
Gina mengeliat sambil menarik tangan dan kakinya ke arah yang berlawanan. Ia menarik guling yang seperti menjauh darinya. Ia lalu memeluknya erat-erat sambil tersenyum. Ia merasa nyaman sekali tidur di sini. Benar seperti yang ia fikirkan, sebenarnya sangat membosankan jika harus tinggal di rumahnya terus. Sepertinya memang sudah saatnya Gina berganti suasana dan tinggal di rumah baru.
Sudah lama ia menginginkan sebuah rumah baru untuknya atau sebuah unit apartemen yang bisa ia tinggali sendiri. Tapi Pak Rangga selalu melarangnya melakukan itu. Dia putri tunggal jadi kenapa harus tinggal di tempat lain kalau ia bahkan memiliki rumah mewah yang bisa ia tinggali sendirian.
Saat itu Gina berfikir ada tiga kemungkinan kenapa Papanya menolak membelikannya hunian baru. Pertama, karena Papanya terlalu pelit untuk membelikannya rumah. Kedua, karena Papanya tidak ingin ia menjalani hidup yang lebih bebas lagi jika tinggal sendirian. Ketiga, karena poin pertama dan poin kedua semuanya benar. Gina juga berfikir mungkin Papanya memang khawatir padanya sekaligus tidak ingin mengeluarkan uang lagi untuk sebuah rumah yang waktu itu ia katakan hanya akan membuang-buang uang saja.
Gina mulai membuka mata dengan perasaan malas beranjak yang masih kuat. Tapi ia ingat sesuatu. Ia meminta Surya untuk tinggal di sini bukan hanya karena ia terlalu bosan tinggal di rumahnya dan butuh suasana baru tapi Gina memiliki misi penting dibaliknya. Misi menarik perhatian Surya untuk bisa jatuh cinta padanya dan merebutnya dari Hanna.
Gina sudah memantabkan hati untuk merebut Surya dari pacar rahasianya itu. Gina sudah terlanjur jatuh cinta kepada Surya dan tidak akan membiarkan dirinya kalah dari wanita lain. Sudah cukup ia merasa dikalahkan oleh Sunday saat Faris lebih memilih gadis itu dari pada dirinya. Sunday yang berpostur tubuh mungil dan berpenampilan tidak sebaik dirinya bisa membuat Faris tidak bisa berpaling sama sekali padanya.
Jadi sekarang ia merasa harus lebih pandai dalam menarik hati Surya dari Hanna. Ia merasa Hanna terlihat sedikit lebih sulit untuk dijadikan saingan. Hanna adalah gadis yang cantik. Ia terlihat sangat berkarakter. Gadis yang cerdas dan itu membuatnya terlihat berkharisma. Penampilannya yang sederhana tapi dengan pakaian dari merk-merk ternama membuatnya tetap terlihat elegan. Setahu Gina Hanna hanya selalu memakai setelah celana panjang, kemeja dan sesekali ia padukan dengan blazer sudah membuat Hanna terlihat menarik. Warna-warna lembut dari pakaiannya menunjukkan sekali karakter lembut yang ada pada dirinya.
Tidak seperti Gina yang memiliki pakaian dari banyak warna. Karena baginya hidup itu penuh warna sehingga ia akan mengapresiasikan suasana hatinya melalui warna. Saat sedang bahagia ia akan memakai warna-warna terang dalam setiap penampilannya. Tapi ketika suasana hatinya sedang tidak baik, ia akan memilih warna-warna gelap untuk melindungi perasaannya agar tidak campur aduk. Begitulah seorang Gina. Kadang konyol dan sering kali berulah sesuka hati.
Gina mengangkat tubuhnya untuk bangun. Ia membiarkan rambutnya tergerai memanjang bergelombang sepunggung saat keluar dari dalam kamar untuk melakukan misi pertama. Memasak.
Beberapa hari ini Gina sudah belajar cara-cara menarik perhatian lawan jenis dari artikel-artikel yang ia baca di internet. Sebuah artikel menuliskan, cara pertama adalah menarik perhatian dari masakan. Disitu juga tertulis jika pada umumnya cinta datang dari mata turun ke hati, tapi bagi beberapa orang kadang itu tidak selalu berlaku. Banyak pria-pria malah jatuh cinta pada seorang wanita hanya karena ia pandai memasak, pandai menyiapkan hidangan yang enak sehingga pasangan bisa mengandalkannya dalam hal makan. Pria akan merasa sering rindu pulang karena berfikir wanitanya akan melayaninya dengan masakan yang enak di rumah dan membuatnya berfikir ribuan kali kalau harus makan di luar. Jadilah Gina akan mencoba cara itu. Lagipula ia juga pernah bertanya kepada Hanna apa ia bisa memasak, dan jawabannya adalah bisa. Hanna juga bisa memasak banyak masakan sehingga Gina tidak mau kalah darinya. Ia merasa harus lebih pandai memasak daripada Hanna. Itul
ah sebabnya semalam Gina sudah belajar beberapa menu untuk ide masakannya hari ini dari video-video yang ada di youtube. Ia juga sempat mengintip isi kulkas Surya dan mencari referensi masakan yang sesuai dengan bahan-bahan yang ada itu. Dan pagi ini saatnya bagi Gina untuk melaksanakan misi pertamanya.
