Tahta Surya

Tahta Surya
Rayu Aku


__ADS_3

"Sekali lagi, maafkan aku untuk yang terjadi kemarin." Ujar Surya kemudian dengan mata lurus menatap Siska dan memang ada penyesalan dari apa yang Siska tangkap dari mata itu. Siska memang kecewa ketika Surya memilih untuk tetap ada di tempat pernikahan Hanna dan seolah tidak peduli dengan kemarahannya saat itu.


"Aku memang kekanak-kanakan." Siska tersenyum kecut setelah mengatakannya karena ia merasa tidak perlu memperpanjang perdebatan tentang masalah itu.


"Tidak, aku yang keterlaluan. Aku selalu melakukan semua mauku dan sering mengabaikan perasaanmu." Surya menundukkan wajah saat mengatakan itu. Ia seperti tidak bisa membalas tatapan Siska. Entah rasa sesal atau perasaan lain yang sedang ia sembunyikan, yang jelas Surya seperti sedang mengaburkan sesuatu.


"Jadi, Siska mari kita..."


"Mari kita putus." Potong Siska dan membuat Surya menatapnya lekat-lekat atas tindakannya yang tiba-tiba itu.


"Aku yang seharusnya mengatakan itu. Aku yang memulainya, jadi aku juga yang lebih berhak mengakhiri." Lanjut Siska dan membuat Surya tahu kenapa Siska mendahuluinya.


"Aku tahu apa yang sedang kau rasakan dan kau fikirkan saat ini. Tentu saja aku bukan tandingannya. Nona Gina jauh lebih segalanya daripada aku."


"Hei, apa yang kau bicarakan?" Surya merasa Siska semakin mulai memperjelas maksud kalimatnya sekarang.


"Kau memang jahat telah menghianati cintaku. Hatimu telah berpaling, bukan?" Mata Siska mulai berkaca-kaca.


"Aku tahu aku tidak akan bisa menang darinya." Kalimat Siska semakin tidak bisa dimengerti oleh Surya. Tapi ia hanya diam menunggu kalimat Siska selanjutnya. Surya yakin Siska belum selesai dengan kalimatnya.


"Dia memiliki segalanya sedangkan aku hanya gadis biasa. Adalah hal konyol jika aku memaksakan diriku untuk bisa menjadi lebih dari dirinya." Siska menarik bibirnya membentuk sebuah senyum yang terlihat sekali sangat dipaksakan. Senyum yang ia pakai untuk menutupi isi hatinya yang sebenarnya.


"Siska..." Surya mencoba menenangkan Siska dan menjelaskan sesuatu padanya.


"Aku tahu kau menyukainya. Kau menyukai Nona Gina. Katakan, seberapa besar rasa sukamu padanya?" Siska mulai mencerca Surya dengan pertanyaan yang sudah lama ia pendam dan ia tahan sebisa mungkin agar ia tidak pernah tahu fakta sebenarnya dan membuat hatinya terluka. Tapi pada akhirnya ia pun lelah berpura-pura tidak tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya pada hati Surya.


"Pasti itu jauh lebih besar dari pada terhadapku. Atau jangan-jangan tidak pernah ada rasa untukku?" Siska menatap Surya tajam.


"Atau sejak awal kau hanya mengimbangiku saja?" Siska masih menuntut penjelasan meski ia tahu itu akan menyakiti dirinya sendiri pada akhirnya.


"Aku berfikir kau hanya berpura-pura menyukaiku selama ini." Mata Siska sudah basah sekarang.


"Sebelumnya aku tidak pernah menyadari itu. Tapi akhirnya aku tahu satu hal. Bahwa aku tidak pernah mendapat pandangan mata seperti yang kau berikan kepadanya. Berkali-kali aku meyakinkan diriku bahwa itu hanya perasaanku saja tapi banyak hal yang semakin memperjelas tentang semua itu. Kau tidak hanya menikmati peranmu saat menjadi suaminya tapi setelah kau tidak lagi bersamanya aku semakin yakin bukan aku orang yang kau sukai, tapi dia."


"Siska, dengarkan aku..."


"Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Kau bisa membela dirimu sebanyak yang kau bisa tapi yang harus kau tahu bahwa aku adalah wanita peka. Aku bisa merasakan bahwa kau memiliki perbedaan saat bersama Nona Gina. Matamu tidak pernah berbohong. Dan aku melihat bagaimana kau melihat Nona Gina dengan cara yang berbeda dari pada saat kau memandangku. Rasanya sangat menyakitkan mendapati itu." Akhirnya air mata Gina tumpah juga.


