Tahta Surya

Tahta Surya
Resign


__ADS_3

Gina menombol lift dimana lantai ruangan bos Font berada. Hatinya campur aduk. Ada kesedihan yang mendalam saat harus meninggalkan Font begitu saja. Rasanya begitu berat jika mulai besok ia tidak bisa setiap hari memandang wajah orang yang sangat dicintainya. Faris. Berkali-kali ia menghela nafas berat.


Pagi ini bagai ada mendung menyelimuti hatinya. Bahkan Lita yang ditemuinya di loby pun tahu perubahan besar pada wajahnya pagi ini.


"Hei, kau kurang tidur?" Tebak Lita. Temannya di beda divisi.


"Tidak juga. Kenapa?" Tanya Gina dengan perasaan malas karena suasana hatinya memang sedang tidak baik.


"Wajahmu horor sekali."


"Oh ya?" Gina meraba pipinya.


"Kau tau film The Nun?"


"Sudah, jangan dilanjutkan. Aku benci film horor."


"Nah, sehoror itu wajahmu."


"Jadi, maksudmu aku mirip Valak?" Gina melirik Lita tajam sambil masih berjalan menuju lift. Lita menahan tawa.


"Tega sekali kau memberi kesan buruk di hari terakhirku berada di Font."


"Apa?" Lita menghentikan langkahnya.


"Hari terakhir? Kau mau ke mana? Berlibur?" Lita mengikuti langkah Gina lagi.


"Jangan karena pemilik Font adalah temanmu lalu kau seenaknya saja pergi berlibur."


"Kau ini benar-benar minta dipukul ya?" Gina pura2 mengangkat tangannya. Lita meringis. Ia tahu Gina sedang tidak baik-baik saja. Meski belum lama mereka berteman, tapi ekspresi Gina kali ini benar-benar serius.


"Baiklah... baiklah... apa yang membuatmu bermuram durja sepagi ini?"


"Ta, kau harus berjanji padaku akan selalu bersedia ku mintai tolong jika ku butuhkan." Gina tiba-tiba menghentikan langkah dan menggenggam tangan Lita sambil memasang wajah memohon.


"Apa-apaan ini? Kau sangat membingungkan. Kau tidak sedang dalam depresi berat kan?"


"Lebih dari itu." Gina menjawab dengan penuh kesungguhan.


"Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?"


"Hei, aku belum mengatakan apapun dan kau sudah cepat sekali berspekulasi." Gina melepas genggaman tanggannya.

__ADS_1


"Pokonya kau harus berjanji terlebih dulu. Kumohon."


Melihat Gina yang sepertinya sangat membutuhkannya itu, Lita merasa iba dan akhirnya menyanggupi dengan menganggukan kepala.


"Ahh, kau memang teman yang baik." Secara tiba-tiba Gina memeluk Lita. Lita gelagapan dan berusaha melepas tapi Gina sangat kuat memeluknya.


"Lepaskan, Gina. Kau mau semua orang mengira kita pasangan sejenis?" Lita masih meronta. Dan banyak mata memandang dengan pikiran mereka masing-masing. Bagi orang yang mengenal Gina, mereka hanya akan tersenyum kecut karena ia memang seperti itu. Mudah sekali mengekspresikan perasaannya ke dalam sentuhan fisik. Tapi bagi mereka yang tidak tahu bagaimana Gina pasti berfikir yang bukan-bukan tentangnya.


Tak berapa lama kemudian Gina melepaskan pelukannya sambil tersenyum lebar.


"Sudah katakanlah apa maumu. Jangan mempermalukanku di depan umum dengan 'tindakan mesramu' seperti itu."


"Ketika aku sudah tidak ada di Font, kau harus mau jika aku ingin kau mengirim foto Faris kepadaku saat aku merindukannya." Ujar Gina dengan wajah sok polos tanpa kejunya.


"Apa???" Lita setengah berteriak atas apa yang dikatakan Gina.


"Kenapa kau histeris begitu. Biasa saja..."


"Biasa saja katamu. Kau sudah tidak 'sehat'?"


"Tidak, aku 100% sehat. Nafsu makanku bagus, aku juga BAB secara teratur, pipis juga lancar, terus apa lagi yaa..." Gina masih bersikap naif.


"Bukan sehat yang seperti itu. Tapi fikiranmu."


"Ku pikir kau sudah move on dari Pak Faris. Tapi ternyata masih belum juga. Kau tahu kan Pak Faris itu suami Sunday, teman kita. Mana bisa kau masih seperti ini terus. Kau harus move on, Gina. Move on."


"Siapa yang meminta nasehatmu. Aku hanya meminta bantuanmu, tidak lebih." Gina cemberut.


"Tidak, aku tidak mau menghianati persahatan kita bertiga. Aku tidak mau melakukan kebaikan untuk temanku yang satu tapi sekaligus melakukan kejahatan pada sahabatku yang lain." Lita tegas.


