
"Surya, ku tunggu kau malam ini di rumah." Suara Pak Rangga melalui sambungan telepon.
Surya turun dari dalam mobil yang ia parkir di teras rumah Pak Rangga, mertuanya. Surya tahu maksud Pak Rangga memanggilnya seperti itu.
Mbak Yuyun membukakan pintu dan mempersilakan Surya segera menuju ruang kerja Pak Rangga. Ayah mertuanya pasti sudah ada di sana sekarang. Surya pun berjalan ke tempat yang dikatakan Mbak Yuyun.
"Masuklah." Suara Pak Rangga dari dalam saat Surya mengetuk pintu. Surya membukanya dan melihat Pak Rangga duduk di sofa depan meja kerjanya. Di depannya mengepul asap kopi yang pasti baru disajikan.
Surya duduk di sofa lain di hadapan Pak Rangga. Lalu ayah mertuanya meletakkan ponsel yang sempat ia gunakan sebelumnya ke atas meja. Pak Rangga memandang Surya lurus sebelum mengatakan sesuatu padanya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Pak Rangga santai.
"Baik, Pa." Jawab Surya hormat.
"Dimana Gina?" Tanya Pak Rangga yang melihat Surya hanya sendirian memasuki ruang kerjanya.
"Nona Gina masih berada di R-Company."
"Aku juga memanggilnya untuk datang."
"Oh, saya fikir hanya saya yang akan datang kemari." Jawab Surya.
"Sebentar lagi Nona Gina akan selesai jadi saya akan memberitahukan kepada sopir untuk langsung mengantarnya kemari."
"Baiklah..." Ucap Pak Rangga sambil meminum kopinya.
"Aku tahu R-Company juga sedang sangat baik. Pembukaan R-Company yang baru kapan akan dilaksanakan?"
"Mungkin akan dalam waktu dekat ini, Pa. Semua sudah hampir siap. Hanya harus mengirim beberapa produk ke sana. Karena itu produk besar sehingga pengiriman ke luar pulau kami persiapkan dengan lebih hati-hati."
"Bagus." Tanggapan Pak Rangga puas.
"Aku tahu kau sangat bisa diandalkan dalam segala hal." Lanjutnya.
"Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan padamu dan kau pasti sudah tahu bahkan sebelum kau sampai di sini." Surya mengangguk memberikan isyarat membenarkan apa yang ayah mertuanya katakan.
"Hampir semua orang tahu hubunganmu dengan Siska sekarang." Kalimat Pak Rangga ini pun sudah ditebak Surya pasti akan dikatakannya.
"Aku juga tahu, Gina sudah tahu hubunganmu dengan Siska. Tapi hubungan pernikahan kalian bukanlah main-main."
"Benar, Pa." Ucap Surya.
"Maafkan saya karena telah menimbulkan kekacauan ini. Saya akan bertanggung jawab penuh dan mengatasinya segera."
"Kau tahu, ini tidak cukup hanya dengan mengatasinya saja. Pernikahan kalian akan menjadi yang paling jadi pusat perhatian." Surya diam menatap Pak Rangga. Mencoba menyelami kira-kira apa yang sedang ayah mertuanya itu fikirkan.
Gina keluar dari dalam lift dan menuju basement tempat Surya biasa menunggunya di dalam mobil. Tapi saat berjalan di area parkir itu, Gina melihat sopir Surya di samping mobil. Ia merasa ada yang aneh dengan itu tapi tetap berjalan mendekatinya.
"Silakan, Nona. Pak Surya ingin saya mengantar Anda ke rumah Pak Rangga." Sopir Surya mempersilakan. Gina menurut saat sopir itu membukakan pintu dan masuk ke dalamnya.
Gina duduk dengan tenang sambil berfikir ada apa sebenarnya. Ia tahu papanya pasti juga memanggil dirinya karena sesuatu yang berhubungan dengan foto Surya bersama Siska yang tersebar luas di R-Company. Tapi kenapa mereka tidak pergi bersama saja? Itu membuat Gina berfikir mungkin ada hal yang Papanya dan Surya rahasiakan darinya.
