
Gina turun dari mobil lalu membantu Surya turun juga. Surya terpaksa melepas bajunya saat mendapat perawatan tadi. Sehingga ia pulang hanya dengan meletakkan jas ditubuhnya tanpa memakai sebagaimana mestinya. Rumah sudah sepi. Semua orang pasti sudah tidur.
"Maaf Nona, saya bisa berjalan sendiri." Surya merasa tidak enak digandeng seperti itu oleh Gina sejak tadi. Ia merasa benar-benar seperti orang yang tidak bisa melakukan apapun. Padahal ia masih bisa berjalan dengan baik dan tidak mengalami kesulitan sama sekali.
"Kau ini suka sekali membantah." Omel Gina.
"Tapi saya benar-benar bisa melakukannya sendiri, Nona." Jelas Surya meyakinkan Gina yang memelototinya.
"Kau ini kenapa bodoh sekali." Mendengar kalimat Gina, Surya menjadi bingung. Kenapa Gina tiba-tiba marah? Padahal Surya tidak ingin merepotkan Gina dengan selalu membantunya seperti itu.
"Kau tidak tahu ya kalau aku ingin menebus kesalahanku dengan membantumu." Gina menatap Surya dengan wajah gondok khas dirinya saat merasa marah. Surya mengerjapkan pandangan beberapa kali mendapati sikap Gina yang tiba-tiba seperti itu.
"Apa kau tidak tahu kalau sekarang aku merasa bersalah kepadamu karena sudah melibatkanmu untuk berkelahi dengan preman-preman itu sehingga kau terluka? Tidak bisakah kau hanya diam dan menerima perlakuanku agar itu sedikit mengurangi rasa bersalahku terhadapmu." Mendengar itu Surya hanya diam memandang Gina lurus.
"Jadi, ku mohon tetaplah menerima apapun yang ingin ku lakukan padamu dan buatlah aku menjadi merasa lebih baik." Surya masih menatap Gina yang terus mengomel padanya dengan mata yang berkaca-kaca itu.
Ada binar kesungguhan dari apa yang setiap Gina ucapkan. Dan entah apa yang difikirkannya, Surya menarik tangan Gina untuk selanjutnya ia bawa ke dalam pelukannya. Gina yang tidak menyangka akan mendapat perlakuan itu mendadak seperti patung. Bahkan untuk sekadar memikirkan apa yang sedang terjadi saja ia tidak bisa. Otaknya seperti membeku di dalam kehangatan yang ia rasakan di sana. Beberapa saat tidak ada percakapan apapun lagi diantara mereka. Gina yang tadinya hampir menangis, sekarang merasa air matanya sudah menjadi beku juga dan tidak jadi jatuh sebagaimana seharusnya.
Gina masih bengong saat Surya melepas pelukannya dan memandangnya dengan tatapan yang entah Gina tidak memahami maksudnya. Lembut tapi menusuk. Entahlah, itulah yang Gina rasakan dari apa yang ia tangkap dalam pandan Surya kepadanya. Setelah itu Surya meraih tangan Gina dan menggenggamnya.
"Baiklah, mari kita segera ke kamar, Nona." Ucapan Surya menjadi terdengar lain di telinga Gina.
"A-apa, ke kamar? Kenapa segera?"
"Hmm. Karena saya memang ingin cepat berada di kamar, Nona." Jawab Surya yang masih berjalan di sisi Gina menuju tangga untuk bisa ke kamar mereka.
"Kenapa kita ke kamar?"
"Kita harus tidur, Nona. Karena ini adalah saatnya untuk kita."
"Tidur?"
"Benar."
"Saatnya untuk kita?"
"Tentu saja."
"Tidak, aku belum siap." Gina berhenti dari langkahnya dan membuat Surya mengikutinya juga.
__ADS_1
"Mempersiapkan apa, Nona? Malam sudah terlalu larut. Anda pasti sangat lelah. Saya juga harus beristirahat. Dan juga, saya yakin tempat tidur Anda sudah rapi dan siap untuk Anda tiduri seperti biasanya."
