Tahta Surya

Tahta Surya
Toserba


__ADS_3

Surya menghentikan mobilnya sebelum mereka sampai di rumah. Gina yang melihat lagi-lagi Surya melakukan hal itu menjadi kesal.


"Kau... lagi-lagi berhenti tanpa permisi?" Gina sudah menarik bibirnya sejauh setengah meter ke depan.


"Maaf Nona, saya harus membeli sesuatu."


"Apa?" Surya tidak sempat menjawab karena sudah turun di sebuah toserba.


Gina semakin kesal. Dengan dongkol Gina menunggu di dalam mobil. Tapi saat melihat frezer berderet dari sejumlah merk es krim di dalam toserba, Gina menjadi tertarik untuk ikut turun dan bermaksud membeli rasa yang ia suka. Saat memasuki toserba, Gina tidak langsung menemukan Surya. Mungkin saja Surya berada di balik rak-rak yang tidak terlihat olehnya. Gina juga tidak begitu peduli dengan hal itu. Ia langsung membuka frezer es krim dan matanya sibuk mencari rasa kesukaannya. Rasa mocca dengan choco chip bertaburan di atasnya. Es krim cone ini favorit Gina sejak kecil.


"Rasa ini sangat enak." Gumam Surya yang tiba-tiba sudah ada di samping Gina dan langsung mengambil es krim stik rasa ketan hitam.


Seleranya terlalu standar dan kampungan. Begitu menurut Gina sambil melirik ke arah Surya yang berlalu meninggalkannya untuk menuju ke kasir. Gina mengikutinya. Di tempat kasir Gina tahu barang apa saja yang dibeli oleh Surya. Kebutuhan kamar mandi miliknya dan sejumlah keperluan pria. Sangat standar juga. Tapi Gina tidak melihat cologne atau parfum di tumpukan belanjaan Surya.


Sebenarnya Gina lumayan penasaran dengan aroma parfum yang biasa dipakai Surya. Aromanya lembut tapi tetap terkesan manly. Memikirkan parfum Surya, tanpa sadar Gina menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat lagi pada Surya untuk menghirup aroma itu lebih dalam. Setiap Gina berdekatan dengan Surya ia bisa merasakan kenyamanan saat menghirup aroma parfumnya. Jadi benar apa yang ditampilkan oleh sebuah iklan parfum pria, begitu para wanita menghirupnya mereka akan menempel pada pemakainya.


Saat pertama melihat iklan itu, Gina tersenyum sinis dan beranggapan apakah sebuah parfum bisa sampai memberi efek samping sebegitu besar. Gina yang mencium aroma parfum banyak pria selalu merasa baik-baik saja dan tidak menggila seperti para wanita di iklan itu. Tapi entah parfum apa yang dipakai Surya, aromanya selalu mencuri perhatian Gina. Bahkan sejak pertama Gina menghirup aroma parfum Surya dimalam pernikahan mereka yang diguyur hujan, Gina merasakan ketenangan saat aroma parfum itu terhirup olehnya dalam pelukan Surya. Seolah rasa sakit karena kecemburuannya terhadap Faris dan Sunday menjadi hilang. Gina jadi berfikir apa parfum yang dipakai Surya adalah parfum dengan merk yang ia lihat di iklan itu.


Atau jangan-jangan parfum Surya adalah parfum pelet sehingga aku sangat menyukai aromanya dan membuatku ingin berdekatan dengannya.


"Nona..." Panggil Surya saat ia bukannya beranjak dari meja kasir tapi malah hanya bengong saja disana.


Ternyata Surya sudah selesai membayar semua belanjaannya termasuk es krim Gina. Saking sibuk dengan fikirannya sendiri, hingga Gina tidak tahu Surya sudah beranjak dari dekatnya. Menyadari kebodohannya, Gina langsung berjalan meninggalkan meja kasir bahkan berjalan sangat cepat untuk mendahului Surya begitu Surya membukakan pintu toserba untuknya.


Sebelum sampai di mobil Surya yang terparkir di depan toserba, Gina mendadak jengah melihat seorang wanita hamil yang dibantu turun dari dalam sebuah mobil.


