
"Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya kalau kau akan kedatangan seorang investor asing?"
"Ini bukan sesuatu yang sudah saya rencanakan, Nona."
"Lalu?"
"Tuan Adskhan sedang berlibur ke sini dan aku ingin jadi 'pemandu wisatanya' dengan imbalan aku bisa memperkenalkan bisnis kita padanya."
"Benarkah?" Selidik Gina.
"Kenapa orang sekaya Tuan Adskhan terlalu pelit untuk membayar pemandu wisata sungguhan?"
"Itu karena pemandu wisata yang sudah menemani Tuan Adskhan hingga dua destinasi terakhir wisata mereka sudah kubayar tunai agar aku bisa menggantikannya dan melakukan pendekatan. Masih ada beberapa tempat lagi yang akan mereka kunjungi dan akulah selanjutnya yang akan melakukannya."
"Ya Tuhan, kenapa kau repot sekali melakukannya. Kau bisa menyuruh bawahanmu. Kau ini bukan pesuruh lagi."
"Karena saya ingin melakukannya sendiri, Nona. Saya juga memiliki misi yaitu ingin memperkenalkan bisnis dari pemiliknya langsung."
"Hello, kau sudah lupa akulah yang seharusnya kau sebut pemilik." Gina memprotes.
"Baik, tapi secara teknis saat ini saya yang memegang R-Company keseluruhan, Nona."
"Iya iya baiklah, baru begitu saja kau sudah sombong." Gerutu Gina.
"Lagipula bukankah itu terlalu mencolok? Dia pasti bisa membaca niatmu."
"Tentu saja Tuan Adskhan tahu, Nona. Kami sudah melakukan pendekatan terlebih dulu sebelum sampai di tahap ini."
"Aahh, iya terserah kau. Pendekatan atau apapun itu aku tidak mengerti. Kau yang pastinya sudah faham betul harus bagaimana. Tapi kenapa harus ada aku juga? Kenapa mengajak aku segala dalam pendekatan ini? Kau mau mengajariku menjadi pemandu wisata?" Gina memelotot.
Atau bahkan wanita penghibur?" Tambahnya.
"Tidak perlu. Terima kasih. Aku terlahir sebagai penerus R-Company. Bukan pemandu wisata."
"Tapi Nona, kehadiran Anda disamping saya saat ini sangat penting."
"Kenapa aku jadi penting? Apa aku yang ada di bagian divisi produksi juga bertugas menemani tamumu?"
"Bukan Nona."
"Lalu apa?" Gina sudah hampir meledak berbicara dengan Surya.
"Karena Anda adalah istri saya."
"Apa?" Gina mengerjapkan matanya berkali-kali. Kepalanya mendadak pening mendengarkan Surya mengatakan itu. Mau tidak mau ia harus mengakui fakta yang tidak diharapkannya sama sekali.
Pak Rangga berdiri di balkoni kapal pesiar. Ia dan Bu Marina sedang berada di laut dalam perjalanan ke Kanada. Wajahnya menyunggingkan senyum melihat isi pesan di ponselnya.
__ADS_1
"Kau terlihat sangat bahagia." Ujar Bu Marina yang datang sambil membenarkan baju tebalnya. Ia merasa harus melindungi tubuhnya dari angin laut yang dingin malam ini.
"Bintang-bintang bertaburan. Itu membuat malam ini menjadi sangat indah." Pak Rangga menggenggam jemari istrinya.
"Apa ini?" Bu Marina tersipu diperlakukan seperti itu. Rasanya sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Dan sejak sudah 'pensiun' suaminya jadi memperlakukannya seperti ketika mereka adalah pengantin baru dulu.
"Mari kita nikmati hari tua kita seperti ini. Selalu bersama dan tidak berfikir hari esok akan seperti apa." Pak Rangga merangkul pundaknya menghadap laut lepas. Kapal mereka masih berjalan sesuai rutenya.
"Aku bahkan sudah berfikir akan memesan sarapan bubur ayam untuk besok pagi."
"Apa ada?" Pak Rangga mengerutkan kening mendengar penuturan istrinya. Bu Marina tersenyum lucu karena telah berhasil mengerjai suaminya.
