Tahta Surya

Tahta Surya
Restu


__ADS_3

Malam terasa semakin dingin sekarang. Hujan sejak tadi sore belum juga ingin berhenti. Gina yang sedang mengendarai mobilnya menerobos hujan tampak menajamkan pandangannya melihat jalanan di depan. Di jam-jam seperti ini jalanan memang ramai para pengemudi pulang dari tempat kerja masing-masing. Dan Gina harus sangat berhati-hati mengemudikan mobilnya jika tidak ingin terlibat kecelakaan lalu lintas dengan pengemudi lain.


Saat melintasi sentra kuliner di sisi kiri jalan, Gina jadi teringat kue rangin yang pernah ia beli dengan Surya. Tapi di jam segini penjualnya tidak berjualan karena sepertinya itu hanya dijual dipagi hari. Gina lalu melanjutkan perjalanannya dan melewati tukang jagung bakar yang sekarang terlihat berteduh di sebuah teras toko yang telah tutup di kawasan itu. Disana juga Gina pernah makan jagung bakar bersama Surya.


Kalau diingat-ingat, setiap bersama Surya, mereka memang selalu saja pergi untuk akhirnya makan. Entah makan makanan ringan atau makan makanan berat. Yang jelas, sepertinya Surya adalah pecinta wisata kulinet sejati. Hampir banyak tempat makanan ia tahu letaknya. Ia pun selalu merekomendasikan dengan review yang telah ia sampaikan sebelumnya. Sehingga itu semakin membuat Gina penasaran dan akan mengakui bahwa penilaian Surya tentang makanan-makanan yang ia rekomendasikan itu benar-benar enak.


Gina menghembuskan nafas kasar saat mengingat Surya. Hampir satu minggu ia berada di luar kota dan mereka tidak memiliki komunikasi apapun. Gina jadi berfikir, apakah ini yang disebut dengan workaholic. Ia ingat dulu Surya juga sempat meninggalkannya ke luar kota saat mereka masih terikat pernikahan, dan sama seperti saat ini. Surya juga tidak menghubunginya dan bahkan tidak menjawab teleponnya. Ia seperti tiba-tiba sangat sibuk hingga melupakan Gina.


Gina bisa memaklumi jika dulu Surya mengabaikannya karena mereka tidak benar-benar terikat pada sebuah hubungan pernikahan. Tapi sekarang, mereka benar-benar berpacaran. Masa iya, Surya bisa memperlakukan Gina seolah tidak ada dalam hidupnya. Sebenarnya Gina terlalu gengsi untuk menghubungi Surya lebih dulu. Itu bisa saja membuat Surya berfikir bahwa Gina sangat membutuhkannya. Padahal yang terjadi seharusnya adalah Surya yang menghubungi Gina secara terus menerus mengingat bagaimana Surya sangat menyukainya. Surya mengatakan bahwa telah menaruh hati pada Gina sejak lama jadi, seharusnya Suryalah yang selalu mengejar-ngejarnya, bukan berlaku sebaliknya. Jadi, Gina berusaha bertahan sejak menghubungi Surya kemarin saat mengajaknya pergi pada acara pertemuan pengusaha dan mencoba menekan perasaan rindunya agar tidak ingin mencoba menghubungi Surya lagi.


"Pak, ini contoh teralis cendela yang Anda minta." Seorang pria sudah ada di depan Surya menyodorkan sebuah katalog. Surya menerimanya.


Surya berada di sebuah rumah makan sejak tadi menunggu seorang penanggung jawab yang ia percaya untuk mengerjakan pembangunan warung angkringan miliknya di luar kota.


"Maaf Pak, apa untuk kali ini kita juga memakai semua peralatan makan dan memasak dari R-Company?"


"Ya." Jawab Surya singkat masih melihat-lihat katalog di tangannya.


"Baik. Ini katalog yang saya dapatkan edisi terbaru, Pak."


"Terima kasih." Surya melihat katalog yang pria itu letakkan di atas meja dan tersenyum kepadanya.


"Anda memang pelanggan sejati R-Company. Kalau saja ada tingkatan member sebagai pembeli R-Company, Anda pastilah sudah menjadi member VVIP." Surya hanya tersenyum mendengar kalimat Pegawainya itu.


"Sulit bagi saya jika harus memakai produk selain dari R-Company. Saya takut kualitas tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan."


