Tahta Surya

Tahta Surya
Penasaran


__ADS_3

Gina duduk di jok mobil pick up yang di kendarai oleh Joko untuk pulang ke rumah Surya lebih dulu. Ia tidak sendirian, Ayu, sepupu Surya menemaninya. Gina yang duduk di paling samping bagian cabin mobil pick up ini merasakan matahari pagi mulai membuatnya hangat. Jalanan beraspal di kawasan persawahan ini membuatnya terbuai. Sepanjang jalan adalah sawah dengan tumbuhan padi yang sangat menyejukkan matanya. Itu mengingatkannya pada Grindelwald. Sebuah desa di Swiss yang pernah Gina datangi beberapa tahun yang lalu. Desa yang sangat indah sehingga ia sempat mengungkapkan pada Papanya ingin berpindah kewarganegaraan dan menetap disana. Sayangnya Papanya tidak memberinya izin.


"Kau putriku satu-satunya. Kalau kau pergi, lalu kami benar-benar menjadi orang tua yang kehilangan anak-anaknya."


"Hanya berpindah tempat tinggal, Pa. Itu tidak akan mengubah status hubungan kita."


"Tidak, tidak boleh." Jawab Pak Rangga tegas mendengar ide konyol putrinya.


"Lagipula apa bedanya aku tinggal di sini atau di Swiss. Sama saja kita seperti tidak pernah tinggal bersama. Papa lebih suka tinggal di R-Company. Mama juga."


"Kau ini..." Pak Rangga kehabisan kata.


"Pokonya kau tidak boleh kemana-mana. Apalagi berpindah kewarganegaraan. Ada-ada saja. Kalau kau mau, ambil saja S3-mu nanti di sana."


"Apa S3? Untuk apa?"


"Semakin lama kau sekolah, semakin pandai kau nanti."


"Kenapa aku bersusah-susah sekolah hingga mendapatkan banyak gelar. Toh pada akhirnya aku akan menggantikan Papa."


"Kau pikir aku akan memberikan R-Company semudah itu padamu?"


"Papa tidak usah mengancamku. Kalau bukan aku lalu siapa lagi." Gina masih santai menanggapi Papanya.


"Ya tentu saja. Aku pasti akan memberikan padamu jika ku rasa kau layak. Tapi kalau kau tetap seperti ini, jangan harap. Aku pasti akan memberikan pada orang lain." Gina memanyunkan bibirnya setelah itu. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Papanya. Tapi ternyata hal yang tidak pernah ia khawatirkan kini benar-benar dibuat nyata oleh Pak Rangga. Gina bukan pimpinan R-Company, melainkan Surya. Ia tidak menyangka Papanya mengatakan hal serius saat itu.


"Mbak... mbak Gina belum sarapan ya?" Suara Ayu menyadarkan dari lamunannya selama ini.


"Belum." Jawab Gina.


"Ayo makan ke tempat yang enak sekali." Ayu sangat bersemangat.


"Baiklah." Gina memberika senyum sebagai timbal baliknya kepada Ayu yang sudah menemaninya.


Mobil pick up itu berhenti di sebuah warung yang disebelah kanan dan kirinya dikelilingi oleh sawah. Dengan desain warung yang terbuat dari bambu, kesan otentik dan klasik khas pedesaan sangat terasa. Sudah ada beberapa orang di warung itu untuk makan.


"Mbak, ini hanya warung biasa tapi makanannya terkenal juara." Ayu berpromosi.


"Benarkah?" Ayu mengangguk.


"Mbak Gina kan orang kota ya. Apa doyan makanan ini." Suara Joko tiba-tiba setelah menutup pintu mobil dan menghampiri dua wanita di depan warung.


"Apa Mbak Gina suka pilih-pilih makanan?" Tanya Ayu.


"Ya, kadang-kadang." Jawab Gina santai sambil berjalan mendekati warung.


"Wah, bisa gawat kalau Mbak Gina tidak doyan makanan di sini. Kita bisa dimarahi sama Mas Surya." Joko tampak gelisah berbisik pada Ayu.


"Masa bodoh dengan Mas Surya. Dia tidak ada di sini."


