Tahta Surya

Tahta Surya
Menteri Sosial


__ADS_3

Hold me not


Give me back my mind


My thoughts that you've taken


Starve me to care


Could the night help me shut you out?


You gave me a lesson


Not to go and dive


But i already dive


Sebuah lagu dari Weird Genius melantun pagi ini dari perangkat audio mobil Surya. Gina masih duduk diam melihat suasana pagi jalan raya dan seperti biasa tidak ada banyak percakapan diantara mereka berdua. Surya maupun Gina seperti tidak ingin membangun pembicaraan apapun sampai saat ini. Sampai akhirnya Surya menghentikan mobilnya walaupun mereka belum sampai di tempat yang dituju.


"Hei, kenapa berhenti disini?" Gina memprotes.


"Sebentar Nona." Surya melepas seat belt dan membuka pintu mobil.


"Kau mau kemana?" Tanya Gina lagi karena penasaran Surya tiba-tiba berhenti dan turun dari mobilnya. Tapi sayangnya Surya sudah terlanjur turun dan menutup pintu sebelum mendengar pertanyaan Gina selanjutnya.


"Ahh, orang itu senang sekali berhenti mendadak di sembarang tempat." Gerutu Gina dengan melihat sekeliling mobil berhenti. Sebuah kawasan ramai dengan trotoar yang dipenuhi beberapa pedagang kaki lima.


Masih di dalam mobil Gina lalu mengedarkan pandangan mencari dimana Surya berada. Matanya mulai melakukan pencarian apa sebenarnya yang Surya lakukakan dengan turun dari mobil secara tiba-tiba seperti itu. Setajam apapun Gina menggunakan matanya, ternyata gerakan Surya terlalu cepat dan Gina tidak dapat menemukan dengan pandangannya.


"Kemana dia? Kenapa lama sekali." Gina mulai gelisah karena di tinggal sendirian di dalam mobil.


Akhirnya ia menemukan Surya sedang membeli sebuah kue dari penjual kaki lima disana. Seorang bapak tua yang badannya sudah agak bongkok. Gina memperhatikan Surya yang sedang berbincang ramah dengan Bapak tua itu. Gina tahu karena Surya tampak berbincang dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


Saat Gina masih memperhatikan Surya dari jauh, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil di samping Gina. Gina sedikit kaget dan menoleh seketika.


"Mbak, buka kacanya." Gina tampak ragu-ragu antara harus membuka kaca cendela mobil atau mengabaikan orang itu. Ia tidak mau berurusan dengan pemalak atau preman yang akan merusak riasannya pagi ini.


"Ada apa?" Tiba-tiba Surya sudah ada di samping pria yang mengetuk mobil Surya tadi.


"Oh Mas Surya. Lama tidak mampir ke sini, Mas." Sapa pria yang memakai rompi warna terang itu.


"Iya." Surya tersenyum pada pria yang berusia sekitar 30an itu.


"Mau ke tempat kerja, Mas?"


"Iya, Fer." Surya sambil mengulurkan tangan memberikan uang kepada pria itu.


"Tidak usah Mas. Kan cuma mampir saja. Masa iya harus membayar parkir."


"Tetap saja mobilku berhenti disini." Surya tetap memberikan selembar uang berwarna merah kepada pria itu.


"Tapi... Mas..." Pria itu ragu-ragu menerima. Lalu Surya meninggalkan pria itu yang sibuk dengan tas slempang kecil di dadanya.


"Lho, Mas ini kembaliannya." Pria itu mengejar Surya yang sekarang sudah membuka pintu mobil.


"Untuk parkir berikutnya." Jawab Surya dari dalam mobil yang kacanya terbuka.


"Tapi yang dulu masih ada uang parkirnya, Mas."


"Kalau begitu untuk parkir selanjutnya."


"Tapi Mas..."

__ADS_1


"Aku buru-buru. Aku pergi dulu." Surya segera menjalankan mobilnya sambil tersenyum pada pria itu.


"Terima kasih, Mas." Teriak pria itu karena mobil Surya sudah melaju. Tapi sayup-sayup Surya masih mendengarnya. Ia kembali bergabung dengan mobil lain menerobos padatnya lalu lintas pagi.


"Kau memang orang kaya yang suka menghambur-hamburkan uangmu ya." Komentar Gina tiba-tiba.


"Menghambur-hamburkan uang?" Surya mengerutkan kening dan memandang Gina sekilas lalu ia kembali memandang lurus ke depan jalan yang sedang mereka lalui.


"Kau membayar biaya parkir sebanyak itu, bukan menghambur-hamburkan namanya?"