"Ehh, itu Gina." Wajah sumringah Sunday melihat Gina yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Faris yang mendengar kalimat istrinya pun ikut menoleh. Melihat wajah Faris, hati Gina berdesir lembut seperti biasanya. Peasaannya pada Faris tidak pernah padam. Selalu membakarnya dan menimbulkan kecemburuan yang teramat setiap melihat keberadaannya bersama Sunday.


Sekarang pasangan itu berjalan mendekati Gina yang masih mematung di tempatnya. Bahkan dari jarak beberapa langkah begini, Gina bisa menikmati dengan leluasa senyum Faris. Senyum yang menampilkan lesung di pipinya. Tidak peduli Sunday sedang bersamanya, yang jelas Gina mendadak merindukan Faris. Pria cinta pertama yang susah ia lepaskan begitu saja.


"Kau di sini juga?" Suara Sunday membuat fikirannya teralihkan.


"Ahh iya, aku mampir untuk membeli sesuatu." Jawab Gina dengan senyumnya yang sedikit berat.


Bagaimana tidak berat, tangan Faris sedari tadi tidak lepas menggenggam tangan Sunday. Entah takut istrinya jatuh atau bahkan khawatir istrinya diambil oleh orang lewat, yang jelas itu sangat membuat Gina cemburu.


"Anda juga akan berbelanja?" Suara Surya tiba-tiba. Setelah itu ia menyodorkan es krim yang sudah dibukanya itu kepada Gina. Es krim yang Gina pilih di dalam toserba tadi. Gina memandang Surya dan ia mengisyaratkan untuk menerima es krim di tangannya. Gina pun mengambil alih es krim dan memakannya.


Melihat hal itu, Sunday dan Faris tersenyum. Gina dan Surya terlihat manis sekali bersama.


"Ahh, iya. Kami akan membeli beberapa barang dan bahan untuk kebutuhan di rumah." Jawab Faris.


"Melihat kalian, aku jadi iri. Faris, ayo belikan aku es krim juga." Sunday memandang Faris yang jauh lebih tinggi disampingnya.


"Baiklah, mari kita menjadi pengantin baru. Jangan sampai kita kalah dari mereka." Ujar Faris tapi bernada godaan pada dua orang di depannya. Gina yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kecut. Surya ikut tersenyum menanggapinya.


"Kami pergi dulu." Pamit Surya.


"Silakan... " Ujar Faris.


"Sampai bertemu nanti malam, Gina." Sunday melambaikan tangan.


"Nanti malam?" Gina mengerutkan kening tidak mengerti.


"Malam pengusaha." Jelas Sunday.


"Kau juga datang, bukan?"


"Iya Nona, kami akan datang." Jawab Surya.

__ADS_1


"Baguslah. Akan sangat baik jika ada seseorang yang ku kenal baik di sana." Sunday tampak berseri. Gina melihat Sunday sangat bahagia.


Apakah sebahagia itu dinikahi oleh Faris? Atau dia bahagia karena sedang mengandung? Atau karena itu adalah anaknya bersama Faris sehingga ia sangat bahagia? Seharusnya aku yang sebahagia itu, bukan dia.


Gina masih menikmati es krimnya di dalam mobil. Surya juga memakan es krimnya sendiri. Mereka belum melanjutkan perjalan pulang.


"Kenapa tadi kau berhenti disini untuk berbelanja?" Tanya Gina masih memakan cone es krimnya.


Untuk kejadian baru saja, Gina sangat menyalahkan Surya. Bagaimana bisa dia menghentikam mobilnya di sini dan berbelanja di toserba ini. Ini adalah kawasan yang berada di dekat rumah Faris. Tentu saja kemungkinan untuk bertemu mereka berdua sangat besar walaupun yang terjadi tadi juga hanya sebuah kebetulan. Dan karena itu ia benar-benar bertemu pasangan yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Karena saya baru ingat saya harus segera membeli barang-barang kebutuhan saya, Nona. Persediaan di rumah sudah habis."


"Ahh, tepat sekali." Sindir Gina. Mendengar itu Surya mengerutkan kening. Ia tidak mengerti maksud Gina sebenarnya.


🌸🌸🌸


Sunday mengambil pasta gigi, detergen dan beberapa kotak tisu. Faris setia membawa keranjang untuk semua barang yang diambil Sunday.


"Sabun mandi di kamar mandi bawah habis." Ujar Faris.