"Tapi kau sudah berjanji tadi."


"Aku mengingkari janjiku. Pokoknya aku tidak mau."


"Ayolah Ta... siapa lagi yang harus ku mintai tolong."


"Ehh, sebentar..." Lita seperti kembali menyadari sesuatu.


"Kenapa kau tiba-tiba keluar dari Font?"


"Ada sesuatu yang sangat insidentil yang mengharuskan aku untuk keluar dari tempat indah ini."

__ADS_1


"Kau ini, selalu saja dramatis." Cibir Lita.


Dan sekarang Gina ada tepat di depan pintu ruangan Faris. Sekali lagi ia menghela nafas berat. Ragu-ragu ia ingin mengetuk pintu. Rasanya ia sangat enggan menyerahkan surat pengunduran ini langsung kepada Faris.


Seharusnya memang surat pengunduran ini cukup hanya disampaikan kepada HRD. Tapi ia dan Faris sangatlah dekat jadi ia berfikir harus menyerahkannya langsung kepadanya. Lagi pula ia ingin berpamitan secara langsung dan berlama-lama untuk terakhir kalinya di Font. Karena ia yakin setelah ini mereka akan punya kesibukan masing-masing. Faris sibuk mengembangkan Font dan ia sibuk merebut tahta dari Surya. Si manusia cupu.


Akhirnya dengan segenap perasaan ia ketuk pintu ruang kerja Faris. Suara Faris mempersilakan dari dalam.


Gina melangkahkan kaki masuk setelah pintu ia buka.


"Iya Gina. Ada apa?" Faris meletakkan pulpen yang ia gunakan untuk menulis berkas di hadapannya. Gina seperti ingin memeluk Faris dan menangis serta mengatakan bahwa ia mencintainya dan masih mengharapkannya. Tapi tentu saja pikiran konyolnya hanya akan menjadi angan-angannya saja. Ia juga cukup bisa menempatkan diri bagaimana harus bersikap.


"Ini..." Gina menyerahkan surat pengunduran dirinya.


"Apa itu? Kau memberi aku amplop berisi suap?" Faris bercanda sambil mengambil amplop diatas meja yang diletakkan Gina. Kemudian ia buka dan ia baca.


"Kau... mengundurkan diri?" Faris menatap Gina penuh heran. Gina menganggunk lesu.


"Kenapa? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" Tanya Faris.


Ya ada. Kau. Kau membuatku tidak nyaman karena lebih memilih mencintai Sunday daripada aku. Batin Gina.


"Tidak ada. Hanya saja aku merasa waktuku sudah cukup ada di sini. Sudah saatnya aku pulang ke tempat dimana seharusnya aku berada."


"Apa maksudmu?" Faris tidak mengerti maksud Gina.


"Aku akan berada di R-Company besok."


"Oh ya? Kau serius?" Faris tersenyum lebar.


Hei, apa sesenang itu aku pergi? Kenapa senyummu lebar sekali. Setidaknya pasang wajah sedihmu karena aku akan meninggalkan Font mulai besok. Jika bukan karena aku spesial untukmu, paling tidak karena kau sudah kehilangan satu-satunya pegawai tercantik di Font. Gina masih sempat menarsiskan diri.


"Ya aku serius."


"Kenapa tiba-tiba?"


"Sebenarnya tidak juga. Tapi jiwaku merasa terpanggil untuk berada di R-Company sekarang. Bagaimanpun juga R-Company adalah milikku, jadi aku harus ada di sana apapun yang terjadi."


"Syukurlah... kau semakin dewasa sekarang." Faris beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Gina.


Peluk aku, Ris. Peluk aku... paling tidak karena ini hari terakhirku di sini. Harap Gina.

__ADS_1


"Pergilah ke R-Company. Aku sangat mendukungmu. Om Rangga pasti sangat bahagia akhirnya kau bisa menemaninya di sana." Faris menepuk pundak Gina memberi dukungan. Gina menghela nafas lesu. Tidak ada pelukan selamat tinggal. Lagi-lagi Gina menelan kekecewaan karena ekspektasinya terlalu berlebihan.


Senyum Faris masih terus berkembang saat Gina memandang wajah tampan favoritnya itu. Faris turut bahagia akhirnya Gina tahu bagaimana harus bertindak. Ia adalah anak pemilik R-Company jadi sudah seharusnya Gina turut serta mengelola perusahaan itu. Ia tahu sekali bagaimana rasanya menjadi Pak Rangga karena itu juga yang mungkin dirasakan oleh Papinya, Pak Sasono, saat dirinya lebih memilih menjadi 'buruh' di sebuah perusahaan kapal pesiar daripada mengatur dan mengembangkan Font yang adalah bagian dari miliknya.


__ADS_2