Gina beranjak dari tempat tidur dan penuh semangat mendekati pintu untuk keluar. Tapi begitu keluar kamar, ia tidak melihat Surya di sofa ruang tengah. Gina bertanya-tanya kemana Surya meninggalkannya sepagi ini.
"Surya..." Panggil Gina hati-hati masih berdiri di depan pintu kamar.
"Ya, Nona." Jawab Surya yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Gina melompat karena kaget dengan suara Surya dari arah yang tidak ia duga.
"Kau... sedang apa?" Gina memandang Surya yang berpenampilan lengkap dengan celemek di tubuhnya.
"Saya sedang memasak, Nona." Jawab Surya santai tapi membuat Gina lemas. Ia kecewa, hari ini misi pertamanya gagal.
🌸🌸🌸
Bu Marina berjalan mendekati meja makan yang di sana telah ada suaminya, Pak Rangga sedang menikmati sarapannya lebih dulu.
"Kemana semuanya? Apa hari ini hari libur?" Bu Marina menarik salah satu kursi dan duduk di dekat suaminya.
"Aku rasa bukan. Aku tidak terlalu tua untuk tidak mengingat hari." Jawab Bu Marina sendiri tanpa menunggu Pak Rangga menjawab.
"Apa Gina sudah berangkat?"
"Sepertinya." Jawab Pak Rangga singkat sambil masih mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Kau tidak bertemu dengannya?"
"Tidak."
"Wah, dia berangkat sangat pagi. Apa dia terlalu bersemangat atau jam di kamarnya mati sehingga pergi sepagi ini?" Bu Marina mencoba berkelakar.
"Bukan. Aku tahu bukan karena itu semua. Dia bahkan sudah berangkat dari sini sejak kemarin." Jawab Pak Rangga santai membalas kelakar istrinya.
"Wah, candaan kita ini terasa menyenangkan ya. Sudah lama kita tidak bercanda semacam ini." Bu Marina tertawa geli mendengar balasan dari suaminya.
"Aku tidak sedang bercanda. Gina memang berangkat sejak kemarin." Pak Rangga masih tenang. Tapi kali ini membuat Bu Marina memandang Pak Rangga lurus mencari kebenaran dari ucapannya.
"Gina dan Surya ada pekerjaan di luar kota?"
"Ya, ada pekerjaan yang sangat penting."
"Apa itu? Kenapa mereka pergi bersama? Bukankah posisi Gina di R-Company tidak berhubungan langsung dengan presdir, kenapa mereka bisa ada di acara bersama?"
"Mama lupa mereka memiliki hubungan yang bahkan lebih penting dari sekadar hubungan kerja. Mereka suami istri yang jika kemana-mana sangat boleh selalu bersama-sama."
"Apa? Kenapa begitu? Kenapa Gina harus ikut. Itu hanya akan mengganggu kinerja Surya." Terlihat sekali ada kekhawatiran di nada bicara Bu Marina yang terselubung itu.
"Tapi mereka bersama..."
"Mama... biarkan saja mereka bersama. Gina harus belajar banyak hal dengan Surya jadi biarkan dia mendapat pelajaran-pelajaran penting itu." Pak Rangga berusaha menenangkan istrinya yang takut jika Gina benar-benar terjerat oleh Surya dan melupakan misi sebelumnya untuk menyetujui syarat yang diajukan oleh Papanya yaitu menikah dengan Surya.
Bu Marina diam. Diam dan sepertinya sambil berfikir. Pak Rangga tahu persis bagaimana istrinya sehingga ia sudah tahu bahwa istrinya pasti tidak akan tinggal diam melihat sesuatu yang tidak diharapkannya itu. Terlebih Pak Rangga pun tahu sepertinya Bu Marina menyadari bahwa Gina mulai menaruh hati pada Surya. Pasti Bu Marina lebih khawatir dari sebelumnya. Takut jika Gina akan melupakan misinya dan terlena dengan perasaannya. Pak Rangga tahu persis Bu Marina yang menurut dihadapannya mungkin saja akan membantu Gina dibelakangnya demi bisa mendapatkan R-Company.
Bu Marina masih berfikir tentang Gina dan Surya yang pergi bersama saat Mbak Yuyun turun dari tangga dan berjalan menuju melewati meja makan. Bu Marina yang melihat itu jadi heran.
"Mbak, apa itu?" Tanya Bu Marina saat Mbak Yuyun ada lebih dekat.
"Ini baju Nona Gina, Nyonya."
"Lalu, mau dibawa kemana?"
"Nona Gina meminta saya untuk mengantar ke rumah Pak Surya."
"Apa? Ke rumah Surya?" Bu Marina membelakakkan matanya mendengar penuturan asisten rumah tangganya itu.
