Tahta Surya

Tahta Surya
Persiapan


__ADS_3

"Tuduhan macam apa ini? Mama bisa marah mendengarnya." Wajah Bu Marina berubah suram.


"Bagaimana mungkin Papa membuat acara perayaan untuk Surya. Aku jadi ragu, apakah aku anak kandung Papa atau bukan."


"Tentu saja kau anak Papamu." Jawab Bu Marina lalu duduk di sisi tempat tidur dekat meja rias dimana Gina masih menghadap cermin.


"Terlepas apa kau tertukar saat dulu di rumah sakit, setahu Mama kau adalah anak Mama dan Papa."


"Ahh, Mama sama saja seperti Papa." Mamanya tersenyum lebar karena puas menggoda putrinya.


"Ayo kita turun, semua orang menunggumu di meja makan." Ajak mamanya. Gina masih belum beranjak. Mamanya menarik tangannya agar ia bangun. Dan dengan sangat berat hati Gina berdiri dan berjalan mengikuti langkah mamanya.


Kalau saja ini bukan karena R-Company pasti aku tidak akan mau melakukannya. Baiklah, aku harus sedikit berkorban agar Papa tidak semakin mencintai pesuruhnya itu. Tapi apa ini namanya sedikit? Aku bahkan rela menikahi pria cupu itu dan mengorbankan hidup bahagiaku? Ya Tuhan, apa yang sedang ku lakukan ini? Ahh, aku benci Papa. Gina menuruni tangga dan memandang Papanya dengan wajah benci.


"Oh ini calon istrimu, Sur?" Sampai di tepi meja makan Gina menyadari ada dua orang asing juga di sana.


"Iya Bu, dia putriku." Jawab Pak Rangga ramah.


"Ayune, Sur." (Cantiknya, Sur) Puji wanita paruh baya itu menggunakan bahasa jawa yang medok. Sekilas melirik, Gina melihat Surya tampak tersenyum memandangnya. Tapi Gina buru-buru memalingkan wajah.


"Gina, Ini ibu dan bapak Surya." Gina menyapa mereka dengan senyum dibuat manis.


"Papa mengundang mereka malam ini untuk berkenalan lebih dekat. Begitu kan, Besan?" Pak Rangga meminta persetujuan kedua besannya dan dijawab anggukan mengiyakan.


"Kami meminta maaf karena terlalu lancang meminta Surya menjadi menantu kami tanpa meminta restu Ibu dan Bapak terlebih dulu. Itu karena kami ingin acara pernikahan Surya dan Gina dilakukan secepatnya. Jadi acara lamaran dan resepsi pernikahan mari kita jadikan satu saja."


"Iya Pak, kami ikut saja. Sebagai orang tua, kami akan mengikuti apa maunya anak-anak." Jawab pria di samping Ibu Surya yang Gina tebak pasti itu Bapak Surya.


"Asal anak-anak bahagia, kami ikut bahagia."


"Baiklah, berarti kedua keluarga sudah sepakat, mari kita laksanakan pernikahan ini satu minggu lagi. Jadi Ibu dan Bapak akan tinggal di sini sampai acara pernikahan."


"Maaf, Pak. Itu mungkin akan merepotkan Anda. Jadi, Bapak dan Ibu akan tinggal di tempat saya." Surya menolak halus permintaan Pak Rangga.

__ADS_1


"Bukankah dikontrakanmu tidak ada kamar lagi?"


"Hari ini saya sudah berpindah ke tempat baru jadi Bapak dan Ibu akan tinggal bersama saya."


"Benarkah? Kau tinggal dimana sekarang?"


"Masih disekitar tempat lama tapi hanya saja saya menempati yang sedikit lebih besar agar Bapak dan Ibu bisa tinggal."


"Syukurlah. Kau memang anak yang berbakti. Berpindah tempat tinggal karena agar Bapak dan Ibumu bisa bersamamu. Bapak dan Ibu sangat beruntung memiliki anak seperti Surya. Saya sangat iri." Puji Pak Rangga.


Tentu saja dia harus tinggal ditempat yang jauh lebih baik. Mana mungkin seorang presdir R-Company tinggal di kontrakan di gang sempit. Batin Gina yang duduk disamping mamanya.


"Bapak bisa saja. Bapak bahkan punya putri yang sangat cantik. Dan kami beruntung bisa memiliki menantu secantik putri Bapak." Pak Rangga hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu Surya.


Dan acara makan malam yang berisi basa basi itu sangat membosankan bagi Gina. Papanya sengaja membuat acara makan malam itu sekaligus sebagai acara perkenalan dua keluarga. Gina berfikir pantas saja Surya secupu itu, orang tuanya berasal dari kampung. Dengan gaya berpakaian yang kampungan dan logat kampung yang sangat medok.