"Mbak Gina bisa mengadu padanya."


"Biar saja. Yang jelas aku lapar." Ayu tampak tidak peduli dan menyusul Gina masuk ke dalam warung.


Di dalam warung Ayu melihat Gina sudah memesan makanannya. Ayu tampak semakin senang karena apa yang dikhawatirkan oleh Joko tidak akan terjadi.


"Bu, aku mau telor dadar panas dan lebar seperti punya bapak itu." Tunjuk Gina pada seorang Bapak yang duduk tidak jauh darinya sedang makan hanya memakai tangannya saja.


"Penyet telur ya, mbak?"


"Ya, itu pokoknya, Bu. Aku mau itu."


"Iya, mbak." Jawab Ibu pemilik warung ramah.


"Mbak, aku sego pecel yo. Peyek'e sing akeh. Peyek teri." (Bu, aku nasi pecel ya. Peyeknya yang banyak. Peyek teri) Ujar Ayu dengan bahasa jawa. Gina menatap Ayu yang berdiri disampingnya. Ayu yang merasa diperhatikan oleh Gina hanya tersenyum membalas tatapannya.


"Ehh, sampean, Nduk. Kok isuk tenan. Mari teko endi?" (Ehh, kamu, Nak. Kok pagi sekali. Dari mana?) Ibu pemilik warung sepertinya sudah mengenal Ayu.


"Pecele nggawe bali opo ga?" (Nasi pecelnya pakai bali apa tidak?)


"Ga usah, mbak. Aku pingin sing biasa." (Tidak usah, mbak. Aku mau yang biasa.)

__ADS_1


"Aku podo karo Ayu, mbak." (Aku sama seperti punyanya Ayu, mbak) Sahut Joko yang sedari tadi menunggu Ayu menyelesaikan pesanannya.


"Iyo." Jawab pemilik warung itu lagi.


Gina sudah duduk di meja panjang itu sambil menunggu pesanannya datang. Ayu dan Joko ikut duduk sebaris dengan meja Gina.


"Ehm, Ayu." Panggil Gina. Ayu menoleh.


"Jadi, siapa gadis tadi?" Akhirnya Gina bertanya juga apa yang sedari tadi ada di dalam fikirannya.


"Mbak Dinda?" Tanya Ayu memastikan.


"Ya."


"Dia itu mantannya mas Surya." Jawab Ayu terus terang. Tapi seteleh itu Joko menyenggol lengan Ayu seperti ia ingin memperingatkannya. Ayu menoleh pada Joko meminta penjelasan perlakuannya. Tapi Joko malah memainkan matanya memberi isyarat tertentu. Dan Gina sempat menangkap gelagat mereka berdua.


"Itu Mbak, maksud Ayu kalau Mbak Dinda itu mantan teman sekolah Mas Surya. Mereka itu sejak SD sampai SMA selalu berada di satu sekolah yang sama." Jelas Joko.


"Ahh, iya itu maksudku, Mbak Gina." Ayu menimpali.


"Oh begitu ya." Gina manggut-manggut pura-pura memahami begitu saja penjelasan mereka berdua. Padahal dengan adanya sikap Ayu dan Joko baru saja, Gina menjadi lebih penasaran hubungan apa yang Surya dan Dinda miliki sebelumnya. Apakah mereka memang benar-benar mantan dalam artian mantan pacar atau seperti penjelasan Joko mantan yang dimaksud Ayu adalah mantan teman sekolah.


Tapi saat tadi pagi melihat Dinda datang Surya seperti senang sekali.


"Dinda..." Mata Surya berbinar mendapati gadis yang tampak dari balik pintu. Gina menangkap ekspresi wajah Surya kali ini.


"Kau ada di sini?"


"Hai semua..." Ternyata ada gadis lain lagi masuk setelah Dinda. Ayu datang membawa tas dan makanan.


"Masuklah, Nduk." Ibu Surya mempersilakan Dinda dan Ayu untuk masuk. Dua gadis itu pun masuk.


"Bagaimana keadaan Bapak, Bu?" Tanya Dinda kepada Bu Maryam, Ibu Surya.