"Benar, Anda sudah sangat mengenal reputasi R-Company sehingga tingkat kepercayaan Anda sudah tidak bisa diganggu gugat lagi." Surya hanya menanggapi dengan senyuman.


Membicarakan R-Company, Surya teringat Gina lagi. Entah hari ini sudah kali ke berapa ia merindukan wanita itu. Satu minggu tidak menemuinya ia merasa hatinya sakit karena terlalu lama menahan rindu. Tapi, untuk menemuinya pun ia belum bisa. Urusannya belum usai disini. Jika harus meneleponnya, ia takut menjadi lemah saat mendengar suaranya seperti kemarin. Ia tahu dari nada suara Gina yang kecewa karena Surya tidak bisa hadir pada pertemuan pengusaha. Mengetahui hal itu, Surya ingin sekali melompat ke tempat Gina dan menemaninya datang. Tapi tentu saja itu hanya angannya saja karena selain urusannya belum usai, Surya juga merasa perlu menjaga jarak dengan Gina saat ini.


🌸🌸🌸


Gina melempar tubuhnya diatas tempat tidur sembarangan. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Beberapa saat tidak ada pergerakan apapun darinya. Ia hanya ingin meletakkan tubuhnya dan menenangkan hatinya.


"Surya, apa begini caramu memperlakukanku setelah berhasil mendapatkan hatiku?" Gumam Gina lirih.


Ditengah fikiran Gina yang sedang kalut, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Gina mengalihkan pandangan ke arah pintu. Tepat saat itu, kembali terdengar ketukan dari balik pintu. Dengan malas Gina pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan menuju pintu kamar. Setelah terbuka, Gina menemukan Pak Rangga berdiri di depannya.


"Papa? Ada apa?"


"Kamarmu sudah lama tidak mengalami renovasi, apa kau tidak ingin merubahnya?" Ujar Pak Rangga sambil melangkah masuk ke dalam dan mengedarkan pandangan sekeliling ruangan kamar Gina.


"Tidak, aku masih belum memiliki inspirasi apapun untuk merenovasinya." Jawab Gina malas sambil duduk di sofa kamarnya.

__ADS_1


"Tumben. Padahal biasanya kau tidak bisa sebentar saja memiliki interior kamar yang sama." Ujar Pak Rangga sarkas.


"Aku bukan lagi Gina yang biasa. Putri Papa ini sekarang adalah presdir dari R-Company. Ketika ia pulang hanya butuh membaringkan badan lalu tidur. Tidak ada waktu lagi untukku menikmati interior kamar yang selalu ku buat seindah mungkin seperti dulu. Aku hanya butuh kamar yang nyaman dengan kasur yang bisa membuat tidurku nyenyak. Dan ku rasa kasur keluaran edisi terbatas R-Company 2 tahun yang lalu ini cocok sekali denganku.


"Bagaimana tidak cocok, dibuat dari bahan-bahan kualitas terbaik dan juga memakan biaya produksi yang tidak sedikit."


"Tapi harganya juga cukup fantastis untuk selembar kasur ukuran queen ini." Jawab Gina sambil meraba permukaan kasurnya.


"Walaupun begitu, banyak sekali yang menginginkannya bahkan ada yang ingin R-Company me-restock kasur itu. Kau, kalau bukan putri dari pemiliknya langsung, memiliki kasur ini pastilah bisa menghabiskan uang tabunganmu selama bertahun-tahun." Mendengar itu, Gina memanyunkan bibirnya sebagai penyangkalan. Pak Rangga memandangnya sambil tersenyum. Terlihat beberapa garis yang tampak diwajahnya menandakan pria itu sudah berusia senja.


"Ngomong-ngomong, apa semalam ini Papa kemari memang hanya ingin menanyakan itu? Ku rasa pasti ada hal lain yang ingin Papa bicarakan." Terka Gina.


"Aku kesepian. Seharian ini Mamamu pergi bersama teman-temannya sehingga saat ku ajak mengobrol dia malah ketiduran." Pak Rangga menggelengkan kepala tidak habis fikir dengan tingkah istrinya itu.


"Kau juga sibuk dengan urusanmu sendiri. Aku terjebak di rumah sebesar ini sebagai pengangguran. Benar-benar sangat menyiksa." Mendengar itu, Gina tertawa kecil. Ekspresi Papanya benar-benar diluar dari karakter biasanya. Pak Rangga terlihat lucu saat menyampaikan curahan hatinya seperti itu. Hal yang sangat jarang sekali terjadi padanya.