Ya Tuhan, apakah ini takdirku? Apa tidak bisa aku memilih yang terbaik untuk hidupku? Pria tampan dan keren sebagai suami serta R-Company berdiri atas namaku. Keluh Gina.


"Besok saya akan menjemput Nona pukul 10." Suara Surya tiba-tiba. Gina yang berdiri di teras rumahnya jadi kaget. Cangkir teh yang ia pegang hampir saja jatuh. Tapi sigap sekali Surya menangkapnya walaupun isinya sempat menumpahi tangannya.


"Kau ini jelangkung ya? Datang tiba-tiba seperti itu. Mengagetkanku saja."


"Maaf, Nona." Surya menundukkan wajah meminta maaf.


"Kenapa pagi sekali. Besok adalah akhir pekan. Jangan mengganggu hari liburku."


"Baiklah, pukul 1 saya akan menjemput Nona."


"Terserah kau saja." Jawab Gina cuek sambil mengelap tangannya.


"Saya sudah mengirim foto-foto gaun yang bisa Anda pakai nanti. Itu semua adalah koleksi terbaru dari bridal butik yang akan kita kunjungi besok."


"Ya, aku sudah melihatnya."

__ADS_1


"Gaun mana yang Anda pilih?"


"Entahlah..." Gina masih acuh.


"Lagipula aku tidak peduli memakai gaun yang mana. Tidak penting sama sekali bagiku. Sudah ku katakan, jangan berharap pernikahan kita akan sama dengan pernikahan orang lain. Karena satu-satunya yang aku inginkan sekarang adalah R-Company. Jadi, jangan terbawa perasaan dan merasa bahagia dengan pernikahan ini. Ingat, kita menikah bukan karena saling mencintai. Jadi, jangan berlebihan."


"Baik, saya tahu, Nona." Surya sopan. Gina tidak peduli kalau kata-katanya bisa saja menyakiti Surya. Tapi ia memang tidak memiliki perasaan romantis sekarang. Pernikahan yang ia impikan bukan bersama Surya tapi bersama orang lain. Faris.


"Untuk undangan, akan saya pilih untuk kita. Pelaminan, dekorasi gedung dan konsep, Anda suka konsep apa?"


"Pilihlah sesukamu. Aku juga tidak tertarik."


"Saya juga meminta daftar nama teman-teman Anda untuk keperluan undangan. Dan juga, akan saya suruh seseorang menghubungi teman-teman dekat Anda untuk menjadi bridesmaid nanti. Biar mereka juga melakukan pengukuran gaun yang akan dipakai di malam resepsi."


"Kau tahu, aku tidak punya banyak teman. Apalagi teman wanita. Mereka semua tidak mau menjadi temanku karena aku hanya akan menghalangi mereka mencari pacar." Ujar Gina dengan masih bersikap cuek.


"Nona Sunday, Nona Lita, atau siapapun?"


"Tidak, aku tidak mau Sunday. Dia sudah merebut orang yang ku sukai. Lita? Dia baru saja putus dari pacarnya, mengetahui aku akan menikah bisa jadi membuatnya semakin sedih karena dia tertinggal dari kami. Jadi, cukup undang saja dia."


"Aku dengar keberadaan braidesmaid sedang trend saat ini jadi saya pikir Anda juga tertarik mengajak beberapa teman wanita untuk terlibat."


"Tidak, aku punya lebih banyak teman pria daripada teman wanita. Kalau kau mau, kau bisa mengundang semua mantan pacarku untuk ku jadikan braidesmaid. Nanti akan ku berikan daftarnya. Tapi itu mungkin sangat banyak." Gina berjalan beberapa langkah menjaga jarak lagi dari Surya.


"Lagi pula kau juga pasti sudah tahu itu. Kau orang yang sangat Papa percaya memata-mataiku. Jadi daftar nama pacarku pun kau pasti sudah tahu." Gina melanjutkan kata-katanya yang masih saja terkesan cuek.


"Baiklah, kita tidak akan mengajak braidesmaid." Ujar Surya kemudian karena ia melihat Gina semakin tidak nyaman dengan pembicaraan mereka.


"Ya, terserah apa maumu. Kau buat bagaimana acaranya, aku juga tidak mau tahu. Kehadiranku di sana nanti hanya sebagai mempelai wanita yang melengkapi sebuah acara pernikahan. Tidak lebih."


Lalu Gina berlalu meninggalkan Surya yang hanya memandang bagian belakangnya.


Gina yang dia hadapi pastilah lebih sulit dari tender terbesar sekalipun. Surya sangat tahu itu. Gadis cantik, kaya, dan memiliki pergaulan bebas seperti Gina tentu saja akan sulit menerima keadaan ini. Tiba-tiba dijodohkan dengannya yang pendiam dan tidak pandai bergaul pastilah sulit Gina terima.

__ADS_1


__ADS_2