona?" Mereka sekarang ada di ruang tamu. Faris dan Sunday membiarkan mereka bersama menikmati waktu dengan putrinya.


"Tidak, dia bukan boneka jadi aku merasa dia mungkin tidak akan aman berada di tanganku." Tolak Gina.


"Tidak apa-apa, Nona. Anda bisa memeluknya dengan lembut dan secara perlahan seperti ini."


"Jangan, aku takut akan membangunkannya. Sebaiknya dia tetap bersamamu saja. Sepertinya dia sangat menyukaimu."


Gina dengan serius menolak tawaran dari Surya untuk menggendong Cena. Ia benar-benar takut untuk menggendong bayi mungil yang rapuh itu.


"Tapi suatu saat nanti Anda juga pasti akan menjadi seorang ibu. Anda juga akan menggendong bayi. Bahkan bayi Anda akan menempeli Anda kemana-mana."


"Aku tidak pernah berfikir akan punya bayi." Gina tergelak.


"Benar-benar aku tidak pernah membayangkan itu."


"Semua wanita pada akhirnya akan menjadi seorang ibu jika saatnya sudah tiba, Nona. Demi kelestarian umat manusia di bumi, seorang wanita akan menjadi ibu."


"Hei, kau ini biacara apa. Memangnya kau ini guru biologi." Gina mencibir Surya yang hanya menyenyuminya saja. Dan lagi-lagi Gina harus terhipnotis oleh senyum itu.


"Hei, bisa-bisanya kau menikungku seperti ini." Suara dari seseorang dari arah pintu rumah Faris. Gina dan Surya seketika menoleh ke arah sumber suara.


"Kesini kau." Lita yang tiba-tiba datang segera menggandeng Gina dan meminta izin kepada Surya. Lita menarik tangan Gina untuk masuk ke dalam ruang keluarga di rumah Sunday.

__ADS_1


"Jadi ternyata karena ini kau menolak ajakanku tadi? Kau ingin datang hanya berdua dengan suamimu?" Suara Lita pelan dan lebih mirip bisikan.


"Bukan begitu, bukan aku yang mengajaknya tapi dia yang mengajakku." Gina ikut berbisik juga.


"Oh ya? Apa aku harus percaya padamu? Atas dasar apa Pak Surya yang ingin datang ke sini? Bukankah hubungannya dengan Pak Faris hanya relasi saja?"


"Terserah kau. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu."


"Eheemm..." Suara Sunday di belakang mereka berbisik.


"Maaf, saya nyonya rumah ini. Anda siapa? Ada urusan apa Anda datang kemari tanpa permisi?" Ujarnya kemudian sambil melipat tangan di dada.


"Ya Tuhan. Mengagetkan saja." Lita berbalik ke arah Sunday seketika.


"Oh iya, Nyonya Sunday. Maaf, saya pegawai Pak Faris ingin mengucapkan selamat atas kelahiran putri pertama beliau." Lita berpura-pura sopan seolah dirinya adalah bawahan Sunday.


"Hei, ada apa dengan kalian? Aku sedang tidak menjadi Bos sekarang. Jadi, jangan hiraukan Sunday, Lita."


"Ahh, iya terima kasih, Pak."


Semua orang lalu tertawa melihat adegan tidak penting itu.


"Ngomong-ngomong, selamat ya Sunday. Selamat Pak Faris. Selamat menjadi Papa dan Mama." Ucap Lita kemudian.


"Lalu, dimana bayi lucu dan imut itu?" Lita mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Hei, dari tadi apa yang kau lihat?" Gina membalik tubuh Gina untuk menghadap ke pintu ruang tamu. Dari tempatnya berdiri terlihat Surya yang sedang menggendong Cena dan tersemyum padanya.


"Siapa itu? Apa dia malaikat?" Gumam Lita yang didengar oleh Gina.


"Aww, sakit." Keluh Lita merasakan bahunya panas. Seketika itu Gina memukul bahu Lita. Gina tidak rela melihat Lita memandang Surya dengan penuh kekaguman seperti itu.


"Sebaiknya kau menjaga pandanganmu." Ujar Gina sambil meninggalkan Lita untuk menghampiri Surya.


"Kenapa dengannya?" Lita mendekati Sunday.


"Menikahlah, nanti kau akan tahu apa yang sedang terjadi pada Gina." Sunday tersenyum lebar sambil meninggalkan Lita untuk mengikuti Gina. Begitu juga Faris. Saat bertemu pandang dengan Faris, Lita menunduk hormat pada bosnya di Font itu.


"Apa yang terjadi pada Gina? Kenapa dia marah?" Lita menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bayi cantik, bibi Lita datang." Lita berlari menyusul semua orang di ruang tamu dan memutuskan untuk mengabaikan fikirannya tentang Gina.