"Kau bisa tertawa lepas saat bersamanya tapi ketika bersamaku aku harus berusaha keras untuk membuatmu tersenyum tulus kepadaku. Aku yakin kau tidak menyadari itu. Tapi memang itulah kenyataannya. Aku yang bisa merasakannya dan rasanya sangat menyakitkan mendapati itu semua."


Semua yang Siska ungkapkan adalah sesuatu yang telah lama ia pendam. Ia bertahan untuk tetap berada di dekat Surya dan menggenggamnya erat agar bisa selalu menahannya. Tapi ternyata ia salah dan membuatnya merasa lelah. Ia merasa Surya tidak pernah mencintainya dengan tulus. Siska berfikir mungkin itu pula yang yang membuat Surya tidak pernah mengatakan bahwa mencintainya. Awalnya Siska berfikir Surya mungkin tipe pria yang tidak perlu berkata dan hanya menujukkan lewat sikap. Tapi sikap manis yang Surya berikan kepadanya terasa sangat berbeda saat melihat bagaimana ia bersikap kepada Gina, memperhatikannya dan bahkan mengkhawatirkannya. Siska mulai menyadari bahwa perasaan Surya sangatlah berbeda kepadanya dibanding dengan semua perhatian yang ia tunjukkan untuk Gina.


"Mari kita akhiri saja ini." Kalimat Siska sambil mengusap air matanya. Ia semakin yakin harus melepas Surya saat melihatnya menahan diri untuk tidak muncul dihadapan Gina sewaktu menghadiri pesta pernikahan Hanna. Surya bersikeras untuk tetap menghindarinya daripada harus bertemu dengannya. Siska tahu Surya sedang bersusah payah menyembuhkan hatinya yang juga terluka setelah perpisahan mereka. Ia merasa Surya menjadi sangat berbeda usai berpisah dari Gina. Bukan karena ia merasa bersalah, tapi Surya seperti sangat merasa patah dengan apa yang ia lakukan kepada Gina.


"Aku tahu ini saat yang tepat. Aku ingin melepaskan beban ini. Aku sudah berusaha mempertahankanmu tapi cintaku tidak sekuat cintamu kepadanya. Aku tidak bisa meraihmu. Semakin aku mencobanya, aku semakin merasa lebih sakit. Jadi, aku akan memutuskanmu. Ini jauh lebih baik daripada kau memutuskanku. Jadi, jangan coba-coba melakukannya. Karena akulah yang paling berhak melakukan itu padamu." Siska mengusap air mata yang jatuh dipipinya.


"Maafkan aku..." Hanya itu yang bisa Surya katakan karena memang semua yang Siska katakan padanya sepenuhnya benar. Ia merasa sangat bodoh. Bahkan Siska saja bisa melihat bagaimana cara ia memandang Gina. Tidak hanya Siska, Hanna pun bisa melihat itu darinya dan menjadi tahu ia menyembunyikan perasaannya kepada Gina yang telah bertahun-tahun ia simpan sendirian. Karena rasa cinta yang telah lama ia pendam, akhirnya Surya menjadi sering tidak bisa mengontrolnya dan sangat jelas terlihat apa yang seharusnya ia sembunyikan saja ketika ia menjadi dekat dengan Gina.


Siska berjalan meninggalkan Surya yang masih duduk di meja. Cappucino dingin yang Siska pesan bahkan tidak sempat ia sentuh. Ia memutuskan untuk pergi dengan semua luka dihatinya. Luka yang selama ini ia sembunyikan dan berharap Surya bisa menyembuhkannya. Tapi semakin Siska menyembunyikannya, ia semakin merasakan perih karena pada akhirnya Surya tidak bisa ia taklukkan. Sehingga ketika ia merasa Surya akan lebih menyakiti dengan kalimat putusnya, Siska merasa harus membuat itu seolah dia yang memutuskan hubungan mereka. Harga dirinya tidak mengizinkan jika ia terus menjadi pihak yang tersakiti. Pada akhirnya ia tetap ingin menjadi pemenang dari perang melawan perasaannya sendiri dengan memutuskan Surya yang sangat ia cintai.


🌸🌸🌸


Gina duduk di meja restoran penginapan dengan sepiring sarapan di depannya. Ia tampak serius dengan makanan di depannya. Surya juga tampak sedang meminum kopinya. Sedangkan Hanna sedang meniup tehnya di dalam cangkir bening yang masih mengepulkan uap panas. Tempat duduk mereka yang berada di dekat cendela kaca membuat sinar matahari secara bebas menerobos dan mengenai mereka.


"Sekali lagi terima kasih sudah repot sekali mencari saya sampai ke sini, Nona. Maafkan saya sudah membuat Anda khawatir." Ujar Hanna.