"Kenapa Papa tidak pergi juga dengan teman-teman Papa?"


"Teman yang mana? Mereka semua pun sibuk. Sasono pergi ke luar negeri mengunjungi anak dan cucunya. Rudi juga kedatangan Faris yang menginap disana bersama Sunday dan putrinya. Mereka memiliki quality time bersama keluarga masing-masing. Sedangkan aku masih saja terjebak dengan keluargaku yang sering menghilang-hilang." Lagi-lagi Gina tertawa mendengar penuturan Papanya.


"Teman Papa yang lain? Para mantan member perkumpulan pengusaha juga banyak yang Papa kenal. Kenapa tidak bermain dengan mereka. Bermain golf, pergi ke arena pancing atau berkuda di peternakan dan mengundang teman-teman Papa yang dulu sering pergi bersama."


"Mereka hanyalah teman-teman yang pergi hanya untuk urusan bisnis, sehingga aku tidak begitu dekat. Bahkan ada beberapa dari mereka sudah tidak pernah sama sekali berhubungan denganku."


"Oh, Papa kasihan sekali." Gina berdiri dari duduknya lalu memeluk Papanya yang memiliki tinggi badan sedikit saja lebih tinggi darinya.


"Mana mungkin kau bisa menemaniku. Pekerjaanmu banyak sekali. Tidak mungkin kau ada waktu untukku. Apalagi sekarang kau punya pacar, semua waktu luangmu pasti adalah untuknya." Gumam Pak Rangga sambil duduk di sofa.


"Besok, kau pasti akan pergi dengannya. Betul, bukan? Jadi, jangan memberiku harapan palsu." Tebak Pak Rangga.


"Papa sok tahu. Siapa yang akan pergi dengannya? Besok aku tidak memiliki acara dengan siapapun." Ujar Gina dengan wajah sedikit muram.


"Benarkah? Bukankah itu saatnya kalian menghabiskan waktu bersama?"


"Ya... tidak harus begitu." Jawab Gina dengan sedikit ketidaknyamanan saat mengatakannya.


"Kenapa? Kalian sedang bertengkar?" Tebak Pak Rangga langsung tanpa basa-basi.


"Tidak... bukankah aku sudah mengatakan pada Papa kalau Surya sedang di luar kota untuk pembukaan warung angkringan baru." Pak Rangga jadi ingat apa yang Gina katakan tadi pagi.


"Anak itu benar-benar gigih sekali. Sehingga aku tidak heran dengan kesuksesanya yang sekarang ia raih. Semangat berusahanya sangat tinggi dan juga inovasi yang ia punya cukup baik. Jika aku seorang wanita, mungkin aku akan bersaing denganmu untuk mendapatkannya juga." Pak Rangga lalu tergelak setelah mengatakan hal itu. Gina tersenyum kecut menanggapinya.


"Kau tahu, aku senang pada akhirnya kalian berpacaran." Lagi-lagi kalimat Pak Rangga sangat jujur dengan kalimat yang ia katakan kepada Gina. Itu membuat Gina menatap Papanya seketika karena kalimat itu sama saja dengan pernyataan bahwa ia telah mendapat restu dari Papanya secara langsung.

__ADS_1


"Sejak lama aku memang menyukai Surya. Aku mengenalnya dengan baik dan semakin lama aku jadi berharap banyak padanya. Sehingga, waktu itu aku berfikir mungkin saja jika aku menjodohkanmu dengannya, maka aku bisa mendapatkan Surya secara utuh. Pria yang baik untukmu dan juga menantu idealku." Pak Rangga tersenyum menatap Gina yang belum ingin berkata apapun padanya.


"Tapi, pada akhirnya kalian bercerai dan sejujurnya itu benar-benar mematahkan hatiku, bukan hanya hatimu." Kali ini Gina menatap mata Papanya lekat-lekat. Ada sepasang mata berkaca-kaca didepannya.


"Maafkan aku, Gina. Aku terlalu egois karena ingin sesuatu yang sempurna untuk diriku sendiri waktu itu." Gina tidak tahu harus berkata apa sehingga ia hanya diam menatap Pak Rangga.


"Dan, saat ku dengar sendiri darimu bahwa kalian berpacaran, aku merasa kembali memiliki harapan untuk mewujudkan impianku lagi."


