
Gina berjalan menyusuri tumpukan karung biji plastik di gudang R-Company untuk melakukan pemeriksaan secara langsung. Sebagai pimpinan perusahaan, sesekali Gina melakukan pengecekan secara langsung untuk mengetahui keadaan di gudang. Setelah ini pun ia akan langsung menuju ke pabrik pembuatan alat-alat berbahan plastik di gedung yang masih satu kawasan dengan gudang.
"Pastikan biji-biji plastik ini memiliki kualitas terbaik karena kita harus membuat produk berkualitas dari bahan ini."
"Baik Nona." Seorang kepala gudang mengangguk patuh kepada Gina. Hanna tampak berada di belakang Gina, mengikutinya.
"Hanna, informasikan kepada bagian produksi untuk menambahkan lagi stok biji plastik khusus alat makan. Karena bulan ini kita akan mulai memproduksi kotak bekal seri terbaru."
"Baik, Nona." Hanna berjalan mengikuti Gina menuju pintu keluar setelah berpamitan pada kepala gudang yang berdiri di depan pintu gudang memastikan atasannya itu berjalan menuju pabrik pembuatan produk berbahan plastik.
R-Company memang memiliki beberapa pabrik sebagai tempat untuk memproduksi. Barang-barang yang terbuat dari kayu dan dari plastik ada di bagian area yang sama. Sedangkan yang memiliki bahan logam ada di pabrik yang berbeda tempat yang semua itu dibangun dikawasan industri dan terpisah dari gedung kantor R-Company yang ada di tengah kota. Sehingga untuk datang ke setiap pabrik, Gina akan menempuh perjalanan beberapa menit dari kantornya.
Memasuki gedung pabrik pembuatan barang plastik, Gina disodori sebuah helm safety dan mengganti sepatunya dengan sepatu khusus untuk melindungi kaki jika memasuki area pabrik.
"Hanna, kau disini saja." Perintah Gina kepada Hanna yang bersiap mengganti sepatunya.
"Tidak apa-apa, Nona." Elak Hanna.
"Kau sedang hamil. Banyak bahan kimia di dalam sana, jadi tunggulah di sini. Aku akan masuk bersama Pak Kepala Pabrik." Jawab Gina tegas sehingga Hanna hanya bisa menurut mendapat perlakuan Gina yang sangat perhatian padanya.
Gina berjalan semakin ke dalam menghampiri mesin cetak produksi tempat sampah. Ia melihat lebih dekat bagaimana proses dan cara kerja mesin serta cara kerja para pegawai pabrik. Lalu berpindah ke sisi lain dan melihat barang-barang produksi lain dengan sesekali berbincang dengan Mandor pabrik yang menemaninya.
Hanna duduk diluar pabrik di dalam pos security sambil menatap layar PC tablet. Ia sedang melanjutkan pekerjaan sambil menunggu Gina melakukan kunjungannya. Tapi beberapa saat kemudian Hanna merasa ingin buang air kecil. Sehingga ia mencari toilet di area itu.
Gina keluar dari dalam pabrik ditemani oleh kepala pabrik di sampingnya. Gina mengedarkan pandangan ke sekitar pabrik dan tidak menemuka Hanna. Hingga seorang security mendekatinya.
"Nona, Nona Hanna pergi ke toilet." Ujar security itu seperti bisa membaca fikiran Gina. Security itu tahu Hanna berjalan menuju ke toilet.
Lalu beberapa saat kemudian Hanna tampak keluar dari dalam toilet dan berjalan ke arahnya. Tapi Gina melihat wajah Hanna tidak seperti ketika ia meninggalkannya tadi.
"Hanna..." Gina memandang Hanna yang tampak pucat itu.
"Kau mual lagi? Ayo kita segera kembali ke kantor. Atau aku akan membelikanmu sesuatu dulu agar kau merasa segar kembali? Es buah, asinan atau rujak mungkin?" Gina merasa kasihan kepada Hanna yang terlihat lemas itu.
"Tidak apa-apa, Nona."