Mbak Yuyun memasuki ruangan Pak Rangga sambil membawa secangkir kopi yang kemudian disuguhkan kepada Surya. Dan setelah Mbak Yuyun keluar, Pak Rangga mulai berbicara lagi.
"Jadi apa kau akan tetap pada keputusanmu itu?" Tanya Pak Rangga kepada Surya di depannya.
__ADS_1
"Iya, Pa."
"Sebenarnya aku penasaran pada sesuatu." Pak Rangga mengubah letak duduknya. Surya masih menyimak setiap apa yang Pak Rangga ucapkan.
"Apa diantara kau dan Gina tidak terjadi sesuatu?" Pertanyaan Pak Rangga membuat Surya mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak memahami maksudnya.
"Maaf, Pa?"
"Kalian selalu bersama. Bahkan kalian tidur di kamar yang sama." Jelas Pak Rangga. Tapi Surya hanya memandangnya dan tidak bisa berkata apapun walau hanya meminta penjelasan lebih mendetail.
"Kau sudah cukup umur untuk memahami maksudku, Surya." Kali ini Pak Rangga tertawa kecil melihat Surya yang tampak kebingungan tidak tahu harus menjawab apa."
"Baiklah. Anggap saja aku yang keterlaluan menanyakan ini padamu. Seharusnya aku tidak terlalu ikut campur dengan urusan kalian." Akhirnya Pak Rangga memutuskan untuk tidak mengejar jawaban dari Surya yang tampak sangat menutup diri begitu.
"Tapi, apakah kau tidak pernah merasakan sesuatu sedikitpun kepada Gina?" Pak Rangga masih penasaran pada hal lain.
"Walaupun tingkahnya sering keterlaluan dan sangat merepotkan tapi bukankah wajahnya sangat cantik?" Surya tersenyum menanggapi Pak Rangga yang ternyata belum menyerah dengan rasa penasarannya.
"Aku datang..." Seseorang tiba-tiba membuka pintu sebelum Pak Rangga mendapat tanggapan dari Surya. Gina sudah memasuki pintu sambil membawa secangkir coklat panas untuk dirinya sendiri.
"Kalian sungguh mencurigakan bertemu tanpa aku begini." Ujar Gina seenaknya sambil duduk di samping Surya.
"Maafkan saya yang tidak tahu Anda juga mendapat panggilan dari Papa." Sahut Surya sebelum Gina berbicara panjang lebar lagi.
"Oh, ternyata kau yang merencakan ini?" Gina memelototi Surya.
"Jadi, apa yang sudah ku lewatkan dari pembicaraan kalian?" Gina mengangkat cangkirnya lalu menyeruputnya sedikit karena coklatnya masih panas. Setelah itu Gina duduk bersandar bantalan sofa di belakangnya.
"Apa yang ingin kau dengar?" Jawab Pak Rangga santai.
"Ya, tentu saja."
"Jadi, apa yang ingin Papa bicarakan denganku?"
"Apa kau yang menyebarkan foto Surya?" Tanya Pak Rangga dengan pandangan lurus.
Gina yang sedang meminum coklatnya lagi seketika tersedak mendengar tuduhan papanya. Surya yang ada di sampingnya ikut panik dan mengelus-elus punggung Gina berusaha menenangkannya. Pak Rangga melihat mereka dan tersenyum.
"Papa... bagaimana bisa aku yang melakukan itu? Itu adalah tuduhan yang sangat kejam." Gina langsung menyemprot papanya dengan kalimat tidak terima telah dituduh seperti itu.
"Aku tidak seburuk itu." Tambah Gina.
"Siapa tahu kau punya rencana dibalik semua ini. Bukankah selama ini kau selalu mencari cara untuk bisa terlepas dari pernikahanmu?"
"Memang benar aku selalu ingin melakukannya tapi aku tidak sejahat ini dengan melibatkan Siska." Gina melirik Surya setelah ia menyebut nama kekasihnya.
"Aku menjadikan ini sebagai urusan kita bertiga, jadi aku tidak mau melibatkan orang lain lagi." Jelas Gina jujur karena memang ia tidak ingin Siska terlibat dalam rencananya yang bisa memicu reaksi publik. Ia hanya berencana untuk merebut Surya darinya secara diam-diam bukan menjadikannya objek untuk memunculkan sebuah skandal.