Melihat gadis yang disebut Surya bernama Dinda itu sangat akrab dengan ibu mertuanya, Gina menjadi penasaran siapa gadis itu sebenarnya. Apa mungkin dia adalah saudara Surya yang lain.


"Sudah lebih baik. Mungkin nanti atau besok sudah bisa pulang."


"Maafkan karena saya datang membesuk sepagi ini. Itu karena siang nanti saya ada penataran di kabupaten sehingga saya harus datang sepagi ini."


"Tidak perlu serepot ini, Nduk. Bapak tidak apa-apa kok."


"Tidak apa-apa, Bu. Ini tidak merepotkan sama sekali. Kebetulan tadi saya melihat Ayu sedang menunggu angkutan umum jadi tepat sekali kita bisa pergi bersama." Dinda memandang Ayu yang duduk di dekat cendela memegang ponselnya.


"Oh iya, kapan kau datang, Sur?" Sekarang Dinda beralih memandang Surya dan bergantian memandang Gina. Saat itu Gina tahu matanya sangat indah. Bulu mata lentik Dinda membuat Gina terpesona. Ia tidak yakin jika gadis lembut itu melakukan tanam bulu mata apalagi memakai bulu mata palsu. Bulu mata lebat dan lentik itu aka membuat siapun terhipnotis jika memandangnya.


"Pagi ini, Din." Surya menjawab.


"Kau apa kabar?"


"Aku baik."


"Akhirnya kau benar-benar menjadi Bu Guru." Mendengar penuturan Surya, Dinda tersenyum.


"Berkat doamu juga."


"Berkat kerja kerasmu. Cita-citamu sejak kecil membuatmu selalu bersemangat untuk menjadi Guru."


"Iya, syukurlah." Pandangan mata Dinda tidak lepas sama sekali dari Surya. Senyumnya juga mengambang dengan sangat sempurna. Diam-diam Gina memperhatikan mereka saat berbincang. Tidak hanya bibir, seolah mata mereka ikut saling berbicara satu sama lain. Tanpa sadar Gina menghela nafas berat, seperti ada yang menekan di dalam dadanya. Surya mendengar ******* nafas berat Gina.


"Kau lelah?" Tanya Surya pada Gina sedikit berbisik.


"Tidak juga." Jawab Gina.


"Baiklah, saya harus segera ke balai kabupaten jadi saya pamit dulu, Bu." Dinda meminta tangan Ibu Surya untuk dicium. Gadis itu sangat sopan dan terlihat sangat menghormati orang tua. Sepertinya ia berasal dari keluarga baik-baik dan dididik dengan baik oleh orang tuanya.


"Surya, mainlah ke rumah. Ajak juga istrimu. Mari kita makan rujak bersama seperti dulu." Ujar Dinda. Gina malah lebih fokus pada kata 'dulu' dan berfikir mereka memang sudah dekat sejak dulu.


"Nanti kami akan datang."


"Aku juga boleh ikut?" Celetuk Ayu tiba-tiba. Padahal dia sepertinya sibuk dengan ponsel ternyata dia menyimak juga.

__ADS_1


"Tentu saja boleh. Kita adalah tim rujak sejak dulu." Ayu terlihat senang. Dan setelah itu Dinda meninggalkan ruang rawat inap Pak Wiro. Gina memandang Dinda hingga ia menghilang di balik pintu.


"Nona..." Panggil Surya yang ada di sampingnya.


"Anda pulang ke rumah saja dulu untuk beristirahat.


"Bagaimana aku pulang? Bahkan rumahmu disebelah mana saja aku tidak tahu." Gina berbisik agar tidak terdengar oleh ibu mertuanya yang duduk di dekat suaminya berbaring.


"Ayu akan menemani Anda."


"Ada apa denganku?" Mendengar Surya menyebut namanya Ayu mengalihkan pandangan pada Surya.


"Kau pulanglah dan temani Mbak Gina dulu."


"Baiklah. Apa aku ini bakteri atau virus mematikan?" Surya, Gina dan bahkan Ibu Surya mengerutkan kening mendengar apa yang Ayu katakan.