"Atau ku antar kau pulang untuk beristirahat?" Mendengar itu Hanna malah tersenyum memandang Gina. Sebaliknya Gina mengerutkan kening melihat tingkah Hanna yang menurutnya aneh.
"Terima kasih atas perhatiannya, Nona. Tapi saya baik-baik saja. Saya hanya memang sedang mengalami fase sering mual dan muntah. Dokter mengatakan seiring perkembanga janin, rasa mual akan perlahan berkurang."
"Tapi kau pucat. Ku lihat kau juga lemas setiap kali muntah. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa."
"Tidak Nona, saya baik-baik saja." Hanna bersikeras.
"Nona jangan terlalu khawatir."
"Siapa yang khawatir? Aku hanya tidak mau kau mengalami hal buruk sehingga pihak Disnaker memberikan sanksi pada R-Company karena telah menyiksa salah satu pegawainya." Mendengar alasan Gina, Hanna tersenyum lagi. Alasan itu sangat tidak masuk akal bagi Hanna.
"Baiklah kalau kau tidak ingin pulang. Ayo kita kembali ke R-Company." Gina mulai melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Hanna mengikutinya masih dengan senyum yang belum pudar melihat tingkah Gina.
"Oh iya, biarkan aku saja yang menyetir. Aku tidak mau kau menyetir saat mual. Itu bisa membahayakan banyak nyawa." Ujar Gina lagi. Kali ini Hanna tersenyum lebar menanggapi Gina yang melanjutkan langkahnya kembali.
Mobil Gina berjalan perlahan saat sebuah lampu lalu lintas menunjukkan warna merah yang sedang menyala. Mobil Gina diapit oleh berbagai mobil lain yang juga turut menaati peraturan lalu lintas dan berhenti untuk menunggu lampu lalu lintas kembali menyalakan warna hijau. Iringan lagu dari Coldplay featuring The Chainsmoker masih terdengar dari perangkat audio mobilnya menyanyikan Something Just Like This. Lirih Gina ikut menyanyikan lagu itu untuk mengusir keheningan yang ada diantara Hanna dan dirinya.
Sejak mobil mereka melaju, Hanna memang terlihat diam. Wajahnya yang pucat membuat Gina merasa kasihan. Kehamilan Hanna seperti membuatnya menjadi orang yang berbeda. Tidak ada Hanna yang giat bekerja, cekatan dan juga sigap. Kini berganti Hanna yang lemah dan pucat. Badannya juga terlihat sedikit kurus karena ia selalu memuntahkan kembali isi perutnya setelah ia memasukan makanan kedalamnya.
"Hanna, kita beli kue rangin dulu." Ujar Gina sambil menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Kue apa, Nona?"
"Kue rangin. Kau tidak tahu kue rangin?" Hanna menggeleng menjawab pertanyaan Gina.
"Baiklah, kau di sini saja. Aku akan membelinya."
"Tidak Nona, biarkan saya yang membelinya untuk Anda."
"Kue rangin saja kau tidak tahu, bagaimana kau bisa membelinya?" Gina tertawa sambil melepas seatbelt.
"Sudah, kau di sini saja. Aku akan pergi sebentar." Setelah itu Gina turun dan meninggalkan Hanna.
__ADS_1
Hanna yang masih ada di dalam mobil hanya bisa mengikuti Gina dengan pandangan matanya. Ia merasa Gina adalah atasan yang luar biasa. Seharusnya ia yang melakukan semua hal untuknya sebagai asisten pribadi, tapi yang ada sekarang malah sebaliknya. Gina lebih banyak melakukan pekerjaannya sendiri dan bahkan juga menyetir menggantikan dirinya. Hanna menggelengkan kepala mengingat apa saja yang telah Gina lakukan yang juga meringankan pekerjaannya.
🌸🌸🌸
Gina memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Hari sudah gelap. Saat mengambil tas di jok belakang, Gina melihat masih ada satu kotak kue rangin di sana. Gina membawanya turun juga. Memasuki dapur, Gina bertemu dengan Mbak Yuyun.
"Mbak Yuyun, tolong hangatkan kue ini." Ujar Gina sambil meletakkan kotak kue rangin di samping lengan Mbak Yuyun yang sedang mencuci piring.
