Tahta Surya

Tahta Surya
Usai


__ADS_3

"Tidak keduanya. Aku ke sini karena aku harus mempertahankanmu ada di dekatku." Surya memandang Gina lurus dengan ketidakfahaman yang ia miliki saat ini atas kalimat wanita di depannya.


"Apa kau semakin takut kepadaku sekarang?" Gina tersenyum lucu dan membalas pandangan Surya.


"Tenang saja, aku akan tetap 'bermain' sportif. Kalau pun kau takut kepadaku, itu sangat wajar. Tapi tetap saja kau bisa mempertimbangkan keberadaanku di dekatmu. Tentang hati, aku tidak takut jika diadu dengan pacarmu, apalagi tentang yang terlihat, aku rasa aku tidak perlu mengatakannya karena itu akan membuatku terlihat narsis. Yang jelas, aku akan berusaha menarik hatimu. Jadi ku harap kau jangan pergi. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan padamu tentang seberapa besar aku menyukaimu." Gina mengerjap-ngerjapkan matanya membuat wajah imut memohon.


Surya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Wajah Gina yang menggemaskan itu ingin sekali dicubitnya. Tidak ada rasa takut atau apapun kepada Gina. Justru sebaliknya, setiap Gina mengatakan akan menaklukkannya, Surya selalu merasa itu sangat lucu. Bagaimana ada seorang gadis yang begitu agresif dan berterus terang begitu. Tidak khawatir pada anggapan orang lain tentang dirinya. Surya harus mengakui bahwa kepercayaan diri Gina sudah menjadi seperti sebuah hal yang tidak bisa lepas dari dirinya. Pengalamannya sebagai playgirl membuatnya memiliki keyakinan bahwa semua pria bisa dengan mudah ia taklukkan.


Beberapa hari ini Gina sempat ragu akan terus memperjuangkan Surya atau harus berhenti mengejarnya. Tapi saat bersamanya seperti ini ia jadi yakin bahwa ia harus terus bersama Surya. Ia merasa harus mendapatkannya walau dengan cara merebut dari pacarnya. Karena saat berada jauh dari Surya, ia merasa hatinya terasa kosong dan hampa. Ia yakin seperti ada beban yang sangat berat saat Surya tidak di dekatnya. Namun sebaliknya, sejak bersama Surya lagi tadi sore sesuatu yang menekan hatinya seperti meringan. Senyumnya, pandangan matanya, suaranya, semua menjadi candu bagi Gina. Tidak mendapatkan semua itu membuatnya seperti tidak memiliki tenaga.


"Tapi, saya harus tetap pergi, Nona. Waktu saya sudah hampir habis." Jawab Surya perlahan dengan harapan Gina bisa mengerti.


"Ayolah, aku tahu kau juga ingin tetap tinggal. Hanya saja aku tahu kau merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang kau mulai lebih dulu dengan Siska dan tidak mau menghianati cintanya. Tapi cobalah pertimbangkan kembali bagaimana aku jika ada di dekatmu. Kau akan menjadi pria hebat. Aku berjanji akan membuatmu menjadi seperti itu." Gina seolah sedang berkampanye tentang dirinya seperti para calon legislatif demi mendapatkan dukungan suara dari rakyat.


"Saya ragu apakah yang Anda lakukan ini masih berada pada garis sportif atau sudah keluar dari jalur." Surya menanggapi dengan tersenyum yang sejak tadi menyimak omongannya yang lucu.


"Hei, aku memang sedang memberikan janji-janji manis kepadamu. Tapi itu karena aku memang sanggup melakukannya." Sekali lagi Gina menarsiskan diri.


"Baiklah, hari sudah malam. Mari kita pulang, Nona." Ajak Surya sambil membawa kedua mangkuk bekas makan bakso itu di kedua tangannya.


"Kau katakan rumah ini milikmu, kenapa kita tidak tinggal di sini saja?"


"Belum saatnya, Nona." Jawab Surya membalik badan.


"Apa karena rumah ini kau buat untuk kau tempati dengan Siska nanti?" Surya berhenti melangkah.