"Kenapa? Kenapa diantar ke sana?" Bu Marina mulai meninggikan suaranya. Walaupun begitu tidak membuat Pak Rangga terganggu. Ia masih tenang menghabiskan sarapannya.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?" Bu Marina semakin sengit bertanya.
"Nona Gina sendiri, Nona."
"Apa???" Bu Marina histeris mendapatkan jawaban dari Mbak Yuyun. Ia terlihat benar-benar panik sekarang.
"Papa... apa kau tahu sesuatu tentang ini?" Pak Rangga mengangguk santai.
"Hahh, kau tahu ini dan diam saja?" Pak Rangga mengangguk lagi tanpa mengeluarkan suara karena mulutnya masih mengunyak sarapan.
"Papaaaa..." Bu Marina kesal karena sejak tadi Pak Rangga seperti mengabaikannya.
"Iya Mama..." Jawab Pak Rangga setelah meneguk air dan meletakkan gelas di samping piringnya.
"Jadi Papa tahu Gina menginap di rumah Surya?"
"Iya, aku tahu."
"Lalu kenapa Papa diam saja?"
"Jadi aku harus bagaiamana? Melarangnya? Bukankah Mama juga senang kalau mereka akan tidur terpisah."
"Apa? Apa maksud Papa?" Bu Marina sedikit salah tingkah mendengar ucapan Pak Rangga yang sebenarnya juga adalah angin segar untuknya.
Bu Marina memang senang jika Gina dan Surya tidur di kamar berbeda untuk meminimal sesuatu yang tidak ia harapkan terjadi diantara mereka. Tapi melihat Gina yang sepertinya mulai tertarik pada Surya, tinggal berdua saja dan tidur terpisah di rumah Surya bisa jadi adalah sesuatu yang lebih buruk dari pada tinggal bersama di satu kamar di rumah ini.
Tidak... tidak... sebenarnya itu sama buruknya. Tinggal bersama mulai tidak baik untuk Gina. Aku yakin akan terjadi sesuatu suatu saat jika mereka bersama-sama terus seperti itu. Tidur di kamar yang sama ataupun hanya tinggal bersama di sebuah rumah sama-sama cukup berbahaya. Bu Marina sangat gelisah mulai menyadari hal itu.
Mengingat bagaimana Gina bisa nekat saat menyukai seseorang. Ia yakin jika putrinya benar-benar menyukai Surya, pasti menginap di rumahnya adalah kemauan Gina. Berdasarkan sepengetahuannya tentang Surya yang selama ini Bu Marina kenal, ia adalah orang yang lurus, penurut dan tahu bagaimana harus bersikap sehingga tidak mungkin jika dia yang membuat Gina mau berada di rumahnya bahkan hingga beberapa hari ke depan. Surya orang yang sangat menjaga batasannya dan tidak akan bertindak diluar aturan yang harus diikutinya. Dan aturan yang sekarang sedang harus ditaati oleh Surya adalah tetap profesional sesuai kesepakatan awal mereka untuk melakukan pernikahan hanya hingga Gina mendapatkan R-Company di tangannya.
Tiba-tiba Bu Marina memiliki ide baru untuk mengatasi kekhawatirannya ini. Ia mulai memikirkan cara itu agar menjadi sangat efektif dan membuat Surya tahu harus bagaimana jika menerima 'sinyal-sinyal' cinta dari Gina. Tapi tentu saja Bu Marina juga harus memikirkan cara bagaimana agar Surya tidak terpengaruh dengan pendekatan-pendekatan yang Gina lakukan padanya sehingga bisa saja Surya akan tertarik juga kepada Gina. Apalagi Gina sangat memenuhi syarat untuk bisa menarik perhatian setiap pria normal. Wajah cantik, tubuh indah, kekayaan yang melimpah, Surya yang biasa saja pastilah akan merasa mendapatkan durian runtuh bila tahu telah disukai oleh Gina.
"Nyonya, bagaimana?" Mbak Yuyun yang masih berdiri di tempatnya dengan tas berisi pakaian Gina meminta petunjuk lebih lanjut.
"Antarkan saja." Jawab Pak Rangga.
"Papa..." Bu Marina memelototi suaminya karena tidak setuju.
"Kalaupun baju itu tidak diantar ke rumah Surya, Surya punya banyak uang untuk bisa membelikan Gina semua pakaian yang dia inginkan. Aku yakin Surya juga pasti tidak akan bisa menolak kemauan putri kita jika sudah begitu." Bu Marina diam memikirkan penjelasan Pak Rangga dan merasa itu memang benar.
"Mbak Yuyun, antar saja ke rumah Surya." Perintah Pak Rangga. Tapi sebelum beranjak Mbak Yuyun juga sempat memandang Bu Marina seperti meminta persetujuan juga darinya. Dan mengerti hal itu, Bu Marina hanya mengibaskan tangan karena ia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya Mbak Yuyun keluar juga setelah Pak Rangga memberinya ketegasan untuk membawanya keluar tas Gina dengan anggukan kepalanya.
__ADS_1