"Aku?"
"Iya, tentu saja."
"Ahh, iya... itu yaa..." Gina tertawa lucu mengingat apa yang baru saja ada di dalam otaknya. Ia menjadi malu pada dirinya sendiri sudah berfikir yang macam-macam tentang apa yang Surya katakan padanya. Untung saja sepertinya Surya tidak menyadari hal itu sehingga ia tidak terlalu malu jadinya.
Tapi selama perjalan menuju ke kamar, Gina mengutuk dirinya sendiri yang telah keterlaluan dengan menangkap ucapan Surya dari sudut pandang yang lain. Sudut pandang yang sama sekali bahkan mungkin tidak pernah ada di dalam kepala Surya.
Ia yakin telah mengatakan banyak hal kepada Surya saat awal pembuatan kesepakatan mereka sebelum melangsungkan pernikahan. Gina juga pernah mengatakan kepadanya bahkan untuk bermimpi mendapatkan dirinya saja Surya tidak pantas. Tapi nyatanya sekarang Gina yang malah berfikir yang bukan-bukan terhadap Surya. Surya yang jelas-jelas sangat patuh terhadap komitmen yang mereka sepakati. Walaupun ada batas-batas yang telah mereka lewati tapi mereka tahu itu hanyalah sebuah improvisasi untuk membuat sandiwara mereka terlihat lebih natural. Berbicara dengan manis, bergandengan tangan, berpelukan dan beberapa hal yang pada awal perjanjian adalah sebuah poin kontak fisik yang harus mereka hindari, nyatanya mereka melanggarnya satu per satu selama ini. Dan, semua itu terjadi begitu saja tanpa ada sanksi tegas untuk masih-masing yang telah melanggar.
Sebenarnya Gina menyadari hal itu. Ia tahu semua yang tertulis dalam lembar perjanjian yang ia buat sudah banyak ia langgar. Tapi semakin hari Gina semakin ingin melanggar semua perjanjian itu seiring bertambahnya rasa suka yang ia rasakan kepada Surya. Sangat memalukan memang baginya tapi dirinya berdalih bahwa peraturan dibuat memang untuk dilanggar dan ia yakin Surya tidak akan berani memprotes saat ia melakukan pelanggaran. Karena beberapa hal juga telah Surya langgar, sehingga saat Surya memprotes, Gina pun sudah siap untuk bersuara juga menyaksikan pelanggarannya. Jadilah yang terjadi sekarang adalah seperti itu. Menjalani perjanjian yang bahkan tidak berkekuatan lagi untuk mereka saling patuhi.
Mereka sudah berada di dalam kamar sekarang. Setelah masuk, Gina menutup pintu kembali. Surya berjalan menuju ke kamar mandi.
"Surya, kau mau ke mana?"
"Saya akan ke kamar mandi, Nona."
"Haruskah aku membantumu?"
"Oh, tidak perlu Nona, untuk hal ini saya benar-benar bisa melakukannya sendiri."
"Tapi, kau tidak boleh membuat lukamu basah. Jadi, apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?"
"Tentu saja, Nona. Saya hanya ingin sedikit bersih-bersih. Saya tidak sedang ingin mandi."
"Oh, baiklah..." Sunday lalu terkekeh.
"Kau jangan salah faham. Aku hanya ingin membantumu. Aku tidak bermaksud macam-macam padamu."
"Iya Nona, saya faham."
"Baguslah." Gina menarik nafas lega. Surya berbalik dan menuju kamar mandi. Sebelumnya ia juga sempat tersenyum melihat sikap Gina.
Gina lalu menghapus make up-nya di depan meja rias setelah memastikan Surya sudah memasuki kamar mandi.
Di tempat lain, Hanna sedang menghadapi laptopnya. Ia memeriksa beberapa berkas yang sempat di bawanya pulang. Meskipun malam semakin larut tapi ia masih terlalu asyik dengan pekerjaannya. Dan disaat ia masih serius menatap layar laptopnya, telepon berdering. Nama Bayu tampak pada layar ponselnya.