"Saya membuat rumah ini untuk ibu dan bapak, Nona." Jawab Surya sambil membalik badan tapi kemudian ia kembali melangkah masuk ke dalam rumahnya. Gina mematung di tempatnya. Memikirkan apa yang dikatakan Surya itu benar atau tidak.


Gina dan Surya berjalan beriringan. Tidak ada kata diantara mereka sejak keluar dari pagar rumah Surya. Mereka seperti sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Kalau kau membawa sepeda, kenapa kita harus berjalan?"


"Oh, silakan Anda pakai, Nona."


"Tidak, kau bonceng aku saja."


"Tapi tidak ada boncengannya, Nona." Ujar Surya menoleh ke belakang untuk meyakinkan Gina.


"Lalu, saat kau menawariku berboncengan tadi, kau akan memboncengku di sebelah mana?" Tanya Gina sambil melipat kedua tangannya di dada. Agak bingung Surya mendengar ucapan Gina.


"Di... sini, Nona." Tunjuk Surya pada bagian dua jalu yang ada di poros ban belakang. Sebuah stang tambahan untuk berboncengan tapi dengan posisi berdiri karena besi itu untuk pijakan kaki saja.


"Bagaimana caranya?" Gina memandang heran pada apa yang ditunjuk oleh Surya.


"Anda bisa berpijak pada jalu itu."


"Tidak mau. Itu sangat berbahaya. Aku mau bonceng depan." Ujar Gina tegas dan membuat Surya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa Anda yakin?" Gina mengangguk.


Surya lalu menaiki sepedanya dan memberi kesempatan Gina untuk duduk di besi antara jok dan setir. Agak canggung Gina duduk di sana tapi kemudian ia meletakkan tanggannya di bagian dalam setir untuk berpegangan.


"Sudah, Nona?" Gina mengangguk setelah ia duduk di depan Surya dengan tepat. Kemudian Surya mulai mengayuh sepedanya dengan menjaga keseimbangan karena Gina ada di depannya.


Berada sedekat itu dengan Surya, aroma tubuhnya bisa ia hirup dengan leluasa. Entah parfum merk apa yang ia pakai tapi aroma itu sangat menenangkan bagi Gina. Aroma yang sangat maskulin. Aroma khas Surya. Wajah Surya yang ada sedekat itu dengannya membuat ia harus beberapa kali berusaha menjauhkan kepalanya agar ia tidak tergoda melakukan hal yang ia inginkan tapi tidak diingkan Surya. Diam-diam Gina menyunggingkan senyum berada sedekat itu dengan Surya. Ia berharap perjalanan pulang masih jauh agar mereka bisa terus berada sedekat itu. Itulah memang yang Gina harapkan dari berboncengan dengan Surya. Agar ia bisa sedekat ini dengannya.

__ADS_1


🌸🌸🌸


"Bisakah aku di sini beberapa hari lagi?" Gina merengek agar Surya membiarkannya tetap di rumahnya pagi ini.


Surya sudah menjadwalkan nanti sore mereka harus sudah kembali ke rumah karena besok mereka akan kembali bekerja. Bu Maryam, ibu Surya, yang melihat itu jadi tersenyum. Gina yang memasang wajah manja kepada Surya membuatnya yakin mereka sedang baik-baik saja sekarang. Karena saat mendapati Gina datang sendirian, ia sempat berfikir ada yang terjadi diantara mereka berdua. Walaupun Gina sudah menjawab tidak ada apa-apa saat ia menanyakannya, tapi rasa curiga Bu Maryam masih saja ada. Dan saat melihat Gina memohon seperti ini kepada Surya membuatnya merasa lega karena mereka baik-baik saja.


"Tapi Nona, kita memiliki hari-hari yang sangat sibuk di kantor."


"Kau bosnya dan kau juga suamiku, apa aku tidak bisa mendapatkan perlakuan spesialmu?" Rayu Gina.


"Sudahlah Sur, biarkan istrimu di sini saja dulu."


"Tidak bisa, Bu. Kami sangat sibuk. Tidak bisa meninggalkan pekerjaan lebih lama lagi."


