
"Itu sangat berbahaya. Sepertinya aku harus waspada." Balas Gina dengan tawa kecilnya.
"Benar, Anda harus waspada kepada saya. Karena saya menjadi semakin serakah sekarang." Gina mengerjapkan mata berkali-kali mendengar kalimat Surya yang tidak ia mengerti maksudnya.
"Seserakah apa?" Tanya Gina lirih karena tiba-tiba merasa takut dengan apa yang sedang ada di fikiran Surya saat ini.
"Serakah karena ingin menjadikan Anda istri saya lagi." Gina menatap Surya yang juga sedang menatapnya lurus. Mata kecoklatan yang ada di keremangan malam dengan pencahayaan hanya dari lampu jalanan itu seperti menelusuri perasaannya dan membuatnya berdebar lagi lebih cepat dari sebelumnya.
"Surya..." Gina tidak tahu harus menjawab apa. Ia lalu memalingkan wajah dan menunduk menatap jagung bakar yang tinggal setengah di tangannya.
Dari situ Surya menatap gestur tubuh dan ekspresi wajah Gina yang tidak biasanya. Gina tiba-tiba menjadi diam dan tidak mengatakan apapun selain lalu memakan jagung bakarnya. Surya memahami apa yang dilakukan Gina saat ini. Ia pun membiarkan Gina berada pada situasi itu. Sampai ketika jagung mereka telah sama-sama habis dan tidak ada kata lagi diantara mereka, Surya pun mengajak Gina untuk pulang.
Selama di dalam perjalanan pun tidak ada percakapan diantara mereka. Surya berkonsentrasi dengan jalan di depannya dan Gina menikmati perjalanan dengan menatap luar kaca cendela mobil. Mereka seperti sedang berada pada fikirannya masing-masing.
Mobil Surya memasuki halaman rumah Gina setelah seorang security membukakan pagar untuk mereka. Surya menghentikan mobil tepat di depan pintu rumah Gina dan mematikan mesin mobilnya.
"Terima kasih." Ujar Gina menatap Surya sebentar untuk pamit turun dari mobilnya.
"Baik, Nona." Hanya itu juga yang Surya katakan sambil menyunggingkan senyum saat pandangan mereka bertemu.
Gina pun turun dan segera masuk tanpa menunggu mobil Surya pergi. Surya benar-benar merasakan ada kecanggungan diantara mereka berdua. Ia menarik nafas panjang lalu membawa mobilnya mundur untuk keluar dari halaman rumah Gina.
Gina mengintip dari balik gorden ruang tamu dan memastikan Surya telah pergi dari depan rumahnya. Ia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju rumah bagian dalam. Fikirannya masih terpaku pada ucapan Surya tadi.
"Serakah karena ingin menjadikan Anda sebagai istri saya lagi."
Kalimat itu seperti memenuhi kepala Gina dan menciptakan sebuah tekanan di dadanya. Ia yakin dengan perasaannya yanh menafsirkan bahwa ia mencintai Surya. Tapi entah kenapa ketika Surya mengatakan ingin memperistrinya kembali tiba-tiba ada rasa takut merayapi hatinya. Entah karena ia merasa masih terlalu dini membicarakan tentang pernikahan dengan Surya yang baru saja ia pacari beberapa waktu lalu atau karena ia belum ingin terikat pernikahan dengan Surya dan ingin menjalani hubungan mereka dengan santai atau mungkin karena Gina belum begitu yakin dengan perasaannya sendiri mengingat kebiasaannya selama ini yang sering sekali berganti pacar, Gina takut jika perasaannya kepada Surya juga masih sama seperti perasaannya terhadap pacar-pacarnya sebelumnya. Gina tahu saat ini ia menyukai Surya tapi ia tidak tahu akan selama apa perasaannya bertahan.
Gina menarik nafas berat sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya berada. Ia tidak menyangka jika Surya akan secepat ini membicarakan tentang pernikahan dengannya.