Gina keluar dari dalam ruangan papanya dengan diikuti oleh Surya. Ia berjalan lambat setelah Surya menutup pintu.
"Nona, sebaiknya kita kembali ke rumah ini lagi." Ujar Surya dibelakang Gina.
"Kenapa? Apa Siska marah padamu karena aku tinggal di rumahmu?" Selidik Gina setelah berbalik badan.
"Bukan, Nona. Tapi, Anda lebih baik tinggal di sini mulai hari ini. Rumah ini lebih nyaman untuk Anda."
__ADS_1
"Kau tahu apa tentang kenyamananku." Ujar Gina sinis.
"Tapi, baiklah, aku akan kembali ke sini." Ujar Gina akhirnya.
"Aku harus mandi dan makan malam. Oh iya, seharusnya Mbak Yuyun memiliki menu spesial untuk malam ini demi menyambut kita kembali." Wajahnya ceria mengingat menu makan malam yang akan ia makan nanti.
Surya tersenyum melihatnya. Bagaimana bisa ada wanita yang suka sekali makan dan ketika ia merasa terlalu banyak kalori yang masuk ke tubuhnya, ia hanya akan lebih keras berolah raga. Surya membiarkan Gina naik ke lantai dua tempat kamarnya berada. Sedangkan ia sendiri berjalan menuju ke taman di samping rumah besar ini sambil menunggu ritual mandi ala Gina yang bak putri raja sehingga akan memakan waktu yang lama sekali.
"Kau tahu, ini tidak cukup hanya dengan mengatasinya saja. Pernikahan kalian akan menjadi yang paling jadi pusat perhatian." Surya teringat kalimat Pak Rangga beberapa saat lalu.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia menengadahkan wajahnya menatap langit malam tak berbintang. Sepertinya malam ini sedang diliputi mendung. Terasa juga angin yang berhembus dingin membelai wajahnya. Ia semakin yakin, mungkin hujan sudah berjanji akan turun malam ini.
"Saya tahu, Pa."
"Lalu bagaimana kau akan bersikap? Saat ini meskipun Siska adalah pacarmu yang sebenarnya, tapi semua orang tahu bahwa kau dan Gina adalah sepasang suami istri yang sah. Kau tidak bermaksud untuk membiarkan ini berlalu begitu saja dan berharap skandal ini akan berakhir begitu saja, bukan?" Pak Rangga berwajah serius saat mengatakannya.
"Kau dan Gina adalah orang paling penting di R-Company. Jadi kau tidak bisa membiarkan ini dan mendiamkan sampai menghilang dengan sendirinya. Kau harus mengambil sikap." Pak Rangga menjadi seperti orang lain sekarang. Bersikap dingin dan asing.
"Kau harus membuat pilihan." Lanjutnya lebih tegas dan membuat Surya tegang untuk pertama kalinya saat berhadapan dengan bos yang sudah bertahun-tahun menganganggapnya seperti anaknya sendiri.
"Iya Pa. Saya akan menyelesaikan ini." Surya menyanggupi sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya telah melakukan keteledoran.
Sebenarnya Pak Rangga tidak sampai hati harus melakukan itu kepada Surya. Ia yang masih duduk di balik meja kerjanya sekarang menyesalkan ketidakjujurannya waktu itu. Sangat dengan tegas Pak Rangga menanyakan kepada Surya apa dia memiliki pacar dan ia menjawab bahwa ia tidak sedang menjalin hubungan cinta dengan siapapun. Seandainya Surya mengatakan bahwa saat itu ia sedang berpacaran dengan Siska, mungkin Pak Rangga tidak mengusiknya dan tidak membuatnya menikahi Gina sebagai syarat ia mendapatkan R-Company. Pak Rangga sedikit menyesalkan itu. Tapi alasan Surya sebagai bentuk balas budi terhadapnya sejauh ini masih bisa ia terima dan berharap kali ini Surya berkata jujur. Meskipun Pak Rangga cukup mengenal Surya dengan baik, tapi bagaimanapun juga Surya tetaplah manusia biasa dan kemungkinan dia menjadi orang lain yang tidak ia fikirkan sebelumnya selalu ada.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Pak Rangga. Ia meraihnya di atas meja lalu membaca isinya. Sebuah pesan dari Bu Marina yang sedang pergi ke pulau dewata bersama teman-teman sekolahnya dulu. Acara itu dirasa tepat olehnya karena sejak tahu bagaimana Gina mulai memiliki rasa kepada Surya, ia seperti setiap saat menjadi gelisah dan khawatir. Sehingga ajakan teman-temannya untuk pergi berlibur bisa menjadi pengalihannya sejenak dari stresnya.