Cena sudah tidur di keranjang bayi dan Gina masih memandang gemas bayi cantik itu.


"Kau akan memiliki yang seperti ini juga setelah ini." Ujar Sunday yang sudah ada di sampingnya sekarang. Sedangkan Lita berada di sebelah Sunday sambil memakan kue-kue kering yang disajikan. Gina mengangkat wajahnya dari memandang Cena yang terlelap itu. Ia hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke arah Surya yang sedang berbincang dengan Faris di teras samping.


Mana mungkin aku akan punya yang seperti Cena dalam waktu dekat. Aku dan Surya bahkan tidak benar-benar menikah. Batin Gina.


Seorang asisten rumah tangga menghampiri Sunday dan mengatakan bahwa hidangan makan malam sudah siap.


"Terima kasih, Bi." Ucap Sunday dengan tersenyum. Lalu asisten rumah tangga itu kembali ke dapur.


"Baiklah, mari kita makan malam."


"Akhirnya makan juga." Ujar Lita dengan senyum lebar.


"Dasar tidak tahu malu kau ini." Gina mencibirnya.


"Hei, ini sudah waktunya makan malam. Apa salahnya jika aku merasa lapar."


"Tapi sedari tadi kau sudah memakan semua cemilan ini."


"Itulah, ini karena aku memang lapar." Lita lalu tertawa.


"Gina, ajaklah Pak Surya masuk untuk makan malam." Suruh Sunday. Gina mengangguk lalu menghampiri Surya dan Faris yang sedang mengobrol.


"Ehem... Sunday ingin kalian masuk dan makan malam."


"Baiklah, mari kita masuk." Faris beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Surya.


Faris berjalan lebih dulu lalu diikuti oleh Gina. Tapi lalu Gina memperlambat langkahnya untuk menunggu Surya agar mereka bisa berjalan beriringan menuju meja makan.


"Apa saja yang kalian bicarakan?" Tanya Gina setengah berbisik di samping Surya.


"Hanya seputar tentang pekerjaan, Nona."

__ADS_1


"Ohh..."


"Saya lihat Anda sangat senang bertemu teman-teman Anda lagi setelah sekian lama."


"Iya, akhir-akhir ini aku sangat sibuk sampai-sampai tidak memiliki waktu untuk bertemu mereka." Suara Gina dengan sedikit mengeluh.


"Sesekali luangkan waktu untuk bersenang-senang seperti dulu lagi, Nona. Hanya sesekali tidak apa-apa. Saya bisa menjadi teman bersenang-senang Anda." Ucapan Surya membuat Gina memalingkan wajah kepadanya. Surya membalas tatapan Gina dengan senyuman. Tepat saat itu mereka sampai di meja makan dengan semua orang yang sudah duduk di sana.


Surya menarik salah satu kursi untuk Gina duduk. Dan setelah Gina mulai duduk di sana, Surya menarik kursi lain untuk dirinya sendiri. Semua yang ada di meja makan mulai mengambil menu yang mereka inginkan. Ada banyak hidangan di sana. Tapi Gina tertarik pada sebuah masakan berbahan daging dan berbumbu merah.


"Apa ini, Sunday?" Tunjuk pada sepiring olahan daging itu.


"Apa ini daging balado?"


"Iya benar." Jawab Sunday sambil menaruh secentong nasi di atas piring Faris.


Tanpa kata, Surya mengambil dua potong daging dengan ukuran sedang itu untuk diletakkan di piring Gina. Gina memandang Surya. Surya tersenyum seolah tahu apa yang difikirkan oleh Gina.


"Sedikit nasi di malam hari tidak apa-apa, Nona." Surya lalu mengambil sedikit nasi untuk Gina. Semua orang yang melihat itu jadi tersenyum. Surya terlihat sangat manis memperlakukan Gina seperti itu.


"Baiklah." Gina tidak tahan untuk tidak membalas senyum Surya.


"Wah, kalian jangan membuat adegan romantis di sini. Kalian tidak kasian pada diriku yang masih sendiri?" Lita bersuara. Gina dan Surya memandangnya bersamaan lalu tersenyum malu-malu.


"Cepatlah menikah agar kau tidak merasa iri saja." Sahut Sunday kepada Lita yang sudah duduk menghadapi piringnya sendiri.


"Ngomong-ngomong, aku suka saat Pak Surya memanggil Gina dengan panggilan Nona. Itu terdengar manis sekali." Mendengar itu Gina lalu memandang Surya. Ternyata Surya tersenyum mendengar itu.