🌸🌸🌸
Gina sedang berjalan menuju ruangannya denga diikuti oleh Hanna di belakangnya. Ia membuat langkah-langkah pendek agar Hanna bisa mengikutinya dengan santai. Sejak mengetahui Hanna sedang hamil, Gina jadi berusaha menyesuaikan diri dengan kehamilan Hanna. Ketika ia tahu Hanna tidak bisa memakan makanan tertentu, Gina tidak akan mengajak Hanna makan di tempat yang membuat Hanna menjadi mual. Atau kalau Gina memang sedang ingin memakan makanan yang tidak disukai Hanna, maka Gina akan meminta pergi sendiri tanpa ditemani Hanna. Ia merasa Hanna memang adalah pegawainya, tapi itu tidak berarti dia bisa membuat Hanna melakuka apa saja yang Gina inginkan tanpa peduli perasaanya.
"Hanna, ada berapa produksi rak minimalis yang kita bicarakan saat rapat kemarin?" Tanya Gina sambil berjalan pelan menunggu Hanna yang terlihat pucat karena kehamilannya yang sepertinya menguras tenaganya.
"Ada sekitar 1000 buah, Nona."
"Tambahkan 200 buah lagi untuk stok cadangan. Rak itu memiliki kualitas bagus dan desain yang unik. Bentuk yang fleksibel akan membuat banyak diminati. Target pemasaran kita adalah para pembeli dengan pemilik rumah minimalis serta anak kos yang tinggal di ruangan kecil."
"Baik, Nona."
"Ngomong-ngomong, siapa yang membuat desain rak ini?"
"Itu... Bayu, Nona."
"Bayu?" Tanya Gina sambil berbalik badan karena merasa mengenal nama itu sebagai orang yang sepertinya ia dan Hanna kenal.
"Bayu yang itu?" Ulang Gina memastikan.
"Benar, Nona." Hanna mengangguk mengiyakan seperti faham dengan maksud Gina.
"Dia berpindah divisi?"
"Iya Nona, sejak beberapa bulan yang lalu Bayu mengajukan mutasi ke divisi produksi."
"Oh ya?" Gina merasa baru tahu tentang hal itu karena perpindahan divisi memang ditangani oleh bagian HRD.
"Sepertinya dia benar-benar menunjukkan bakatnya disana."
"Benar, Nona." Gina lalu kembali berjalan menuju ruangannya di ujung lorong tanpa membahas lagi orang yang ia kira dulu adalah pacar Hanna itu.
Gina mendengar ponsel Hanna berdering saat ia hampir membuka pintu.
"Iya sayang... aku baru saja makan siang." Suara Hanna menjawab telepon yang ia terima. Sayup-sayup Gina bisa mendengar itu sebelum ia memasuki ruangannya.
Dari itu Gina tahu sepertinya Hanna dan Marco telah benar-benar berbaikan. Entah jurus apa yang dilancarkan oleh Marco hingga saat ini Hanna telah kembali bisa menerimanya. Apakah itu karena Marco benar-benar menunjukkan penyesalannya atau Hanna yang terlalu baik hati sehingga dengan mudah mengampuni suaminya yang Gina anggap tidak tahu diri.
Tak berapa lama kemudian, Hanna memasuki ruangan Gina dan berjalan menuju mejanya. Gina memperhatikan Hanna yang mulai menunjukkan perubahan pada tubuhnya.
"Hanna, kenapa kau tidak memakai dress saja? Lihatlah perutmu yang semakin gendut itu. Bagaimana bisa kau membiarkan bayimu terjepit. Nantu kalau hidungnya jadi pesek bagaimana?" Mendengar kalimat terakhir Gina sontak Hanna tertawa.