"Impian?" Akhirnya Gina bersuara.


"Ya, impianku untuk membuatmu bahagia."


"Kenapa Papa yakin sekali Suryalah yang bisa membuatku bahagia?"


"Kau tahu, Surya memang pandai dalam segala hal yang berhubungan dengan bisnis, tapi dia tidak pandai dalam menyembunyikan perasaannya." Jawab Pak Rangga.


"Sejak lama aku tahu sebenarnya dia  menaruh hati padamu. Hanya saja, aku berpura-pura tidak mengetahuinya." Gina sependapat dengan Papanya karena dari foto-foto dirinya yang terpajang di kamar Surya, itu cukup menjelaskan sejak kapan Surya menyukainya.


"Ku fikir, kau yang selalu hidup semaumu sendiri akan bisa dikendalikan oleh pria yang sangat menyukaimu dan hanya menyukaimu dengan tulus. Melihat bagaimana Surya yang menyembunyikan perasaanya terhadapmu dan tetap menjaga jarak diantara kalian yang dia adalah bawahanku, sedangkan kau adalah putri seorang bos, kadang sampai-sampai aku kasihan kepadanya. Dia harus selalu memantau keberadaanmu dengan pacar-pacarmu dan itu pastilah akan menyakiti perasaannya. Tapi apapun itu, dia berusaha tetal profesional dan melakukan tugasnya dengan baik." Jelas Pak Rangga.


"Aku bahkan merasa bersalah kepadamu saat melihat bagaimana Surya sambil menangis menunggumu di depan ruang gawat darurat saat dokter berusaha menyelamatkanmu dari overdosis obat tidur waktu itu. Aku memang khawatir, tapi aku tidak sepanik dirinya hingga membuatnya menangis karena berharap kau akan baik-baik saja." Mendengar penjelasan Papanya, Gina seperti mendapati lagi sisi lain seorang Surya. Surya yang mencintainya ternyata memiliki perasaan yang sangat dalam terhadapnya.


"Saat ku tanya mengapa ia menangis, dengan lugas ia menjawab bahwa ia merasa bersalah karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Pak Rangga kini kembali berkaca-kaca.


"Padahal waktu itu dia bukan lagi pengawalmu. Dia adalah asisten pribadiku yang hanya memiliki tugas pokok menjadi tangan kananku. Tapi, ternyata diam-diam dia masih sering memantaumu. Bukan sebagai penguntit, tapi lebih sebagai pengagum rahasiamu yang selalu ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja."


"Kenapa Papa mengatakan semua ini padaku?" Tanya Gina dengan wajah haru.


"Karena dia adalah pacarmu sekarang. Dan kau adalah putriku. Mungkin ini adalah 'aib' baginya yang bisa membuatmu menjadikannya senjata untuk memperbudak Surya. Tapi aku yakin dia bukan orang seperti itu. Meskipun dia sangat  mencintaimu, tapi dia tidak akan pernah menempatkan dirinya sebagai pecudang yang akan bertekuk lutut dikakimu demi perasaan cintanya." Pak Rangga tertawa kecil melihat Gina tampak kecewa dengan kalimat Papanya yang seperti menyepelekannya begitu. Tapi apa yang dikatakan Pak Rangga memang benar. Melihat bagaimana Surya seperti mengabaikannya sekarang setelah perdebatan yang mereka lakukan ketika terakhir kali bertemu, Gina jadi tahu alasannya. Memang seperti itulah Surya. Dia bisa mencintai dengan begitu dalam, tapi dia tidak ingin menjadi budak cinta yang mudah diperlakukan semaunya.


"Jadi, seriuslah menjalin hubungan dengannya. Berhentilah bermain-main dengan perasaan para pria. Kau sudah cukup tua untuk melakukan itu."


"Tapi, setua-tuanya diriku masih ada yang jauh lebih tua di sini." Terlihat sekali Gina tampak marah dikatai tua oleh Papanya. Pak Rangga terbahak melihat wajah Gina yang cemberut seperti itu.


"Surya adalah pria yang baik. Dia tahu semua hal buruk yang ada padamu tapi bahkan masih tetap bisa mencintaimu. Kau bukan wanita yang bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, kau adalah wanita manja yang gemar berbelanja, kau juga si wanita tempramental yang ketika marah bisa saja menghajar orang lain. Dia tahu benar semua itu. Tapi dia masih saja mencintaimu. Dan lagi, dia bahkan memutuskan pacarnya demi bisa berpacaran denganmu sekarang. Lihatlah, seberapa seriusnya perasaan yang ia rasakan saat ini." Gina merasa Papanya seperti sedang memberi review-review positif tentang Surya kepadanya.