Sebuah laporan masuk ke ponsel Surya kepada Pak Rangga bahwa sampai saat ini pendekatannya terhadap Tuan Adskhan berjalan dengan baik. Akhirnya Suryalah yang bisa menjadi pemandu Tuan Adskhan dan bukan seseorang dari perusahaan lain. Surya tahu banyak perusahaan lain sudah mengincar Tuan Adskhan untuk mereka dekati. Tapi Surya memiliki cara yang sangat halus tapi tepat sasaran sehingga Tuan Adskhan menerima Surya dengan baik dan bahkan mempersilakan saat Surya menawarkan diri menjadi guide untuk perjalanannya di negara ini.
Dan saat ini Gina dan Surya dalam perjalan mengikuti mobil Tuan Adskhan bersama rombongan yang mengawalnya. Mobil yang dinaiki Tuan Adskhan sudah mulai terlihat dari kejauhan di celah-celah mobil lain di jalan raya padat ini.
"Itu mobil mereka." Tunjuk Gina. Surya mengangguk dan masih memandang ke arah depan.
"Saya rasa Anda pasti bisa menjadi teman untuk Nyonya Adskhan."
"Jangankan Nyonya Adskhan, aku juga bisa menemani Tuan Adskhan." Jawab Gina santai.
"Tidak Nona, biarkan Tuan Adskan menjadi urusan saya. Anda hanya harus menemani Nyonya Adskhan agar merasa nyaman selama berada di sini."
"Baiklah, aku akan menjadi wanita penghiburnya." Gina menyandarkan kepala pada headrest.
"Apakah saya adalah orang yang terlihat tidak bisa memenuhi permintaan Anda?"
"Wah, kau benar-benar sudah jauh berubah. Atau jangan-jangan posisimu yang sekarang membuatmu menampakkan sifat aslimu." Gina menatap Surya tajam.
"Saya selalu menjadi diri saya sendiri, Nona."
"Jadi itu berarti memang seperti inilah sifatmu?" Surya mengangkat alis dan tersenyum lebar. Gina memanyunkan bibirnya menanggapi Surya. Tepat saat itu mobil mereka berbelok ke sebuah pelataran gedung megah bergaya kuno. Museum bersejarah.
"Maafkan kami karena sudah membuat Anda menunggu." Ucap Surya saat sudah berhadapan dengan Tuan Adskhan.
"Tidak apa-apa. Saya faham apa yang terjadi. Pengantin baru butuh banyak waktu untuk berdua." Goda Tuan Adskhan. Surya mengulas senyum. Gina heran kenapa Surya hanya melakukan itu. Padahal mereka sedang berdebat tadi, tidak seperti yang Tuan Adskhan fikirkan. Dan itu membuatnya sedikit kesal. Tapi akhirnya ia juga turut menyunggingkan senyum saat Nyonya Adskhan memandangnya.
"Mari kita mulai dari sini." Ajak Surya.
"Ini adalah museum perjuangan, Tuan. Negara kami dahulu sempat menjadi negara jajahan selama ratusan tahun sehingga banyak rakyat yang gugur saat berjuang. Ini adalah senjata tradisional bangsa kami. Setiap daerah, kami memiliki senjata khas kami masing-masing. Dan kota kami memiliki ini, bambu runcing. Ini adalah senjata yang dipakai para pejuang untuk melawan penjajah." Surya menunjuk sebuah bambu dengan ujungnya yang runcing mirip sebuah tombak.
"Ini hanya sebuah kayu? Bambu?" Tuan Adskhan takjub karena bambu bisa digunakan sebagai senjata.
"Ya, ini adalah senjata nenek moyang kami. Sangat tradisional. Saat itu nenek moyang kami belum semuanya memiliki senjata api, Tuan." Tuan Adskhan manggut-manggut menyimak penjelasan Surya. Gina memperhatikan Surya. Surya begitu faham tentang sejarah kemerdekaan bangsa ini. Entah ia belajar terlebih dulu sebelum memandu mereka atau ia masih ingat saat menerima pelajaran di sekolah dulu tapi apa yang dijelaskan Surya membuatnya terperanjat. Diam-diam Gina mengagumi kemampuan Surya tentang hal itu. Tidak hanya tentang perusahaan, bahkan untuk hal seperti ini pun dia tahu.
"Kau pasti sangat mencintai suamimu." Bisik Nyonya Adskhan yang sedang berada di samping Gina. Mendengar hal itu Gina menoleh dan lalu tersadar jika sejak tadi yang ia lakukan adalah memperhatikan Surya.