"Itu karena saya belum terbiasa memanggilnya dengan nama." Surya tersenyum malu-malu. Gina menahan tawa mendengar alasan Surya.


"Sejak awal saya selalu memanggilnya dengan sapaan Nona jadi rasanya akan aneh kalau saya tiba-tiba memanggil namanya langsung."


"Wah, Anda harus membiasakan diri memanggil namanya. Atau mungkin kalau memanggil namanya terlalu sulit, Anda bisa mulai memanggilnya sayang, cinta, kasih, baby, honey, sugar." Goda Sunday semakin gencar melihat pasangan di depannya tampak sama-sama tersipu. Gina dan Surya tertawa bersamaan.


"Tidak. Tidak perlu seperti itu. Aku suka dipanggil Nona." Gina akhirnya membuka suara. Karena membayangkan Surya memanggilnya dengan panggilan memakai bahasa asing itu jadi membuatnya geli.


"Kalian hanya tahu dia memanggilku 'Nona' saja. Tapi sebenarnya itu masih ada kelanjutannya."


"Benarkah? Apa itu?" Lita penasaran. Seperti juga yang lainnya.


"Nona manis." Jawab Gina dengan mata berbinar.


"Dia biasa memanggilku Nona Manis." Sekarang Gina memandang Surya yang juga memandangnya. Mereka jadi saling pandang sekarang. Gina mengatakan alasan yang biasa Surya pakai jika orang lain menanyakan panggilan 'Nona' yang Surya lontarkan padanya.


"Wah... manis sekali." Puji Lita.


"Aku jadi iri kepadamu." Ujar Sunday


"Hei, kenapa kau ini. Bukankah aku juga biasa memanggilmu Nona. Kenapa kau masih saja iri kepada Gina?"


"Nona Hari Minggu, maksudmu?" Sunday memelototi Faris. Faris membalasnya dengan senyum lebar karena ucapan Sunday sangat benar. Sejak dulu sebelum menikah bahkan saat mereka baru berteman, Faris sering memanggilnya begitu. Nama Sunday yang berarti hari minggu dalam bahasa inggris membuat Faris suka memanggilnya Nona Hari Minggu.


Dan malam itu rumah Sunday dan Faris benar-benar dihiasi kebahagiaan. Bayi mungil yang baru lahir dan teman-teman yang sangat baik hadir turut berbahagia atas kelahiran bayi mereka.


🌸🌸🌸


Gina melambai pada Sunday dan Faris saat akan memasuki mobilnya. Baru pertama kali ini Gina meninggalkan kedua orang itu dengan perasaan tenang. Tidak ada kecemburuan yang menyakitkan lagi.


Saat ini mobil Surya mulai keluar dari gang rumah Faris. Gina menarik nafas panjang dan Surya sempat meliriknya. Ia seperti mengerti apa yang Gina rasakan. Surya berfikir pasti sangat berat bagi Gina untuk bertahan di sana tadi. Melihat bagaimana Sunday dan Faris berbahagia, pasti Gina merasa sangat cemburu. Dan itulah kenapa Surya sengaja mengajaknya mengunjungi mereka, karena agar Gina tahu berharap pada sesuatu yang mustahil sangatlah melelahkan dan berharap Gina segera menyadari hal itu.


Tapi tanpa sepengetahuan Surya, justru yang dirasakan Gina saat ini adalah sebaliknya. Ia tidak merasakan apa-apa lagi terhadap Faris. Perasaannya sudah beralih kepada dirinya. Gina menarik nafas panjang karena menikmati kebebasannya sekarang. Bebas dari tekanan harus menyimpan perasaannya kepada Faris.


Saat melintasi sebuah jalan sepi, tiba-tiba perhatian Gina tersita pada sesuatu.


"Berhenti. Surya, berhenti." Perintah Gina. Seketika Surya menginjak rem.


"Ada apa, Nona? Ada yang tertinggal?"


"Mundur." Perintah Gina lagi dan membuat Surya mengerutkan kening. Meskipun heran dengan apa yang terjadi, tapi Surya menurut juga pada apa yang Gina perintahkan.


"Berhenti." Aba-aba Gina lagi.


"Apa yang terjadi, Nona?" Surya memandang Gina serius kali ini karena tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh Gina.


Tapi Gina tidak menghiraukan Surya dan turun dari mobilnya begitu saja dan berjalan ke arah belakang mobil. Pandangan Surya mengikuti ke mana arah Gina pergi. Setelah itu Surya tahu apa yang terjadi. Gina menghampiri segerombolan orang di tempat tidak jauh dari mobilnya berhenti.

__ADS_1


"Maaf, ada apa ini?" Gina menghampiri gerombolan yang terdiri dari tiga orang pria dengan seorang gadis itu.


__ADS_2