"Tidak masalah. Aku lebih tenang jika menemukanmu baik-baik saja begini daripada hanya diam dan tidak tahu bagaimana keadaanmu yang sebenarnya." Jawab Gina sambil meletakkan sendoknya setelah sarapannya habis.


"Jadi, setelah ini kau akan pulang ke rumahmu?"


"Tidak Nona, saya akan pulang ke tempat lain."

__ADS_1


"Kemana?" Tanya Gina penasaran. Begitu pula dengan Surya yang walaupun tidak mengatakannya tapi pandangan matanya tampak bertanya-tanya.


"Ke rumah salah satu kerabat. Saya tidak akan pulang ke rumah orang tua saya. Saya tidak ingin membuat mereka khawatir dan sedih mengetahui keadaan pernikahan saya sekarang."


"Tinggallah di rumahku sementara waktu ini. Marco pasti tidak akan berani mengusikmu."


"Tidak, Nona. Saya tidak ingin merepotkan Anda lagi. Saya tidak ingin selalu membuat Anda kesulitan karena saya. Biarkan masalah ini menjadi urusan saya dan Marco."


"Baiklah kalau kau ingin begitu. Tapi kau harus berjanji padaku kalau kau dalam kesulitan, pastikan aku adalah orang yang kau beri tahu."


"Baik Nona." Jawab Hanna dengan tersenyum manis. Ia merasa sangat bahagia dikelilingi oleh teman-teman yang sangat peduli padanya. Ia tahu meskipun Surya tidak banyak bicara, tapi ia juga orang yang siap pasang badan jika seorang teman meminta bantuannya.


Saat ini Hanna dan Surya sudah menunggu di samping mobil Surya. Gina masih berada di dalam mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar. Rencana awal Hanna, ia akan pulang ke rumah kerabatnya dan setelah itu akan meminta bantuannya mengembalikan mobil Gina tapi karena Surya mengetahui hal itu akhirnya Surya meminta orang suruhannya untuk membawa mobil Gina. Dan saat ini mobil Gina sudah dalam perjalanan pulang lebih dulu dengan dikendarai oleh orang suruhan Surya.


Sebenarnya Gina bersikeras untuk mengendarai sendiri mobilnya tapi Surya melarang dan membujuk agar Gina menurutinya saja dengan menyerahkan mobil pada orang suruhannya saja.


"Tidak Nona, Anda tidak boleh berkendara terlalu lama. Itu sangat melelahkan."


"Kau meremehkanku?" Nada suara Gina mulai meninggi.


"Bukan begitu, tapi saya rasa akan cukup menyenangkan kalau kita pulang bersama." Bujuk Surya.


"Benar Nona, lebih baik kita pulang bertiga. Itu rasanya lebih seru. Lagipula Surya adalah satu-satunya pria jadi mari kita manfaatkan dia untuk menjadi driver kita." Tambah Hanna untuk membujuk Gina juga dengan panggilan nama untuk Surya karena ia merasa Surya sekarang adalah temannya, bukan lagi atasannya.


"Kita nikmati saja perjalanan kita dan mari kita siksa Surya." Ujar Hanna lagi. Dan berkat rayuan dan bujukan dari Hanna itu akhirnya Gina setuju untuk pulang dengan menggunakan mobil Surya saja.


"Apa yang terjadi dengan kalian berdua?" Tanya Hanna kepada Surya yang ada di sampingnya, sama-sama bersandar body mobil masih menunggu kedatangan Gina. Surya menoleh pada Hanna memandangnya sekilas lalu kembali memandang lurus ke depan.


"Apa?" Surya kembali bertanya berpura-pura tidak memahami pertanyaan Hanna. Tapi itu justru membuat kecurigaan Hanna semakin kuat karena gerak-gerik Surya seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kau fikir aku tidak tahu kecanggungan diantara kalian?" Kejar Hanna.


Semalam saat Gina dan Surya makan nasi goreng bersama...


"Saya sudah putus dari Siska. Saya sudah tidak bersama Siska lagi."


"Kenapa mengatakannya padaku?"


"Saya fikir jika dua orang yang sama-sama sedang tidak berada pada sebuah keterikatan hubungan dengan orang lain, mereka bisa melakukan sebuah pendekatan. Jadi, saya akan melakukan pendekatan kepada Anda."


"Jadi, karena itulah akhir-akhir ini kau selalu berada di sekitarku?" Tanya Gina menyelidik. Surya memandang ke arah lain sebentar lalu kemudian menatap Gina kembali.