"Oh, itu... dia sudah seperti teman saya, Nona."


"Kau berteman dengan tukang parkir juga? Wah, kau memang menempatkan dirimu di berbagai lapisan masyarakat. Kau juga cukup dermawan kepada temanmu." Cibir Gina. Surya hanya tersenyum menanggapi itu.


"Oh iya Nona, tolong buka kotak kue itu." Ujar Surya kemudian sambil memberi isyarat pada Gina dengan matanya menunjuk kotak di atas dashboard Surya. Gina menuruti dan membukanya.


"Apa ini?" Begitu dibuka, kotak itu mengeluarkan aroma yang sedap khas kelapa.


"Itu kue rangin, Nona."


"Kue rangin? Kau tahu kue ini?" Gina mengerjapkan matanya memandang Surya yang tahu banyak jenis tentang makanan termasuk kue rangin yang baru pertama kali Gina tahu ini.


"Iya Nona, itu kue kesukaan saya. Sejenis kue tradisional."


"Pantas saja aku tidak tahu kue ini. Ini kue berasal dari kampung." Jawab Gina.


"Itu enak sekali, Nona. Ada dua jenis kue rangin yang dibuat. Kue rangin kasar dan kue rangin halus. Kue rangin yang saya beli ini adalah kue rangin halus, Nona. Saya menamainya begitu karena memang teksturnya berbeda. Yang saya beli ini adalah kue rangin halus. Ini satu-satunya kue rangin yang saya temukan di kota ini, Nona. Kalau kue rangin kasar, di pasar kampung saya biasanya ada. Kapan-kapan kalau kita pulang lagi akan saya tunjukkan." Gina menyimak penjelasan Surya.


"Tolong ambilkan saya sepotong, Nona. Tisunya ada di dalam dashboard." Perintah Surya.


"Kau mau menyetir sambil makan? Bukankah itu merepotkan?"


"Iya Nona. Sebenarnya saya tidak bisa hanya sarapan dengan muffin. Perut saya ini perut kampung. Kalau tidak nasi atau porsinya kecil, saya belum kenyang." Surya lalu terkekeh. Gina memanyunkan bibirnya.


"Ya Tuhan, kau ini bagaimana. Jatuh kan kuenya. Sudah ku katakan menyetir sambil makan itu merepotkan."


"Maafkan saya, Nona." Gina memungut kue rangin yang jatuh dan membuangnya di tempat sampah kecil mobil Surya. Lalu Gina mengambil sepotong lagi kue rangin. Tapi kali ini saat Surya akan menerimanya, Gina malah langsung menyodorkan ke depan bibir Surya.


"Maaf, Nona?" Surya tidak mengerti maksud Gina.


"Buka saja mulutmu." Ujar Gina. Surya melirik Gina sekilas karena ia masih harus berkonsentrasi dengan jalan di depannya yang lumayan padat. Lalu Surya menuruti Gina membuka mulut dan menggigit kue itu.


"Terima kasih, Nona." Surya mengunyah sambil tersenyum.


"Kau ini benar-benar merepotkan."


"Maafkan saya, Nona. Tapi perut lapar jauh lebih merepotkan lagi. Itu akan menurutkan daya konsentrasi saya. Saya harus menyetir dan apalagi setelah ini saya harus menghadiri acara penting untuk pembukaan R-Store. Akan sangat berbahaya jika tiba-tiba pidato saya ngelantur kemana-mana karena daya konsentrasi saya tidak sampai 100%."


"Iya... terserah kau." Gina menyuapkan lagi kue rangin ke mulut Surya. Tapi tiba-tiba mobil Surya oleng dan itu membuat Gina yang sedang menyuapi Surya jadi kaget.


"Apa-apaan kau ini, Surya." Bentak Gina karena kaget.


"Maaf Nona, motor itu tiba-tiba memotong jalan sehingga saya terkejut." Gina lalu melihat ke arah depan. Seorang ibu-ibu dengan motornya tampak santai berjalan di depan mobil Surya.


"Ahh, si ratu jalanan." Gumam Gina.


"Kau tahu ibu-ibu adalah ratu jalanan sekarang? Mereka lebih meresahkan daripada para pembalap liar." Surya tertawa mendengar penuturan Gina. Gina ikut juga tertawa setelah memandang Surya.


"Surya kau lucu sekali." Masih dengan tertawa.


"Lucu?" Surya heran dengan kalimat Gina yang tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya lucu.

__ADS_1


"Wajahmu... Ya Tuhan..." Gina masih dengan sisa tawanya. Lalu ia mengambil tisu. Tapi Surya mencegah tangan Gina saat hampir menyentuh wajahnya.