Pak Rangga melihat foto yang dikirim oleh Bu Marina yang sedang berenang di sebuah kolam renang hotel bintang lima di sana. Pak Rangga tersenyum melihat sikap istrinya yang kadang masih kekanak-kanakan seperti itu.
"Apa dia ini tidak ingat usia?" Gumam Pak Rangga melihat foto diponselnya.
"Tapi ku rasa mereka memang sama sehingga masih berteman sampai sekarang. Masih sama-sama terjebak di usia jaman sekolah mereka." Kali ini Pak Rangga tertawa kecil menatap foto Bu Marina bersama beberapa teman wanita yang masih selalu berhubungan sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMA itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara tiba-tiba Gina di belakang bangku tempat Surya duduk masih memandang langit malam.
"Malam ini tidak ada bintang." Ujar Gina yang mengikuti arah pandangan Surya sejak tadi saat dilihatnya dari teras samping rumah. Lalu Gina duduk di samping Surya yang tersenyum melihatnya datang.
"Kau masih memikirkannya?" Tanya Gina kemudian seolah ia tahu sesuatu. Sesuatu yang sedang ia fikirkan saat ini.
"Aku tahu kau pasti berbicara banyak dengan Papa sebelum aku datang." Kalimat Gina kali ini menjawab pertanyaan Surya tentang maksudnya yang belum ia tanyakan.
"Pasti Papa memanggilmu untuk foto itu, bukan?" Gina menoleh kepada Surya lagi dan membuatnya ingin membalas tatapan itu kali ini. Surya pun mengangguk melihat mata Gina yang tenang dan seperti seorang teman yang sedang ingin berbicara dengannya.
"Kau menjadi galau karenanya?" Tanya Gina kali ini.
"Sedikit, Nona." Jawab Surya sambil terkekeh. Melihat itu, Gina jadi tersenyum. Surya bisa bercanda juga disaat seperti ini. Di saat matanya seperti menyiratkan keadaan hati dan fikirannya yang tidak baik-baik saja.
"Padahal aku berharap kau banyak merasa galau karena itu." Gina menatap Surya yang mengerutkan kening. Surya berfikir ternyata sifat dasar Gina tetaplah sama selama ini. Ia hanya mengalami sedikit perubahan saja tanpa meninggalkan sifat aslinya yang semaunya sendiri dan kejam saat berkata-kata seperti itu.
"Terima kasih sudah berharap untuk itu, Nona." Surya masih selalu menanggapinya dengan candaan dan senyum yang tidak lepas dari bibirnya meskipun hatinya merasa kecut mendapat tanggapan itu dari Gina.
"Aku berharap kau menjadi sangat galau karena aku adalah salah satu objek galaumu sehingga aku akan merasa sedikit tenang." Kalimat Gina lagi-lagi membuat Surya bingung.
"Aku ingin kau menjadi galau karena dengan ini kau akan dihadapkan pada dua pilihan sulit. Kau harus bertahan demi Siska atau kau berpaling padaku." Surya menatap Gina dengan pandangan tak percaya.
"Aku menyukaimu." Ucap Gina akhirnya membuat Surya memandangnya terkejut.
__ADS_1
"Kau tidak perlu kaget apalagi terbebani dengan perasaanku karena aku akan memberimu waktu untuk merasakan perasaanku padamu." Gina mengatakannya dengan cukup tegas tanpa keraguan sama sekali seolah ia sedang mengucapkan sebuah narasi yang ia simpan di dalam hatinya selama ini. Surya merasa mungkin ini tidak nyata dan hanya lamunannya saja. Mata mereka bertemu, tapi bibir mereka sama-sama tidak ingin membuka suara lagi. Hanya hati dan hati yang berbicara.