"Lihatlah, Bu. Putra Ibu sangat pekerja keras. Bahkan memaksa istrinya untuk menjadi seperti dirinya juga." Gina yang duduk di dekat ibu mertuanya lalu menyandarkan kepala padanya dengan manja. Surya yang melihat itu lalu tersenyum kecut. Ia tahu Gina sedang mencari dukungan dari ibunya.


"Bukankah aku tidak boleh terlalu lelah. Bagaimana ibu bisa cepat-cepat memiliki cucu kalau aku kelelahan."


Mendengar itu Surya mengerjapkan matanya beberapa kali. Gina benar-benar sudah berbicara terlalu jauh sekarang. Waktu menjenguk bayi Sunday dan Faris, ia mengatakan tidak berfikir tentang anak tapi sekarang tiba-tiba mengatakan hal seperti itu pada ibunya. Benar-benar trik yang tidak terduga oleh Surya. Gina memandang Surya sambil tersenyum licik. Kali ini Surya tersenyum sambil memalingkan wajahnya karena sangat gemas dengan kekonyolan Gina.


"Benar. Kau ini kenapa menyiksa istrimu. Biarkan saja dia beristirahat. Aku dan bapakmu sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Kenapa kau malah membuat istrimu selalu sibuk. Seharusnya sebagai suami kau bisa membuat istrimu banyak beristirahat walaupun dia juga adalah pegawaimu." Mendengar penuturan Ibu mertuanya, Gina ikut manggut-manggut sebagai dukungan penuh. Surya tidak tahan dengan itu dan ingin sekali mencubit hidung mancung Gina yang terus mengejek dengan lidah menjulurnya. Sedangkan Pak Wiro yang sedang merokok di teras rumahnya ikut tersenyum mendengar perbincangan istri, menantu dan anaknya di dalam rumah. Ia memilih hanya menyimak saja pembicaraan mereka dan menikmati benda bernikotin itu dengan hikmat.


"Tidak bisa, Nona." Surya tetap bersikeras mengajak Gina pulang.


"Lihatlah, Ibu. Dia sangat kejam, bukan." Bu Maryam memelototi Surya mendengar kalimat pengaduan dari Gina. Itu membuat Surya faham atas apa yang Gina ucapkan kemarin. Bahwa mungkin itu adalah cara yang dipakai Gina untuk mempertahankannya seperti apa yang ia katakan. Dengan melakukan pendekatan pada orang tua Surya.


Gina semakin membenamkan kepalanya dalam dekapan Ibu Surya. Tangannya memeluk ibu mertuanya itu seolah kepada ibunya sendiri. Hal yang jarang sekali ia lakukan lepada Bu Marina, mamanya sendiri. Karena kesibukannya, bahkan sampai saat ini yang masing sering pergi dengan teman-temannya, Gina tidak memiliki banyak waktu untuk bisa bermanja-manja kepada mamanya seperti saat ia bersama ibu mertuanya saat ini.


Tapi sekeras apapun Gina melakukan rayuan itu kepada Surya, tetap saja ia tidak ingin mereka tetap berada di kampung. Dan akhirnya sore ini mereka sudah berada di bandara. Ayu, sepupu Surya, berjalan di samping Surya sejak keluar dari dalam mobil yang dikendarai oleh Joko, tetangga Surya yang juga orang kepercayaannya untuk mengerjakan sawah dan ladang miliknya.


"Mas, jangan terlalu kejam pada Mbak Gina." Ujar Ayu kepada Surya yang sedang menunggu Gina pergi untuk ke toilet.


"Kau fikir aku tidak tahu. Mbak Gina sedang tidak baik-baik saja, bukan?" Lanjut Ayu.


"Dia pulang sendiri tanpamu. Lalu kau menyusulnya. Beberapa hari selama di rumah, Mbak Gina juga sering diam dan melamun. Bahkan saat aku mengajaknya berjalan-jalan, dia lebih sering diam saja. Duduk di tepi sungai adalah kegemarannya selama di sini." Cerita Ayu kepada Surya.