"Apa yang Anda lakukan, Nona?"


"Kue ranginnya jadi belepotan kemana-mana gara-gara kau membanting setirmu tadi. Biarkan aku membersihkan wajahmu." Surya masih memegang pergelangan tangan Gina.


"Tidak Nona, akan saya bersihkan sendiri."


"Kau ini sedang menyetir, bagaimana bisa membersihkan wajahmu yang kotor itu. Sudah, sini biarkan aku saja yang melakukannya." Lalu Surya melepaskan tangan Gina dan membiarkan ia mengelap wajahnya. Perlahan Gina membersihkan bibir, hidung dan pipi Surya yang penuh dengan kue rangin yang menempel. Surya tenang diperlakukan Gina seperti itu. Tapi saat memandang mata Surya yang kecoklatan tiba-tiba jantung Gina berdebar lebih cepat dari semula. Gina buru-buru mengambil jarak dari Surya.


"Sudah." Ujar Gina sambil membuang tisu bekas yang ia pakai untuk mengelap wajah Surya.


"Terima kasih, Nona."


"Tidak masalah." Gina menjadi salah tingkah dan menarik nafas dalam-dalam mencoba meredam kegugupannya.


Gina bermaksud menyuapkan kue rangin lagi kepada Surya tapi ia menolaknya.


"Sudah Nona. Saya sudah kenyang. Terima kasih."


"Wah, porsi makanmu banyak juga ya. Tiga kue sebesar ini masuk juga ke perutmu."


"Iya Nona, saya adalah pria pekerja keras. Saya harus banyak makan agar bisa melakukan banyak hal."


"Banyak hal apanya? Memangnya kau kuli bangunan?" Lagi-lagi Gina mencibir. Surya tertawa kecil menanggapi Gina.


"Cobalah Nona, kue ini enak sekali."


"Benarkah?" Gina memandang kue ditangannya yang tidak jadi ia suapkan pada Surya tadi. Lalu ia menyuapkan juga ke mulutnya. Saat gigitan pertama, yang terasa di lidahnya adalah rasa kue dengan dominasi rasa gurih dan sedap dari santan dengan sedikit parutan kelapa di dalamnya. Gina menyukai itu.


"Rasanya lumayan." Puji Gina.


"Tapi untuk kue sesederhana ini, harganya mahal juga."


"Tidak Nona. Kue itu harganya murah meriah."


"Murah apanya. Sekotak kue ini kau beli dengan harga seratus ribu. Aku melihatmu tadi saat membayar kue ini."


"Oh itu karena penjualnya tidak memiliki kembalian, Nona."


"Lagi-lagi tidak memiliki kembalian." Gumam Gina mengingat tukang parkir itu juga mengatakan tidak memiliki kembalian.


"Benar Nona, ini masih terlalu pagi bagi mereka untuk mendapatkan uang kembalian sebayak itu. Jadi saya meninggalkannya saja karena saya terburu-buru.


"Kau baik sekali meninggalkan uang kembalianmu pada orang lain."


"Seperti tukang parkir itu, bapak tua penjual kue rangin juga sudah seperti teman saya. Saya adalah pelanggan setianya. Beliau sudah berumur hampir 80 tahun tapi masih harus bekerja mencari nafkan untuk dirinya sendiri, Nona."


"Oh ya? Kenapa tidak meminta kepada anak-anaknya?"


"Dia tidak memiliki anak, Nona."


"Kau tahu itu?"


"Iya Nona, saya sudah menjadi langganannya sejak saya tinggal di kota ini." Jelas Surya.


"Setahun yang lalu istrinya juga meninggal. Jadi dia sekarang hanya hidup sebatang kara di sini, Nona. Bekerja untuk dirinya sendiri untuk pria seusia Pak Tris sangat sulit. Jadi apa susahnya kalau kita bisa membantu dengan membeli dagangannya."


"Dan melebihkan bayarannya. Aku jadi faham maksudmu tadi." Potong Gina. Surya tersenyum lagi karena apa yang dikatakan Gina memang benar.


"Saya selalu salut kepada orang-orang yang giat bekerja seperti Pak Tris, Nona. Orang-orang seperti itu selalu bisa memotivasi saya untuk bekerja dengan keras dan tidak mudah menyerah. Mereka juga yang membuat saya merasa sangat bersyukur dengan apa yang saya dapatkan sekarang. Sehingga saya senang sekali berbagi dengan mereka."

__ADS_1


"Sepertinya kau ini sangat cocok jika menjadi menteri sosial." Celetuk Gina tiba-tiba dan disambut dengan tawa keras oleh Surya.


__ADS_2