"Nona bisa saja. Mana mungkin bayi saya memiliki hidung pesek sementara Mama dan Papanya memiliki hidung semancung ini." Bantah Hanna masih sambil tertawa. Sebenarnya Gina senang melihat Hanna seperti itu. Dia jauh berbeda dengan beberapa waktu lalu saat sedang bermasalah dengan Marco.
"Hei, itu bisa saja terjadi kalau kau masih suka memakai pakaianmu itu." Omel Gina mulai cerewet. Hanna tersenyum menanggapi kecerewetan Gina yang terlihat sekali bahwa dia begitu perhatian padanya.
__ADS_1
"Baik Nona, saya akan memakai dress yang longgar besok."
"Bagus, kau harus membuat bayimu nyaman bergerak dan bertumbuh. Dia harus menjadi anak yang sehat dan kuat." Hanna tidak tahu lagi harus bagaimana. Gina yang adalah atasannya selama ini menganggapnya lebih dari sekadar pegawai tapi adalah seorang sahabat.
🌸🌸🌸
Surya mengucapkan terima kasih kepada pengunjung yang baru saja berdiri dari kursi mereka untuk keluar dari dalam kafenya sambil tersenyum ramah. Salah satu dari dua wanita muda itu tampak berbisik kepada temannya yang berjalan disisinya. Surya bisa mendengar sayup-sayup wanita itu mengatakan pada temannya bahwa Surya adalah pemilik kafe.
"Dia sangat tampan. Benar-benar tipeku." Gumam wanita muda itu. Surya tersenyum sambil berbalik badan, berpura-pura tidak mendengar apa yang mereka sedang bicarakan. Tapi tepat di belakang Surya ternyata Gina telah berdiri di sana sambil melipat tangan di dada memandangnya tajam. Surya lalu tersenyum lebar menatap Gina dengan aura yang menyeramkan itu.
"Apakah sangat menyenangkan menebar pesona kepada mereka?" Ujar Gina yang mendapati Surya tersenyum ramah kepada pengunjung kafenya.
"Hei, Anda ada di sini?" Sambut Surya setelah berada di dekat Gina.
"Ya Tuhan, ternyata begini kelakuanmu ketika tidak ada aku?"
"Apa yang ku lakukan?" Tanya Surya pura-pura tidak mengerti ucapan Gina.
"Yang baru saja itu apa? Kau bermanis-manis kepada para wanita."
"Baiklah, mereka hanya pengunjung dan aku sebagai pemilik kafe harus bersikap baik kepada mereka."
"Oh jadi begitu." Gina memalingkan wajahnya kesal. Ia merasa marah setiap kali Surya bersikap ramah kepada para pengunjungnya terlebih jika yang Gina lihat itu adalah pengunjung wanita.
"Ayolah, itu hanya sebuah ucapan terima kasih." Gina tidak bergeming meskipun Surya memberinya senyum termanis sekalipun. Surya lalu merangkul pundak Gina dan membawanya ke sudut lain ruangan karena ada beberapa pengunjung dan juga pegawai yang mulai memperhatikan mereka.
"Anda tahu bagaimana saya menjadi sangat menyukai Anda setiap harinya?" Kalimat Surya tetap membuat Gina belum ingin membuka suaranya karena Gina berfikir akan kemana nanti ujung dari kalimat Surya pada akhirnya.
"Wajah judes Anda." Lanjut Surya sambil terus tersenyum dan menggoda Gina. Kali ini sepertinya mulai berhasil. Gina memandangnya dengan melotot
"Terutama ketika Anda marah begini. Ya Tuhan, ku rasa aku ingin memandang Anda terus karena saya merasa sangat terpesona." Gina yang masih gengsi untuk menghentikan marahnya secara tiba-tiba saat ini, ia masih harus berpura-pura marah meskipun hatinya kesemutan mendengar rayuan receh Surya yang ternyata bisa membuatnya senang.
"Jadi, semakin sering Anda marah begini, itu membuat saya menjadi semakin gemas."