__ADS_1
"Iya Bay. Aku sedang memeriksa beberapa berkas. Iya, aku memang berharap menjadi best employee of the month." Setelah mengatakan itu Hanna lalu tergelak. Wajahnya tampak ceria di tengah keremangan lampu kamarnya.
"Apa, keluar? Jangan katakan kau sudah ada di depan rumah." Hanna membuka cendela kamarnya yang menghadap ke jalan. Benar, dari situ ia bisa melihat mobil Bayu terparkir.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini disitu?"
"Ayo kita mencari udara segar. Jangan bekerja terus. Untuk apa kau menghabiskan tenagamu untuk membuat bosmu semakin kaya." Dari tempat Bayu sekarang ia mendengar Gina yang tergelak lagi.
"Keluarlah, aku tidak mau kau menjadi alat pencetak uang Pak Rangga." Setelah mendengar jawaban Hanna, Bayu lalu menutup teleponnya.
Tidak lama kemudian Hanna menghampiri mobil Bayu dan langsung membuka pintu mobilnya.
"Aku merasa sepertinya kau ingin menculikku." Ujar Hanna sambil memasuki mobil Bayu.
"Kalau begitu beri aku reaksi penolakan sehinggaa hal itu akan segera bisa menjadi nyata." Jawab Bayu dengan senyum lucunya.
"Tapi kenapa aku harus menolak kalau menculikku untuk hal yang menyenangkan."
"Jadi, kalau begitu kau harus berterima kasih padaku karena sudah 'menculikmu' malam ini."
"Belum sekarang, aku harus membuktikannya lebih dulu dan belum ingin terburu-buru untuk berterima kasih kepadamu."
"Baiklah, kalau itu maumu. Bersiaplah untuk terharu dan menjadi bingung harus bagaimana berterima kasih kepadaku."
"Ya Tuhan, itu sangat mendebarkan. Aku jadi tidak sabar." Hanna tersenyum sarkas memandang Bayu yang menyetir di sampingnya.
Mobil Bayu mulai melaju melewati jalan sepi di komplek perumahan Hanna. Setelah keluar dari komplek itu, Bayu melarikan mobilnya dengan berbelok ke sebelah kiri dan mulai berjalan di jalan raya.
Surya keluar dari kamar mandi dan memakai piyamanya. Itu adalah pakaian paling nyaman yang saat ini dipakainya. Perban di lengannya membuat sebagian besar bajunya harus dengan susah payang ia pakai. Belum lagi itu akan menekan lukanya dan membuatnya jadi tidak nyaman. Tapi dengan piyama dengan potongan lengan yang selebar itu, ia tidak perlu memaksakan diri memakai baju dengan rumit.
"Surya..." Panggil Gina yang duduk di tempat tidurnya.
"Kenapa Anda belum tidur, Nona?"
"Surya... aku ingin kau... Ehh, tapi jangan berfikir macam-macam padaku ya." Kalimat Gina membuat Surya mengerutkan kening. Entah apa lagi yang ingin Gina lakukan sekarang terhadapnya. Surya merasa Gina benar-benar merasa bersalah sehingga tampak dari sikapnya yang selalu berhati-hati saat berbicara dengannya.
"Apa itu, Nona?" Tanya Surya dengan rasa penuh penasaran.
"Aku tidak mau menjadi orang yang sangat kejam sehingga dalam keadaan kau terluka pun masih menyuruhmu tidur di sofa." Ujar Gina dengan memandang serius wajah Surya yang berdiri tepat di depan tempat tidurnya. Surya tidak berani menerka arah pembicaraan Gina dan hanya menunggu kalimat selanjutnya yang akan Gina katakan padanya.
__ADS_1
"Jadi, untuk sementara kau boleh tidur di tempat tidurku."
"Maaf, Nona?" Surya seperti tidak percaya dengan pendengarannya. Dan berusaha meyakinkan dirinya untuk memberanikan diri memastikan kepada Gina apa sebenarnya maksud dari kalimat yang ia ucapkan kepadanya.