"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya, tapi aku rasa itu pasti ada hubungannya denganmu." Sebenarnya Ayu juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Gina tapi ia tidak berani bertanya. Sehingga ketika ada waktu, ia hanya mengajaknya pergi berjalan-jalan atau mengobrol agar Gina tidak selalu muram.


"Terima kasih sudah menghibur Gina selama di rumah." Ujar Surya sambil tersenyum kepada Ayu dengan tulus.


"Aku mungkin tidak bisa menjadi yang terbaik untuknya tapi setelah ini aku akan membuatnya lebih bahagia." Ayu menyimak kalimat kakak sepupunya dengan membalas senyumnya lega.


"Jangan lupa meminta maaf karena wanita akan luluh saat seorang pria tidak segan meminta maaf jika ia bersalah."


"Baiklah."


Dari tempatnya berdiri, Surya melihat Gina yang berjalan ke arahnya. Wanita cantik yang semakin mendekatinya itu memberinya senyum karena merasa Surya sedang memperhatikannya. Tubuh tinggi semampai, wajah cantik jelita, status sosial tinggi, harta yang berlimpah, Gina adalah paket lengkap istri yang bisa menyempurnakan kehidupannya. Tapi, apa benar itu cukup untuk membuatnya bisa menghianati Siska? Surya masih memikirkan tentang kalimat kampanye Gina kemarin.


"Ayo." Ajak Gina untuk segera menaiki pesawat yang waktu keberangkatannya tinggal sebentar lagi.


Setelah berpamitan kepada Ayu dan Joko, Gina dan Surya segera pergi meninggalkan mereka.


🌸🌸🌸


Gina berjalan di samping Surya yang membawakan back pack-nya. Sesekali ia melihat sejak dalam perjalanan Surya tidak banyak mengajaknya bicara. Ia lebih banyak diam dan memejamkan mata. Gina tahu Surya tidak tidur sehingga ia merasa Surya hanya sedang tidak ingin membangun komunikasi apapun dengannya. Sepertinya Surya sedang lelah dan ingin banyak beristirahat.

__ADS_1


"Nona, tunggulah di sini. Saya akan mengambil mobil." Ujar Surya sambil berjalan menuju area parkir bandara.


Jadi selama Surya menjemputnya di kampung, ia meletakkan mobil di parkir bandara. Bukan menaiki taksi untuk menuju ke sini ataupun meminta antar sopir. Hingga beberapa saat menunggu, Surya datang menghampiri Gina dengan mobilnya. Gina segera naik dan mobil kembali melaju.


Selama di dalam perjalanan pun Surya tidak berbiacara apapun. Ia hanya berkonsentrasi dengan jalan di depannya. Gina jadi merasa Surya benar-benar ingin menghindarinya. Gina berfikir mungkin Surya menjadi takut dengan segala bentuk kepercayaan diri yang telah ia tunjukkan. Surya adalah pria yang sudah memiliki pacar, mungkin tidak nyaman untuknya mendapat pernyataan perasaan secara terus menerus darinya. Tapi itulah cara Gina untuk mengacaukan hatinya dengan selalu mengingatkan padanya bahwa ia menyukainya dan ingin terus bersamanya.


Mobil Surya sudah tiba di rumah Gina. Seorang security membukakan pintu pagar untuk Surya bisa memasukkan mobilnya ke halaman rumah. Gina turun setelah mobil berhenti. Surya juga turun untuk mengambil back pack milik Gina di jok belakang. Setelah itu ia menyusul Gina yang akan membuka pintu.


"Nona..." Panggil Surya dan membuatnya berhenti, tidak jadi membuka pintu.


"Ini tas Anda." Surya menyodorkan tas yang ada di tangannya kepada Gina.


"Ya Tuhan, tinggal selangkah saja kau tega mengalihkan kembali padaku." Gina menggerutu sambil menerima tasnya.


"Maafkan saya, Nona." Ujar Surya. Tapi Gina melihat ada yang aneh dengannya. Surya seperti ingin mengatakan sesuatu saat ini.


"Ada apa?" Tanya Gina karena melihat mata Surya yang memandangnya lekat.


"Mulai hari ini saya tidak akan ada di sini lagi, Nona."


"Kenapa?"