"Menyebalkan sekali." Gina akhirnya tidak tahan lagi dan tersenyum kaku karena sebenarnya ia ingin menahan senyum itu.
"Wah, kenapa saat tersenyum pesona itu tiba-tiba hilang?" Ujar Surya sambil menatap Gina lekat-lekat dan memasang wajah kecewa.
"Hei, kau mau mati di sini?" Gina menatap Surya tajam mendengar kalimatnya itu. Sebaliknya Surya malah tertawa terbahak.
Siang tadi Gina berfikir sepertinya dirinya terlalu berlebihan menanggapi ucapan Surya tentang pernikahan. Setiap orang yang berpacaran pada akhirnya mereka akan membicarakan tentang pernikahan karena tujuan akhir dari masa pendekatan yang mereka lakukan adalah menikah. Entah tujuan itu akan benar-benar tercapai atau akan kandas di tengah perjalanan, yang jelas hubungan berpacaran adalah hal yang dekat sekali dengan sebuah pernikahan. Sehingga merasa tanggapannya kepada Surya terlalu berlebihan, akhirnya Gina menebusnya dengan mendatangi Surya di kafe miliknya. Benar, jam segini Surya memang biasa berada di kafe karena kafe akan ramai di jam sepulang kerja seperti ini dan menebus rasa bersalahnya.
"Apa?" Gina balik bertanya.
"Risoles rebung mayo." Mendengar nama itu, Gina jadi penasaran bagaimana rasa risoles buatan kafe Surya.
"Baiklah."
"Akan ku pesankan. Anda silakan naik ke atas."
"Atas?" Gina memastikan bahwa yang dimaksud Surya adalah lantai atas kafe yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
"Iya, Nona." Lalu Gina berjalan menuju tangga naik di salah satu bagian kafe yang di dindingnya tertulis selain karyawan dilarang naik.
"Aku bukan karyawannya, tapi kenapa aku boleh naik?" Gumam Gina mencandai dirinya sendiri lalu tertawa kecil. Ia mulai menapak tangga satu per satu dan naik hingga ke lantai dua bangunan itu.
Saat sampai di lantai dua, Gina melihat sebuah bangunan yang hampir sama dengan yang ada di salah satu warung angkringan yang pernah Gina datangi. Hanya saja di sini tata ruangnya lebih rapi dan memiliki ruang yang lebih luas. Ada sebuah sudut yang lebih menyerupai balkon dengan kaca penuh di samping tangga naik yang di luarnya terdapat banyak bunga-bunga di dalam pot. Ada yang digantung, ada yang terletak di lantai. Sudut balkon itu terlihat sangat cantik. Di salah satu sisinya terdapat sebuah tempat duduk menyerupai sofa berukuran pendek.
Perlahan Gina mendekati balkon dan membuka pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon yang tertutup kaca tapi seolah terbuka itu. Gina mulai melangkahkan kaki menginjakkan kaki di balkon yang terpasang karpet bermotif bohemian dan mulai melihat luar kaca. Dari sudut itu Gina bisa melihat jalan samping kafe yang menghadap pemukiman dan sebuah kampus universitas ternama di kota itu. Senja yang mulai turun memberikan warna jingga di langit sore ini. Entah kenapa tapi Gina seperti merasa sangat nyaman berada di sana.
"Pesanan sudah siap, Nona." Suara Surya tiba-tiba dan itu membuat Gina menoleh kepadanya.
Gina melihat Surya yang datang dengan nampan berisi risoles yang masih mengepulkan uap panas dan dua cangkir teh hijau yang aromanya bisa di hirup dengan kuat oleh Gina dari jarak yang mulai dekat.
"Sepertinya itu enak." Ujar Gina kepada Surya yang meletakkan hidangan yang ia bawa di meja dalam tepat di depan balkon yang sejak tadi menjadi pusat perhatian Gina.
"Tentu saja, Nona. Beberapa pengunjung sudah memberi review di media sosial kami."