"Gina, sudah saatnya kau mendapatkan pria yang sempurna dalam hidupmu. Perlu kau tahu, itu tidak termasuk pria-pria ingusan yang kau pacari secara bergantian dulu karena aku tahu kau tidak pernah serius terhadap mereka dan begitu pula sebaiknya. Kau memiliki seorang pria yang kau panggil Papa ini, tapi dia sering tidak ada saat kau membutuhkanku. Aku mewakilkan posisiku pada uang yang ku miliki untuk menggantikan kehadiranku dengan membayar bodyguard yang bisa melindungimu. Kau juga memiliki seorang kakak yang pada akhirnya meninggalkanmu dan membiarkanmu sendirian. Lalu kau kembali memiliki teman yang ternyata perhatiannya kau artikan dengan lain. Dia hanya ingin menarik keterpurukanmu dari kehilangan Roby setelah meninggal dunia dan menghiburmu agar kau tetap merasa memiliki saudara laki-laki. Tapi kau malah terlalu percaya diri menerima setiap perhatian Faris sebagai perasaan cinta kepadamu sedangkan itu tidak berlaku baginya. Lalu, Surya datang dengan semua yang ia miliki. Perasan cintanya kepadamu dan ketulusan hati yang ia miliki seakan memusatkanmu pada satu dunianya." Gina menyimak setiap kalimat Pak Rangga dengan saksama.


Apa yang dikatakan oleh Papanya sebagian besar memang benar. Tentang semua pria yang Papanya katakan, seolah Papanya menyadarkan Gina bahwa benar mereka semua adalah pria-pria yang penting bagi Gina. Begitu pula kepada Surya. Selama ini Gina tidak pernah ingin belajar memasak meski pacarnya suka makan. Ia juga tidak ingin belajar mencuci meskipun Faris pernah mengatakan padanya bahwa ia ingin memiliki istri yang hanya akan melayaninya saja, bukan seorang wanita karier yang bekerja di sebuah perusahaan tertentu yang terikat jam kerja dan segala hal yang berhubungam dengan kontrak kerja. Itu membuat Gina menertawakan Faris dan mengabaikan cita-citanya itu seraya berfikir Faris adalah pria kolot yang mendiskriminasi wanita seperti perbincangan yang mereka lakukan dulu.


"Kau tahu, tindakanmu itu benar-benar tidak menghargai perjuangan Ibu kita Kartini yang berjuang demi mengangkat harkat dan martabat wanita." Ujar Gina seraya tertawa ketika mereka berbincang di sebuah club malam beberapa tahun yang lalu.


"Justru aku mengangkat derajat istriku dengan hanya melayaniku saja, sebagai suaminya. Tidak terbagi juga untuk menjadi orang suruhan bosnya."

__ADS_1


Saat itu yang ada difikiran Gina hanya seorang Faris yang konyol yang walau ia menyukainya tapi dia tetap menentang paham yang ia percayai. Tapi sebaliknya kepada Surya, Gina seperti ingin melakukan yang terbaik untuk pria itu walau ia tidak pernah memintanya. Memasak, mencuci dan berberes rumah adalah pekerjaan yang ingin Gina lakukan tanpa Surya mengharapkan itu darinya. Bagi Gina, semua yang Surya bisa ia pun ingin bisa. Ia ingin Surya terkesan dengan tindakannya dan bisa membuatnya senang melihat apa yang ia lakukan. Ia yakin tindakannya sangat tidak masuk akal, mengingat ia tidak pernah peduli dengan semua hal yang berurusan dengan pekerjaan rumah. Tapi sejak hatinya mulai tertaut pada Surya, Gina seperti ingin mencoba banyak hal yang bisa membahagiakan Surya.


"Jika Mamamu adalah salah satu alasanmu takut melangkah lebih jauh bersama Surya, jangan khawatir, aku adalah orang yang akan mendukungmu secara penuh demi kebahagiaanmu." Pak Rangga merangkul pundak putrinya. Gina menatap Papanya lekat yang telah memberikan restu atas hubungannya dengan Surya.


__ADS_2