"Kenapa semua orang selalu ingin aku pulang saat aku di sini. Aku 100% steril. Aku selalu menjaga kebersihan, rajin mencuci tangan dan rajin membantu orang tua. Jadi, kenapa aku harus pulang."


"Bicara apa kau ini." Joko yang baru masuk dan mendengar Ayu mengomel segera membungkam mulutnya.


"Uhh, tanganmu bau sambel. Kau habis makan lalapan?" Ayu menepis tangan Joko.


"Baik Mas, aku akan mengantar mbak Gina dan Ayu pulang." Joko tidak mempedulikan Ayu dan berpamitan kepada Surya.


"Ya, kau juga beristirahatlah di rumah. Nanti sore saja kembali ke sini dengan mbak Gina."


"Iya Mas." Joko menyanggupi.


"Ayo, Yu." Ajak Joko pada Ayu yang masih cemberut. Gina berpamitan pada Ibu Surya lalu keluar dari ruangan itu. Surya ikut keluar mengantar.


"Nona, beristirahatlah. Anda pasti lelah semalaman hampir tidak tidur sama sekali." Gina mengangguk. Ia tahu Surya juga bahkan tidak memejamkan mata sebentar pun, tapi ia malah menyuruhnya untuk pulang beristirahat.


"Kau tidak ikut?"


"Aku akan di sini menemani ibu menunggui bapak menggantikan Joko. Anda pulang saja dulu."


"Aku di rumahmu sendirian?"


"Ya Tuhan, pengantin baru ini memang tak terpisahkan ya." Goda Ayu yang mendengar pembicaraan mereka. Gina dan Surya memandang Ayu bersamaan.


Sejak bertemu Dinda tadi perasaan Gina menjadi gelisah entah kenapa. Dan kegelisahannya itu membuatnya ingin agar Surya selalu bersamanya saja. Ia tidak ingin meninggalkan Surya di tempat lain tanpa dirinya.


"Surya..." Panggil Gina. Surya yang awalnya memandang Ayu yang sudah menuju mobil, sekarang memalingkan wajahnya pada Gina lagi.


"Iya Nona."


"Jangan lupa makan." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibir Gina. Bukan kalimat lain yang sudah ada di kepalanya.


"Iya Nona." Surya membalasnya dengan senyum. Sekali lagi Gina berdebar melihat senyuman Surya. Itu membuatnya buru-buru memalingkan wajah dan segera menyusul Ayu karena ia tidak ingin Surya mendengar debaran di dadanya.


"Ayu, apa mereka dekat?" Tanya Gina lagi sambil menyuapkan sarapannya.


"Layaknya teman sepermainan, mereka akrab." Jawab Ayu agak canggung. Gina semakin yakin Ayu menutupi sesuatu darinya.


"Kau yakin mereka hanya mantan teman sekolah?"


"Mbak Gina sayang..." Ayu melingkarkan tangannya di pundak Gina. Gina merasa aneh dengan tindakan Ayu yang tiba-tiba begitu. Mereka baru dua kali berjumpa. Sekarang dan saat hari pernikahannya waktu itu, tapi Ayu sudah bisa sedekat ini kepadanya.


"Apapun yang terjadi dimasa lalu Mas Surya itu tidaklah lagi berarti. Yang terpenting sekarang adalah Mbak Ginalah yang akhirnya berhasil memilikinya." Ujar Ayu sok bijak. Gina tertawa mendengar penuturan anak SMA ini.


"Ngomong-ngomong, kau tidak sekolah?" Tanya Gina.


"Aku? Aku membolos. Aku kan harus menemani mbak Gina."


"Ahh, itu hanya alasanmu saja." Celetuk Joko.


"Diam kau."


"Aku tahu kenapa kau sangat ingin berada di rumah sakit saja. Agar kau punya alasan untuk membolos kan?" Lanjut Joko. Ayu yang modusnya terbaca oleh Joko jadi gelagapan.


"Apa katamu? Tidak, bukan begitu. Aku memang mengkhawatirkan pakde."

__ADS_1


"Benarkah?" Joko mencibir. Ayu manyun karena kesal. Gina hanya tersenyum melihat dua orang disamping kanan dan kirinya.


__ADS_2