"Baik Non." Gina lalu berjalan meninggalkan Mbak Yuyun dan keluar dari dapur. Sekilas ia sempat melihat Mbak Yuyun yang membawa kotak yang Gina berikan itu mendekati microwave di salah satu sisi dapur.
Awalnya ia sengaja membelikan Hanna kue rangin sebagai pengganti makanan yang telah ia muntahkan saat makan siangnya tadi ketika menunggunya melakukan pengecekan di pabrik. Tapi ternyata kue rangin itu malah membuatnya merindukan Surya.
"Sedang apa dia sekarang?" Ujar Gina sambil meletakkan tubuhnya di atas sofa di kamarnya dan memandang ponselnya.
"Benarkah dia sangat sibuk hingga tidak sempat hanya sekadar mengirim pesan padaku." Wajah Gina manyun kesal.
"Dia benar-benar sudah mengguna-gunaiku sampai bisa merindukannya seperti ini." Gina mengubah posisi tubuhnya menjadi miring.
"Surya... aku merindukanmu." Bisik Gina lirih sambil memandang foto Surya bersama dirinya di taman hiburan waktu itu.
"Apa aku mendatanginya saja?" Gina bangun dari posisi sebelumnya sambil meletakkan ponsel di atas meja.
"Itu tidak membuatku terlihat murahan bukan? Aku merindukannya dan ingin bertemu dengannya. Aku bisa gila kalau terus memikirkannya seperti ini. Ya, aku akan mendatanginya saja." Wajah Gina menjadi cerah telah menemukan semacam itu.
"Tapi, bagaimana aku tahu keberadaan Surya? Kalau aku bertanya tentang keberadaannya secara detail tentu saja itu akan membuatnya tidak nyaman dan juga curiga dengan apa yang ku lakukan." Gina kembali berfikir.
"Bagaimana kalau..." Gina lalu melompat dari sofa dan meraih kunci mobilnya dan segera keluar kamar.
Gina memarkir mobilnya di depan Angkringan Rejo pusat. Warung yang dijadikan Surya sebagai pusat dari bisnis kulinernya. Alasan menjadikan warung ini sebagai warung pusat karena memiliki ukuran yang lebih besar terdapat hunian uang ia tinggali di lantai dua. Dan itu tidak terdapat di semua warung yang ia miliki.
Memasuki warung, mata Gina beredar memandang meja angkringan dan menelusuri seseorang yang ia cari. Tapi tidak ada. Sehingga ia melihat ke area meja tamu tapi orang yang ia cari pun tidak ada. Hingga akhirnya seseorang menyapanya dari belakang.
"Nona Gina." Panggil suara itu dan membuat Gina menoleh.
"Anda mencari Pak Surya?" Tanya salah seorang pegawai Surya itu.
"Bukan, aku mencarimu." Bagus mengerutkan kening heran kenapa pacar bosnya tiba-tiba mencari dirinya.
🌸🌸🌸
Gina memasuki sebuah gapura besar sebagai penanda batas sebuah kota. Matahari sudah mulai meninggi. Jalanan di depannya pun tampak lengang tidak sama seperti jalanan di kotanya sehingga ia bisa berkendara dengan leluasa. Ia merasa tindakannya saat ini sudah tepat. Ketika Surya yang tidak memiliki waktu bersamanya, Gina merasa harus menyempatkan diri untuk memberikan waktunya agar bisa bersama Surya.
Sudah hampir dua minggu mereka tidak bertemu. Komunikasi diantara mereka juga tidak berjalan baik karena kesibukan masing-masing, sehingga Gina merasa harus menemui Surya untuk melepas rindunya. Adapun sebelum Surya pergi Gina merasa mereka bermasalah, inilah saatnya bagi Gina untuk menemukan apakah masalah itu benar-benar menjadi masalah untuk mereka atau tidak.
Gina melihat ponselnya untuk panduan google map yang tampak di layar. Gina sedang menuju ke sebuah alamat yang diberikan oleh Bagus semalam. Sebagai penanggung jawab warung dan juga orang kepercayaan Surya, Gina yakin Bagus tahu keberadaannya. Dan benar, Bagus memberinya alamat dimana Surya berada sekarang.