"Benarkah?" Gina membelalakkan mata tak percaya. Surya lalu menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Gina yang mulai memindahkan sebuah risoles dari piring ke dalam mulutnya. Gina melihat pada postingan beberapa jam yang lalu gambar risoles sama seperti yang sedang ia makan di media sosial kafe banyak sekali komentar positif di sana.
"Wah, kau memang berbakat sekali dalam bisnis kuliner." Puji Gina sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih, Nona." Balas Surya tersenyum.
"Ini benar-benar enak." Mata Gina berbinar menikmati rasa risoles isi rebung dengan mayonaise yang menambah cita rasanya.
__ADS_1
"Aku harus menjaga jarak berkunjungku kemari atau aku akan kelebihan berat badan idealku." Surya tertawa mendengar kalimat Gina yang tidak dapat Surya percaya sepenuhnya itu. Seorang Gina tidak akan berhenti makan hanya karena ia takut menjadi gemuk. Seorang yang berolah raga secara teratur dan selalu menjaga bentuk tubuhnya dengan baik itu, selama ini tidak pernah mengkhawatirkan bentuk badannya akan berubah tidak ideal.
"Rebung ini kau katakan tadi sebagai batang muda. Masih muda saja seenak ini apalagi sudah tua dan masak. Pasti rasanya enak." Mendengar analisa Gina, Surya benar-benar merasa bersalah sekaligus merasa lucu. Merasa bersalah karena ia tidak menjelaskan batang apa itu dan juga merasa lucu karena apa yan difikirkan Gina sangatlah salah.
"Maaf Nona, tapi saya yakin Anda tidak ingin makan rebung yang sudah tua. Rebung bukanlah seperti buah mangga yang ketika semakin masak semakin enak. Tapi rebung adalah tunas batang bambu yang masih muda."
"Apa?" Gina memelototkan mata demi mendengar penjelasan Surya yang dengan menahan tawa itu.
"Jadi, Anda pastinya tidak akan makan bambu, bukan?"
"Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?" Gina memanyunkan bibirnya melihat Surya menertawakan kebodohannya itu.
"Maafkan saya, Nona. Saya fikir Anda tidak peduli dengan hal itu." Surya malah merasa gemas dengan wajah kesal Gina karena salah sangka itu.
Senja yang turun telah sepenuhnya hilang dan digantikan oleh malam. Gina dan Surya masih menikmati hidangan yang Surya bawakan sambil mereka mengobrol. Dan seperti biasa, Gina akan mendominasi obrolan mereka dengan cerita-ceritanya dan Surya akan menjadi pendengar yang baik.
"Ngomong-ngomong, apa semua warungmu juga memiliki bagian lantai dua?" Tanya Gina setelah risoles ke tiga masuk ke dalam mulutnya.
"Tidak. Hanya warung angkringan pusat dan kafe ini, Nona. Karena hanya dua tempat ini yang berlantai dua. Sehingga bagian atas saya manfaatkan untuk tempat saya tinggal.
"Jadi, selama ini kau tinggal di sini?" Tanya Gina.
"Ya, kadang di sini, kadang di warung angkringan pusat. Saya ini makhluk no maden, Nona. Suka berpindah-pindah." Surya lalu terkekeh. Gina sekarang mengikuti Surya duduk di sofa panjang depan balkon.
"Kenapa?"
"Karena saya sudah menjual rumah saya, Nona." Jawab Surya dengan wajah yang menunjukkan perasaan tidak nyaman.
"Oh..." Hanya itu yang keluar dari bibir Gina. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Sepertinya Surya merasa canggung saat berterus terang tadi. Sebenarnya Gina ingin berpura-pura kaget kemudian bertanya kenapa Surya menjual rumahnya tapi ia merasa harus menahan itu karena ia tidak ingin membuat Surya lebih tidak nyaman lagi.