"Itu adalah salah satunya, Nona. Tapi tidak semua pertemuan kita adalah hal yang saya sengaja. Ada kalanya pertemuan kita memang diciptakan oleh takdir, karena ketidaksengajaan." Surya menyunggingkan senyum.


Mendengar pengakuan Surya seperti itu seharusnya ia merasa senang, tapi entah kenapa perasaan Gina menjadi sebaliknya. Bagaimana bisa jika sekarang perasaannya menjadi gelisah. Entah karena perasaannya kepada Surya sudah tidak sekuat dulu lagi atau karena ia masih merasa sakit hati karena penolakan yang Surya lakukan padanya waktu itu, yang jelas Gina merasa itu menjadi sangat membingungkan baginya.


"Nona..." Panggil Surya kepada Gina yang diam membisu tidak menanggapi membuatnya tersadar dari fikirannya sendiri.


"Aku harus masuk." Jawab Gina sambil beranjak. Ia lalu meninggalkan Surya di tempatnya. Ia tidak tahu harus bagaimana bersikap.


"Apa itu benar?" Tanya Hanna kepada Surya yang tidak juga menjawab pertanyaan dan rasa penasarannya.


"Apa menurutmu Nona Gina akan memusuhiku seperti saat memusuhi Marco?"


"Bisa saja. Apalagi kau menolaknya tanpa belas kasih seperti itu." Hanna tersenyum melihat Surya yang menarik nafas berat mendengar jawabannya. Tergambar dengan jelas betapa ada rasa khawatir yang begitu besar dari wajah Surya jika cintanya akan ditolak oleh Gina. Itu artinya perasaannya yang ia simpan selama bertahun-tahun harus pupus karena kesalahannya sendiri.


"Tidak, aku akan membuatnya menerima cintaku." Ucap Surya seperti pada dirinya sendiri dengan pandangan menerawang jauh ke depan.


"Baguslah kalau kau punya rasa percaya diri sebesar itu. Karena untuk menarik hati Nona Gina, kau tidak hanya butuh cinta. Ku rasa kau harus berusaha dengan sangat keras karena Nona Gina bukan orang yang mudah untuk 'ditaklukkan' setelah ia merasa tersakiti."


"Benar, aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku tidak ingin menyesalinya." Tepat setelah itu Surya melihat Gina keluar dari dalam penginapan. Wanita yang sejak lama memikat hatinya itu sekarang malah membuatnya lebih gelisah daripada sebelumnya. Jika sebelum ia tahu Gina menyukainya, ia tidak pernah berharap cintanya akan terbalas karena ia tahu perbedaan yang jauh diantara mereka, tapi saat ini ketika ia tahu Gina pernah menaruh hati padanya dan ia sempat menolaknya, Surya menjadi takut kalau saja Gina akan membalas dendam dan menolak cintanya mentah-mentah lalu memusuhinya seperti ia memusuhi Marco. Karena dari tanggapan Gina semalam membuat Surya berfikir ia tetap memiliki peluang ditolak oleh Gina walau mungkin Gina belum sepenuhnya melupakannya.

__ADS_1


"Ayo kita pergi." Ajak Gina saat sudah berada dekat sambil membuka pintu belakang mobil Surya.


Hanna dan Surya melihat itu dan tidak berani berbuat apa-apa. Surya semakin yakin jika ungkapan cintanya kepada Gina sepertinya akan mengantarkan pada penyesalan seumur hidup. Hanna menepuk pundak Surya seperti memberi dukungan. Entah dukungan karena mungkin ini adalah pertanda buruk bagi usaha Surya yang sedang pendekatan kepada Gina atau dukungan agar ia tidak menyerah dan terus berjuang walau apapun yang Gina lakukan padanya. Surya menarik nafas berat lagi lalu berjalan melewati depan mobil untuk menempati tempatnya sebagai sopir.


Perjalan mereka bertiga lebih banyak diisi dengan kebisuan. Yang terdengar hanya suara musik dari perangkat audio mobil Surya. Gina yang ada di jok belakang memandang ke arah luar cendela. Ia tahu sesekali Surya melirik ke arahnya dari kaca spion depan. Tapi Gina berpura-pura tidak menanggapi itu. Ia memilih untuk berusaha terlihat sedang menikmati perjalanannya tanpa ingin membuka suara. Sedangkan Hanna, ia tidak tahu harus membicarakan apa. Hatinya masih kalut karena masalahnya dengan Marco sehingga tidak memiliki ide harus bagaimana untuk mencairkan suasana beku selama perjalanan. Fikirannya juga lebih sering sibuk memikirkan masalahnya sendiri. Sedangkan Surya, ia sedang merasakan kekhawatiran akan penentuan sikap Gina selanjutnya. Entah di terima atau ditolak, keduanya memiliki peluang. Dan yang lebih ia takutkan adalah bahwa peluang penolakan akan lebih besar daripada peluang diterima kembali. Itulah yang membuat Surya sesekali mencuri pandang pada Gina dan mencoba mencari ketenangan dengan memandang wajahnya.