"Mulai besok Anda akan menempati kursi Presdir di R-Company."


"Apa maksudmu?"


"Papa sudah setuju saya mengundurkan diri karena Anda sudah memenuhi syarat untuk memimpin R-Company jadi, kita tidak akan bersama lagi."


"Jadi, ini adalah cara penolakanmu kepadaku?" Tanya Gina dengan tatapan lurus ke arah mata Surya.


"Ehhemm..." Surya menjadi salah tingkah mendapat tatapan itu.


"Saya merasa Anda cukup kompeten untuk menggantikan saya sekarang sehingga sudah saatnya Anda mengambil alih posisi saya."


"Jangan alihkan pembicaraan. Katakan padaku kau menolakku dengan cara ini, bukan?" Surya menundukkan wajah sebentar lalu membalas tatapan tajam Gina lagi.


"Nona, maafkan saya. Tentang perceraian kita, seorang pengacara akan mengurusnya." Kalimat Surya cukup membuat Gina yakin dengan penolakan cinta yang Surya lakukan dengan cara mengundurkan diri dari R-Company dan ingin berpisah secara sah menurut hukum tentang pernikahan mereka.


"Sudah ku katakan untuk tidak terbebani dengan perasaanku padamu. Aku juga hanya memintamu sedikit waktu. Tapi kenapa kau sekejam ini?" Mata Gina mulai berkaca-kaca. Surya memalingkan wajahnya dari Gina.


"Paling tidak beri aku sedikit saja kesempatan. Itu memang terdengar egois. Tapi kau seharusnya mengerti diriku. Bagaimana aku bisa menghindari perasan sukaku padamu kalau kau sebaik itu padaku. Bagaiamana aku tidak jatuh cinta karena perhatian yang kau berikan. Lalu bagaimana aku bisa berhenti begitu saja saat baru ku tahu ternyata kau memiliki pacar. Jadi sebenarnya jika difikir lagi, kaulah yang egois. Bukan aku." Gina meluapkan segala kekesalannya karena Surya memilih untuk pergi dari sisinya mulai saat ini.


"Apa salahnya aku menyukaimu. Jika hanya karena kau yang sudah memiliki pacar, lalu bagaimana aku bisa begitu saja menghapusmu dari perasaanku?" Air mata Gina sudah tumpah sekarang.


"Maafkan saya, Nona."


"Aku mohon jangan pergi. Aku akan menunggumu memantapkan hatimu harus memilih aku atau pacarmu. Beri aku waktu untuk menunjukkan padamu sebanyak apa aku menyukaimu. Bahkan jika R-Company adalah hal yang bisa ku tukar dengan keberadaanmu bisa di dekatku, aku bersedia melakukannya." Gina mengusap air matanya yang mengalir deras di pipi.


"Maaf, Nona." Lagi-lagi hanya itu yang bisa Surya katakan dengan wajah mendung juga.


"Sekarang, kau tahu bukan sebesar apa aku menyukaimu? Aku bisa memberikan R-Company padamu, jadi jangan pergi." Gina melemahkan suaranya hampir putus asa.


"Saya sungguh-sungguh minta maaf, Nona." Surya menatap Gina lembut. Hati Gina semakin merasa patah melihat tatapan Surya seperti itu. Ia merasa sangat menyedihkan.


"Saya harus pergi sekarang." Perlahan Surya mendekati Gina.

__ADS_1


"Saya sangat berharap Anda akan segera baik-baik saja. Saya berjanji tidak akan muncul di hadapan Anda lagi setelah ini." Surya kembali memundurkan langkahnya kemudian berbalik badan dan menuju ke arah mobil yang ia parkir tadi.


Gina sudah tidak memiliki tenaga walau hanya sekadar memanggil Surya untuk tetap tinggal. Dadanya penuh sesak. Kedua kakinya seperti tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Ia duduk berjongkok di depan pintu dengan tangis yang pecah semakin nyaring. Surya sudah pergi menjauh keluar dari halaman rumah dengan mobil yang ia kendarai. Gina merasa semakin getir meratapi perasaan cintanya yang mendapat penolakan oleh Surya.


__ADS_2