"Saya harus mengembangkan bisnis saya sehingga waktu itu saya membutuhkan dana lebih banyak. Dan saat itu saya juga seorang single jadi, tidak memiliki rumah pun tidak masalah. Saya bisa tinggal di warung utama untuk sementara waktu." Jelas Surya.
"Saya sudah bukan lagi presdir R-Company dengan gaji tinggi, Nona. Saya adalah pengusaha kuliner yang sedang mengembangkan usaha jadi keuangan saya belum sama seperti saat menjadi presdir R-Company dengan gaji tetap dan memiliki usaha sambilan warung angkringan yang menghasilkan. Sekarang sumber penghasilan saya hanya tinggal satu jadi, saya harus memutar keuangan dengan baik agar usaha saya bisa berjalan lancar dan kebutuhan hidup saya terpenuhi." Tambahnya lagi.
"Kau memang si suka tantangan." Ujar Gina sambil tersenyum pada Surya.
"Saya anggap itu sebagai pujian, Nona."
"Ya, ku akui aku memang kagum padamu, pada cara berfikirmu, pada semua hal yang kau lakukan untuk menjalani hidupmu menjadi lebih baik."
"Terima kasih, Nona. Bolehkan itu ku simpulkan sebagai salah satu faktor yang membuat Anda akhirnya jatuh cinta kepada saya?" Goda Surya dengan percaya diri.
"Tidak, aku tidak jatuh cinta padamu karena itu." Jawab Gina sambil lalu memanyunkan bibirnya.
"Lalu? Kenapa Anda menyukai saya, Nona?"
"Hmmm... apa ya?" Gina berpura-pura berfikir untuk memberi Surya alasan. Dan itu membuat Surya gemas karena Gina sekarang malah membuatnya penasaran.
"Matamu..." Jawab Gina dan membuat Surya mengerutkan kening.
"Aku suka matamu."
"Ya, banyak yang mengatakan mata saya indah, Nona." Surya tertawa mendengar alasan Gina yang ternyata menyukai mata unik yang dimilikinya.
"Bukan, bukan karena itu." Jawab Gina dan lagi-lagi membuat Surya heran.
"Lalu?"
"Setiap menatap matamu aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Entah apa tapi pada akhirnya aku menyadari itu adalah sesuatu yang berbeda. Matamu membuatku merasakan cinta. Entah memang benar atau karena aku memang suka caramu memandangku, tapi nyatanya aku selalu suka setiap kau memandangku seperti ini. Ya, seperti sekarang ini." Surya tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari wajah Gina karena ia merasa malu telah ketahuan oleh wanita yang ia sukai itu.
"Itulah kesalahan terbesar saya yang sering tidak bisa mengendalikan pandangan saya kepada Anda, Nona." Surya terkekeh.
"Jangan." Kata larangan Gina tapi Surya bingung untuk apa.
"Maksudku, tidak. Itu bukan kesalahan. Aku menyukai itu. Aku suka tatapan matamu padaku. Jadi, jangan salahkan dirimu yang tidak bisa mengendalikannya. Aku ingin kau terus kehilangan kendalimu itu." Surya menatap Gina lekat. Surya merasa ia benar-benar telah pada ujung kendalinya dan hampir berada diambang batas apa yang telah ia kendalikan selama ini.
"Nona, sebaiknya saya antar Anda pulang." Gina terkesiap mendengar ajakan Surya.
"Kenapa?" Gina jadi merasa bingung apakah ia telah salah bicara sehingga membuat Surya marah dan ingin dirinya pergi dari sana.
"Kita tidak boleh berdua begini, Nona."
"Kenapa?" Tanya Gina lagi karena masih tidak mengerti.
"Karena bisa saja saya kehilangan kendali lebih jauh."
__ADS_1
"Apa?" Gina menatap Surya semakin dalam dan berusaha menampik bahwa apa yang dimaksud oleh Surya adalah apa yang saat ini sedang ada di fikirannya juga.
"Menikahlah dengan saya, Nona."