Akhirnya Gina sampai pada tujuan yang ia cari. Ia mengedarkan pandangan di alamat yang diberikan oleh Bagus. Di sana ada beberapa bangunan tapi Gina tidak tahu warung angkringan Surya yang mana. Ia lalu menjalankan mobilnya beberapa meter hingga ia melihat mobil Surya terparkir di depan sebuah bangunan yang tampak sedang di renovasi. Senyum Gina mengembang. Ia bisa menemukan Surya akhirnya.
Gina memarkir mobilnya tepat di samping mobil Surya. Kemudian ia turun dan mendekati pintu bangunan di depannya. Saat membuka pintu, Gina menemukan dua orang sedang berbincang. Seseorang yang sedang menyimak orang lain dihadapannya yang sepertinya sedang menjelaskan sesuatu. Orang yang sedang berdiri membelakangi itu, Gina yakin dia adalah Surya. Orang yang sedang bersama Surya menyadari kedatangan Gina dan mengalihkan pandangan padanya. Itu membuat Surya ingin tahu apa yang sedang mandor tukang batu itu lihat dan membalik badan. Pertama yang ia lihat adakah seorang wanita cantik dengan setelan celana jeans dan kemeja warna nude serta sepatu sneakers warna putih melambai padanya.
"Hai..." Gina senang akhirnya hari ini bisa berjumpa dengan pacarnya.
"Kerjakan yang itu dulu, untuk bagian plavon akan kita bicarakan nanti." Ujar Surya kepada pria di depannya yang kemudian memohon diri untuk pergi melanjutkan pekerjaannya kembali.
Surya berbalik dan berjalan menghampiri Gina yang masih berdiri di dekat pintu. Jantung Gina berdebar lebih cepat melihat Surya semakin mendekatinya. Rindu yang selama ini ia rasakan sepertinya membuatnya merasa demikian.
"Kejutan..." Ujar Gina saat Surya sudah ada di dekatnya. Surya tersenyum kepadanya. Senyum khas ala Surya dengan mata coklat yang tidak lepas memandangnya.
"Bagaimana Anda bisa kemari?" Tanya Surya penasaran.
"Kau tahu ungkapan 'malu bertanya sesat dijalan'? Nah, aku tidak malu bertanya pada google map sehingga di sinilah aku berada sekarang." Gina tertawa kecil setelah menjelaskan kelakarnya.
"Dari mana Anda tahu saya ada di sini? Google tidak sepandai itu, bukan?" Tanya Surya langsung. Mendengar itu Gina tersenyum lebar memamerkan gigi rapinya.
"Kau tidak mempersilakanku duduk?" Gina melihat sekeliling ruangan kosong saat mengatakan itu dan menemukan sebuah bangku panjang di sudut tidak jauh dari mereka berdiri.
"Atau mungkin ada tempat meluruskan kakiku. Berkendara sejauh ini membuat kakiku lelah dan juga punggungku sakit." Ujar Gina dengan nada suara manja khas dirinya.
Surya lalu mengajaknya menuju ke bangku panjang yang Gina lihat tadi karena ia tahu maksud ucapan pacarya. Kemudian Gina duduk di sana sedangkan Surya pergi ke suatu tempat. Gina lalu menselonjorkan kakinya yang katanya terasa pegal. Surya pun akhirnya kembali sambil membawa sebotol air mineral dan menyodorkannya kepada Gina.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Gina seraya membuka tutupnya dan langsung meneguk air mineral ditangannya.
"Apakah Bagus yang memberitahukan kepada Anda?" Gina menutup botol air mineral yang isinya tinggal setengah itu sambil menyimak pertanyaan Surya.
"Iya. Tapi itu karena aku bertanya kepadanya. Jadi, jangan marahi dia." Surya tersenyum simpul mendengar penuturan Gina yang lebih bisa diterimanya itu sebagai sindiran.
"Jadi, kenapa Anda kemari?"