"Ahh, iya benar. Sabun mandi." Sunday mengambil sabun mandi cair dalam kemasan isi ulang.


Sunday memang kadang menjadi pelupa. Banyak yang di urus sendiri membuatnya sibuk sehingga konsentrasinya harus terbagi. Sejak menikah dengan Faris dan dengan penuh hormat memecatnya dari Font, Sunday menjadi sepenuhnya adalah ibu rumah tangga. Sunday pernah meminta izin pada Faris untuk berbisnis kecil-kecilan tapi tentu saja langsung ditolaknya.


"Kenapa berbisnis? Apa aku terlihat seperti pria yang tidak bisa membuat istrinya menjadi madam devisit?" Faris menyombong.


"Tidak. Kau tidak boleh melakukan apapun."


"Tapi hanya mengerjakan pekerjaan rumah tidak menantang sama sekali bagiku. Banyak waktuku menjadi terbuang percuma kalau hanya untuk menonton tv, melihat video di internet atau bermain media sosial setelah semua pekerjaanku selesai. Apalagi aku juga dibantu Bi Asih. Semua menjadi ringan."


"Memang itu tujuanku mempekerjakan Bi Asih. Agar meringankan pekerjaan rumah kita. Agar kau bisa lebih fokus mengurusku. Agar saat pulang dari bekerja kau tetap terlihat cantik dengan pakaian menawan dan beraroma wangi. Itu yang sangat aku sukai darimu." Faris mengerling kepada Sunday yang malah dibalas dengan bibir manyun.


"Kalau begitu, ikutlah komunitas para sosialita. Aku yakin mereka akan menerimamu dengan baik. Mereka tidak akan berani menolak istri dari Presdir Font, software house terbesar di negeri ini dan memiliki klien tidak hanya berasal dari dalam negeri tapi juga berbagai negara di dunia." Goda Faris.


"Tidak, aku tidak tertarik menjadi seperti mereka." Faris tahu, itu adalah jawaban yang akan dilontarkan oleh Sunday karena ia sangat mengenal istriya dengan baik. Sunday tidak tertarik untuk mengikuti komunitas semacam itu.


"Kursus memasak?" Lanjut Faris.


"Boleh. Lalu setelah aku mahir, aku akan membuka sebuah restoran. Aku yakin suamiku yang kaya raya akan memberiku modal membuka bisnis itu." Sunday tampak berbinar.


"Tidak boleh. Aku bisa cemburu kalau kau menggunakan tanganmu untuk membuat makanan bagi orang lain."


"Ya Tuhan, dasar posesif."


"Sudahlah, nikmati saja hari-hari santai yang ku anugerahkan padamu. Aku yakin jika wanita diluar sana tahu bagaimana aku memperlakukanmu dengan sangat istimewa, mereka akan iri padamu. Pergilah berbelanja, melakukan perawatan tubuh dan bersenang-senang dengan temanmu. Tapi ketika aku pulang kau harus ada di rumah menyambutku." Faris tersenyum memandang Sunday. Sunday masih memanyunkan bibirnya.


"Atau kalau kau memang ingin keluar dan lebih berguna lagi menurutmu, ikutlah aku ke Font."


"Benarkah? Apa aku benar-benar boleh kembali lagi ke Font?" Wajah Gina cerah kembali.


"Ya tentu saja." Jawab Faris santai.


"Aku kembali ke tim apa? Kalau boleh aku mau kembali ke Fedora. Ahh, aku kangen sekali bekerja dengan Lita, Bobby dan yang lainnya. Menganalisa project, menginstal untuk customer. Ahh, menyenangkan sekali."


"Hei, jangan sesenang itu."


"Kenapa aku tidak boleh sesenang ini?"


"Siapa yang mengatakan padamu kau boleh kembali bersama mereka."

__ADS_1


"Oke, jadi aku akan berada di tim apa?" Tanya Sunday mengerjapkan matanya.


"Ahh, tim apapun tidak masalah bagiku. Aku sudah sangat rindu pemrograman."


"Kau hanya akan bekerja bersamaku."


"Bersamamu? Kau mau memecat sekretarismu yang sekarang demi memasukkan aku?" Sunday membulatkan matanya.