__ADS_1
"Ahh, bukan begitu, Nyonya." Gina menjadi salah tingkah mendengar ucapan Nyonya Andskhan. Nyonya Adskhan tersenyum melihat wajah Gina yang memerah seperti itu. Selanjutnya mereka berpindah untuk melihat benda-benda bersejarah lainnya. Gina menghela nafas.
Mencintai Surya? Yang benar saja. Aku masih cukup waras, Nyonya. Batin Gina berjalan di samping Nyonya Adskhan dengan sesekali mengajaknya mengobrol. Tentang bagaimana negara mereka saat ini hingga membuat Nyonya Adskhan bercerita tentang cucunya. Gina benar-benar menjalin keakraban dengan Nyonya Adskhan.
Saat ini Nyonya Adskhan lelah dan memilih untuk duduk di lobi museum daripada melanjutkan mengelilingi museum bersama Tuan Adskhan. Suaminya itu sangat menyukai sejarah. Jadi setiap mereka berkunjung ke negara lain ia selalu menyempatkan diri untuk mengetahui kebudayaan dan sejarah negara tersebut. Termasuk ketika berkunjung ke negara ini.
"Pasti menyenangkan ke mana saja selalu bersama, Nyonya."
"Tentu saja. Aku benar-benar tidak ingin jauh darinya." Jawab Nyonya Adskhan.
"Bahkan baru seperti ini saja aku sudah merindukannya." Nyonya Adskhan tertawa kecil. Itu membuat wanita berambut pirang itu terlihat sangat manis meski usianya sudah hampir senja.
"Tapi Tuan Adskhan hanya sedang beberata meter saja dari tempat Anda saat ini."
"Itulah cinta. Aku tidak bisa berjauhan darinya walau sedetik pun." Ujar Nyonya Adskhan dengan mata berbinar.
"Kau tahu, aku selalu mengikutinya kemanapun ia pergi dan itu memperlihatkan kalau aku seperti sangat posesif padanya. Tapi kau tahu, ketika aku tidak ingin ikut bersamanya, dia juga yang selalu membujukku untuk mengikutinya. Kami benar-benar tidak ingin saling berjauhan satu sama lain." Nyonya Adskhan lalu tersipu setelah mengatakan itu.
"Benarkah?" Gina membulatkan matanya.
"Hmm." Nyonya Adskhan tertawa kecil lagi.
"Kami memang tidak bisa berjauhan antara satu sama lain. Ditambah anak-anak kami sudah dewasa dan kami tidak mendapat gangguan dari apapun jadilah kemana-mana kami selalu bersama."
"Itu manis sekali, Nyonya." Gina mencoba memuji.
"Aku harap kalian juga akan selalu manis seperti kami."
"Terima kasih, Nyonya."
"Tadi sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah membayangkan bagaimana dirimu."
"Maaf, Nyonya?" Gina tidak mengerti mengapa Nyonya Adskhan mengatakan itu.
"Sebelum kedatanganmu, Tuan Surya menceritakan sedikit hal tentangmu."
"Oh begitu." Gina hanya tersenyum menanggapi. Ia hanya berfikir apakah Surya mengatakan kepada mereka bahwa dirinya sangat cerewet, egois dan pemarah.
Kalau sampai dia benar-benar mengatakan itu, aku akan membungkam mulutnya dengan tinjuku. Batin Gina.
"Tuan Surya mengatakan bahwa istrinya adalah wanita yang sangat cantik." Lanjut Nyonya Adskhan.
"Saat ku katakan itulah kenapa dia jatuh cinta kepadamu. Tapi dia mengatakan bahwa kecantikan bukanlah satu-satunya hal yang membuatnya jatuh cinta. Tapi kemandirianmu, kepercayaan dirimu dan ketangguhanmu sebagai wanitalah yang membuatnya jatuh cinta kepadamu." Gina hanya bisa terperanjat mendengar Nyonya Adskhan menceritakan perkataan Surya yang berisi pujian tapi menurut Gina malah lebih mirip sebagai karangan bebas yang tidak memiliki alur.
Bagaimana bisa Surya mengatakan itu sementara selama ini yang ia tampakkan kepada Surya adalah sikap-sikap sebaliknya.
Dia benar-benar sangat piawai dalam hal membuat sebuah pencitraan. Tanpa sadar Gina menyunggingkan senyum sambil memandang Surya di kejauhan yang melangkah menuju padanya.
__ADS_1