Akhirnya perjalanan pun berakhir. Hanna telah tiba di rumah salah seorang kerabatnya. Ia akan tinggal di sana beberapa waktu hingga fikirannya menjadi tenang dan ingin sementara waktu menghindari Marco.


"Hanna, pastikan aku bisa menghubungimu jika aku membutuhkanmu." Ujar Gina saat Hanna berdiri di sampingnya dan baru saja turun dari mobil Surya.


"Baik Nona, saya akan memberikan nomor ponsel saya yang baru nanti."


"Hei, kau sampai mengganti nomor ponselmu?" Tanya Gina heran.


"Hanya sementara saja, Nona. Saya belum ingin berbicara apapun dengan Marco. Jadi, saya harap Anda juga harus menjaga rahasia tentang keberadaan saya saat ini."


"Baiklah..."


"Maaf, jika saya terpaksa meminta cuti untuk urusan pribadi saya ini, Nona."


"Tidak masalah. Anggap saja ini adalah pengganti cuti bulan madumu waktu itu."


"Terima kasih, Nona." Hanna tersenyum menanggapi Gina.


Setelah berpamitan kepada Hanna, Gina dan Surya pergi dari tempat itu. Surya belum berani berbicara apapun kepada Gina. Ia masih bisa merasakan aura dingin dari Gina setiap kali mereka bertemu pandang.


"Ehhem, Nona..." Panggil Surya sambil memandangnya dari kaca spion depannya sementara kedua tangannya memegang setir. Gina memandangnya dan saat menemukan mata Surya dari kaca spion, Gina lalu memalingkan wajah kembali keluar cendela.


"Ada apa?" Jawab Gina singkat masih memandang keluar kaca mobil.


"Bagaimana kalau sebaiknya Anda duduk di depan."


"Tidak, aku suka duduk di sini saja."


"Tapi ini seperti saya adalah driver taksi online, Nona." Ujar Surya sambil terkekeh.


"Biar saja." Jawab Gina masih cuek.


"Anda yakin tidak ingin pindah ke samping saya?" Goda Surya.


"Ya." Gina masih dengan sikap cueknya.


"Baiklah..." Jawab Surya sambil tersenyum melihat tingkah Gina seperti itu.


Akhirnya setelah saling diam selama perjalanan menuju rumah Gina, mereka pun sampai di depan pintu gerbang. Gina meminta untuk turun di depan saja. Ia tidak ingin ada lagi banyak pertanyaan jika Papanya tahu ia pergi bersama Surya sejak kemarin.


"Tunggu, Nona." Surya mencegah saat Gina akan membuka pintu mobil. Gina pun akhirnya mengurungkan niat. Kemudian yang selanjutnya Gina lihat adalah Surya yang turun dari mobil dan membuka pintu sebelah jok sampingnya. Ia lalu duduk di samping Gina yang memandangnya penuh keheranan. Gina tidak tahu apa yang sedang dilakukan Surya saat ini dan hanya perlu menunggu saja.


"Nona..." Surya yang sudah ada di samping Gina mulai bersuara.


"Saya serius dengan apa yang saya katakan kemarin. Saya menyukai Anda." Mendengar kalimat itu lagi membuat dada Gina menghangat.


"Tidak, saya tidak menyukai Anda. Lebih dari itu, saya telah jatuh cinta kepada Anda. Saya mencintai Anda. " Gina masih diam mendengar penuturan Surya kepadanya dengan detak jantung yang melompat-lompat.


"Bisakah kita memulai lagi hubungan kita seperti kemarin?" Pertanyaan Surya membuat Gina terkesiap.


"Kita tidak harus kembali menjadi suami istri lagi." Jelas Surya cepat sebelum Gina bisa salah mengerti akan ucapannya.


"Tapi mari kita berpacaran." Mendengar itu jantung Gina semakin melompat kesana kemari. Ia senang sekaligus bimbang. Ia pernah mengatakan tidak akan pernah kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah menjadi mantan tapi disisi lain hatinya masih menyimpan perasaan kepada Surya. Sehingga saat ini ia menjadi dilema dan kembali dihinggapi kegalauan.


"Rayu aku..." Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari bibir Gina. Surya menautkan kedua alis saat mendengar jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2