"Pertanyaan macam apa itu? Aku jauh-jauh kemari kau fikir untuk apa?" Gina malah balik bertanya. Surya yang mendengar itu pun mengerutkan kening.
"Aku merindukanmu." Jawab Gina sendiri karena tidak juga mendapat tanggapan dari Surya
"Kau fikir aku ini apa? Kau bahkan tidak pernah menghubungiku. Itu membuatku penasaran sesibuk apa dirimu di sini sampai hanya sekadar menanyakan kabarku saja kau tidak sempat." Gina mulai menunjukkan sikap merajuk.
"Maafkan saya, Nona." Suara Surya pelan.
"Apa kau tidak merindukanku?" Tanya Gina kali ini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Surya. Ia juga menangkupkan tangannya ke tangan Surya seolah sedang bergandengan tangan. Surya merasa agak canggung dengan kedekatan yang Gina bangun.
"Saya juga merindukan Anda." Jawab Surya kali ini agak terbata.
"Sampai berapa lama kau akan ada di sini?"
"Entahlah, Nona. Saya masih harus mengontrol pembangunan warung ini."
"Kau memiliki banyak pegawai yang bisa mewakilimu di sini kenapa kau masih repot melakukannya sendiri?"
"Saya memang ingin melakukannya sendiri, Nona. Agar semua sesuai dengan apa yang saya inginkan."
"Dasar perfeksionis." Cibir Gina. Surya hanya menanggapi dengan senyuman.
"Tapi itu menggangguku." Surya mengerutkan kening mendengar penuturan Gina dengan suara terdengar manja kali ini.
"Aku jadi tidak bisa bertemu denganmu." Gina mengangkat kepalanya dari bahu Surya dan memandang wajahnya dari samping. Surya membalas tatapan Gina.
"Nona... kenapa Anda selalu menguji saya?" Kali ini Gina yang menjadi bingung. Kalimat Surya benar-benar tidak ia mengerti.
"Kedekatan kita yang seperti ini membuat saya takut tidak bisa bertahan."
"Bertahan? Kenapa?" Gina menjadi bingung dengan kalimat Surya yang tidak ia mengerti.
"Hari sudah sore, sebaiknya Anda kembali pulang." Surya memalingkan wajahnya sambil mengalihkan pembicaraan.
"Kau mengusirku?" Tiba-tiba perasaan Gina menjadi tidak enak.
"Sebentar lagi malam, Anda jangan berkendara sendiri dimalam hari. Itu terlalu berbahaya. Sedangkan saya tidak bisa mengantarkan Anda kali ini."
"Surya, ada apa denganmu?" Gina menjadi penasaran dengan perubahan sikap Surya yang sangat tiba-tiba.
"Nona, saya sudah berusaha untuk bisa bertahan sampai saat ini sehingga, saya mohon sekali agar Anda bisa mengerti saya."
"Mengerti apa? Aku harus mengerti bagaimana?"
"Saya tidak ingin melanggar prinsip saya, jadi saya harap kita bisa membuat sedikit jarak aman."
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Mata Gina mulai berkaca-kaca merasakan kebingungan yang ia alami.
"Kedekatan kita seperti ini membuat saya ingin melakukan semua hal yang sedang ada di dalam kepala saya, Nona."
"Apa?"
"Anda harus segera pulang." Lagi-lagi Surya seperti menghindar untuk memberikan Gina penjelasan.
"Aku tidak akan pergi kemanapun sampai kau menjelaskan padaku apa maksudmu kenapa harus menghindariku seperti itu."
"Maafkan saya, tapi saya harap Anda bisa mengerti."
"Tidak, aku tidak mengerti jadi aku tidak akan pergi." Gina berjalan mendekati Surya tapi Surya melangkah mundur. Itu membuat Gina merasa semakin aneh dan semakin ingin melawan larangan Surya untuk membuat jarak darinya.
"Baiklah, kalau Anda tidak menghiraukan peringatan saya." Kali ini Surya melangkah maju mendekati Gina yang malah berhenti di tempatnya dan menunggu apa yang akan Surya lakukan padanya.
__ADS_1