"Tidak, sekretarisku sangat profesional dan aku menyukai itu jadi aku tidak akan memecatnya."


"Lalu?"


"Ya, kau hanya perlu ada di ruanganku."


"Mengerjakan apa?"


"Tidak mengerjakan apapun. Kau hanya perlu duduk di ruanganku sehingga aku tidak akan sempat merindukanmu karena aku bisa setiap saat memandangimu." Faris menatap Sunday lembut yang ada di sampingnya. Meski malam sudah larut tapi acara pillow talk mereka masih cukup seru.


"Dasar gila. Kau pikir aku pajangan sampai-sampai kau fikir aku akan mau melakukan hal itu." Sunday cemberut lagi karena telah dikerjai oleh suaminya. Faris terbahak mendengar itu lalu menarik Sunday agar berada dalam pelukannya.


"Ya, aku tergila-gila padamu sampai-sampai aku tidak bisa berlama-lama jauh darimu." Faris semakin mempererat pelukannya.


"Aku bukan ingin menjadikanmu repunzel di rumah ini tapi setelah ini kita juga akan memiliki si kecil. Kau juga tidak ingin memakai jasa baby sitter dan ingin mengurus sendiri anak kita. Jadi aku tidak ingin merepotkanmu. Kau dan anak kita adalah prioritas terdepanku. Aku akan berusaha membuat kalian bahagia. Jadi jangan berfikir tentang apa yang harus kau kerjakan, cukup habiskan waktumu untuk dirimu sendiri, untuk merawatku dan untuk membesarkan anak-anak kita." Faris mencium puncak kepala Sunday. Sunday jadi mengerti kenapa Faris hanya ingin dirinya benar-benar menjadi istri rumahan. Itu karena Faris ingin dirinya hanya ada untuk keluarga kecilnya. Sehingga Faris memberi banyak ruang kepada Sunday untuk fokus hanya pada itu saja, bukan pada yang lain.


Sunday masih berputar di rak cemilan. Tidak tahu harus mengambil apa lagi selain keripik kentang kesukaannya.


"Faris, sepertinya es krim yang dibawa Gina cukup enak."


"Ambil saja." Faris masih berjalan mengikuti Sunday dengan keranjang bawaannya. Ia tidak akan malu walau pegawainya tahu apa yang dilakukan jika sedang bersama istrinya di toserba.


"Tapi kemarin dokter mengatakan aku tidak boleh memakan es krim. Estimasi berat bayi kita sudah terlalu gemuk."


"Itu hanya estimasi. Satu buah es krim aku rasa tidak akan berpengaruh sama sekali."


"Baiklah, tapi kalau aku yang malah menjadi gendut bagaimana?"


"Aku mencintaimu apa adanya, Sayang. Jangan khawatir tentang berat badanmu."


"Ahh, kau yang paling pandai dalam hal ini." Sunday pura-pura tidak suka mendengar Faris mengatakan itu tapi padahal walau sering mendengar Faris menggombal, nyatanya ia selalu suka mendengarnya.


"Ngomong-ngomong, senang sekali melihat Gina dan Pak Surya bersama."


"Ya, aku juga."


"Selama kau mengenalnya, apa Pak Surya adalah orang yang baik?"


"Ya, ku rasa Pak Surya adalah orang yang tepat untuk Gina. Tidak salah Om Rangga memilih Pak Surya sebagai suami Gina. Dia orang yang akan bisa mengendalikan Gina nanti."


"Mengendalikan?" Sunday heran dengan penggunaan kata Faris.


"Ya. Pak Surya adalah orang yang tepat."


"Tapi dari penampilan Pak Surya yang sekarang, aku yakin Gina yang merubahnya. Setahuku sebelumnya Pak Surya bukanlah pria dengan penampilan stylish seperti yang ku lihat tadi."


"Awalnya memang seperti itu, tapi sifat dan sikap Pak Surya pada akhirnya akan membuat Gina berubah."


"Kau yakin sekali?"


"Ya, karena aku sudah mengenal Gina dengan sangat baik." Kata-kata Faris sudah bisa meyakinkan Sunday. Bagaimanapun juga Faris mengenal Gina sejak lama jadi pasti banyak dari dirinya yang sudah diketahui oleh Faris.

__ADS_1


__ADS_2